Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Rindu


__ADS_3

🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹


Sarah terbangun dari tidurnya begitu merasakan seperti ada yang menciumnya. Begitu dia membuka mata, dia langsung mendorongku.


"Aduhh, kenapa kamu mendorongku?


"Maaf, maaf. Sudah jam berapa ini?"


"Jam setengah enam pagi."


"Haahh? Kita belum sholat shubuh."


"Kenapa kamu nggak bangunin aku semalam?" tanyaku sambil terus saja menciuminya.


"Aku lihat kamu lelah banget."


"Tapi kan kamu bisa bangunin aku."


"Aku juga mengantuk."


"Itu hanya alasan kamu saja."


"Ya sudah ya, kita sholat shubuh dulu."


"Habis sholat shubuh?"


"Ke kampus, kamu juga harus ke kantor kan?"


ucap Sarah lalu tersenyum padaku. Aku tak membalas senyumannya, namun ku balas dengan wajah lesuku.


Sarah segera bangun dari tidurnya, kemudian mencium pipiku.


"Kita masih punya banyak waktu sayang, sabar ya .... " bisik Sarah di telingaku, kemudian dia berdiri lalu pergi ke kamar mandi.


"Hhhhhh ternyata seperti ini rasanya menikah dengan anak kuliahan, terlalu sibuk dengan tugas kampus," gumamku dalam hati.


Selesai berwudhu kami pun melaksanakan sholat shubuh berjama'ah. Setelah mandi dan berpakaian lengkap kami segera berangkat untuk melanjutkan aktifitas hari ini.


"Aku lembur malam ini," ucapku sambil terus mengendarai sepeda motorku.


"Iya, nanti aku pulang naik taksi online saja."


"Kamu nggak apa-apa naik taksi online?"


"Nggak apa-apa, aku pulang tidak terlalu sore, tidak terlalu padat jadwal kuliah hari ini."


"Wah, giliran kamu pulang cepat, aku yang lembur."


" Hahaha ... "


"Kok kamu senang banget sih, melihatku menderita."


"Nggak kok, siapa yang bilang?"


"Aku barusan."


Sarah semakin mempererat pelukannya padaku.


"Kamu sabar yaaa sebentar lagi skripsiku selesai, begitu aku lulus sidang nanti, kita akan punya waktu yang banyak untuk bersama."


"Kamu yakin? Bukannya nanti kamu malah makin sibuk jika sudah menjadi dokter?"


"Insya Allah aku akan berusaha bagi waktu dengan baik untuk kamu juga untuk pekerjaanku."


Aku tak membalas ucapan Sarah, hanya mengusap lembut kedua tangannya yang melingkar di perutku.


Akhirnya sampai juga kami di depan kampus Sarah, segera saja dia turun dari motor, kemudian mencium tanganku, aku pun tersenyum lalu pergi dari hadapan Sarah.


Sarah masih saja tersenyum memandangi kepergianku.


"Ternyata seperti ini ya rasanya. Menikah dengan laki-laki yang usianya di bawah kita. Sangat manja, tapi aku suka merasa lucu sendiri kalau melihat tingkahnya, seperti sedang menghadapi anak SMA," ucap Sarah dalam hatinya.


"Hai Sarah!" tiba-tiba seseorang menepuk bahu Sarah.


"Hai, Deva!"


"Itu tadi siapa?"

__ADS_1


"Oh, itu. Suami aku Dev."


"Serius?"


"Apa aku seperti sedang bercanda?"


"Nggak sih, tadinya aku pikir dia adikmu."


"Hehehe bukan."


" Maaf ya .... "


"Nggak apa-apa santai aja," jawab Sarah lalu tersenyum.


"Oh iya, bagaimana skripsimu?"


"Alhamdulillah sudah hampir selesai."


"Oh ya. Alhamdulillaaaah."


"Kamu sendiri bagaimana?"


"Masih cari referensi."


"Kamu kejar terget kayanya ya sudah hampir selesai aja."


"Hehehe tidak juga. Bagaimana pun aku sudah bersuami sekarang, jadi aku harus memikirkan dia juga, mengurus segala kebutuhannya, kalau aku terlalu bersantai, bagaimana aku bisa fokus kuliah, jadi aku selesaikan satu persatu. Kalau kuliahku sudah selesai, aku bisa lebih fokus mengurus dia."


"Hebat kamu Sarah, bisa kuliah sambil menikah."


"Masya Allah, memang jodohnya di kasih cepat."


"Ayo Sarah kita harus cepat ke kelas, sepertinya Pak Yudha sudah masuk kelas."


Sarah dan Deva pun segera mempercepat jalannya menuju kelas mereka.


Waktu sudah menunjukan pukul tiga sore, ketika Sarah sedang menunggu taksi online, tiba-tiba Pak Yudha, dosen muda yang baru sebulan mengajar di kampusnya menghampiri.


