
šš¹šš¹šš¹šš¹
Kak Sarah datang dengan membawa sebuah gitar klasik, kemudian duduk di hadapanku.
"Ini gitarnya Za!" ucap Kak Sarah lalu menyerahkan gitar klasik berwarna coklat tua itu padaku.
"Ini gitar Kakak?" tanyaku sambil menerima gitar itu.
"Iya!" jawab Kak Sarah.
"Bagus gitarnya Kak!"
"Terima kasih, itu kado ulang tahun saya tahun lalu dari Papah."
"Oh, ya!" jawabku kemudian melihat ke arah Om Dani, Om Dani hanya tersenyum menatapku.
Tak lama kemudian, Reno, Faiz, Dewi, Dya dan Dita pun ikut bergabung, berkumpul duduk di dekat aku dan Kak Sarah.
"Mulai Za, mainin gitarnya, jangan lupa sekalian lagunya," ucap Reno.
"Lagu apa ya?"
"Lagu yang ceria gitu, jangan lagu galau ya!"
"Hemmm lagu apa ya?" tanyaku sambil aku memikirkan lagu apa yang ingin aku mainkan.
"lagu ini aja ya!" ucapku lalu mulai memetik gitar, semua mata yang ada di situ tertuju padaku, seolah menantikan kejutan apalagi yang akan aku berikan.
" Ehem, ehem ... " Aku berdehem sebentar sebelum mulai bernyanyi.
"Akh, lamaaa kaya mau pidato aja pakai berdehem segala," ucap Reno membuat yang lain tertawa.
"Sabar dong, gue kan pemanasan dulu!"
"Memangnya mau olahraga?"
" Hahahaha .... " Faiz, Dewi, Dya dan Dita tertawa mendengar celoteh Reno. Om Dani dan Istrinya pun ikut tertawa mendengar ucapan Reno.
"Kapan mau nyanyinya, kalau kalian bercanda terus?" tanya Kak Sarah dengan wajah seriusnya, tapi kemudian tersenyum.
"Eh, iya. Maaf Kak, aku mulai nih Kak!" jawabku kemudian mulai memainkan gitar lalu bernyanyi.
*Biarkanlah diri ini
Untuk mencoba mendekatimu
Mendekati indahnya dirimu
Dirimu yang hadir di mimpiku
Berikanlah aku waktu
Dan keadaan yang engkau mampu
Empat mata yang ku mau
Untuk katakan cinta padamu*
Semua mata melihat ke arahku, karna lagunya cukup ceria, ada juga yang ikut bernyanyi atau sekedar menggoyangkan bahunya kecuali Kak Sarah, dia serius menatapku. Namun aku terus saja bernyanyi.
*Hati ini takkan bisa
Lebih lama 'tuk memendam rasa
Empat mata bicara padamu
Ku katakan aku cinta kamu
Empat mata ku ingin bertemu
'Tuk ungkapkan isi di hatiku*
Reno terlihat bahagia mendengar lagu ini, dia pun ikut bernyanyi bersamaku, ku lihat Faiz hanya menepuk-nepuk pahanya mendengar aku bernyanyi, mungkin karna terlalu pendiam seperti yang Kak Sarah bilang, jadi bernyanyi di depan orang banyak pun dia tak mau, hanya tepukan tangan di pahanya seolah memberi isyarat kalau dia menyukai lagu ini.
*Berikanlah aku waktu
Dan keadaan yang engkau mampu
__ADS_1
Empat mata yang ku mau
Untuk katakan cinta padamu ooo
Hati ini takkan bisa
Lebih lama 'tuk memendam rasa
Empat mata bicara padamu
Ku katakan aku cinta kamu
Empat mata ku ingin bertemu
'Tuk ungkapkan isi di hatiku*
Dya, Dita dan Dewi bertepuk tangan. Terlihat mereka begitu senang melihat aku bernyanyi lagu ini, di susul dengan Reno dan Faiz yang juga bertepuk tangan, hanya Kak Sarah yang masih saja serius menatapku.
"Sudah Kak, saya sudah bernyanyi!" ucapku mengakhiri keseriusan Kak Sarah dalam menatapku.
"Eh, iya. Terima kasih ya!"
"Kali ini Kakak yang melamun."
"Ah, tidak. Saya tidak sedang melamun." aku hanya tersenyum mendengar ucapan Kak Sarah.
"Sekarang Kak Sarah yang nyanyi, Kakak kan bisa nyanyi dan bermain gitar," ucap Dewi pada Kak Sarah.
"Kakak nyanyi?"
"Iya sambil main gitar juga."
"Ah, nggak Dewi, masa Kakak nyanyi sambil main gitar juga."
"Ayo dong Kak, please .... Ini kan ulang tahun Dewi, nggak boleh menolak permintaan yang berulang tahun."
"Oke, oke. Kakak akan memenuhi permintaan kamu!" ucap Kak Sarah pada Dewi lalu mengambil gitar yang aku serahkan dan mulai memainkan gitarnya lalu bernyanyi.
