Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Belajar Bersama


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹


"Buru-buru banget Za, baru juga bel istirahatnya bunyi. Mau kemana sih?" tanya Reno penasaran.


"Rahasia," jawabku lalu segera pergi meninggalkan Reno dengan wajahnya yang penuh tanda tanya.


"Eyza mau kemana ya? Tumben, langsung kabur begitu aja, nggak tunggu gue dulu. Apa gue ikutin aja ya, penasaran juga gue," bisik Reno dalam hatinya.


Di perpustakaan, aku lihat ke sekeliling, tapi tidak juga aku temukan Kak Sarah di dalam. Aku lihat ada meja dan bangku yang masih kosong, kemudian aku letakkan buku gurindam 12 yang tadi pagi aku pinjam beserta alat tulisku diatas meja. Baru beberapa menit aku duduk, tiba-tiba Kak Sarah menyapaku.


"Eyza, maaf jika menunggu lama."


"Nggak kok Kak, aku juga baru sampai."


kemudian Kak Sarah duduk di hadapanku.


"Jadi bagian mana yang kamu tidak mengerti?" tanya Kak Sarah padaku.


"Cara membuat gurindam Kak."


"Oke, sebelum kamu membuat sebuah gurindam kamu harus mengerti dulu apa itu gurindam," jawab Kak Sarah, kemudian membuka buku yang dia bawa.


"Ini saya bawa buku panduan juga, agar kamu bisa pelajari. Disini disebutkan bahwa pengertian dari gurindam itu sendiri adalah bentuk puisi lama yang terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari dua baris kalimat dengan rima yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Pada umumnya gurindam itu berisi tentang kata-kata mutiara atau filosifi hidup dan nasehat-nasehat. Kamu coba pahami ini dulu, disitu juga di berikan beberapa contohnya," ucap Kak Sarah kemudian menyerahkan buku yang dia bawa.


"Oke, saya coba pelajari ini dulu."


Aku mulai membaca buku yang Kak Sarah berikan, lalu aku coba pahami isinya.


"Kalau kamu sudah mulai memahami, kamu bisa coba buat dengan kata-katamu sendiri," ucap Kak Sarah, kemudian mengarahkan buku tulis dan pulpen yang aku bawa kepadaku.


Cinta datang disaat yang tepat


membuat hatiku makin terpikat


pada dia si pemilik senyum memikat


mungkinkah hatiku sudah terikat.


"Kalau seperti ini bagaimana Kak?" tanyaku pada Ka Sarah, kemudian ku serahkan buku tulisku agar Kak Sarah dapat melihat karyaku.


Kak Sarah mulai membacanya dalam hati, dia diam untuk beberapa saat.


"Bagus, tapi ini lebih ke puisi romantis ya. Ini sudah bagus kok, tapi akan lebih bagus lagi kalau kamu selipkan sedikit nasehat di dalamnya," ucap Kak Sarah kemudian menyerahkan kembali buku tulis itu padaku.


"Eyza!"


"Iya Kak, ada apa?"


"Kamu sedang jatuh cinta?" tanya Kak Sarah membuat jantungku berdetak kencang dengan rima yang sama seperti puisi gurindam.

__ADS_1


"Eh, nggak kok Kak," jawabku tersipu malu dan terus ku tundukan pandanganku. Kak Sarah hanya tersenyum melihat tingkahku.


"Saya punya adik laki-laki, mungkin seumuran dengan kamu, jadi saya tahu jika dia sedang jatuh cinta," ucap Kak Sarah membuat wajahku makin tambah merona, seperti di lempar tomat matang rasanya, sudah merah malu pula.


"Sudah kita tidak usah bahas ini, maaf saya nggak bermaksud mencampuri urusan pribadi kamu, tapi setelah saya baca puisi yang kamu buat, saya jadi ingin bertanya, sekali lagi saya minta maaf ya!"


"Nggak apa-apa kok, saya tidak merasa terganggu dengan pertanyaan Kakak. Oh iya, kalau boleh tahu kenapa Kakak mau membantu saya mengerjakan tugas?" tanyaku pada Kak Sarah, megalihkan pembahasan kami tentang cinta.


"Seperti yang barusan saya bilang. Saya punya adik laki-laki seumuran kamu, dia juga kelas satu SMA, kadang saya juga membantu tugas sekolahnya. Melihat kamu saya jadi teringat adik saya, jadi apa salahnya jika saya juga membantu kamu jika memang saya bisa," jawab Kak Sarah menjelaskan padaku.


"Ya Allah, jadi pengen punya Kakak, tapi kalau Kakaknya seperti ini sih, gue betah deh belajar seharian di rumah, asal di temenin hehehee," gumamku dalam hati.


"Eyza, kamu melamun lagi?" tiba-tiba Kak Sarah mengagetkan aku.


