Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Hukuman


__ADS_3

šŸ’—šŸ’žšŸ’—šŸ’žšŸ’—šŸ’žšŸ’—


*Terima kasih ya .... Nasi goreng buatanmu enak, sudah aku makan sampai habis.


I love you too and i hope you believe it's true*.


Ku baca pesan singkat dari Sarah sampai berkali-kali sambil tersenyum sendiri. Aku tak menyangka kalau Sarah menyukai nasi goreng buatanku. Ketika sedang asik membaca pesan tersebut, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" jawabku dari dalam ruangan.


"Maaf Pak, saya hanya ingin memberikan berkas ini!"


"Oh, iya silahkan taruh saja di meja."


"Baik Pak!" setelah meletakkan berkas tersebut di atas meja, staff kantor itu pun pamit meninggalkan ruanganku.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat sore saatnya aku pulang kantor, segera aku bereskan berkas-berkas lalu bergegas menjemput Sarah.


Begitu sampai di rumah sakit, aku mencari area parkir mobil lalu segera mencari ruang praktek Sarah. Sengaja aku tak memberitahunya kalau aku akan menjemputnya karna ingin memberi surprise padanya.


"Permisi, maaf saya mau tanya. Ruang prakter Dokter Sarah dimana ya?" tanyaku pada salah seorang office boy di rumah sakit itu.


"Oh, dokter baru itu ya?"


"Iya betul."


"Di lantai dua Pak!"


"Oh, oke. Makasih ya!"


Segera aku susuri anak tangga menuju lantai dua karna ku lihat lift selalu penuh oleh pengunjung rumah sakit. Aku baca tiap papan nama di tiap pintu, dan akhirnya ketemu juga.


"Nah, ini ruangannya!"


Tok! Tok! Tok!


"Apa saya masih ada pasien Sus?"


"Nggak ada Dok."


"Lalu itu siapa?"


"Sebentar saya lihat Dok."


Suster pun membuka pintu.


Ceklek!


" Selamat sore sayang .... " ucapku pada Suster yang membuka pintu. Betapa kagetnya aku ternyata bukan Sarah yang membuka pintu, begitu juga dengan Suster itu, dia pun cukup terkejut karna aku memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Maaf Bapak siapa?"


"Oh, maaf-maaf. Saya suaminya Dokter Sarah."


"Oh, iya. Silahkan masuk Pak!"


Rupanya Sarah mendengar saat aku memanggil Susternya itu dengan sebutan sayang, dia hanya senyum-senyum sendiri bahkan hampir tertawa melihat aku yang salah tingkah.


"Terima kasih Sus."


"Dok, kalau begitu saya pamit duluan ya. Ini suami Dokter juga sudah datang."


"Oh, iya Sus, terima kasih ya!"


"Permisi Pak!"


"I-iya Sus, maaf ya .... "


Suster itu hanya tersenyum lalu berlalu dari hadapanku.


Aku tutup pintu ruangan, baru setelah itu Sarah melepaskan tawanya yang sedari tadi dia tahan.

__ADS_1


" Hahaha .... "


"Hemmm kamu senang ya melihat aku malu."


"Habisnya lucu, kamu panggil Suster tadi dengan sebutan sayang? Hehehe .... "


"Hemmm berani meledekku rupanya Dokter cantik ini, ingin minta di cium ya!"


Aku berlari pelan ke arah Sarah, lalu menarik pinggangnya yang ramping agar lebih dekat denganku.


"Kamu mau ngapain?"


"Mau menghukummu."


"Tapi ini rumah sakit Eyza."


"Aku nggak perduli."


Aku terus saja mendekatkan wajahku dengan wajahnya.


"Eyza, aku minta maaf. Eyza .... "


Aku tak menghiraukan ucapan Sarah tapi malah mendaratkan sebuah kecupan di bibir tipisnya.


Cup!


"Sudah, ayo kita pulang!" ajak Sarah padaku.


"Hukumannya belum selesai."


"Maksud kamu?"


Aku tak menjawab pertanyaan Sarah tapi malah melingkarkan kedua tangannya di leherku.


"Eyza, ini rumah sakit."


"Kita ini suami istri sayang, dan di sini hanya ada kita berdua."


Belum selesai Sarah bicara, aku langsung menciumnya, dan pada akhirnya Sarah pun tidak mampu menolak keinginan suaminya. Semakin lama ciuman itu pun semakin dalam. Namun baru beberapa detik itu berlangsung, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


Sarah sangat terkejut dan langsung mendorongku cukup keras, hingga kepalaku terbentur tembok.


