Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Bertukar kenang-kenangan


__ADS_3

šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–


Tiba-tiba Kak Sarah dan Kak Salman menghampiriku.


"Ezya, dari dulu suaramu memang keren!" ucap Kak Salam sambil mengajakku berjabat tangan.


"Makasih Kak." Aku terima jabat tangannya.


"Gimana kabarmu sekarang?" tanya Kak Salman padaku.


"Alhamdulillah baik Kak, Kakak sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah saya juga baik."


"Sebentar lagi anak ini kuliah, bakal menyaingi kita," ucap Kak Salman kepada Kak Sarah, aku hanya tertawa mendengarnya.


"Hahaha Kakak bisa aja."


"Loh, sebentar lagi memang kamu jadi anak kuliahan kan?"


"Hehe insya Allah Kak."


"Mau kuliah jurusan apa kamu nanti Eyza?"


"Inya Allah Arsitektur Kak."


"Wuiiiih mantaaaap."


"Kakak sendiri kuliah jurusan apa?"


"Sastra jepang."


"Wuiiiih mantap Kakak, mau jadi dosen Kah?"


"Insya Allah rencananya seperti itu, tapi saya harus melanjutkan S2 setelah lulus nanti, jadi terpaksa saya langsung melanjutkan kuliah di Jepang nanti."


"Harus di Jepang?"


"Ya nggak harus, tapi memang keinginan saya aja mau melanjutkan disana, kebetulan orang tua juga menginginkan seperti itu."


"Oh, begitu .... "


"Memang keren sih Kak Salman, udah ganteng, muka blasteran indonesia-Arab, cerdas pula. Pantas lah kalau sama Kak Sarah," bisikku dalam hati.


"Hei, Doni!" Kak Salman melambaikan tangannya kepada Kak Doni.


"Aku kesana dulu ya!" ucap Kak Salman kepada Kak Sarah.


"Oh, iya. Aku disini dulu nggak apa-apa ya?"


"Oh, iya nggak apa-apa, saya temui Doni dulu ya?"


"Iya."


"Eyza saya temui teman-teman saya dulu ya!"


"Oh, iya Kak, silahkan!" Kak Salman pun pergi meninggalkan aku dan Kak Sarah.


"Kita boleh ngobrol sebentar Eyza?"


"Boleh Kak, mau ngobrol dimana?"


"Disitu saja!" jawab Kak Sarah sambil menunjuk dua bangku yang masih kosong, kami pun menuju kesana.


"Lagu yang barusan kamu nyanyikan, itu kamu sepertinya begitu menghayati banget ya?" Kak Sarah memulai obrolan.


"Oh, itu. Saya memang suka sekali dengan lagu itu, jadi terlalu menjiwai mungkin," jawabku gugup.


"Masa sih, tapi kamu seperti sedang mengalami."


"Hahaha itu kan hanya perasaan Kak Sarah aja."


"Mungkin juga ya! Oh, iya bagaimana dengan wanita yang kamu sukai itu? Apa kalian sudah jadian?" tanya Kak Sarah.


"Boro-boro jadian Kak, yang ada patah hati aku sebelum jadian, hiks .... " gumamku dalam hati.


"Oh, dia sudah jadian sama orang lain Kak."


"Ooo, sungguhkah? Saya turut bersedih Eyza," ucap Kak Sarah dengan raut wajah sedihnya.


"Nggak apa-apa Kak, mungkin memang saya belum berjodoh dengan dia."

__ADS_1


"Pasti kamu tidak pernah mengungkapkan perasaan kamu ke dia kan?" tanya Kak Sarah padaku.


"Itulah masalahnya Kak, saya hanya bisa mencintai tapi tak bisa mengungkapkan," jawabku lalu ku tatap mata Kak Sarah dengan tatapan yang dalam.


Aku lihat Kak Sarah menatapku dengan tatapan kesedihan, matanya mulai berkaca-kaca namun aku segera tersenyum untuk mengalihkan pandangannya.


