
Tiga bulan kemudian
Tak terasa tiga bulan sudah aku bersekolah disini. Temanku pun mulai bertambah, dari kelas lain pun sudah banyak yang aku kenal. Tapi memang hanya dengan Reno dan Ujang saja aku berteman akrab.
Hari ini aku ada kegiatan Rohis sehabis pulang sekolah. Sudah dua bulan aku ikut kegiatan ekstrakurikuler Rohis di sekolah ini. Selain Rohis aku juga ikut ekstrakurikuler karate dan basket. Hari sabtu aku latihan karate dan hari minggunya latihan basket.
Padat sekali kegiatanku di sekolah, maklum aku paling nggak bisa banyak berdiam diri di rumah tanpa kesibukan.
"Hari ini lo ngggak langsung pulang Za?" tanya Reno padaku.
"Nggak Ren, gue kan ada Rohis hari ini."
"Oh, iya gue lupa. Ya udah kalau begitu gue balik duluan ya?"
"Oke Ren, hati-hati di jalan ya!"
"Oke, insya Allah."
Reno pun pergi meninggalkan aku dan Ujang, kabetulan aku dan Ujang sama-sama ikut Rohis jadi aku bisa pulang bareng dengan Ujang.
"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarakatuh."
Kak Salman mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh," jawab kami serentak.
"Selamat siang adik-adik semua, masih tetap semangat ya walau sudah terik begini. Acara Halaqoh kita pada hari ini akan di sampaikan oleh Ustadz Abdul Syukur. Beliau merupakan alumie Rohis sekaligus pembina Rohis di sekolah ini, beliau akan memberikan sedikit tausiyah kepada kita semua. Insya Allah apa yang akan beliau sampaikan ini akan sangat bermanfaat untuk kita. Silahkan Ustadz waktu dan tempat kami persilahkan."
Kak Salman mempersilahkan Ustadz Abdul Syukur untuk bertausiyah.
"Kalau di lihat-lihat Kak Salman keren juga, rapih, bersih. Ya sebelas dua belas lah sama gue, berarti sebanding dong kalau gue bersaing sama dia. Heumm cuma ilmu agama gue aja nih yang perlu di tambahin, biar nggak kosong-kosong banget kaya kaleng kerupuk di warung. Sekalinya ada, udah alot," bisikku dalam hati.
"Eyza, kamu teh daritadi perhatikan Pak Ustadz bicara atau tidak? Abdi perhatikan teh, pikiran kamu kaya kemana-mana," bisik Ujang di dekat telingaku, membuatku terkejut.
"Astagfirullohal'adzim. Maaf, maaf... "
"Nah, adik-adik. Sekarang kita masuk ke sesuatu yang di tunggu-tunggu nih. Love.
C-I-N-T-A. Siapa yang nggak senang dikagumin dan diperhatiin? Semua senang. Manusiawi kok. Cinca, eh cinta."
Ustadz Abdul Syukur tersenyum kepada kami. Seolah sedang menggoda, mungkin saja ada salah seorang diantara kami sedang jatuh cinta, dan salah satu orang itu adalah aku hehehehe.
"Oke. Lanjut ya! Sekarang, definisi cinta itu sendiri apa? Mmmm.... Cinta adalah cinta. Cinta hanya butuh kata cinta itu sendiri untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Cinta itu wajar. Tapi bukan diwajar-wajarkan. Maklum. Tapi bukan dimaklum-maklumkan. Justru yang jadi masalah kalau dia nggak merasakan yang namanya cinta. Waduh, segera beli obat ke apotik terdekat. Kalau setelah 24 jam nggak ada perubahan, hubungi dokter!" Semua siswa yang hadir tertawa memdengar bercandaan Ustadz Abdul Syukur.
__ADS_1
"Ha ha ha ha!"
"Oke lanjut ya, jangan kelamaan ketawanya ntar kemasukan lalat." Lagi-lagi para siswa tertawa geli.
"Catat nih adik-adik. Harus di ingat terus. Ingat siapa kita, tujuan kita, posisi kita, dan ingat batasan dan rambu-rambunya!
Disini kita tidak bicara apakah pacaran itu halal atau haram. Udah basi. Dan kita pun tahu bahwa pacaran 'tidak dilarang'. Yang dilarang itu mendekati zina. Nah, segala sarana, media, dalam bentuk apapun yang sewaktu-waktu bisa mengantarkan kita kepada zina, jelas dilarang. Zina mata, zina hati, zina telinga, zina organ intim, zina jari melalui chattingan.
Disini kita bicara tentang prinsip yang di awal sudah kita sepakati. Gigit prinsip itu kuat-kuat dengan gigi geraham. Oke?!
Jangan persempit makna hanya ke dalam hubungan antara dua makhluk yang tak berdosa dan saling berjanji saling setia, kadang-kadang selingkuh juga…. hahaha Bicara soal cinta, kita juga bicara soal ukhuwah. Ukhuwah itu ikatan hati karena kesamaan akidah. Kita bersaudara dalam naungan cinta Allah. Kita bercinta di atas sajadah cinta Allah. Ukhuwah itu, talinya adalah akidah, dan singgasananya adalah cinta. Cocwiiiitt. Cie.... Cie.... Yang lagi jatuh cinta."
Lagi-lagi Ustadz menggoda kami, sudah seperti tomat matang rasanya wajahku ini.
"Balik ke pembahasan ya, jangan kelamaan berkhayalnya!"
Ustadz Abdul Syukur melihat ke arahku, kemudian tersenyum. Mungkinkah dia tahu kalau aku sedang jatuh didalam cinta.