"Sarah! Kamu sedang menunggu apa?"


"Eh, Pak Yudha. Saya sedang menunggu taksi online Pak."


Sarah tersenyum, "Maaf Pak, nggak enak hati saya kalau panggil nama, nggak apa-apa saya panggil Pak saja."


"Baiklah kalau begitu," jawab Yudha lalu tersenyum.


"Oh, iya. Kamu mau pulang bareng saya? Kebetulan saya bawa mobil."


"Tidak Pak, terima kasih. Saya naik taksi online saja."


"Beneran nggak mau bareng saya?"


"Saya sudah pesan taksi online, kasihan kalau saya batalkan."


"Oke-oke, tapi lain kali boleh saya yang antar ya?"


"Saya tidak bisa janji Pak," ucap Sarah lalu tersenyum.


Yudha tersenyum, "Baiklah, kalau begitu saya duluan ya!"


"Iya Pak, silahkan!"


Yudha pun pergi ke area parkir mobil untuk mengambil mobilnya.


Tak lama kemudian taksi online yang Sarah pesan pun tiba. Begitu sampai di rumah, segera dia bayar ongkos taksi lalu masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai di depan pintu.


"Wa'alaikum salam." Ku kecup tangan Mamah Lina.


"Sepi Mah, belum pulang semua?"


"Belum, Papah sama Faiz masih di perkebunan."


"Dewi?"


"Dia ada belajar kelompok di rumah temannya."

__ADS_1


"Oh, begitu."


"Kamu sendiri, tidak pulng bareng Eyza?"


"Dia lembur, mungkin pulang agak malam. Ya sudah, Sarah ke kamar dulu ya Mah."


"Iya kamu istirahat dulu sana!"


Begitu sampai di kamar, Sarah langsung sholat ashar, setelah itu mandi karna dia tidak mau begitu aku pulang kerja tapi dia masih dalam keadaan lelah karna aktifitas seharian.


Sudah jam sepuluh malam tapi aku belum pulang juga, Sarah yang sudah menunggu kepulanganku sambil mengerjakan tugas-tugas kuliahnya akhirnya tertidur di meja belajarnya.


"Assalamu'alaikum," ucapku begitu membuka pintu kamar.


"Dia tertidur rupanya, mungkin sudah dari tadi menunggu aku pulang."


Aku kecup pipinya lalu segera pergi ke kamar mandi, untuk mandi dan berwudhu lalu segera sholat isya. Begitu selesai sholat isya, aku dapati dia sedang menatapku.


"Kamu sudah bangun?"


"Baru saja."


Selesai membereskan sarung dan sajadah, aku membaringkan tubuhku di samping Sarah, kemudian mengecup keningnya.


"Selamat tidur sayang," ucapku.


"Kamu tidak membutuhkan aku malam ini?"


"Aku tahu kamu sangat lelah, istirahat saja!"


"Kamu yakin?" Sarah membelai pipiku lalu menyentuh dadaku.


"Nggak yakin, kalau kamu menggodaku seperti ini."


" Hahaha ya sudah yuk kita tidur!"


"Haahh? Kamu mau meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini?"


"Memang kamu kenapa? Kamu sakit?" ucap Sarah lalu menyetuh keningku.


"Iya aku memang sakit sayang."


"Sungguh? Sakit apa? Kenapa nggak bilang?" tanya Sarah khawatir, lalu memegang keningku kemudian kedua pipiku.


"Sakitnya bukan di situ."


"Lalu dimana?"


"Di sini!" ku raih tangannya lalu aku arahkan ke dadaku.


"Aku sakit rindu, rindu sama kamu."


"Hemmm gombal, aku sudah serius bertanya." Sarah melepaskan tangannya dari genggamanku.


"Hehehe bukannya wanita senang di rayu ya?"


"Kata siapa?"


"Kata aku barusan."


"Hahaha dasar kamu, kadang aku nggak percaya sewaktu SMA dulu kamu nggak punya pacar."


"Kenapa bisa begitu?"


"Karna kamu pintar merayu wanita."


" Heummm berarti .... Istriku yang cantik ini juga sudah kena rayuan mautku dong." Aku pegang dagunya dan semakin mendekatkan wajahku dengan wajahnya.


"Kamu mau ngapain?"


"Bukankah kamu yang bertanya barusan, apa aku membutuhkanmu malam ini?"


Sarah tidak mampu lagi berkata apa-apa hanya nafasnya yang hangat terpantul ke wajahku di tambah dengan suara detak jantung kami yang saling bersahutan, membuat aliran darah kami bergerak semakin cepat. Malam pun semakin larut, kami pun saling melepas rindu di sela-sela aktifitas kami yang padat.


*Bersambung ....


Author sedang kurang perbendaharaan kata, silahkan berimajinasi sendiri ya Kakak hehehe 😁

__ADS_1


Sampai jumpa lagi di episode berikutnya 😊*


__ADS_2