
ππππ
Sarah Amelia Prasetyo, begitu nama Panjang wakil ketua Osis di sekolahku yang aku tahu saat perkenalan para Kakak kelas ketika pertama kali aku masuk sekolah di sekolah baruku.
Bentuk hidung yang mancung, tubuh tinggi semampai, kulit putih dan bersih, juga senyum manis yang selalu menghiasi kedua sudut bibirnya membuat gadis itu semakin terlihat cantik.
Wajahnya yang tenang, sikap dan cara bicaranya yang dewasa membuatku merasa nyaman saat mengobrol dengan dia, dan karna sikapnya yang ramah itu membuat orang merasa senang saat disapa olehnya, murah senyum sudah menjadi ciri khasnya. Mungkin cukup pantas jika aku menyebutnya bidadari, karna seperti itulah hatiku memanggilnya ketika mataku menatap dia.
Selain berparas cantik, gadis itu juga cerdas dan santun juga senang menolong orang lain jika sedang dalam kesulitan.
Kak Sarah, biasa aku memanggilnya. Ya, dia memang Kakak kelasku, mungkin usia kami terpaut sekitar tiga tahun. Tetapi, walau dia lebih dewasa dariku, entah mengapa aku begitu menyukainya, mungkin lebih pantas jika dia menjadi Kakakku. Namun apalah dayaku, cinta itu sudah bersarang di dalam dada hingga aku tak mampu lagi untuk pergi.
Benarlah kata pujangga, hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, bagai kemarau tanpa hujan, bagai malam tanpa bintang, dan bagai diriku tanpa dirimu. Jadi, wahai manusia jangan jadikan usia sebagai pembatas rasa karna cinta adalah anugerah dari Dia Yang Maha Pencipta, yang tidak pernah membeda-bedakan manusia.
Sepuluh bulan sudah aku memendam perasaan ini, tak pernah sepatah kata pun, aku ungkapkan di hadapannya. Entah, ini kebodohan atau ketidakberdayaan tapi aku memang tak sanggup untuk menyatakannya, bibirku kelu setiap kali ingin mengungkapkan, mungkinkah aku takut jika dia tak membalas perasaanku, takut hatiku akan patah dan berdarah, sehingga tak ada lagi kebahagiaan yang aku rasa saat aku di sekolah atau tak ada lagi senyum manis yang bisa aku bawa pulang ke rumah.
Belum selesai aku mencurahkan perasaan lewat buku harianku, tiba-tiba Dita mengagetkan aku.
"Serius banget Kak, lagi nulis apaan sih?"
"Ditaaa, kamu kebiasaan deh masuk kamar Kakak nggak ketok pintu dulu," ucapku kesal.
"Maaf, maaf dehhh habisnya, pintu kamar Kakak nggak ketutup rapat, jadi ya udah aku masuk aja, memang Kakak lagi nulis apaan sih?" tanya Dita penasaran sambil melirik buku yang aku pegang.
"Mau tahuuuu aja, ini urusan anak SMA," ucapku sambil aku tutup buku diary dengan cover kulit sintetisku.
"Kamu ada perlu apa sama Kakak?" tanyaku setelah meletakan buku diary itu di rak buku.
"Nggak ada apa-apa kok, iseng aja," jawab Dita.
"Iseng? Memang Dya kemana?"
"Ini kan hari minggu Kak, Kak Dya ada latihan taekwondo di sekolah."
"Jadi ini minggu? Kakak lupa, Kakak juga ada latihan basket di sekolah, jam berapa sekarang?"
"Jam tujuh Kak!"
"Waduh, bisa telat nih. Kakak mandi dulu ya!" ucapku kemudian segera aku ambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.
"Aku ikut ya Kak!" ucap Dita yang berjalan mengikuti aku dari belakang.
"Ikut kemana? Ke kamar mandi?"
"Iiihh Kakak masa ke kamar mandi sih!"
"Trus mau ikut kemana?" tanyaku ketika sudah sampai di depan pintu kamar mandi.
"Ikut Kakak latihan basket, boleh ya Kak? Please ... Masa hari libur aku di rumah aja, bosan tahuuu."
"Mmmmm oke, setengah jam kamu harus sudah rapih, jam setengah delapan kita berangkat."
"Siaaaap!" jawab Dita sambil meletakkan telapak tangan kanan di pinggir keningnya, sebagai tanda hormat.