"Kenapa jadi Kakak yang sedih? Insya Allah saja baik-baik saja Kak."


"Saya hanya teringat Faiz, kamu sudah seperti adik bagi saya, kamu pasti sedih banget Eyza, sebagai seorang Kakak saya ikut merasakan kekecewaan dan kesedihan adiknya."


"Mungkin itu salah satu masalahnya juga Kak, Kakak selalu menganggap aku adik Kakak, sehingga aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku. Bagaimana mungkin seorang adik mengungkapkan rasa cinta pada Kakaknya sendiri," gumamku dalam hati.


"Kakak tenang saja, insya Allah saya cukup tegar Kak, saya selalu ingat pesan Ayah. Jadi laki-laki itu harus kuat, bukan hanya kuat fisiknya tapi juga kuat hatinya, jika belum berjodoh dengan seseorang yang kita cintai, maka kita harus berlapang dada menerima itu semua," ucapku pada Kak Sarah kemudian tersenyum, Kak Sarah pun membalas senyumanku.


"Kak Sarah!"


"Iya, ada apa Eyza?" tanya Kak Sarah.


"Apa boleh kita berfoto? Sebagai kenangan perpisahan, setelah ini Kakak kan akan kembali ke Jakarta."


"Jangan bicara seperti itu, suatu saat nanti insya Allah kita pasti ketemu lagi."


"Hehe iya Kak."


"Ya sudah, boleh."


Aku memanggil salah seorang teman untuk meminta tolong memotret kami. Akhirnya kami pun berfoto bersama menggunakan kamera ponselku.


Cekrek!!


"Nanti kirim ke Whatsapp Kakak ya!"


"Saya kan tidak tahu nomor handphone Kakak yang baru."


"Oh, iya lupa. Saya belum beritahu ya? Ini catat!"


Setelah aku masukan nomor handphone Kak Sarah yang baru ke dalam contact personal di ponselku, lalu segera aku kirim ke whatsapp Kak Sarah.


Kak Sarah membuka pesan dariku, lalu tersenyum melihat foto yang barusan aku kirim.


"Kamu terlihat jauh lebih dewasa ya sekarang, terutama disini, sudah ada jenggot tipis di dagumu!" ucap Kak Sarah sambil menunjuk dagunya dengan telunjuk kanannya.


"Hehehe iya sunnah Rasul."


"Tuhan, andai saat ini waktu berhenti berputar, mungkin hamba akan menjadi manusia paling bahagia, karna bisa terus menatap senyum Kak Sarah, dan tertawa bersamanya, sebelum hamba menyadari setelah waktu berputar kembali, bahwa dia sudah menjadi milik orang lain." bisikku lirih di dalam hati.


"Eyza, kamu masih saja suka melamun!"


"Eh, Nggak kok Kak. Aku nggak melamun," jawabku gugup.


"Kalau nggak melamun, terus yang tadi itu apa namanya?"


"Itu namanya berdiam diri sejenak Kak."


"Hehehe kamu memang paling jago meloloskan diri jika sudah tertangkap basah."


" Hehehe .... " aku hanya tertawa sambil menggaruk kepala.


"Oh, iya saya punya kenangan buat kamu." Kak Sarah melepaskan gelang kayu berbentuk bulat-bulat kecil berwarna coklat tua, dari pergelangan tangan kirinya, kemudian di serahkan padaku.


"Ini untuk kamu!"


"Apa ini Kak?"


"Itu namanya gelang kaukah, jumlahnya ada 33 butir, kamu bisa gunakan itu sebagai tasbeh."


"Oh ya, bagus kak. Aku pakai ya?" Kak Sarah hanya menganggukan kepala, kemudian aku pakai gelang itu di pergelangan tangan kananku.


"Aku kasih apa ya sebagai kenangan buat Kakak?"


"Tidak usah Eyza, saya tidak mengharapkan balasan apa-apa."


