Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Gagal ungkapkan rasa


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


Hari ini acara kelulusan bagi siswa kelas tiga di sekolahku. Semua siswa kelas tiga tampak senang merayakan kelulusan mereka, ada yang saling mencoret-coret baju, ada juga yang berfoto-foto.


"Ternyata masih ada tradisi coret-coret baju disini, gue pikir cuma di Jakarta aja," ucapku dalam hati.


Aku memperhatikan para kakak kelasku merayakan kelulusan mereka dari atas balkon sekolah karna kebetulan kelasku berada di lantai dua. Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang gadis bertubuh tinggi semampai, yang tampak asyik berfoto-foto dengan teman-temannya. Ya, siapa lagi kalau bukan Kak Sarah.


"Sebentar lagi Kak Sarah akan masuk perguruan tinggi, sudah tidak lagi sekolah di sekolah ini. Nggak akan ada lagi senyum manis yang bisa gue bawa pulang ke rumah deh." Tiba-tiba Reno darang menepuk bahuku.


"Hei, bengong aja!"


"Hei Ren!"


"Heummm pantas aja, gue pikir lo lagi bengong, ada yang lo perhatiin ternyata."


"Sebentar lagi Kak Sarah masuk perguruan tinggi Ren, nggak ada lagi yang bisa gue perhatiin dari atas balkon, hampa banget rasanya hati gue Ren."


"Kaya Ari Lasso dong Za! Entah dimana dirimu berada, hampa terasa hidupku tanpa dirimu, apakah disana ... "


"Udah udah, nggak usah nyanyi Ren, suara lo bikin gue tambah galau."


"Ah, sialan lo Za. Eh, tapi memangnya beneran nggak ada satu pun cewek di sekolah ini yang lo taksir, selain Kak Sarah?"


"Hati gue udah mentok di Kak Sarah Ren."


"Masa sih Za? padahal disini banyak cewek cakep loh, apalagi mojang bandung, siapa sih yang nggak tahu mojang bandung."


"Iya gue tahu, tapi mau gimana lagi hati gue maunya sama dia."


"Susah sih emang kalau udah cinta."


"Memangnya elo nggak pernah ngerasain jatuh cinta pada pandangan pertama Ren?"


"Pernah sih, tapi gue nggak tahu itu pandangan pertama apa pandangan kedua. Memang jatuh cinta pandangan pertama itu kaya gimana Za?"


"Waktu lo pertama kali lihat dia, lo langsung suka dan semakin hari perasaan yang lo rasa makin bertambah."


"Begitu ya?"


"Menurut gue!"


"Dan seperti itu yang lo rasa ke Kak Sarah?"


"Iya, gue juga nggak tahu kenapa? Ini baru pertama kalinya gue suka sama cewek berkerudung, lebih dewasa dari gue pula."


"Memang sebelumnya gimana cewek lo?"


"Nggak pake kerudung, usianya juga di bawah gue."


"Masa sih Za?"


"Iya, kan gue pacarannya sama adik kelas. Cuma pas kelas satu aja tuh, sama yang sekelas."


"Sekarang lo demennya sama Kakak kelas, berarti lo ada peningkatan Za."


"Hahahaha bisa aja lo."


"Trus kapan lo mau ungkapin perasaan lo ke Kak Sarah?"


"Itulah yang gue pikirin Ren, masalahnya dia mau nggak pacaran sama cowok yang usianya di bawah dia."


"Jadi selama berbulan-bulan belum lo ungkapin, karna lo nggak percaya diri?"


"Ehehehe iya!"


"Hahahaha seorang Eyza, nggak percaya diri untuk urusan cewek."


"Itulah bedanya suka sama cinta Ren."


"Dimana bedanya?"


"Waktu SMP mungkin gue cuma sekedar suka, makanya gue berani ungkapin duluan nggak pake pendekatan, ibarat orang suka sesuatu dan kepengen, ada uang tinggal beli. Uang dan keinginan di sini ibarat kekuatan."