Selesai mandi aku segera memakai setelan jersey basketku lalu pergi ke ruang tamu untuk memakai sepatu.
"Ditaaa cepetan nanti Kakak telat nih!"
"Iya, ini sudah selesai Kok!"
"Kalian nggak sarapan dulu?" tanya Bunda padaku.
"Takut telat Bun, tadi aku sudah minum susu kok."
"Ayo Kak!" ucap Dita setelah keluar dari kamarnya.
"Bun, aku bawa motor ya?"
"Memangnya SIM kamu sudah jadi?" tanya Bunda sambil memasukan botol berisi air mineral dan kotak makan berisi tiga potong sandwich ke dalam tasku.
"Belum."
"Nanti kalau kena tilang bagaimana?"
"Ini kan hari minggu Bun, polisinya juga masih tidur."
"Yang masih tidur, polisi tidur kali Kak, nggak bangun-bangun malah," celetuk Dita.
__ADS_1
"Hehehe kamu bisa aja. Udah Yuk ah, berangkat ntar Kakak telat nih!"
"Barangkat ya Bun!" ucapku kemudian aku kecup tangan Bunda, lalu aku ambil tas dan kunci motorku.
"Dita juga ya Bun!" Dita pun mengecup tangan bunda.
"Kalian yakin mau naik motor?" tanya Bunda khawatir.
"Bunda doian aja, insya Allah selamat. Bunda kan tahu aku bisa naik motor, cuma SIM nya aja belum keluar, lagi pula sekolah aku kan nggak begitu jauh Bun."
"Baiklah kalau begitu, kalian hati-hati di jalan ya!"
"Iya Bun, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Begitu sampai di sekolah, aku segera memarkir motorku, lalu menuju lapangan sekolah.
"Kamu tunggu Kakak disitu aja ya!"
Aku menunjuk ke arah bangku di depan lapangan sambil aku serahkan tas dan kunci motorku pada Dita.
"Hai Ren, udah daritadi lo?" tanyaku pada Reno yang sedang duduk di pinggir lapangan.
"Baru sepuluh menit gue sampai, lo bawa motor Za?"
"Iya."
"Tumben, memangnya lo punya SIM?"
"Belum keluar SIM gue."
"Memang lo udah 17 tahun?"
"Baru bulan kemarin gue ultah, lo nggak ingat memangnya? Gue udah traktir juga."
"Oh iya, lupa hehehe ... "
"Lo mah, bukan pelupa tapi lemottt udah kaya sinyal hp."
"Hehehe becanda Ren, gitu aja ngambek,"
ucapku sambil aku rangkul bahu Reno.
"Siapa yang ngambek? Memangnya gue cewek, ngambekan."
"Iya, iyaaa elo memang teman gue yang paling tahan banting."
"Pesumo kali gue, tahan banting."
"Hahahaha!"
"Yeee dia ketawa, bukannya mikir."
"Lo lagi pms ya? Daritadi sensi banget sih!"
"Au ah, gelap."
"Hehehehe!" Aku tertawa mendengar jawaban Reno.
"Ssstttttt lihat tuh Za, siapa yang datang!" ucap Reno sambil memberi isyarat lewat matanya.
Hampir saja mataku terbelalak melihat seorang gadis dengan celana training panjang longgar warna abu-abu, dipadu dengan kaos lengan panjang yang juga cukup longgar warna peach, senada dengan warna kerudung yang menutup kepala sampai ke dada dan tak lupa sepatu kets warna pink abu melekat di kedua kakinya.
"Itu beneran Kak Sarah Ren?"
"Memangnya siapa menurut lo kalau bukan dia?"
"Baru kali ini gue lihat penampilannya begini, ternyata di balik sikapnya yang feminim, ada sisi tomboy juga ya?"
"Tapi masih kelihatan cantik kaaan?" ucap Reno meledekku.
"Itu udah pasti Ren!"
"Tapi memangnya Kak Sarah anak basket juga? Kok gue baru lihat sih!"
"Gue juga baru lihat lagi nih, udah lama dia vakum sejak sibuk jadi wakil Osis dan pengurus Rohis. Namanya juga Kakak kelas Za, bebas mau datang kapan aja atau sekedar pantau doang."
__ADS_1
"Udah kaya pengawas ujian Ren, cuma pantau doang."
"Hehehe begitu deh."
