
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
"Dewi sama Faiz mana ya? Dari tadi nggak kelihatan?" tanya Sarah pada Papah Dani.
"Mereka sudah berangkat dari pagi-pagi sekali."
"Oh, begitu."
"Iya, hari ini kamu juga masuk kuliah kan Sarah?"
"Iya Pah," jawab Sarah.
"Pas banget ya, Eyza juga masuk kerja hari ini kan?"
"Iya Pah, nanti sebelum ke kantor saya antar Sarah ke kampus dulu."
"Wah, ada kemajuan sekarang. Kamu sudah bisa panggil Sarah dengan namanya, bukan Kakak lagi."
"Hehehe Papah bisa aja."
"Sejak kapan kamu panggil dia Sarah?"
"Aduh, kenapa Papah tanya soal itu, nggak mungkin juga aku jawab sejak malam pertama kami," batinku.
Sarah juga tampak gugup mendengar pertanyaan Papah Dani.
"Kenapa juga Papah tanyakan soal itu? Sejak hari kedua kami menikah Pah."
"Iya nih, Papah senang banget menggoda Eyza," ucap Mamah Lina lalu tersenyum.
"Yah, Papah kan hanya bertanya saja Mah. Habisnya lucu aja sudah menikah, tapi Eyza masih panggil Sarah dengan sebutan Kakak. Papah pikir dia akan memanggil Kakak selamanya."
"Hehehe ya nggak lah Pah," ucapku.
" Sarah berangkat ya Pah. Sudah selesai sarapannya."
"Iya, hati-hati di jalan ya!"
"Eyza juga ke kantor dulu Pah!"
"Iya."
Aku dan Sarah pun mencium tangan Papah Dani dan Mamah Lina, kemudian segera berangkat ke kampus Sarah.
Begitu sampai di depan kampus, aku hentikan motorku. Sarah pun turun dari motor lalu mencium tanganku. Tak lupa aku kecup keningnya.
"Aduh, kalau di tempat umum seperti ini, kamu nggak usah cium aku."
"Memangnya kenapa? Teman-teman kamu kan juga sudah pada tahu kalau kita sudah menikah."
"Iya, tapi aku malu."
"Oke, oke. Baiklah sayang, aku nggak akan melakukannya lagi, tapi kamu akan kena konsekuensinya nanti malam," ucapku menggoda Sarah, membuat matanya hampir melotot tapi dia tetap berusaha tersenyum.
"Cie, cieee mentang-mentang pengantin baru. Romantis bangeeet," ucap Tania, teman kampus Sarah yang tiba-tiba muncul.
"Hai Tania, kamu apa-apain sih!" ucap Sarah dengan wajahnya yang mulai merona.
"Ya sudah, aku berangkat ya!"
"Iya, hati-hati ya!" ucap Sarah padaku.
"Mari Tania."
"Eh, iy-iya Eyza."
Aku segera melajukan motorku menuju kantor.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, Sarah dan Tania mengobrol.
"Sarah, maafin aku ya."
"Maaf untuk apa Tania?"
"Dulu aku nggak tahu kalau Eyza itu calon suami kamu, aku pikir adikmu."
__ADS_1
"Hehehe nggak apa-apa, mungkin wajahnya yang terlihat masih begitu muda, jadi kamu sangka dia adikku."
"Tapi memangnya benar ya kalau usia dia lebih muda dari kamu? Eh, maksud aku .... "
Belum selesai Tania bicara, Sarah langsung menjawab, " Iya, memang dia lebih muda dari aku."
"Wah, hebat kamu bisa dapat daun muda."
"Hahaha kamu pikir aku kambing."
"Yah, nggak gitu juga Sarah. Itu kan hanya istilah."
"Iya, aku tahu kok. Aku hanya bercanda," jawab Kak Sarah lalu tersenyum.
"Ngomong-ngomong kamu kenal dimana?"
"Sebenarnya Eyza itu, adik kelasku sewaktu di SMA."
"Oh yaa?"
"Iya, jadi orangtua kami ternyata sudah berteman lama, tapi terpisah sejak aku pindah ke kota lain, dulu mereka sama-sama tinggal di Jakarta."
"Oh, begitu. Apa ini berarti bahwa kamu di jodohkan?"
"Iya, lebih tepatnya begitu."
"Jadi maksudmu, kamu di jodohkan dengan Eyza?" tanya Tania penasaran. Sarah hanya menganggukan kepala, kemudian tersenyum.
"Wow, kereeen. Kamu percaya dengan perjodohan?"
"Mungkin awalnya tidak, tapi setelah di jalani ternyata sama-sama cocok, ya kenapa nggak. Toh, orang tua kami sudah saling mengenal cukup lama."
"Dan kenapa Eyza lebih muda usianya karna dia adik kelas kamu?"
