Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Reno, curhat lagi dong!


__ADS_3

šŸ’™šŸ’”šŸ’ššŸ’”šŸ’›šŸ’”


Kak Sarah menghentikan taksi, lalu masuk ke dalam taksi tersebut. Kemudian pergi meninggalkan aku yang sudah lemas dan terjatuh dari berdiriku yang tegap. Aku pandangi taksi yang di naiki Kak Sarah, sampai taksi itu benar-benar menghilang dari pandanganku.


"Kenapa kamu putusin aku Kak? Baru juga dua bulan kita jalanin hubungan ini. Baru saja aku ingin membicarakan tentang pernikahan padamu, tapi kamu malah mencampakkan aku seperti ini, untuk kedua kalinya kamu buat hatiku hancur sehancur-hancurnya," ucapku dalam hati lalu menarik nafas panjang kemudian memejamkan mataku yang mulai berkaca-kaca.


Aku coba berdiri lalu kembali ke caffe karna memang belum aku bayar makanan dan minuman yang barusan aku pesan.


Begitu duduk di bangku yang barusan aku duduki, aku menelpon Reno, meminta dia menemuiku di caffe, tempat aku berada sekarang. Mataku kembali berkaca-kaca, menahan air mata yang sudah ingin keluar dari mataku.


"Aku laki-laki, pantang bagi seorang laki-laki menagis hanya karna cinta. Aku harus kuat. Ayah selalu bilang, jika menginginkan sesuatu maka dapatkan keinginan itu, tapi jika kau takut maka tinggalkan keinginanmu itu. Aku harus yakin kalau aku bisa mendapatkan hati Kak Sarah kembali," gumamku dalam hati.


Tidak lama kemudian Reno dan Nancy pun tiba.


"Hai, Za. Apa kabar?" tanya Nancy padaku.


"Kurang baik Kak."


Reno dan Kak Nancy saling berpandangan lalu mereka duduk di kursi.


"Kenapa memangnya Za?"


"Kak Sarah putusin gue Ren."


"Hahh? Serius lo Za?"


"Iya, barusan aja dia putusin gue, terus langsung pergi. Gue udah berusaha kejar, sampai gue nyanyi-nyanyi di belakang dia, udah kaya film india, tetap aja nggak di hiraukan."


" Hahaha .... "


"Teman lagi menderita lo malah ketawa Ren."


"Iya nih Mas Reno, teman lagi kesusahan kamu malah ketawain," ucap Nancy pada Reno.


"Habisnya lucu Bun. Eyza ini dari SMA bucin banget orangnya. Pakai nyanyi segala, untung aja nggak lagi turun hujan, kalau benar lagi hujan, lo benar-benar udah kaya lagi syuting film india."


"Nggak lucu," balasku dengan wajah cemberutku.


"Hhhhhhh kalau begini terus lo benar-benar bisa jadi bujang lapuk. Kapan lo nyusul gue? Gue aja udah mau jadi bapak."


Reno dan Nancy memang sudah menikah dari setahun yang lalu, walau dia sedikit lemot menurutku, tapi dalam hal percintaan dia memang lebih beruntung dari aku.


"Serius Ren?"


"Serius," jawab Reno.

__ADS_1


"Jadi Kak Nancy?"


"Iya, saya sedang mengandung," jawab Nancy lalu tersenyum padaku.


"Alhamdulillaaah, selamat ya Kak. Selamat ya Ren, tapi di balik kebahagiaan lo kenapa ada penderitaan gue?"


"Ah, Rese' lo. Memang aja, nasib lo lagi menyedihkan begini Za."


"Sudah, sudah. Kalian ngobrol terus kapan saya bisa tahu permasalahan kamu Eyza?" Kak Nancy menatapku serius.


Aku mengeluarkan kotak cincin dari saku celanaku, kemudian membukanya.


"Itu apa Za?" tanya Reno penasaran.


"Baru aja gue mau melamar Kak Sarah Ren. Eh, dia malah putusin gue. Sakit banget hati gue Ren, dari tadi pengen nangis tapi gue tahan."


Reno mengusap-usap punggungku, "Sabar ya Za. Tenang aja kita berdua pasti akan bantu elo kok."