"Eh, Za. Elo jangan kebanyakan bengong ya, yang ada bola basketnya nyangsrang di muka elo ntar!"
"Lo pikir muka gue ring basket."
"Hehehe habisnya, lo suka bengong gitu kalau habis ketemu Kak Sarah, udah kaya lihat makhluk halus."
"Nggak sopan lo, elo pikir Kak Sarah makhluk halus," ucapku sambil ku acak-acak rambut Reno.
"Ayo adik-adik kita kumpul di lapangan, kita pemanasan dulu sebelum latihan," ucap Kak Doni, pelatih basket di sekolah ini, kami pun pemanasan di bimbing Kak Doni.
"Oke sekarang kita bagi tim menjadi dua ya, untuk yang laki-laki saya sendiri yang akan melatih, untuk yang putri Kak Rena yang akan melatih.
Tak terasa sudah dua jam kami latihan basket, akhirnya Kak Doni menyuruh kami untuk beristirahat. Aku segera menghampiri Dita yang sudah daritadi menungguku.
"Lama ya nunggunya?"
"Nggak kok, aku senang malah lihat Kakak main basket, ini minumnya Kak."
"Makasih."
Baru satu teguk aku minum, tiba-tiba Kak Sarah menghampiriku dan Dita.
"Dita ya?"
"Iya Kak, Kakak masih ingat aku?" jawab Dita.
"Ingatlah, masa lupa!"
"Sini Kak, duduk!" Dita mempersilahkan Kak Sarah duduk di sampingnya.
"Kakak, mau sandwich?" tanya Dita sambil menyodorkan kotak makan berisi sandwich kepada Kak Sarah.
"Oh, nggak usah itu sarapan kalian berdua."
"Nggak apa-apa Kak, itu ada tiga kok," ucapku pada Kak Sarah.
"Beneran nggak apa-apa?"
"Iya benar, nih!" ucap Dita.
Kak Sarah pun mengambil satu sandwich lalu memakannya, aku mengambil satu kemudian di ikuti oleh Dita juga.
"Hmmmm enak banget, kalian beli dimana ini?" tanya Kak Sarah.
"Itu buatan Bunda Kak," jawab Dita kemudian melahap sandwichnya.
"Oh, ya? Salam ya untuk Bunda kalian, sandwichnya enak, saya suka."
"Iya Kak, nanti disampaikan," ucap Dita.
"Ngomong-ngomong, saya baru lihat Kak Sarah ikut basket, memangnya ikut ekstrakurikuler basket juga ya?" tanyaku sedikit penasaran.
"Iya, tapi sudah lama vakum, karna terlalu sibuk dengan Osis dan Rohis. Belum lagi bimbel, bantu mama buat kue karna mama saya kan punya toko cake, ya walau mama tidak pernah minta bantu, tapi saya suka jadi bisa belajar bikin kue, tapi ini sudah sedikit berkurang kegiatan saya karna kan minggu depan akan ada pemilihan pengurus Osis yang baru. Aduh, kok saya jadi curhat sih, maaf yaaa!" jawab Kak Sarah, kemudian tersenyum kepadaku dan Dita.
"Nggak apa kok Kak, santai ajaaaa. Oh ya, sudah mau ada pergantian pengurus Osis?" tanyaku.
"Iya, sebentar lagi kan mau ujian juga, biar para pengurus Osis kelas tiga bisa fokus belajar. Karna sudah sedikit berkurang, jadi saya manfaatkan waktu yang ada ini untuk kangen-kangenan sama teman-teman basket, karna setelah lulus dari sini kan belum tentu kami satu pergurun tinggi, insya Allah kalau lulus," jawab Kak Sarah kemudian tersenyum.
"Insya Allah Kak Sarah pasti lulus," ucapku lalu ku balas senyumannya.
"Aamiiiiiiiiin!" jawab Kak Sarah penuh harap dan semangat.
"Ayo adik-adik, kita kumpul lagi sekalian kita tutup latihan basket hari ini!" ucap Kak Doni memanggil kami.
Selesai sudah latihan basket untuk hari ini, kami pun bubar kembali pulang.
**Duh, jadi Penulis nih yang baperπ π
nanti di lanjut lagi ya Kakak, mau weekend dulu hehehehe ...., tetap semangat baca ya, maka Penulis pun akan semangat menulis
πππ
See you again ππ
__ADS_1