Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Reno, curhat dong!


__ADS_3

šŸµšŸµšŸµšŸµšŸµšŸµ


Ini adalah hari pertamaku bekerja di salah satu perusahaan arsitektur di Bandung, sejak lulus kuliah S1 aku memutuskan untuk mencari pekerjaan, baru nanti di tahun depan aku lanjutkan S2 ku.


Begitu juga dengan Dya dan Dita, mereka sudah kuliah sekarang, meski kuliah di perguruan tinggi yang sama, namun mereka memilih jurusan yang berbeda. Dya mengambil jurusan akuntansi, sedangkan Dita lebih memilih sastra perancis.


Ternyata Nita juga kuliah di perguruan tinggi yang sama dengan kedua adik kembarku, dia mengambil jurusan yang sama dengan Dya yakni akuntansi.


Jam dinding di kantor menunjukan pukul setengah 12 siang, saatnya para karyawan beristirahat untuk makan siang. Aku memilih makan siang di luar karna memang sudah janjian dengan Reno.


"Hai Ren, sudah nunggu lama?" tanyaku pada Reno yang sudah menungguku di salah satu restoran yang tidak begitu jauh dari kantorku.


"Hai Za, gue juga baru datang kok."


"Lo udah pesan makanan?"


"Sudah nih!"


Aku memanggil salah satu pelayan restoran untuk memesan makanan, sambil menunggu pesananku tiba, aku pun berbincang-bincang dengan Reno tentang berbagai hal mulai dari pekerjaan sampai percintaan.


"Gimana hubungan lo sama teman adik lo itu?"


"Nita maksudnya?"


"Iya, siapa lagi?"


"Baik."


"Bukan itu maksudnya."


"Ya memang baik-baik aja kok," ucapku meyakinkan Reno.


"Lo belum jadian sama dia?"


"Hahaha jadi maksud pertanyaan lo itu?"


"Lah, iya memang apa lagi coba?"


"Gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia."


"Lo berteman akrab sama dia, dari dia masih kelas tiga SMA sampai dia kuliah, jadi belum jadian?"


"Ya memang sih dia pernah ungkapin perasaannya ke gue."


"Terus, terus gimana? Cerita dong!"

__ADS_1


Tak lama kemudian pelayan restoran datang membawa pesananku.


"Bentar ya iklan," ucapku meledek Reno. Setelah makanan tersaji di meja, aku makan beberapa suap lalu mulai bercerita.


"Jadi begini ceritanya."


Ingatanku kembali pada saat Nita mengungkapkan perasaannya padaku. Hari itu tepat di hari rabu, ketika dia pulang kuliah mengajak aku bertemu di sebuah restoran.


Nita memakai baju setelan lengan panjang dan rok panjang warna peach, dengan kerudung warna abu muda, dia terlihat anggun saat itu. Sejak kuliah di semester pertama, dia memutuskan untuk berhijab sama dengan adikku Dita, dia juga sudah berhijab sejak kuliah di semester pertama.


"Maaf Kak, aku telat. Ada tugas tambahan tadi."


"Nggak apa-apa kok, santai aja."


Kemudian Nita duduk di hadapanku, " Kakak sudah pesankan minuman buat aku?"


"Iya sudah, jadi kamu tinggal minum aja. Kalau makanan saya nggak tahu kamu mau makan apa hari ini, jadi saya belum pesan."


"Nggak apa-apa Kak, nanti aja."


"Jadi ada keperluan apa ya, kamu mengajak bertemu?"


"Heummm gimana ngomongnya ya?"


"Ya sudah, ngomong aja."


"Perasaan yang bagaimana maksudnya?"


"Entah, aku ini nekat atau memang sudah gila Kak, tapi aku nggak bisa memendamnya terlalu lama lagi. Dulu aku memang masih anak SMA tapi sekarang aku sudah kuliah, jadi aku rasa nggak ada lagi yang perlu aku takutkan untuk mengungkapkan kejujuran hati ini. Aku cinta sama Kak Eyza!"


Aku terdiam cukup lama mendengar pengungkapan Nita, baru kali ini ada perempuan mengungkapkan perasaan sukanya secara langsung padaku, karna sewaktu di sekolah dulu jika ada yang tertarik padaku biasanya mereka mengungkapkan lewat surat.