Aku lepaskan jam tangan tali karet warna putih bening transparant dari pergelangan tangan kiriku, lalu ku serahkan kepada Kak Sarah.


"Ini kenangan dari saya Kak!"


"Tidak Eyza, ini jam tangan mahal, maaf saya nggak bisa terima."


"Nggak apa-apa Kak, saya hanya punya ini sebagai kenangan-kenangan dari saya, Kakak tahu kenapa saya kasih ini?"


"Kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Ini hadiah ulang tahun saya yang ke tujuh belas tahun dari ayah, jam ini sangat berarti bagi saya, makanya saya kasih ke Kakak, tapi Kakak tenang aja, model jamnya bisa di pakai laki-laki dan perempuan kok."


"Tuh, apalagi ini pemberian ayah kamu, maaf saya nggak bisa terima."


"Kakak tenang aja, walaupun ayah tahu saya berikan ke Kakak pasti ayah nggak akan marah."


"Loh, kok bisa begitu?"


"Karna Kakak, Kakak yang baik," jawabku lalu tersenyum.


"Kamu paling bisa merayu."


"Hehehe ini di terima ya, biar setiap waktu Kakak selalu ingat saya kalau pakai jam tangan ini."


"Hehehe begitu ya?"


"Bercanda," jawabku lalu kembali tersenyum.


"Baik lah, saya terima." Kak Sarah menerima jam tangan pemberianku lalu memakainya di pergelangan tangan kirinya.


"Tuh kan, pantas di pakai Kak Sarah."


"Tapi saya nggak nyaman pakainya Eyza, ini kan pemberian ayah kamu."


"Oke, biar lebih tenang, sebentar saya telpon ayah ya!"


šŸ“² Aku


Asslamu'alaikum Ayah.


šŸ“² Ayah


Wa'alaikum Za, ada apa?


šŸ“² Aku


Kalau Eyza kasih jam tangan yang Ayah belikan waktu ulang tahun Eyza yang ke tujuh belas ke Kak Sarah, boleh?"


šŸ“² Ayah


Wah, ada apa ini tiba-tiba kamu ingin memberikan jam tangan itu untuk Kak Sarah?


šŸ“² Aku


Eyza hanya ingin memberikan sebagai kenang-kenangan, karna hanya itu yang Eyza punya, sebentar lagi Kak Sarah balik ke Jakarta, jadi apa salahnya kalau Eyza memberikan itu sebagai kenangan.


šŸ“² Ayah


Oh, begitu. Iya boleh, berikan saja.


šŸ“² Aku


Eyza loadspeaker ya karna Kak Sarah nggak mau terima, karna nggak enak hati katanya karna itu pemberian Ayah.


šŸ“² Ayah


Oh, begitu. Boleh di loadspeaker aja.


Aku segera loadspeaker ponselku agar suara Ayah terdengar oleh Kak Sarah.


šŸ“² Ayah


Boleh Eyza, berikan saja jam tangan itu untuk Kak Sarahmu itu, jangan lupa sampaikan salam Ayah untuk dia, dan kamu ....


Belum selesai Ayah selesai bicara langsung aku tutup loadspeakernya.


šŸ“² Aku


Makasih ya Ayah, assalamu'alaikum


šŸ“² Ayah


Wa'alaikum salam, tapi Ayah belum selesai bicara Eyza, Eyza!


Ponsel pun segera aku tutup sebelum ayah bicara macam-macam kepada Kak Sarah yang mungkin bisa mempermalukan aku.


"Nah, sudah dengar sendiri kan? Nggak masalah kalau saya berikan jam tangan ini kepada Kakak."


"Baiklah saya terima, terima kasih ya!" ucap Kak Sarah kemudian melirik jam tangan yang barusan dia pakai di pergelangan tangan kirinya. Aku tahu Kak Sarah tidak enak hati menerimanya tapi karna aku memaksa, dia tetap menerima.


šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜šŸ˜

__ADS_1


__ADS_2