"Mencintai dengan cara yang baik, yang diridhai Allah. Supaya barakah. Supaya dirahmati Allah. Bukan dilaknati. Bisa ya kita bedain antara cinta dengan nafsu?" para siswa mengganggukan kepala, ada juga yang hanya diam belum mengerti.
"Dalam Ukhuwah Islamiyah. Kita ibarat satu tubuh. Satu sakit, semua merasakan sakit yang sama. Satu sakit, yang lain menjadi obat. Ukhuwah Islamiyah itu saling menguatkan. Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Saling mencintai secara layak dan baik.
'Tiada sempurna keimanan seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sesama muslim, sebagaimana ia mencintai dirinya' Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.
Ustadz Abdul Syukur mengakhiri tausiyahnya. Para siswa tersenyum-senyum sendiri setelah mendengarnya, mungkinkah bukan cuma aku yang sedang di landa demam cinta?
Para siswa keluar bergantian dari musholla, mereka pulang kembali kerumahnya masing-masing. Ada juga yang belum pulang masih menunggu waktu sholat ashar yang hanya tinggal lima belas menit lagi.
Aku duduk merenung di bangku depan musholla. Memikirkan tausiyah yang baru saja disampaikan Ustadz Abdul Syukur barusan. Betul-betul kena banget di hati.
"Jika saatnya tiba, aku akan segera menghalalkanmu Kak Sarah," batinku.
"Assalamu'alaikum Eyza. Kamu belum pulang? Teman-teman kamu sudah pada pulang loh!" Sapa Kak Sarah kepadaku membuat aku terkejut, rasanya jantungku mau copot kalau saja tidak aku tahan dengan sisa tenaga yang aku punya.
"Wa- wa'alaikum salam Kak. Iya nih, aku masih betah di sekolah. Hahaha bercanda!"
" Hehehe... Kirain beneran," balas Kak Sarah kemudian tersenyum kepadaku.
"Ya Allah, itu senyum. Pengen nginep di sekolah aja rasanya," gumamku dalam hati.
"Oh, iya Eyza. Kalau kamu memang tidak ada kegiatan lagi, bagaimana kalau kamu gabung aja dengan kami pengurus Rohis. Kita mau bahas untuk acara pentas seni nanti, untuk perwakilan ekstra kurikuler Rohis, kita mau tampilkan apa? Mungkin aja kamu ada ide," ajak Ka Sarah kepadaku, tentu saja tidak akan aku sia-siakan kesempatan ini, biar kata pulang maghrib juga.
"Baik Kak, boleh!" jawabku.
__ADS_1
"Oke. Kalau begitu kita kumpul di aula sekolah ya, sudah banyak yang kumpul kok disana."
"Iya Kak, nanti saya kesana!"
"Oke. Saya duluan ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Kak Sarah pun pergi meninggalkan aku yang sedang kegirangan.
"Yes, yes, yes.... Makasih ya Allah. Engkau berikan juga kesempatan ini, kesempatan untuk bersama dengan dia, walaupun hanya untuk rapat," ucapku dengan penuh semangat.
"Tapi ngomong-ngomong Ujang kemana ya? Tumben-tumbenan ninggalin gue. Tapi ya sudahlah yang penting sekarang gue ada kesempatan ketemu Ka Sarah lagi."
Sampai juga akhirnya aku di Aula sekolah, lalu segera saja ku ucapkan salam.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, masuk Za, teman-teman sudah pada kenal kan ya? Ini Eyza, anak kelas satu, dia ini termasuk anggota Rohis yang aktif. Sengaja saya undang kesini biar dia juga bisa kasih ide, untuk acara pentas seni nanti." Kak Sarah mempersilahkan aku masuk. Aku pun masuk ke dalam aula dengan malu-malu, maklum cuma aku kelas satu disini, yang lain kelas dua dan tiga, karna memang belum mengadakan rapat dengan anggota Rohis kelas satu.
"Nah, untuk mempersingkat waktu langsung aja ya, kira-kira teman-teman punya ide apa nih untuk kita tampilkan di acara pentas seni nanti?" Kak Sarah memulai pembicaraan.
"Kamu punya ide apa Eyza?"
"Apa ya? Kalau di tanya punya ide apa? Saya juga nggak tahu Kak, ide saya ini bagus apa nggak. Karna kan saya juga baru ya gabung di Rohis."
"Ya sudah, nggak apa-apa kamu sebutin aja ide kamu apa? Siapa tahu kan bisa jadi masukan buat kita-kita."
"Bagaimana kalau bawain lagu Nasyid aja atau lagu-lagu bertema religi lainnya? Biar saya yang iringi pakai gitar. Alhamdulillah saya bisa bermain gitar," jawabku sedikit bergetar karna ini untuk pertama kalinya aku berdiskusi dengan Kak Sarah dan teman-temannya.
"Ide bagus, bagaimana kalau kamu aja yang nyanyi Sarah? Kamu kan bisa bernyanyi," ucap Kak Salman menyetujui ideku.
"Ini beneran, gue yang mengiringi Kak Sarah nyanyi, apa gue nggak demam panggung nanti?" bisikku dalam hati.
"Bagaimana Sarah?" tanya Kak Salman sekali lagi kepada Kak Sarah.
"Oke. Baiklah, saya yang bernyanyi!"
"Kamu siap kan Eyza, mengiringi Kakak bernyanyi?" tanya Kak Sarah padaku.
"Siap Kak!" jawabku dengan jantung yang terus saja berdegup dengan kencang.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
__ADS_1