
šššššš
Selesai sholat maghrib, aku dan keluarga Kak Sarah makan malam bersama.
"Ayo Eyza, makan yang banyak. Tidak usah malu-malu," ucap Om Dani padaku.
"Iya Om, terima kasih."
"Kamu masih saja panggil saya Om. Sekarang ini saya sudah jadi mertua kamu."
"Eh, iya. Maaf Om, eh Pah."
"Nah, begitu dong. Panggil Papah."
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Om Dani. Sementara itu, Kak Sarah memperhatikan aku yang hanya mengambil nasi putih, sayur sop dan tahu, mungkin dia tahu kalau aku masih malu-malu dalam keluarganya, akhirnya dia mengambilkan aku sepotong ayam goreng.
"Terima kasih Kak," ucapku.
"Bahkan kamu masih saja panggil Sarah dengan sebutan Kakak."
"Sudah kebiasaan Om. Eh, Pah."
"Tapi kamu harus membisakan diri tidak memanggil dia Kakak, karna dia istri kamu sekarang."
"Iya Pah, akan saya usahakan."
"Sarah sudah bilang Pah, tapi dia tetap mau panggil Sarah dengan sebutan Kakak."
"Ya sudah, mungkin Eyza butuh waktu untuk membiasakan diri. Sudah biarkan saja Pah!"
ucap Tante Lina pada Om Dani.
"Baiklah, kalau begitu."
Selesai makan malam kami berkumpul di ruang keluarga, mengobrol santai sambil menonton televisi.
"Faiz ke kamar duluan ya Pah, Mah. Sudah ngantuk."
"Oh, iya," jawab Om Dani.
"Mari Kak Eyza."
"Iya Faiz, selamat beristirahat," balasku.
Kemudian Faiz pun pergi ke kamarnya.
"Dewi juga ya, sudah ngantuk juga."
"Iya Dewi, ya sudah kamu tidur sana!" ucap Kak Sarah.
Aku lihat jam di dinding sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Sepertinya Kak Sarah tahu kalau aku sudah mengantuk, akhirnya dia mengajak aku ke kamarnya.
"Sepertinya kamu sudah mengantuk Eyza."
"Eh, iya Kak."
"Ya sudah, kamu ke kamar duluan saja. Nanti saya menyusul."
"Baiklah, kalau begitu Eyza ke kamar ya Pah, Mah."
"Iya Eyza, sebaiknya kamu istirahat," ucap Tante Lina.
Aku pun pergi meninggalkan mereka menuju kamar Kak Sarah. Begitu sampai di dalam kamar aku segera berwudhu untuk melaksanakan sholat isya, setelah terkena air, ternyata mataku tidak jadi mengantuk. Aku ambil gitar yang berada dekat nakas lalu aku mainkan sambil menatap bintang dari balik jendela kamar Kak Sarah.
Tidak berapa lama kemudian Kak Sarah masuk ke dalam kamar.
"Kamu belum tidur?"
"Tidak jadi mengantuk setelah mataku terkena air dingin barusan."
"Oh, ya?"
"Iya, tadi saya berwudhu untuk melaksanakan sholat isya."
"Saya juga belum sholat isya, kalau begitu saya sholat dulu ya."
Aku hanya menganggukan kepalaku, untuk menyetujui ucapan Kak Sarah.
Selesai sholat isya Kak Sarah duduk di sampingku. Jantungku kembali berdegup kencang begitu Kak Sarah duduk dekat di sampingku. Wangi aroma tubuhnya membuat darahku kembali mengalir dengan cepat.
"Saya boleh tanya Eyza?"
__ADS_1
"Tanya apa Kak?"
"Sejak kapan kamu menyukaiku?"
"Sejak hari pertama saya sekolah di sekolah kita."
"Oh ya? Masa sih?"
"Serius."
"Kenapa kamu suka sama saya?"
"Karna Kakak beda aja sama perempuan yang pernah saya kenal sebelumnya."
"Bedanya dimana?"
"Bedanya di mata saya Kak, sama di sini," ucapku lalu ku sentuh dadaku.
"Huh gombal."
"Serius Kak, buat apa saya menggombal"
"Ya mungkin saja kamu bicara seperti itu hanya untuk membahagiakan hati saya."
"Kalau itu sudah kewajiban saya sebaik suami Kak, membahagiakan hati istri."
"Tuh, kan malah bertambah gombalnya."
"Hahaha lalu saya harus bagaimana untuk membuktikan kalau saya ini benar-benar tulus."
"Nggak tahu," jawab Kak Sarah lalu tersenyum padaku.