"Ya begitulah," jawab Sarah lalu tersenyum.
"Eh, iya. Gimana rasanya dengan yang lebih muda?"
"Maksud kamu?"
Sarah tersenyum, "Aku rasa pertanyaanmu sudah terlalu jauh, udah yuk ke kelas. Kita sudah sampai."
"Hehehe sorry aku kan hanya bercanda."
Sarah hanya tersenyum, kemudian masuk ke dalam kelas. Begitu juga dengan Tania, dia pun masuk ke dalam kelas.
Tak terasa siang sudah berlalu. Sarah pulang agak sore karna banyak tugas yang tertinggal sejak dia mengambil cuti menikah.
"Kamu sudah lama?" tanya Sarah padaku yang sedang asik mendegarkan musik di ponselku.
"Nggak kok, baru aja sampai. Yuk, jalan!"
Kami pun segera pergi dari kampus Sarah menuju rumahnya.
"Assalamu 'alaikum Pah."
"Wa'alaikum salam, kalian sudah pulang."
"Sudah Pah," ucap Sarah, lalu mencium tangan Papah Dani, begitu juga dengan aku.
"Sarah langsung ke kamar ya Pah!"
"Oh iya."
"Eyza juga Pah, ke kamar dulu ya!"
"Iya Eyza."
Kami pun segera menuju kamar untuk istirahat.
"Hari ini benar-benar melelahkan," ucap Sarah lalu melepas kerudungnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Aku yang sudah lebih dulu merebahkan tubuhku, langsung menggenggam tangannya, lalu menciumnya.
"Aku akan menghapus lelahmu."
__ADS_1
"Kamu mau pijat aku maksudnya? Hehehe ... "
"Oh, kalau Memang butuh tukang pijat, aku bisa kok," jawabku kemudian memiringkan posisi tubuhku.
"Kamu mau ngapain Eyza?" tanya Sarah ketika wajahku semakin mendekat.
"Menurutmu aku mau ngapain?" tanyaku sambil ku naikkan alis kananku, kemudian tersenyum nakal.
"Tapi ini masih sore Eyza."
"Terkadang hasrat tidak mengenal waktu."
Semakin lama wajah kami semakin berdekatan, detak jantung kami pun semakin terdengar. Namun, ketika hampir saja bibir tipis kami bertemu.
Tok! Tok! Tok!
"Sarah, Eyza. Ayo makan dulu, kalian baru saja pulang belum makan apa-apa," ucap mamah Lina dari balik pintu kamar Sarah.
Sarah tersenyum lalu mendorongku.
" Hehehe .... " Sarah menertawakanku.
"Kamu tega sekali."
"Loh, tega kenapa?" tanyanya padaku.
"PHP-in suami."
Sarah tersenyum lalu berdiri, kemudian mencium pipiku dan berbisik di telingaku.
"Kita sama-sama lelah sayang, sekarang bukan waktunya."
"Terus kapan?"
"Kapan-kapan hehehe," ucap Sarah lalu pergi dari hadapanku.
"Tuh, kan meledek lagi. Awas ya!"
Ku kejar dia lalu aku kelitik pinggangnya yang ramping bak gitar spanyol.
"Aduh, geli Eyza. Sudah, sudah cukup."
"Aku nggak akan berhenti sampai kamu berjanji."
"Oke, oke. Kamu mau aku berjanji apa?"
Aku berhenti menggelitiknya, lalu memeluknya dari belakang.
"Kamu berikan hakku malam ini."
"Hemmmm harus ya?"
"Iya, itu kan kewajiban kamu."
"Oke, oke. Aku janji."
"Awas ya kalau bohong."
"Iya nggak. Ayo sekarang kita ke ruang makan."
"Iya." Aku lepaskan kedua tanganku yang melingkar di perut Sarah. Kami pun segera keluar menuju ruang makan.
Malam pun tiba, ku lihat Sarah masih saja mengerjakan tugas kampusnya, padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Hemmm kalau begini, kapan mulainya. Nanti dia capek terus tidur," gumamku dalam hati.
Karna terlalu lama menunggu akhirnya aku tertidur. Begitu Sarah selesai mengerjakan tugasnya, segera dia matikan laptopnya kemudian pergi ke tempat tidurnya.
Dia pandangi wajahku yang sudah tertidur nyenyak.
"Dia sudah tidur rupanya, mungkin terlalu lama menunggu aku," ucap Sarah lalu membelai rambutku, kemudian mencium keningku, setelah itu membaringkan tubuhnya di sampingku. Dan akhirnya, kami menghabiskan malam ini dengan rasa lelah karna berktifitas seharian.
*Bersambung .......
Duh, pengantin baru bikin baper ππ
__ADS_1
Nanti kita lanjut lagi ya Kakak π*