
πΉπΊπ·π»πΈπΌ
"Ayah, Bunda. Ayo!" ajakku pada Ayah dan Bunda yang sedang menonton televisi di ruang keluarga bersama Dya dan Dita.
"Ayo kemana?" tanya Ayah, bingung.
"Iya nih, Kakak nggak jelas. Ayo kemana?" tanya Dita padaku.
"Melamar Kak Sarah."
"Haahh?" teriak mereka bersama.
"Kenapa memangnya? Salah kalau aku mau melamar calon istriku sekarang?"
"Ya nggak salah juga, cuma mendadak begini. Ayah dan Bunda belum ada persiapan apa-apa."
"Aduh, nggak usah pake persiapan yang ribet, Eyza sudah beli cincin kok."
"Beneran?" tanya Ayah, serius.
"Benar, Ayah."
"Tapi kan kita harus bawa sesuatu juga Eyza, seperti kue, buah-buahan," ucap Bunda.
"Kalau itu kita bisa beli sambil jalan ke rumah Kak Sarah. Eyza sudah persiapkan uangnya untuk beli itu semua."
"Kamu serius Nak?"
"Iya Bundaaa. Ayo dong cepetan, kalian pada siap-siap."
"Iiiih, Kakak kaya orang kebelet pipis deh, pengennya buru-buru."
" Hehehehe .... "
"Tapi kenapa mendadak begini Za?"
"Ceritanya panjang Ayah, nanti saja selesai lamaran Eyza ceritakan. Tapi yang jelas Eyza nggak mau kehilangan dia untuk yang ke sekian kalinya. Jadi Eyza mohon sama Ayah dan Bunda, tolong lamarkan Kak Sarah buat Eyza."
"Iya, iyaaa. Ayah dan Bunda pasti lamarin dia buat kamu kok, karna memang itu tujuan kami memperkenal dia padamu. Ya sudah, Ayah dan Bunda siap-siap dulu ya."
"Dita ikut ya!"
"Dya juga."
"Iyaaa, sudah kalian siap-siap juga sana!"
Ayah dan Bunda, juga Dya dan Dita pun segera bersiap-siap. Sambil menunggu mereka selesai berdandan, aku pergi ke garasi mobil untuk memanaskan mobil. Begitu mereka selesai, kami segera berangkat ke rumah Kak Sarah. Tidak lupa, kami berhenti di toko kue untuk membeli bebera kue, juga mampir ke toko buah-buahan.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam akhirnya sampai juga di depan rumah Kak Sarah, aku segera memarkir mobil di pelataran rumahnya. Kemudian kami segera turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Ayah begitu sampai di depan rumah Kak Sarah.
"Wa'alaikum salam," ucap Tante Lina dari dalam.
Begitu Tante Lina membuka pintu, betapa kagetnya dia, aku dan keluarga datang dengan membawa berbagai macam kue dan buah-buahan.
"Ini ada apa Eyza?"
"Mau silaturrahmi aja Tante, boleh kan?"
"Tentu saja boleh, ayo silahkan masuk!"
Kemudian kami pun masuk ke dalam, lalu duduk di sofa. Tak lama kemudian Om Dani pun keluar.
__ADS_1
"Loh, ada acara apa ini Eyza? Kamu bawa makanan sebanyak ini."
"Mau silaturrahmi aja Om."
"Ini untuk di sini?"
"Iya, untuk Om dan kelurarga."
"Terima kasih sebelumnya."
"Sama-sama Om."
"Bi Inah!" Tante Lina memanggil asisten rumah tangganya.
"Iya Bu, ada apa?" Bi Inah, datang dengan sigapnya.
"Ini tolong bawa ke dalam dan panggilkan Sarah ya!"
"Baik bu."Bi Inah pun segera membawa kue dan buah-buahan yang kami bawa ke ruang makan.
Tak lama kemudian Kak Sarah muncul, lalu bersalaman dengan Bunda dan kedua adikku kemudian duduk di sofa di samping tante Lina. Kak Sarah tampak kebingungan melihat aku dan keluargaku datang dengan membawa berbagai macam makanan, tapi dia tidak bertanya apa-apa, hanya menatapku lalu tersenyum.
"Jadi begini Dani, Lina. Maksud kedatangan kami ke sini, membawa niat baik, yaitu saya dan istri selaku orangtua dari Ahmad Faeyza, bermaksud ingin melamar Nak Sarah untuk menjadi istri bagi Ahmad Faeyza, putra kami."
Ayah memulai obrolan, Om Dani dan Tante Lina cukup terkejut mendengarnya begitu juga dengan Kak Sarah.
"Kamu nggak bilang sebelumnya pada kami ingin melamar Sarah, Eyza."