"Kalau cinta?"


"Nah, sama Kak Sarah, mungkin bisa di bilang cinta, karna gue nggak punya kekuatan buat ngomong cinta sama dia. Boro-boro ngomong, baru di tatap aja jantung gue udah mau copot rasanya, gimana ngomong, bisa pingsan gue."


"Hahahaha lebay lo Za."


"Begitulah kalau orang lagi jatuh cinta Ren, yang pendiam bisa jadi lebay, yang lebay bisa tambah lebay hehehe .... "


"Dan elo, yang lebay kayanya alias berlebihan hahaha ... "


"Haha terserah deh, lo mau bilang gue lebay atau apalah yang penting gue cinta sama Kak Sarah."


"Dasar bucin lo, budak cinta hahaha ... "


"Hahaha lo mau bilang gue apapun, gue terima Ren, asal jangan elo suruh gue hilangin perasaan gue buat Kak Sarah."


"Hhhhhhhh cintaaaa cinta, deritanya tiada akhir."


"Mencintai itu memang menderita Ren, bikin tersiksa batin."


"Tapi elo nggak mau hilangin perasaan itu."


"Kalau gue hilangain perasaan ini, bikin gue tambah tersiksa Ren."


"Hhhhhhh terserah elo deh Za, mau gue nasehatin kaya gimana juga, nggak bakal kena di hati lo."


"Hahaha menasehati orang yang sedang jatuh cinta itu adalah perbuatan yang sia-sia Ren. Percuma, bikin lo pegel hati doang."


"Emang, udah ah kita kaya lagi main drama."


"Hehehehe ... "


"Tapi sampai kapan lo akan pendam perasaan lo Za?"


"Nanti kalau saatnya tiba gue pasti ungkapin kok!"


"Kapan saat itu? Ntar Kak Sarah keburu di lamar orang."


Aku terdiam memikirkan perkataan Reno barusan.


"Eh, tapi Kak Sarah itu, bukannya punya hubungan sama Kak Salman ya?"

__ADS_1


"Kata siapa lo?"


"Kata gue barusan."


"Hhhhhh capek deh."


"Hehehe gue serius tanya, mereka ada hubungan apa nggak?"


"Nggak ada, cuma temenan kaya elo sama Kak Sarah."


"Oh, begitu. Lo tahu aja Ren, cocok lo jadi host acara gosip."


"Tadi lo tanya, gue jawab malah begitu."


"Eh, iya. Maaf, maaf ... "


"Berarti gue punya banyak kesempatan dong!"


"Banyak, tapi kalau lo diam terus, kesempatan lo bakal di ambil orang."


"Iya juga ya ...!"


"Tet tet tettttttttttttttt!"


Bel pulang sekolah pun berbunyi, para siswa berhamburan masuk ke dalam kelas mengambil tas, ada juga yang sudah keluar kelas untuk pulang.


"Ini kesempatan terakhir lo Za, karna setelah ini Kak Sarah sudah nggak sekolah disini lagi, dan lo nggak akan punya kesemapatan lagi untuk ungkapin perasaan lo," ucap Reno sambil memegang bahuku.


"Iya Ren, doain gue ya!" Reno hanya menganggukan kepalanya. Kemudian kami masuk ke dalam kelas untuk mengambil tas, kemudian melangkah keluar meninggalkan kelas.


"Gue duluan ya Za, semoga lo di terima."


"Gue udah kaya mau ngelamar kerjaan Ren."


"Hahahaha masih sempat-sempatnya lo bercanda, gue tahu hati lo lagi tegang."


"hehe tahu aja lo."


"Ya udah, gue balik duluan ya!"


" Iya Ren, hati-hati ya!"


"Oke."


Reno pun pergi meninggalkan aku yang sedang menahan degup jantungku yang semakin lama semakin kencang.


