Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Pertengkaran part 2


__ADS_3

Awan terlihat mulai gelap menyelimuti langit kota Bandung. Segera aku lajukan mobilku menuju rumah sakit tempat Sarah bekerja sebelum hujan benar-benar turun.


Begitu sampai di area parkir mobil rumah sakit, aku cari tempat untuk memarkir mobilku baru kemudian masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang praktek Sarah.


"Doktel!" suara Ryan yang sedikit cadel memanggil Sarah lalu memeluknya. Sarah mengusap-usap kepala Ryan lalu tersenyum.


"Dokter pulang dulu ya, sudah sore. Ryan juga harus pulang kan?"


"Nggak mau," ucap Ryan sambil menggelengkan kepalanya dan terus saja memeluk Sarah.


Rupanya Ryan adalah pasien terakhir Sarah hari ini.


"Ayo Ryan, kita pulang! Dokter Sarah juga harus pulang."


"Nggak mau," ucap Ryan.


"Loh, nanti Ayah bilang Bunda ya kalau kamu begini sama Dokter Sarah."


"Ya sudah sini, Dokter gendong kamu dulu sebentar." Sarah pun menggendong Ryan, memeluk, lalu mengusap-usap kepalanya.


"Maaf Sarah, Ryan memang manja begini kalau sudah bertemu dengan orang yang bisa buat dia merasa nyaman."


"Nggak apa-apa kok," ucap Sarah sambil terus mengusap-usap kepala Ryan.


"Dia sudah tidak kejang lagi kan?" tanya Sarah pada Salman.


"Alhamdulillah sudah nggak, terima kasih ya kamu sudah merawat Ryan dengan baik saat dia harus di rawat di rumah sakit ini."


"Itu memang sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter, santai saja," ucap Sarah lalu tersenyum.


Tanpa mereka sadari aku sedang memperhatikan mereka dari jarak yang hanya beberapa meter.


"Jadi anak kecil yang dua minggu lalu di rawat di rumah sakit, itu anaknya Salman? Kenapa Sarah tidak cerita apapun padaku?" tanyaku dalam hati.


"Sudah ya Dokter mau pulang, sekarang Ryan sama Ayah ya!" Sarah menurunkan Ryan dari gendongannya.


"Kalau begitu bagaimana kalau kamu pulang bareng kami Sarah?" tanya Salman pada Sarah.


"Tidak usah Salman, terima kasih."


"Bukankah kita searah?"


"Iya kita searah, tapi saya sudah ada yang jemput."


"Suamimu?"


"Iya."


"Baiklah, kalau begitu saya pamit duluan ya!"


"Oh, iya silahkan!"


"Ayo Ryan, pamit sama Bu Dokter dulu."

__ADS_1


Ryan menghampiri Sarah lalu mencium tangannya, Sarah pun membalasnya dengan mencium pipi Ryan.


" Jangan nakal ya ... Harus dengar kata ayah dan bunda, dan jangan makan sembarang. Oke boy?" ucap Sarah lalu mencolek hidung Ryan.


Ryan tersenyum lalu menganggukan kepalanya, "Oke bu Doktel," ucap Ryan sambil mengacungkan jempol kanannya. Sarah hanya tersenyum melihat tingkahnya.


"Ya sudah kami duluan ya Bu Dokter Sarah Amelia," ucap Salman lalu tersenyum.


"Hehehe iya."


Salman dan putranya pun segera pergi meninggalkan Sarah.


Baru beberapa langkah Sarah berjalan aku memangilnya dari balik tembok.


"Sarah!" Sarah menoleh ke arahku.


"Loh, kamu sudah dari tadi di situ?"


"Iya."


"Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau anak yang kamu rawat itu, anaknya Salman?"


Sarah terdiam, "Maaf, aku belum sempat cerita."


"Apa salahnya cerita, pantas saja kamu begitu terburu-buru ke rumah sakit."


"Aku juga baru tahu kalau yang sakit itu anaknya Salman, setelah di rumah sakit."


Sarah hanya terdiam tidak menjawab pertanyaanku.


"Iya kan?" tanyaku sekali lagi.


"Iya, memang Salman yang menjaga anaknya selama anaknya di rawat di rumah sakit ini, tapi itu karna istrinya tidak bisa, istrinya harus menjaga adiknya Ryan yang masih kecil."


"Hhh sudah aku duga. Apa kalian senang bisa bertemu setiap hari selama anak itu di rawat, apa kalian senang bisa bernostalgia kembali?"


"Kamu bicara apa? Aku seorang dokter, sudah kewajiban aku merawat pasien-pasienku tanpa memilih-milih yang mana yang ingin aku rawat."