"Eh, nggak kok Kak, ini aku mau buat ulang puisinya," jawabku gugup.


Bel pun berbunyi pertanda jam istirahat sudah selesai.


"Duh, itu bel kenapa udah bunyi aja sih. Baru juga sebentar gue ngobrol sama Kak Sarah," ujarku kesal di dalam hati.


"Oke, bel sudah berbunyi, kamu tinggal perbaiki sedikit puisi yang barusan kamu buat, dan ini buku kamu bawa aja, mungkin suatu saat kamu memerlukannya," ucap Kak Sarah kemudian menyerahkan buku yang tadi dia bawa kepadaku.


"Beneran nggak apa-apa Kak?" tanyaku begitu Kak Sarah menyerahkan buku itu padaku.


"Beneran, itu buku punya saya kok, bukan boleh pinjam, jadi aman kalau kamu bawa," ucap Kak Sarah meyakinkan aku.


"Baiklah, terima kasih sebelumnya Kak."


"Wa'alaikum salam," jawabku.


Kemudian Kak Sarah pergi meninggalkan aku, baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba menoleh ke arahku karna aku memanggilnya.


"Kak Sarah!"


"Iya, ada apa Eyza?"


"Kalau nanti saya butuh bantuan Kak Sarah lagi soal pelajaran sekolah, apa boleh saya minta tolong sama Kakak?"


"Tentu saja boleh, jika saya bisa insya Allah saya bantu," jawab Kak Sarah.


"Modus banget sih elo Za, tapi nggak apa-apa deh namanya juga usaha hehehehe," gumamku dalam hati.


"Oke, saya pergi dulu," ucap Kak Sarah kemudian keluar dari perpustakaan.


Tanpa aku sadari ternyata Reno memperhatikan aku dan Kak Sarah di pojok perpustakaan sambil berpura-pura membaca buku.


"Pantas aja dia buru-buru keluar kelas tadi, udah janjian sama Kak Sarah disini rupanya. Tapi syukur deh udah ada kemajuan, dua kali ketemu Kak Sarah di perpustakaan," ucap Reno seorang diri kemudian menghampiriku.


Baru saja aku berdiri hendak melangkah keluar perpustakaan, tiba-tiba Reno mengagetkan aku.

__ADS_1


"Ehemmmm pantas aja tadi buru-buru."


"Eh, Ren. Elo daritadi disini?"


"Iya!"


"Jadi daritadi lo buntutin gue?"


"Hehehe iya!"


"Lo dengar dong, semua pembicaraan gue sama Kak Sarah?"


"Iya kali kalau gue pasang penyadap di badan elo, gue bisa dengar. Ya nggak lah!"


"Syukur deh kalau elo nggak dengar, tadi itu pembicaraan 17 tahun keatas."


"Emang lo bahas apaan sama Kak Sarah? Masa sih Kak Sarah mau di ajak ngobrol yang begituan?"


"Aduuhhh itu pikiran sering-sering di sapu dong, 17 tahun keatas nggak harus selalu tentang begituan. Payah deh ah, muka mesum," ucapku kemudian berlalu dari hadapan Reno.


"Za, tungguin gue dong!" ucap Reno sambil mengejarku yang sudah keluar dari perpustakaan.


"Enak aja lo bilang gue muka mesum," ucap Reno kesal.


"Kenyataannya begitu, kalau dengar 17 tahun keatas, selalu itu yang ada di pikiran elo."


"Yeee tapi kan identiknya begitu Za. Eh, tapi memang apaan sih yang elo obrolin sama Kak Sarah barusan? Gue bela-belain sampe nggak ke kantin tahan lapar, demi ngikutin elo nih."


"Hahahaha nah, elo jadi orang mau tahu urusan orang banget sih, udah kaya wartawan infotainment sampai ngumpet-ngumpet begitu cari berita."


"Ya gue penasaran aja Za, habisnya nggak biasanya lo kaya begitu."


"Udah ah, udah mau sampai depan kelas nih, lain kali aja kita bahas ini, ngomong-ngomong lo udah kerjain tugas belum?"


"Astagfirulloh, belum Za."


"Begitulah, kalau kerjaan lo cuma cari gosip sampai lupa ada tugas."


"Lo, udah Za?"


"Sudah, tinggal di perbaiki sedikit."


"Gue, nyontek ya Za?"


"Ya nggak boleh lah, nanti gue kasih contohnya. Lo tinggal buat sendiri."


"Tega banget sih lo Za sama gue."


"Bukannya tega, gue cuma pengen lo berusaha karna lo bisa."

__ADS_1


Akhirnya sampai juga kami di depan kelas, segera saja masuk ke dalam kelas kemudian aku duduk, lalu membuka buku tugas bahasa indonesia untuk memperbaiki puisi yang barusan aku buat.


ā˜€ļøā˜€ļøā˜€ļøā˜€ļø


__ADS_2