Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Pasien Pertama


__ADS_3

🌻🌼🌻🌼🌻🌼🌻


Ini adalah hari pertama Sarah bekerja di salah satu rumah sakit swasta di kota tempat kami tinggal. Aku mengantarnya sampai depan rumah sakit, dia tampak bahagia karna ini salah satu impiannya yang sudah terwujud, yakni menjadi seorang Dokter Spesialis Anak.


"Aku duluan ya?" ucap Sarah kemudian mencium tanganku.


"Iya, nanti aku jemput ya!" jawabku, lalu ku kecup keningnya.


Setelah mengantarkan Sarah sampai di tempat dia bekerja, aku segera mengendarai mobilku menuju kantor.


Sarah tampak sedikit gugup, karna belum ada pengalaman, baru pertama kali ini dia bekerja.


Dia terus berjalan menyusuri gedung rumah sakit menuju ruangannya.


Begitu dia ingin membuka pintu ruangan tempat dia akan menerima pasien. Tiba-tiba seorang pria bertubuh tegap memanggilnya.


"Sarah!"


Sarah menoleh ke belakang, "Pak Yudha?"


"Iya ini saya. Kamu kerja di sini?"


"Iya Pak, ini hari pertama saya bekerja di rumah sakit ini."


"Wah, berarti kita rekan kerja. Sekarang tidak ada alasan lagi untuk kamu panggil saya dengan nama saya saja, kita sama-sama bekerja di sini. Dan kamu juga bukan Mahasiswa saya lagi," ucap Yudha lalu tersenyum.


"Hemmm baiklah Dokter Yudha! Mohon pengarahannya karna saya masih baru di sini." Sarah membalas senyum Yudha.


"Siaaap Dokter Sarah. Insya Allah, saya akan selalu membantu jika di butuhkan."


"Terima kasih banyak Dokter, kalau begitu izinkan saya masuk ke dalam ruangan saya. Saya harus memeriksa pasien pertama saya."


"Oh, iya. Silahkan! Saya juga harus memeriksa pasien-pasien saya. Kalau begitu saya permisi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam," jawab Sarah lalu dia segera masuk ke dalam ruangannya. Tak lama kemudian seorang suster masuk ke dalam ruangan, menyerahkan data pasien-pasien yang harus Sarah periksa.


"Langsung di panggil saja Sus, sesuai dengan nomor urutnya."


"Baik Dok!"


Suster itu keluar memanggil pasien pertama Sarah. Tak selang beberapa lama, masuklah seorang anak laki-laki berumur sekitar empat tahun bersama ibunya.


"Silahkan duduk," ucapku pada pasien pertamaku.


"Terima kasih Dok," ucap ibu anak itu, lalu duduk di kursi di depan meja kerja Sarah, begitu juga dengan anak laki-laki itu.


"Nama kamu siapa Nak?" tanya Sarah pada anak laki itu.


"Ian," jawab anak itu.


"Nama kamu Ian?"


"Namanya Ryan Dok. Bicaranya masih belum jelas."


"Oh, iya. Usia berapa sekarang Ryan?


"Tiga tahun Dok."


"Oke. Nah, sekarang Bu Dokter mau tanya. Apa yang Ryan rasakan sekarang?"


Ryan tidak menjawab hanya memegang tenggorokannya.


"Tenggorokan Ryan sakit?"


Ryan hanya menganggukan kepala.


"Sudah berapa lama, dia merasakan tenggorokannya sakit?" tanya Sarah pada Bundanya Ryan.

__ADS_1


"Sudah tiga hari Dok."


"Dia sering minum es dan makan coklat ya?"


"Iya Dok. Anaknya senang banget makan es krim dan coklat. Kalau nggak di kasih bisa nangis, sulit berhentinya."


"Di kurangi saja Bunda, anak kecil memang agak sulit kita melarangnya. Tapi kurangi saja porsinya, atau Bunda bisa alihkan dengan memberinya puding, tapi jangan berlebihan juga."


"Ryan mau sembuuuh?"


"Au," jawab Ryan dengan bahasanya yang belum jelas di ucapkan.


"Kalau Ryan mau sembuh, berhenti dulu ya makan es krim dan coklatnya."


Ryan hanya terdiam tidak menganggukan kepala.


"Waktu Ryan makan es krim dan coklat, sakit nggak saat menelan."


Ryan menganggukan kepalanya.


"Enak nggak rasanya makan es krim dan coklat ketika tenggorokan Ryan sakit?"


Ryan hanya menggelengkan kepalanya.


"Nggak enak kan? Kalau Ryan mau makan es krim dan coklat itu lagi dengan tenggorokan yang enak. Harus berhenti dulu makan es krim dan coklatnya, nanti kalau sudah sembuh Ryan bisa makan es krim dan coklatnya, tapi ingat ya nggak boleh berlebihan."


Ryan kembali menganggukan kepalanya.


"Nanti Bu Dokter kasih kamu vitamin, di minum ya? Ini vitamin kok, rasanya enak. Biar tenggorokan Ryan cepat sembuh biar bisa makan es krim dan coklat lagi, tapi ingat pesan Bu Dokter, jangan berlebihan! Kalau berlebihan nanti sakit lagi tenggorokan Ryan."


Ryan menganggukan kepalanya lalu berusaha untuk tersenyum pada Sarah.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" ucap Sarah.