Aku terus berjalan menyusuri anak tangga, baru saja tiba di lantai dasar, aku sudah melihat Kak Sarah sedang duduk di bangku depan kelasnya, aku segera menghampiri Kak Sarah.


"Maaf Kak, apa kita bisa bicara sebentar?"


"Eh, Eyza. Mau bicara apa ya? Mau bicara disini?"


"Di kantin aja Kak, boleh?"


"Oh, oke oke, sebentar ya!" kemudian Kak Sarah masuk ke dalam kelasnya.


"Nancy!"


"Iya Sar, ada apa?"


"Eyza yang waktu itu kamu kenalin ke aku?"


"Iya!"


"Oh, oke oke!"


"Ya sudah ya, aku keluar duluan ya!"


"Iya!"


Kemudian Kak Sarah kembali menghampiriku.


"Ayo Eyza!"


"Iya Kak!" kami pun berjalan menuju kantin.


"Sebentar ya Kak, saya pesan minum dulu. Kakak mau minum apa?"


"Jus mangga aja!"


"Oke sebentar!"


Tak lama kemudian aku kembali menghampiri Kak Sarah dengan membawa dua gelas jus mangga.


"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kak Sarah padaku kemudian meneguk segelas jus mangga dengan sedotan.


"Saya hanya mau kasih ini ke Kakak! jawabku kemudian mengeluarkan kotak yang sudah di bungkus dengan kertas kado bermotif bunga mawar merah dari dalam tasku.


"Apa ini Eyza?"


"Hanya hadiah kecil dari saya, sebagai ucapan selamat saya atas kelulusan Kakak."


"Oh, masya Allah. Kamu repot-repot segala, terima kasih ya."


"Sama-sama Kak, selama ini kan Kakak juga sudah banyak membantu saya."


"Boleh saya buka sekarang?"


"Jangan Kak, nanti aja di rumah!"


"Baiklah kalau begitu," jawab Kak Sarah kemudian tersenyum padaku, lalu memasukan kotak itu ke dalam tasnya.


"Jangan di lihat dari harganya ya Kak, tapi ketulusannya."


"Haha oke, oke. Saya tidak pernah memandang pemberian orang dari nilainya kok!"


"Alhamdulillaaah," ucapku kemudian tersenyum.


"Oh iya, rencananya setelah ini Kakak mau lanjutkan kuliah dimana?"


"Insya Allah saya mau kuliah di salah satu universitas negeri di Jakarta."


"Oh ya, kereeen sudah daftar Kak?"


"Sudah, tingal menunggu pengumuman penerimaan saja."

__ADS_1


"Kakak ambil jurusan apa?"


"Saya ambil jurusan kedokteran spesialis anak."


"Wah keren, Kakak suka anak-anak ya?"


"Ya saya suka anak kecil, anak kecil itu polos, apa adanya, menyenangkan buat saya kalau sudah bermain dengan anak kecil."


"Udah cantik, pintar, keibuan lagi, cowok mana yang nggak mau sama dia. Duh, Kak Sarah andai saja aku udah kuliah terus kerja, sudah aku lamar kamu." Tanpa aku sadari Kak Sarah sedang memperhatikan aku yang sedang melamun.


"Tapi sayangnya, gue masih jauh banget buat ngelamar Kak Sarah. SMA aja belum lulus, boro-boro mau ngelamar anak orang, yang ada gue di kuliahin di luar negeri sekalian."


"Ehemmm kamu melamun lagi Eyza?"


"Eh, nggak kok Kak."


"Setiap ngobrol berdua dengan saya, kamu pasti melamun."


"Karna kamu cantik hari ini, dan aku suka," gumamku dalam hati.


"Kamu beneran nggak ada apa-apa? Habisnya melamun terus dari tadi."


"Nggak kok Kak, beneran!"


"Oh iya, nanti kalau kamu sudah lulus, kamu rencana mau kuliah jurusan apa?"


"Saya mau ambil jurusan arsitektur Kak!"


"Wah, bagus itu! Kamu senang gambar ya?"