*Perahu kertasku 'kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Tapi ini adanya
Perahu kertas mengingatkanku
Betapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri*
Lagi-lagi ku terpesona mendengar suara Kak Sarah bernyanyi, dengan alunan gitar yang di mainkan oleh jari jemarinya yang lentik. Kak Sarah terus saja bernyanyi dan memainkan gitarnya, membuatku sedikit gila seperti lirik lagu yang barusan Ia nyanyikan.
*Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta)
Cita-cita (cinta-cinta)
Yang lama kupendam sendiri
Berdua 'ku bisa percaya
'Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara miliaran manusia
Dan 'ku bisa dengan radarku menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri
Halangi rasaku, cintaku padamu
'Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara miliaran manusia
Dan 'ku bisa dengan radarku menemukanmu
__ADS_1
Oh, bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara miliaran manusia
Dan 'ku bisa dengan radarku menemukanmu*
Dan seketika halusinasiku terbang, membayangkan aku berada di sebuah pantai yang indah. Aku lihat Kak Sarah berdiri di pinggir pantai sedang menatap indahnya ciptaan Tuhan. Namun bagiku, Kak Sarah lah ciptaan Tuhan yang paling indah. Aku coba berjalan perlahan menghampiri Kak Sarah yang masih terkagum-kagum melihat hamparan pantai yang luas.
"Assalamu'alaikum Kak," ucapku dengan nada suara yang hampir bergetar.
"Wa'alaikum salam, hei Za! kamu di sini juga?"
jawab Kak Sarah kemudian tersenyum padaku.
"Iya Kak! Mungkin sudah takdir Tuhan juga kita di pertemukan di sini," ucapku lalu kubalas senyum Kak Sarah yang barusan Ia berikan padaku.
"Iya benar, takdir Tuhan."
"Ada yang ingin saya sampaikan pada Kakak."
"Oh ya, apa itu?"
"Selama ini Kakak selalu bilang, kalau aku sedang jatuh cinta."
"Iya, lalu?" tanya Kak Sarah dengan wajah seriusnya.
"Itu benar Kak!"
"Tuh, kan saya bilang juga apa," ujar Kak Sarah.
Aku hanya tersenyum, "Bukannya saya tidak mau mengungkapkan."
"Terus kenapa?"
"Karna saya tidak punya kekuatan untuk mengatakan."
"Loh, bukannya cinta itu sendiri adalah kekuatan, membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin."
"Benar juga sih Kak, lalu bagaimana saya mengungkapkan?"
"Kamu hanya perlu buka suara lalu katakanlah apa yang kamu rasa, jika kamu terus pendam, kamu sendiri yang akan tersiksa."
"Benar juga Kak, baiklah aku akan mengatakannya sekarang!"
Kak Sarah melihat ke sekeliling, "Apa wanita itu ada di sini?"
"Iya ada!"
"Dimana dia?"
"Di hadapan saya. Wanita itu adalah Kak Sarah!"
"Maksud kamu?"
"Iya Kak Sarah, sudah lama aku memendam perasaan ini Kak, aku cinta sama Kakak."
"Jadi?"
"Iya Kak, apa Kakak punya perasaan yang sama seperti yang aku rasa?"
Kak Sarah hanya diam sesaat lalu tersenyum padaku.
"Tuhan, kenapa Engkau menciptakan senyum seindah ini, di bibir Kak Sarah yang tipis? Senyum yang hampir saja membuatku gila, gila karna perasaan cinta yang tidak bisa aku ungkap, namun hari ini sudah aku ungkapkan semua, entah dia terima atau tidak tapi cukup membuat hatiku lega," ucapku dalam hati, namun tiba-tiba Reno melemparku dengan kulit jeruk sehingga buyar semua lamunan dalam anganku tanpa aku dapatkan jawaban dari Kak Sarah atas pernyataan rasa cintaku.
"Bengong aja lo Za! Kak Sarah panggil elo daritadi nggak lo jawab," ucap Reno.
"Eh, maaf maaf Kak, aku nggak dengar," ucapku pada Kak Sarah. Kak Sarah hanya tersenyum lalu meletakkan gitar yang tadi dia mainkan di sampingnya.
"Kamu melamun lagi? Pikirkan yang barusan saya sampaikan Eyza, agar kamu tidak melamun terus."
"Ii-iya Kak, akan saya coba."
"Semoga kamu bisa ya!"
"Aku sudah ungkapkan Kak, tapi itu hanya dalam angan, entah kapan aku bisa wujudkan itu jadi kenyataan. Semoga saja suatu saat nanti, Tuhan benar-benar memberi aku kekuatan agar aku bisa mengungkapkan semua isi dalam hati yang selama ini hanya ku pendam sendiri, hingga tidak ada yang tersisa lagi," ungkapku dalam hati.
**Sabar ya Readers, episode hari ini hanya khayalan Eyza semata, nanti ada saatnya dia ungkapkan semuanya, hingga tidak ada lagi yang tersisa š
__ADS_1
See you š¤