"Iya, kamu tenang aja, nanti aku akan coba bicara dengan Sarah. Nah, ceritakan pada kami apa permasalahan yang sebenarnya?" ucap Nancy.


"Masih ingat Nita kan Ren?"


"Iya ingat, kenapa memangnya?"


"Oh, yaa?"


"Iya, pantesan aja waktu itu Kak Sarah bilang kalau sepupunya mau menginap di rumahnya."


"Apa hubungannya masalah kamu sama Sarah dengan Nita itu?" tanya Nancy penasaran.


"Jadi, Nita itu punya perasaan sama saya Kak, sejak dia kelas tiga SMA. Nah, saat dia sudah kuliah dia coba ungkapin perasaannya pada saya."


"Oke, terus?"


"Saya memang pernah berjanji pada Nita, kalau saya akan berusaha membuka hati saya untuk Nita, tapi buat saya itu beda pengertian. Antara berjanji berusaha membuka hati dengan berjanji membuka hati. Saya sudah berusaha tapi nggak bisa, mau di bilang apa?"


" He'em .... Lalu?"


"Nah, Kak Sarah malah menyuruh Saya menerima Nita, dan melupakan perjodohan kami."


"Loh, kok begitu sih? Itu egois namanya, seharusnya Sarah tidak bersikap seperti itu. Cinta itu kan tidak bisa di paksakan."


"Saya juga baru tahu Kak, ternyata di balik sikap lembut Kak Sarah, dia sedikit keras kepala juga. Saya sempat kaget melihat sikapnya barusan, tapi mau bagaimana lagi saya sudah cinta."


"Ya sudah, kamu tenang saja. Nanti saya akan coba bicara dengan dia, semoga dia mau mendengarkan saya."

__ADS_1


"Terima kasih Kak, tapi tolong jangan bilang ke dia, kalau saya ingin melamarnya."


"Loh, memangnya kenapa? Dia kan berhak tahu soal ini."


"Saya khawatir, dia akan semakin menjauh dari saya. Biar nanti saya saja yang akan bicarakan langsung padanya."


"Baiklah, saya tidak akan bicarakan tentang rencana lamaranmu pada dia."


"Ya sudah, sekarang kita pulang, hati lo udah lebih lega kan sekarang?" ajak Reno padaku.


"Alhamdulillah Ren, makasih ya udah mau datang. Makasih Kak Nancy, udah mau dengarkan cerita saya."


"Iya sama-sama Za, kamu kan temannya Mas Reno, berarti teman saya juga. Apalagi saya juga kenal dengan Sarah. Insya Allah, saya pasti akan bantu bicarakan ini. Saya juga tidak bisa membenarkan sikap Sarah yang seperti itu, itu egois namanya. Dia juga harus pikirkan perasaan kamu juga."


" Iya Kak, makasih ya .... "


"Sama-sama."


"Oh, iya. Kalian mau makan atau mau minum?"


"Nggak usah Za. Kita sudah makan kok, pulang aja yuk!" ajak Reno padaku.


"Ya sudah kalian pulang duluan saja, saya bawa mobil juga kok. Saya mau bayar pesanan saya dulu."


"Ya sudah, kalau begitu gue duluan ya Za?"


"Iya Ren, makasih ya."


"Sama-sama. Duluan ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam," jawabku.


Kemudian Reno dan Nancy pun pergi dari caffe, kembali ke rumah mereka.


Setelah membayar makanan dan minumam yang barusan aku pesan, aku pun segera pergi dari caffe itu.


Sampai di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamar, lalu ku rebahkan tubuhku di atas kasur, membayangkan kembali bagaimana Kak Sarah memutuskan hubungan kami.


Benar sudah kata Judika sakit ini begitu parah, namun aku tak mau marah, karena begitulah cinta. Tak selamanya indah, kadang meninggalkan luka, tapi anehnya manusia selalu suka dengan cinta, karna hidup terasa hampa tanpa cinta, sedang derita hanyalah pelengkap sempurnanya sandiwara. Sungguh kisah cintaku 'bak sinetron saja.


*Bersambung ....


Nanti kita lanjut lagi ya Kakak, tunggu hati Author sedikit tenang dulu. Oke?


šŸ˜šŸ˜„šŸ˜…*

__ADS_1


__ADS_2