"Iya, begitu deh."


"Orang yang senang gambar biasanya kreatif, saya senang dengan cowok yang kreatif, kamu suka gambar apa aja?"


"Paling gambar animasi Kak, atau gambar pemandangan, kadang gambar gedung bertingkat juga."


"Kalau gambar wajah saya bisa nggak? Hehehe saya hanya bercanda."


"Jangankan gambar wajah Kakak, gambar wajah saya di hati Kakak, saya juga bisa."


"Hahaha bercandamu keren Eyza."


"Lah, sekalinya gue ungkapin di bilang bercanda, dia nggak tahu jantung gue deg-degannya kaya apaan waktu ucapin kata-kata barusan," ucapku dalam hati, aku hanya tersenyum mendengar Kak Sarah bilang seperti itu.


"Kamu itu kenapa sih senang banget bercandain orang Eyza?"


"Hidup ini jangan terlalu serius Kak, nanti pusing. Biarlah pusing-pusing itu buat mereka yang sudah berumah tangga."


"Boleh juga quotenya, lalu kalau nanti ujian, kamu juga nggak serius dong belajarnya?"


"Itu beda lagi Kak, pasti serius lah, kalau nggak serius aku kapan kuliahnya kalau sampai nggak naik kelas."


"Hehehe iya juga, memangnya kamu sudah pengen kuliah?"


"Iya Kak. Kuliah, kerja, trus nikah."


"Nikah? Kamu sudah ada pemikiran untuk nikah?"


"Ya nanti Kak, sekolah dulu yang benar, kuliah, cari kerja, baru deh nikah."


"Kirain kamu sudah pengen nikah."


"Hahahaha ya belum kalau sekarang-sekarang Kak!"


Kak Sarah hanya tersenyum mendengar jawabanku.


"Kamu benar tidak ada lagi yang ingin di bicarakan? Kalau tidak ada, saya mau pulang ya," tanya Kak Sarah sambil melirik jam tangannya.


"Nggak Kak, cuma mau kasih yang tadi aja."


"Oke, kalau begitu saya pulang duluan ya!"


"Kakak pulang naik apa?"


"Paling ojek online."


"Biar saya antar ya?"


"Hmmm nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa Kak."


"Baiklah!"


Setelah membayar jus mangga yang barusan kami minum, aku dan Kak Sarah menuju parkiran motor sekolah. Kami pun segera pergi meninggalkan halaman sekolah. Tak lama kemudian sampai juga di depan halaman rumah Kak Sarah.


"Kamu mau mampir dulu?"


"Lain kali aja Kak, takut Bunda nunggu."


"Oh iya, sampai lupa tolong sampaikan ke Bunda ya, dapat salam balik dari papa dan mama saya."


"Iya Kak, insya Allah nanti di sampaikan."


"Oke, kalau begitu saya masuk ke dalam ya, trimakasih sudah di antar, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, sebentar Kak Sarah!"


Kak Sarah menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arahku.


"Iya, ada apa Eyza?"


"Kalau nanti saya kesulitan menyelesaikan tugas sekolah, apa masih boleh saya minta bantuan Kakak, karna kita kan sudah tidak satu sekolah lagi."


"Tentu saja boleh, kenapa tidak? Kamu masih simpan nomor telpon saya kan?"


"Iya masih Kak!"


"Kamu bisa hubungi saya jika ada keperluan."


"Baik Kak, trimakasih sebelumnya."


"Sama-sama, saya duluan ya!" Kak Sarah pun pergi meninggalkan aku yang sedang galau karna belum berhasil mengungkapkan perasaanku.


"Lagi-lagi gue gagal ungkapin perasaan gue ke Kak Sarah. Hhhhhh kalau memang kita berjodoh, insya Allah kita akan bertemu di pelaminan Kak, gue yakin saat itu akan ada," ungkapku dalam hati.

__ADS_1


šŸ’šŸ’šŸ’šŸ’šŸ’


__ADS_2