Aku tatap mata Kak Sarah cukup lama, hingga membuat dia salah tingkah. Lalu aku semakin mendekatkan wajahku pada wajahnya.
"Kamu mau ngapain Eyza?" tanya Kak Sarah gugup.
"Menurut Kakak, aku mau ngapain?"
" Kamu ... Kamu .... Apa kamu mau ....?"
"Mau mengambil ini Kak!" ucapku lalu memperlihatkan seekor semut yang baru saja aku tanggap di punggungnya.
"Memangnya Kakak pikir saya mau ngapain?"
"Eh, nggak. Nggak ngapa-ngapain."
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Kak Sarah, lalu kembali memainkan gitar.
"Sudah lama juga kita nggak nyanyi bareng ya!"
"Iya, Kakak mau saya mainkan lagu apa?"
"Lagu seluruh cinta saja."
"Baiklah, kita duet ya?"
"Oke," jawab Kak Sarah, lalu aku mulai memainkan gitar dan bernyanyi.
Menatap kepergian dirimu
Meratap menangis sedih tak tertahan
Terbayang saat bersama lewati masa terindah
Saat kau memelukku tuturkan cinta
Kemudian kami bernyanyi bersama.
Kaulah seluruh cinta bagiku
Yang selalu menentramkan perasaanku
Dirimu kan selalu ada disisiku selamanya
Kau bagaikan nafas ditubuhku
Yang sanggup menghidupkan segala gerakku
Ku kan selalu memujamu hingga nanti kita kan bersama
Kali ini giliran Kak Sarah yang bernyanyi sendiri.
__ADS_1
Tak sanggup ku memikirnya lagi
Habis separuh nyawaku tangisimu
Tiada lagi bait terindah terdengar merdu terucap
Merayu menyanjungku tenangkan jiwa
Dan lirik yang selanjutnya kami menyanyikannya bersama kembali.
Kaulah seluruh cinta bagiku
Yang selalu menentramkan perasaanku
Dirimu kan selalu ada disisiku selamanya
Kau bagaikan nafas ditubuhku
Yang sanggup menghidupkan segala gerakku
Ku kan selalu memujamu hingga nanti kita kan bersama
Kali ini giliran aku membawakan lirik lagu ini seorang diri.
Tiada cinta yang setulus cintamu
Tiada yang sanggup gantikan dirimu
Tiada rasa seindah kasihmu
Tiada yang mampu temani diriku
Selesai bernyanyi aku letakkan gitar itu di tempat semula lalu duduk kembali di samping Kak Sarah.
"Sudah lama juga kita nggak nyanyi bareng ya?" ucapku pada Kak Sarah.
"Iya, tapi memang hanya sekali aja sih, kita pernah nyanyi bareng."
"Hehehe iya."
Ku lihat jam di dinding sudah menunjukan pukul dua malam, tapi kami sama-sama belum mengantuk.
"Kamu belum ngantuk?"
"Belum," jawab Kak Sarah.
"Apa kita akan habiskan malam ini dengan bernostalgia?"
"Sepertinya begitu," ucap Kak Sarah lalu tersenyum padaku.
"Hahaha baiklah kalau itu mau Kakak."
"Oh, iya Eyza. Kenapa dulu kamu sering sekali melamun?"
"Karna aku memikirkan Kakak."
"Sungguhkah?"
"Iya, benar."
"Hhhhhhh lagi-lagi kamu menggombal."
"Beneran, aku tidak sedang menggombal."
"Bohong."
"Apa Kakak mau buktinya sekarang?" tanyaku pada Kak Sarah.
"Bagaimana cara kamu membuktikannya?"
Aku tidak menjawab pertanyaan Kak Sarah, tapi malah mendekatkan wajahku padanya, sehingga bisa ku dengar suara degup jantung Kak Sarah begitu kencang, seperti bersahutan dengan suara degup jantungku. Namun, begitu bibirku sudah semakin dekat dengan bibirnya, tiba-tiba Kak Sarah terbatuk.
"Uhuk uhuk .... Maaf sepertinya tenggorokan saya sedang tidak enak. Sudah malam juga, sebaiknya saya istirahat duluan ya, karna besok harus menyiapkan sarapan untuk kamu," ucap Kak Sarah lalu pergi menuju tempat tidurnya.
Aku hanya bisa menarik nafas panjang lalu tersenyum melihat tingkahnya. Dan akhirnya, malam pertama pun hanya kami habiskan dengan bernostalgia.
*Bersambung .....
Sabar ya Kakak pembaca, masih ada malam-malam berikutnya.
šš*
__ADS_1