"Ini nggak salah, ada cewek begitu berani ungkapin isi hatinya secara langsung, gue aja yang laki-laki biar udah bertahun-tahun memendam perasaan, tetap aja gue nggak berani ungkapin perasaan gue ke Kak Sarah," gumamku dalam hati.


"Saya nggak tahu harus jawab apa? Tapi terus terang saja, saya cukup terkejut mendengar ini."


"Saya tahu Kakak masih belum bisa move on dari perempuan yang Kakak suka sejak kelas satu SMA tapi mau sampai kapan Kakak seperti ini? Sedangkan dia belum tentu memikirkan Kakak, dan Kakak sendiri juga nggak tahu, apa dia masih sendiri atau sudah menikah."


"Kamu tahu dari siapa soal itu? Dari adik-adik Kakak ya?"


"Iya."


"Kamu memang benar Nit, nggak bisa selamanya saya seperti ini, tapi kamu juga harus tahu, bukan berarti saya tidak mau move on tapi memang belum ada yang bisa masuk ke dalam hati saya."


"Karna Kakak nggak mau berusaha buka hati Kakak untuk wanita lain, Kakak terlalu rapat menutup pintu hati Kakak, jadi nggak ada yang bisa masuk ke dalam hati Kakak."

__ADS_1


Aku terdiam memikirkan omongan Nita.


"Mungkin ada benarnya omongan Nita barusan, aku yang nggak mau berusaha buka hati buat wanita lain, tapi apa harus aku mulai semuanya dengan Nita?" bisik hatiku.


"Setelah ini terserah bagaimana Kakak menilai aku, tapi yang jelas aku hanya berusaha jujur tentang perasaan aku, tapi terus terang aku malu sebenarnya Kak, dengan penampilan aku yang seperti ini sekarang, aku malah terlalu berterus terang."


"Nggak apa-apa Nit, santai aja. Mungkin apa yang kamu katakan memang benar, seharusnya aku harus mulai buka hati untuk wanita lain, aku tidak bisa terus seperti ini, tapi aku butuh waktu untuk memulai semuanya. Aku tidak bisa jawab sekarang tentang perasaan kamu, beri aku waktu. Aku akan berusaha membuka hati aku buat kamu."


"Nggak apa-apa Kak, Kakak mau berusaha untuk membuka hati untuk aku aja, aku sudah senang banget Kak, setidaknya aku punya harapan kalau suatu saat Kakak akan menerima aku."


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Nita. Tak lama kemudian kami pun pergi meninggalkan restoran.


Reno begitu serius mendengarkan cerita aku barusan, tentang bagaimana Nita mengungkapkan perasaannya padaku.


"Terus, lo belum jadian sama dia sampai sekarang?" tanya Reno setelah mendengarkan ceritaku.


"Belum."


"Sudah berapa lama dia ungkapin perasaannya itu?"


"Sekitar dua bulan yang lalu."


"Lama banget lo kasih harapan doang ke dia, kasihan dia udah nunggu lama."


"Nanti pasti gue jawab kok, gue benar-benar harus meyakinkan hati gue, lo tahu kan gue nggak mau main-main menjalin hubungan sama seorang wanita."


"Kelamaan, waktu sama Kak Sarah aja, lo udah yakin tapi nggak lo ungkapin juga perasaan lo."


"Hehehe iya juga."


"Takut sama plin plan itu beda tipis Za, lo jadi laki-laki harus tegas, mau ya mau, nggak ya nggak, jangan mau yang nggak nggak."


"Hahahaha kenapa sekarang jadi lo yang sering nasehatin gue?"


"Habisnya, gue gregetan lihat lo."


"Hahahaha jadi takut di cubit gue."


"Diiihh siapa juga mau cubit?"


"Hehehe bercanda gue."


"Eh, udah selesai nih jam makan siang gue, gue balik ya?" ucap Reno sambil melirik jam tangannya.


"Oke, gue juga harus balik ke kantor."

__ADS_1


Setelah membayar makanan yang kami pesan barusan, aku dan Reno pun segera pergi meninggalkan restoran tersebut.


šŸ±šŸ±šŸ±šŸ±šŸ±šŸ±


__ADS_2