"Itu hanya alasan kamu aja, buktinya kalian terlihat akrab barusan, bahkan kamu sudah begitu dekat dengan anaknya Salman."


"Hei suamiku sayang, aku ini seorang dokter anak. Mana mungkin aku bersikap dingin pada anak kecil, dari dulu kamu juga tahu kan kalau aku suka sekali dengan anak kecil?"


" Akh .... Kamu selalu beralasan Sarah, kamu tahu kan kalau aku paling tidak suka di bohongi. Sudahlah aku mau pulang duluan, kamu pulang saja bareng Salman. Bukankah tadi dia menawarkan pulang bareng, seharusnya kamu tidak usah menolak." ucapku lalu pergi meninggalkan Sarah begitu saja.


"Eyza, tunggu sebentar dengarkan penjelasan aku dulu," ucap Sarah sambil terus saja mengejarku, namun aku tak menghiraukan. Aku terus saja berjalan keluar rumah sakit menuju parkiran mobil.


Tanpa aku dan Sarah sadari rupanya Yudha memperhatikan pertengkaran kami. Dia berjalan mengikuti Sarah.


"Eyza, kamu mau meninggalkan aku di sini?"


Aku tetap tak menghiraukan Sarah, lalu segera masuk ke dalam dan terus melajukan mobilku dengan wajah penuh kemarahan.


Sarah berusaha mengejar mobilku namun mobil yang aku kendarai semakin menjauh, Sarah pun menghentikan langkahnya begitu rintik hujan membasahi tubuhnya, semakin lama rintik hujan pun semakin deras dan semakin membuat pakaian Sarah menjadi basah. Air mata Sarah semakin berjatuhan bersamaan dengan air hujan, yang jatuh ke kepalanya.

__ADS_1


Tiba-tiba, ada seseorang yang memayunginnya dari belakang, "Biar saya antar pulang."


"Dokter Yudha! Tidak usah Dok, terima kasih."


"Dokter mau pulang sendiri dalam keadaan basah kuyup seperti ini? Dokter mau pulang naik apa?"


"Saya bisa pesan taksi online nanti."


"Sudahlah Dokter Sarah, biar saya yang antar pulang. Saya tidak tega melihat keadaan Dokter seperti ini."


Sarah terdiam beberapa saat, "Baiklah."


Akhirnya mereka segera berjalan menuju mobil Dokter Yudha.


Di dalam mobil Sarah hanya terdiam sambil sesekali menyeka air matanya yang hampir jatuh ke pipinya.


"Apa suami Dokter terlalu pencemburu?" Dokter Yudha memulai obrolan.


Sarah terkejut begitu mendengar pertanyaan Dokter Yudha.


"Eh, iya. Begitulah."


"Kalau saya boleh tahu, Pak Salman itu siapa? Kenapa suami Dokter Sarah begitu cemburu? Kalau nggak salah dia Ayah dari pasien yang anaknya Dokter rawat kan?"


Sarah menarik nafas panjang, " Hhhhhh .... Sebenarnya Pak Salman itu mantan kekasih saya."


"Oh ya? Pantas saja, suami Dokter begitu cemburu."


"Salah saya juga sebenarnya, seharusnya dari awal saya bilang ke dia kalau anak yang saya rawat itu adalah anaknya Pak Salman, jadi dia tidak akan sampai merasa di bohongi seperti ini."


"Berarti suami Dokter Sarah itu begitu mencintai Dokter."


"Tapi cemburunya itu kadang keterlaluan, sampai tidak mau mendengarkan penjelasan saya dulu."


"Mungkin nanti sampai rumah Dokter bisa bicarakan lagi, siapa tahu dia sudah lebih tenang dan mau mendengarkan."


"Iya."


"Apa sebaiknya aku turun di rumah Bunda aja ya, lebih dekat juga dari sini. Kalau turun di rumah dan Eyza lihat aku di antar Dokter Yudha, bisa-bisa dia makin bertambah cemburunya," ucap Sarah dalam hatinya.


"Belok saja Dok."


"Loh, bukannya rumah Dokter Sarah masih lurus ya?"


"Saya turun di rumah mertua saya aja, lebih dekat dari sini."


"Oh, begitu. Baiklah!"


Tak lama kemudian sampai juga mobil Dokter Yudha di depan rumah kedua orangtuaku. Yudha segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untukku. Tanpa aku dan Yudha sadari ternyata Bunda memperhatikan kami dari balik jendela.


*Bersambung....


Maaf ya Kakak, lama updatenya. Author lagi super sibuk, sampai jumpa di episode berikutnya ya Kakak šŸ™ 😊*

__ADS_1


__ADS_2