
ππππππππ
Hari yang di nantikan tiba juga, hari pernikahanku dengan Kak Sarah. Hari yang sangat aku idam-idamkan sejak aku mengenal dia.
Karena kami hanya mempersiapkan pernikahan ini selama satu bulan, maka tidak banyak yang kami undang, hanya kerabat dan teman-teman dekat saja.
Om Dani menggenggam erat tanganku lalu mengucapkan Ijab.
"Bismillahirrohmanirrohim. Wahai Ahmad Faeyza Putra Sanjaya bin Radin Putra Sanjaya, saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Sarah Amelia Prasetyo binti Ramdani Prasetyo, dengan Emas kawin berupa satu set perhiasan emas seberat dua puluh lima gram di bayar tunai."
Jantungku berdegup kencang saat ingin mengucapkan kalimat qabulnya, tapi aku berusaha tenang agar aku tak salah mengucapkan.
"Saya terima nikahnya, Sarah Amelia Prasetyo binti Ramdani Prasetyo dengan Emas kawin yang tersebut di bayar tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya Pak penghulu kepada ke empat orang saksi pernihakan kami.
"Sah," ucap para saksi.
"Alhamdulillaaaaaah." Semua yang hadir pun berucap syukur.
"Selamat ya Eyza," ucap Om Dani, aku pun segera mencium tangan Om Dani dan Bapak penghulu, juga para saksi.
Tak lama kemudian, Kak Sarah pun muncul di temani oleh Dewi dan Nita, mengantarkannya sampai duduk di sampingku. Ku lihat Nita dengan wajah tegarnya melihat pernikahanku dengan Kak Sarah, namun aku tetap berusaha tersenyum padanya. Nita pun membalas senyumanku dengan penuh keikhlasan.
Kak Sarah terlihat anggun dan menawan dengan balutan kebaya putih panjang, juga hijab di kepala, semakin terlihat cantik bagai bidadari, bidadari di hatiku, bidadari yang aku jumpai di sekolahku.
Aku memakaikan cincin di jari manis kanannya, kemudian dia mencium tanganku, aku pun mencium keningnya untuk pertama kalinya.
Kami pun bersalaman dan sungkeman dengan kedua orangtuaku, juga kedua orangtua Kak Sarah. Kemudian kami berdiri untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
"Selamat ya Za, akhirnya setelah sekian lama.
Baarakallahu laka wa baaraka βalaika wa jamaβa bainakuma fi khayrin," ucap Reno padaku, kemudian memelukku.
"Makasih, makasih banget Ren. Makasih untuk semuanya."
"Sama-sama Za."
"Selamat ya Eyza," ucap Nancy.
"Makasih Kak."
"Selamat ya Sarah, semoga samawa."
"Makasih ya Nancy," jawab Kak Sarah lalu memeluk Nancy dengan erat.
__ADS_1
"Ujaaaang, apa kabar? Gue kangen banget sama elo, Jang!"
"Baik, baik. Selamat ya Za," ucap Ujang lalu memeluk Eyza.
"Ini?" tanyaku begitu melihat Ujang datang bersama seorang perempuan.
"Istri Abdi," jawab Ujang.
" Selamat ya .... "
"Oh, iya. Makasih teteh."
" Selamat ya Kak Sarah."
"Iya, terima kasih Ujang, sudah datang. Makasih ya Teh."
Setelah menerima ucapan selamat dari para kerabat dan teman-teman dekat, kami menyantap hidangan yang telah di sediakan oleh keluarga Om Dani.
Om Dani menghampiri Bunda, yang sedang duduk sambil menikmati orange jus.
"Nggak nyangka ya, Tuhan tidak mempersatukan kita dalam pernikahan tapi malah menyatukan anak-anak kita," ucap Om Dani pada Bunda.
"Hehehe iya, begitu lah. Tuhan punya caranya sendiri, yang tidak pernah kita duga sebelumnya."
"Maaf Dani, saya tidak bisa berlama-lama mengobrol dengan kamu, karna tidak ada Radin dan Lina bersama kita."
"Oh, iya. Maaf."
"Kalau begitu, saya permisi ya!"
"Silahkan, silahkan!"
Bunda pun pergi meninggalkan Om Dani, lalu menghampiri Ayah yang sedang mengobrol dengan Adit, anak pertama Om Dani.
"Tante Wirda, apa kabar?" tanya Adit pada Bunda.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah, baik tante."
"Anakmu sudah berapa?"
"Insya Allah mau dua Tante."
"Oh ya, Masya Allah."
__ADS_1
Ternyata Kak Sarah mendengar saat Adit memanggil Bunda, dengan sebutan Tante Wirda.
"Kenapa Kak Adit, panggil Bunda Tante Wirda ya? Berarti Kak Adit sudah kenal Bunda sebelumnya dong. Sebaiknya, nanti saja aku tanyakan langsung padanya," tanya Kak Sarah dalam hatinya.
Jam di dinding sudah menunjukan pukul lima sore, para tamu yang hadir satu persatu sudah kembali pulang ke rumahnya, begitu juga dengan keluargaku.
Aku dan Kak Sarah masuk ke dalam kamar Kak Sarah untuk berganti pakaian. Aku segera mandi dan berganti pakaian, sedangkan Kak Sarah sudah mandi dan berganti pakaian lebih dulu.
Begitu aku keluar dari dalam kamar mandi, aku lihat Kak Sarah tertidur pulas di tempat tidurnya. Mungkin karna lelah seharian ini menerima para tamu undangan.
Aku hampiri Kak Sarah yang sedang tertidur pulas, aku pandangi wajahnya yang letih, namun masih terlihat cantik. Wajahnya yang putih bersih, hidungnya yang mancung, bulu matanya yang lentik, juga bibirnya yang merah muda dan tipis.
"Ya Allah, aku sungguh tidak menyangka, akhirnya aku bisa menikahi makhluk ciptaan-Mu yang indah ini. Mungkin bagiku dulu hanyalah sebuah khayalan bisa menikahinya, tapi hari ini Engkau persatukan kami dalam ikatan suci pernikahan," ucapku dalam hati.
Mataku tidak bisa berhenti memandangi bibir Kak Sarah yang tipis, di padu dengan warna merah muda yang menggoda membuat darahku semakin mengalir dengan cepat, degup jantungku pun semakin tidak karuan.
Namun begitu aku ingin mencium bibir itu, tiba-tiba suara adzan maghrib membangunkan Kak Sarah dari tidurnya, betapa kagetnya dia begitu melihat wajahku sudah berada cukup dekat dengan wajahnya.
Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar
"Kamu mau ngapain Eyza?"
"Eh, itu. Aku hanya ingin membangunkan Kakak, kalau maghrib sudah tiba," jawabku gugup, hampir saja aku ketangkap basah.
"Oh, iya. Ya sudah, ayo kita sholat maghrib!"
"Iya," jawabku.
Aku menggeser tubuhku agar Kak Sarah bisa bangun dari tempat tidurnya. Aku pandangi Kak Sarah yang mulai melangkah menuju kamar mandi.
"Hampir saja, si merah muda itu menjadi milikku. Hhhhhh mungkin aku harus lebih bersabar lagi," gumamku dalam hati.
Kak Sarah keluar dari kamar mandi, setelah itu baru kemudian aku yang berwudhu. Lalu kami pun melaksanakan sholat maghrib berjama'ah untuk pertama kalinya.
*Bersambung .....
Nanti kita lanjut lagi Kakak, sabar yaaa!
πππ*
__ADS_1