"Iya silahkan!" ucap Sarah yang masih fokus menulis resep obat untuk Ryan.


"Ayah," ucap Ryan pada pria yang baru saja mengetuk pintu kemudian menghampiri, Pria itu segera menggendongnya lalu duduk di bangku pasien di samping istrinya.


Begitu Sarah menatap ke depan betapa terkejutnya dia, begitu juga dengan Pria itu.


"Sarah?"


"Salman! Jadi ini anakmu?"


"I-iya. Ini anak saya," ucap Salman gugup.


"Ayah kenal dengan Dokter Sarah?" tanya istri Salman.


"I-iya. Ayah kenal, Dokter Sarah ini teman SMA Ayah dulu."


"Oh, yaa. Wah, saya tidak menyangka, jadi ternyata Dokter Sarah teman sekolah suami saya."


Sarah hanya tersenyum mendengar ucapan istri Salman. Tapi justru Salman yang semakin gugup mendengar ucapan istrinya.


"Ya sudah, ini saya kasih resep obatnya Bun, silahkan ambil di apotik. Nanti tolong berikan yang rutin ya tiga kali sehari, dan kasih minum air putih yang banyak, belum boleh minum air es ya!"


"Iya Dok. Terima kasih," ucap istri Salman lalu menerima resep itu dari Sarah.


"Sama-sama," ucap Sarah lalu tersenyum.


Salman menatap Sarah seolah tidak percaya akan bertemu Sarah di rumah sakit ini. Mungkin dia lebih tidak percaya lagi kalau wanita yang dulu begitu dia cintai tapi terpaksa harus dia tinggalkan karna perjodohan, kini sudah menjadi seorang dokter. Sarah hanya tersenyum melihat tatapan Salman tapi kemudian dia segera menundukkan pandangannya.


Salman dan istrinya juga anak laki-laki mereka segera keluar ruangan lalu berjalan menuju apotik rumah sakit.


"Bunda dan Ryan ke apotik duluan ya! Nanti Ayah menyusul. Ayah mau menelpon klien sebentar," ucap Salman pada istrinya.

__ADS_1


Salman pun segera menjauh mencari tempat yang tidak begitu ramai orang untuk menelpon.


Sementara itu di ruang kerja Sarah, ketika baru saja dia ingin menyuruh suster untuk memanggil pasien berikutnya tiba-tiba ponselnya berdering dari nomor yang tidak dia kenal, lalu dia segera mengangkatnya.


"Hallo. Assalamu'alaikum," ucap Sarah di ujung ponselnya.


"Wa'alaikum salam, ini aku. Kamu tidak mengenali suaraku?" jawab orang yang menelpon Sarah.


"Siapa ya?"


"Aku Salman."


Betapa kagetnya Sarah begitu mendengar nama itu, namun dia berusaha untuk tetap profesional walau bagaimana pun Salman adalah ayah dari pasiennya barusan.


"Iya, ada apa ya Pak? Semua obat sudah saya tulis di resep. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Saya bukan ingin membicarakan soal obat, Sarah."


"Lalu mau bicarakan apa ya?"


"Kamu sudah tidak menyimpan nomor handphoneku?"


"Waktu itu handphone saya ke resert, jadi banyak contact telpon yang hilang."


"Oh, begitu. Saya minta maaf Sarah, dulu saya tidak bermasud meninggalkanmu."


"Kenapa kamu malah membahas ini di telpon? Sudah lah, semua sudah berlalu."


"Tapi saya benar-benar merasa bersalah."


"Apa kamu bisa membatalkan apa yang sudah terjadi?"


"Tentu saja tidak bisa Sarah."


"Lalu buat apa kamu merasa bersalah terus, kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu."


"Iya juga tapi saya benar-benar menyesal sudah meninggalkanmu."


"Sudah lah Salman, kita sama-sama sudah berkeluarga. Jadi tidak perlu ada lagi yang harus kita bahas soal hubungan kita."


"Oh, iya. Aku dengar-dengar kamu menikah dengan adik kelas kita sewaktu SMA dulu ya?"


"Iya benar."


"Dengan siapa?" tanya Salman penasaran.


"Eyza."


"Apaaaa? Yang pernah nyanyi duet dengan kamu itu?"


"Iya."


"Ternyata dia, laki-laki beruntung yang bisa mendapatkan kamu."


"Maaf Pak Salman, saya sedang bekerja. Saya harus memeriksa pasien-pasien saya yang lain, jadi saya tidak bisa mengobrol terlalu lama di telpon," ucap Sarah masih di ujung ponselnya. Dia merasa sudah terlalu risih dengan obrolannya bersama Salman.


"Oh, iya. Maaf-maaf, baiklah saya akan tutup telponnya. Assalamu'alaikum," ucap Salman mengakhiri percakapannya dengan Sarah.


"Wa'alaikum salam." Sarah menjawab salamnya kemudian menutup telpon, lalu meletakkan ponselnya di dalam laci meja kerjanya.


"Suster, tolong panggilkan pasien berikutnya!"


"Baik Dok," ucap Suster lalu segera keluar untuk memanggil pasien berikutnya.


*Bersambung ........


Sabar ya Kakak, nantikan episode selanjutnya.

__ADS_1


See you πŸ˜‰*


__ADS_2