
šššššš
"Assalamu'alaikum, maaf saya telat," ucap Kak Sarah kepadaku yang sudah menunggunya cukup lama di caffe.
"Wa'alaikum salam, barusan saya telpon Kakak, di angkat tapi saya belum selesai bicara langsung di matikan."
"Telpon saya?" tanya Kak Sarah lalu duduk di kursi tepat di hadapanku, kemudian memeriksa tasnya.
"Ponsel saya ketinggalan di rumah."
"Tapi tadi ada yang angkat kok, tapi memang tidak menjawab hanya mendengarkan saya bicara."
"Mungkin orang rumah yang angkat."
"Siapa yang angkat ponsel aku ya? Sebaiknya nanti pulang dari sini, baru aku tanyakan orang rumah," tanya Kak Sarah dalam hatinya.
"Kalau bukan Kak Sarah yang angkat, lalu siapa? Mana udah panggil Kak Sarah dengan sebutan Sayang, tapi bukan dia yang dengar," aku pun ikut bertanya-tanya dalam hati.
"Kamu sudah pesan minuman untuk saya?
"Iya sudah, biar Kakak langsung minum."
"Oke, saya minum ya!"
Aku hanya menganggukan kepala, kemudian Kak Sarah meneguk jus durian yang barusan aku pesan, karna aku tahu Kak Sarah suka sekali jus durian.
"Oh, iya Eyza. Ada yang mau saya tanyakan sama kamu."
"Tanya apa Kak?"
Kak Sarah mengeluarkan sebuah compact disc lagu dari dalam tasnya, lalu menaruhnya di atas meja, kemudian menyodorkannya ke hadapanku.
"Maaf, saya baru sempat buka kado dari kamu saat kelulusan saya waktu itu, karna pada saat saya ingin membuka saya di panggil Mamah, lalu saya masukan ke dalam lemari, baru sekarang saya ingat."
"Jadi Kakak baru buka kado ini?"
"Iya," jawab Kak Sarah.
"Jadi Kak Sarah belum tahu, isi hatiku yang sebenarnya? Pantas saja .... " gumamku dalam hati.
"Saya mau kamu jelaskan soal compact disc ini, apa wanita yang kamu cintai selama kamu di SMA dulu .... "
Belum selesai Kak Sarah bicara, aku langsung menyelak ucapannya, "Iya, gadis itu adalah Kak Sarah."
"Kenapa kamu nggak pernah bilang Eyza?"
"Karna Kakak selalu menganggap saya adik Kakak, lalu bagaimana cara saya mengungkapkan?"
"Lalu bagaimana dengan kedekatan kamu dengan Nita?" tanya Kak Sarah membuatku cukup terkejut.
"Nita?"
"Iya Nita, kamu sempat dekat dengan Nita kan? Bahkan kamu berjanji akan mencoba membuka hati kamu buat dia."
__ADS_1
Lagi-lagi aku terkejut mendengarkan pertanyaan Kak Sarah.
"Kakak tahu dari mana soal ini?"
"Nita itu adik sepupu saya. Dia sudah menceritakan semuanya, tapi dia belum tahu soal perjodohan kita. Aku berharap kamu bisa menutupi ini dari dia."
"Tapi kenapa Kak? Kenapa saya harus tutupi dari dia?"
"Karna kamu memberikan harapan padanya, kalau kamu akan berusaha membuka hatimu untuk dia."
"Kalau saya sudah berusaha tapi saya tetap tidak bisa membuka hati saya untuk dia. Apa itu salah saya?"
"Seandainya saja, kita tidak di pertemukan kembali, mungkin kamu sudah bisa membuka hatimu untuk dia."
"Apa Kakak menyesal dengan perjodohan kita?"
"Tidak sama sekali," ucap Kak Sarah meyakinkan aku.
"Lalu kenapa Kakak berharap tidak bertemu dengan saya?"
"Karna Nita begitu mencintai kamu, kehadiran saya hanya mengacaukan kedekatan kalian."
"Apa Kakak lupa? Orangtua kita lah yang mempertemukan kita, atas kehendak Allah tentunya."
"Maaf Eyza, kita tidak bisa melanjutkan perjodohan ini."