Brukk!!


"Aduhh," ucapku sedikit meringis, sambil ku usap-usap belakang kepalaku.


" Maaf ... " ucap Sarah dengan suara sedikit di pelankan. Lalu dia segera melangkah ke arah pintu, untuk membukanya.


"Dokter Yudha!"


"Maaf jika saya mengganggu, apa Dokter Sarah sudah selesai prakteknya?


"Sudah kok, ada apa ya kalau saya boleh tahu?"


"Nggak ada apa-apa kok. Saya hanya ingin menawarkan pulang bareng dengan saya jika Dokter Sarah tidak keberatan."


"Maaf, saya sudah ada yang menjemput."


Aku pun segera keluar untuk menemui Yudha.


Begitu aku berdiri di samping Sarah, aku hanya tersenyum melihat Yudha.


"Oh, maaf saya tidak tahu kalau suami Dokter Sarah sudah menjemput."


"Nggak apa-apa," ucapku.


"Duh, rasanya ingin ku tonjok saja Dokter Yudha ini. Berani-beraninya mengajak istri orang untuk pulang bareng, untung suaminya Sarah itu aku," ucapku dalam hati.


"Ya sudah kalau begitu, saya duluan ya!" ucap Dokter Yudha, namun tak dapat dia sembunyikan wajah malunya.


"Baik Dok," ucap Sarah pada Yudha.

__ADS_1


Setelah Dokter Yudha pergi, aku dan Sarah kembali masuk ke dalam ruangan. Sarah pun segera membereskan barang-barangnya.


Aku berdiri menyandarkan punggungku di tembok sambil menyilangkan kedua tanganku di bawah dada, "Aku ingin kita segera sampai di rumah untuk melanjutkan hukumanmu."


Sarah kaget mendengar ucapanku, "Maksudmu?"


"Sudah, cepat bereskan barang-barang kamu."


"Iya," ucap Sarah sambil merapihkan barang-barang yang dia bawa dari rumah.


"Oh, iya. Karna kamu sudah membenturkan kepalaku ke tembok, maka hukumannya jadi dua kali lipat," ucapku lalu tersenyum meledek Sarah.


"Hhhhhh terserah kamu saja, asal jangan di sini."


" Hehehe .... "


"Ayo, kita berangkat!" ajak Sarah padaku.


Kami pun segera keluar menuju area parkir mobil.


"Kepalaku sakit banget ini," ucapku sambil terus mengendarai mobil.


"Maaf aku nggak sengaja, spontan," ucap Sarah lalu tersenyum padaku.


"Huuhh, gara-gara Yudha itu. Kamu sampai mendorongku sekeras itu."


"Yah, mana aku tahu dia mau mengetuk pintu."


"Apa dia sering mengajakmu pulang bareng?"


"Baru hari ini, kan aku juga baru dua hari kerja di rumah sakit itu."


"Dia masih sendiri?"


"Sepertinya iya."


"Aneh, sudah mapan dan sukses kenapa masih belum menikah."


"Mungkin memang belum bertemu dengan jodohnya."


"Kalau nggak berusaha bagaimana mau ketemu."


"Apa kamu cukup berusaha untuk mendapatkan aku?"


"Hehehe iya sih, kita di jodohkan. Tapi kan aku tetap berusaha untuk mendapatkan hatimu." Aku tersenyum ke arah Sarah.


Akhirnya tiba juga kami di depan rumah. Begitu masuk ke dalam, Sarah segera berganti pakaian dan membuatkan aku teh manis hangat.


"Ini tehnya!"


"Terima kasih." Aku ambil cangkir teh itu lalu meminumnya.


"Kamu mau menghukumku atau menungguku selesai mandi." Kali ini Sarah yang mencoba menggodaku lalu berlalu dari hadapanku.


" Auw auw auw .... Rupanya istriku sekarang sudah pandai merayu ya ... " Aku kejar Sarah yang berusaha menghindar dariku, tapi dia keburu masuk ke dalam kamar mandi.


"Buka pintunya Sayang," rengekku pada Sarah.


"Mau ngapain?" tanya Sarah dari dalam kamar mandi.


"Kamu sudah merayuku, jadi harus tanggung jawab."


"Hehehe sabar ya, sebentar lagi aku selesai mandi, jadi kamu bisa gantian mandi."


"Bukan itu."


"Lalu apa?" tanya Sarah pura-pura tidak mengerti keinginan suaminya.


Bersambung ...


Nanti lanjut lagi ya Kakak. Sudah malam, saatnya Author bobo cantik dulu 😊😓


See you šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2