"Memang mendadak Om, punya niat baik bukankah harus di segerakan."
"Iya, iya benar yang kamu bilang barusan. Kalau Om dan Tante, bagaimana Sarah aja, dia kan yang akan menjalaini kehidupan rumah tangganya nanti. Bagaimana Sarah, apa kamu menerima lamaran Eyza dan kedua orangtuanya?"
"Maksud Papah, Sarah menikah?"
"Lalu apa jawabnmu Nak? Apa kamu menerimanya?" tanya Tante Lina pada Kak Sarah.
Kak Sarah hanya tertunduk malu. Jantungnya berdegup kencang, setelah diam beberapa saat, akhirnya dia mengatakan sesuatu.
"Iya, Sarah menerima."
"Alhamdulillaaaaah," ucapku dengan penuh kegembiraan, yang lain pun mengucapkan hal sama dengan yang aku ucapkan dengan hati penuh kelegaan.
Aku keluarkan kotak cincin dari saku jasku kemudian membuka kotak cincin tersebut lalu menyerahkannya kepada Kak Sarah.
"Ini hanya sebagai tanda pengikat saja, tolong di terima." Kak Sarah tersenyum lalu menerima cincin itu kemudian memakainya di jari manis kirinya. Dya dan Dita bertepuk tangan dengan senangnya.
"Wah, ada apa ini? Sepertinya aku melewatkan moment yang sangat special," ucap Dewi lalu menghampiri Bunda kemudian mencium tangan Ayah dan Bunda, lalu bersalaman dengan Dya dan Dita, begitu juga dengan Faiz. Kemudian mereka duduk di sofa yang masih kosong.
"Iya, Dewi. Kamu ketinggalan, barusan Kak Sarah menerima lamaran Kak Eyza."
"Wah, betul kah itu? Berarti sebentar lagi kita jadi sodara ya. Kak Dya, Kak Dita?"
"Iya, insya Allah," jawab Dita.
Tiba-tiba Bi Inah datang membawa minuman dan cemilan, kami pun menikmati suguhan itu, setelah Om Dani mempersilahkan.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, tanda pesan whatsapp masuk. Aku buka pesan tersebut, ternyata dari Kak Sarah.
π±Kak Sarah
Kenapa kamu nggak bilang mau melamarku? Aku pikir kamu datang sendiri saja.
π±Aku
__ADS_1
Hehehe kan surprise π
π±Kak Sarah
Tapi pakaianku seperti ini, mana ada orang di lamar bersama keluarganya dengan pakaian santai begini π
π±Aku
Nggak apa-apa, kamu tetap kelihatan cantik kok π
π±Kak Sarah
Huh gombal π
π±Aku
Hahaha π Ini beneran tulus π
π±Kak Sarah
Bohong π
π±Aku
Kakak kelasku sayang, menikahlah denganku!βΊππ
π±Kak Sarah
βΊβΊβΊ
π±Aku
πππ
Om Dani dan Ayah memperhatikan aku dan Kak Sarah yang sedang senyum-senyum sambil memainkan ponsel, sepertinya mereka tahu, kalau kami sedang chattingan.
" Ehem, ehem ... Kalau kalian asyik berdua saja, lalu kapan kita bicarakan kelanjutan rencana pernikahan kalian?" ucap Om Dani meledek aku dan Kak Sarah, kami pun hanya tersipu malu mendengarkan ucapan Om Dani barusan.
Ayah dan yang lainnya pun ikut tersenyum mendengar ucapan Om Dani.
"Jadi kapan kalian berencana menikah?" tanya Om Dani padaku dan Kak Sarah.
"Bulan depan Om," jawabku dengan mantap.
"Serius kamu Eyza?" tanya Ayah sedikit bingung karna aku memang tidak membicarakan ini sebelumnya.
"Serius Ayah."
"Memangnya kamu benar sudah siap Sarah, jika menikah bulan depan?" tanya Om Dani pada Kak Sarah.
"Sarah ikut kata Papah saja."
"Ya sudah, karna Sarah sudah mempercayakan kepada orangtuanya. Maka saya memutuskan, menyetujui jika kalian menikah bulan depan."
"Alhamdulillaaaah," ucapku, kemudian di ikuti dengan yang lainnya.
"Karna hari juga sudah semakin sore, kalau begitu kami pamit pulang ya!" ucap Ayah kemudian berdiri mengajak Om Dani bersalaman, kemudian di ikuti oleh yang lainnya. Lalu kami pun pergi meninggalkan Om Dani dan keluarga untuk kembali pulang ke rumah.
Bersambung ......
Baper baper baperrrrrr π
Ayo, siapa yang lagi kepengen di lamar? π π
__ADS_1