"Maksud Kakak?"
"Tolong, mengertilah Eyza. Nita begitu mencintai kamu, bukalah hatimu untuk dia, dan lupakan saya."
"Tolong Eyza, jangan egois begini! Kamu sudah berjanji sama Nita akan berusaha membuka hati kamu untuk dia."
"Saya memang pernah berjanji berusaha membuka hati saya, tapi ternyata tidak bisa. Saya tidak pernah berjanji membuka hati saya tapi hanya berusaha, jika ternyata saya tidak bisa. Apa itu salah saya?"
Aku mengeluarkan foto berukuran 2R dari dalam dompetku, lalu aku serahkan kepada Kak Sarah.
"Ini kan foto saya waktu umur lima tahun."
"Iya saya tahu, dan yang di sebelah Kakak, itu saya."
"Oh, ya .... Saya simpan boleh?"
"Boleh Kak."
Kemudian Kak Sarah mengambil dompet dari dalam tasnya, kemudian memasukan foto itu di dalam dompetnya.
"Kamu dapat dari mana Eyza?"
"Itu foto sebelum Kak Sarah dan keluarga pindah ke Pekanbaru, Ayah saya yang mengambil foto itu."
"Oh, yaaa saya tidak tahu kalau ada foto itu."
"Kita sudah di pertemukan sejak kita masih kecil, bukankah ini pertanda kalau kita memang berjodoh?"
__ADS_1
"Sudahlah Eyza. Saya mohon, kamu lupakan tentang perjodohan kita, dan terimalah Nita, bahagiakan dia."
"Maksud Kakak apa?"
"Saya hanya tidak ingin, Nita merasa kecewa dengan perjodohan kita. Dia begitu mencintai kamu."
"Saya tidak akan bisa membahagiakan dia, karna saya memang tidak bisa mencintai dia."
"Tapi dia begitu mencintai kamu, bahkan dia rela menunggu sekian lama, hanya untuk kamu, agar kamu bisa membuka hati buat dia."
"Apa Kakak tidak mencintai saya?"
"Maaf saya harus pergi Eyza, saya tidak bisa berlama-lama di sini," ucap Kak Sarah lalu berdiri dari duduknya kemudian keluar dari caffe.
"Tunggu dulu Kak, kita harus bicara!"
Kak Sarah tidak menghiraukan aku, lalu terus saja melangkah keluar caffe.
"Aku harus kejar dia, aku nggak mau kehilangan dia untuk yang kedua kalinya," gumamku dalam hati, lalu segera mengejar Kak Sarah.
"Kak, Kakak nggak bisa egois begini. Saya juga punya perasaan, Kakak mau campakkan hati saya begitu saja?"
"Kak Sarah, berhenti sebentar kita harus bicara!"
"Oke, oke. Kalau itu mau Kak Sarah, kita akhiri semuanya, tapi tolong jangan paksa saya untuk mencintai orang lain. Karna itu sangat menyakitkan buat saya."
Kak Sarah terus saja pergi tidak menghiraukan aku, namun langkahnya terhenti begitu mendengarkan aku bernyanyi.
Belah dada ini lihatlah hatiku
Bila itu bisa yakinkanmu
Hidup dan matiku
Hanya untuk cintaku
Hati tak kan bisa dusta
Aku tidak memperdulikan sekelilingku dan terus saja bernyanyi demi meyakinkan Kak Sarah.
Aku sayang sampai mati
Segenap hati ini
Rasaku membahana
Getarkan jiwa
"Itu kan lagu yang di nyanyikan Eyza dalam mimpiku. Ya Allah, apa ini memang pertanda kalau dia memang jodohku?" tanya Kak Sarah dalam hatinya.
Kak Sarah tidak menoleh ke belakang untuk melihatku, walau dia menghentikan langkahnya. Matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata yang akan segera tumpah. Dia mencoba memejamkan mata, namun dadanya malah terasa sesak, menahan perasaan yang begitu menghimpit hatinya antara cinta dan keikhlasan untuk melepaskan.
*Bersambung .....
__ADS_1
Huhuhuhu jadi Author yang baper, sabar ya Kakak nanti kita lanjut lagi. Author mau nangis dulu ...
ššš*