Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Bertemu Nita


__ADS_3

"Hmmm ada apa ya? Tumben Bunda menyuruh aku ke rumah, sepertinya ada hal serius yang ingin Bunda bicarakan," ucapku dalam hati sambil terus melajukan mobilku. Tiba-tiba dari kejauhan aku lihat Nita sedang berdiri di pinggir jalan, kemudian segera aku berhentikan mobilku.


"Nita!" ku sapa Nita setelah membuka kaca jendela mobil.


"Kak Eyza!"


"Kamu sedang apa?"


"Menunggu taksi Kak."


"Memang mau kemana?"


"Mau pulang."


"Biar Kakak antar."


"Nggak usah Kak, kita berbeda arah."


"Nggak apa-apa, ayo! Kamu sepupuh Sarah, mana mungkin aku tega membiarkan kamu lama menunggu taksi di pinggir jalan seperti ini."


"Tapi Kak?"


"Sudah cepat masuk ke mobil, sebentar lagi maghrib!"


"Baiklah."


Nita pun segera masuk ke dalam mobilku.


"Kamu bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik Kak. Kakak sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah Kakak juga baik."


"Oh, iya. Bagaimana kabar Kak Sarah?"


Aku terdiam begitu mendengar pertanyaan Nita.


"Kak! Kakak melamun?"


"Eh, nggak kok. Tadi kamu tanya apa? Kakak lupa."


"Hhhhh berarti Kakak melamun, tadi Nita tanya kabar Kak Sarah."


"Oh, iya. Kak Sarah juga baik, alhamdulillah. Kamu tidak pernah lagi menjengungnya sejak kami menikah."


"Hehehe maaf Kak, Nita sibuk banget dengan tugas-tugas kuliah."


"Sekali-kali, mainlah ke tempat kami."


"Insya Allah Kak, begitu ada waktu luang Nita main ke tempat Kakak."


"Kakak tunggu ya, Sarah juga pasti senang kalau kamu bisa datang menemuinya."


"Insya Allah Kak."


Suara adzan maghrib pun berkumandang mengiringi perjalanan kami.


"Sudah masuk waktu maghrib. Kita berhenti di masjid itu sebentar ya, sholat maghrib dulu."


"Iya Kak," ucap Nita.


Mobil pun aku arahkan ke area parkir mobil di depan masjid, setelah keluar dari dalam mobil lalu kami pun segera masuk ke dalam masjid.


Setelah selesai sholat maghrib Nita menungguku di teras depan masjid. Tak lama aku pun muncul, Nita memandangi aku dari kejauhan.


"Andai kamu tahu Kak, aku masih begitu mencintaimu, sampai-sampai aku belum bisa membuka hati untuk laki-laki lain. Seandainya boleh, aku bersedia jadi istri kedua kamu Kak Eyza," gumam Nita dalam hatinya, namun tiba-tiba di kejutkan oleh suaraku.


"Nita! Kamu melamun?"


"Eh, nggak kok Kak."

__ADS_1


"Duh, Nita kamu ngomong apaan sih? Ini maghrib kalau nanti di kabulkan Tuhan bagaimana?" ucap Nita dalam hatinya.


"Ayo Kak, kita jalan lagi!"


"Sebentar, Kakak kesana sebentar!"


Aku pun berjalan menuju penjual kopi yang berada di sekitar masjid, setelah membeli dua gelas kopi susu, lalu aku kembali menemui Nita yang masih menungguku.


"Ini!" ucapku lalu menyerahkan segelas kopi susu panas kepada Nita.


"Terima kasih."


"Duh, sikap Kak Eyza yang seperti ini nih, yang bikin hatiku melayang. Perhatian banget sih, tahu aja aku lagi kepengen banget minum yang hangat-hangat," bisik Nita dalam hatinya.


"Kamu sudah makan?"


" Emmmm .... "


"Belum kan?"


"Hehehe iya belum."


"Di sana tadi Kakak lihat, ada penjual ayam bakar kelihatannya enak, kita makan dulu ya!"


"Nggak apa-apa Kak?"


"Ya nggak apa-apa, ayo!"


Kami pun berjalan menuju warung tenda penjual ayam bakar.


Setelah memesan dua porsi ayam bakar beserta nasi, kami pun duduk di kursi yang masih kosong. Sambil menunggu pesanan, kami pun mengobrol saling bercerita.


"Bagaimana Dya di kampus?"


"Sedang dekat dengan cowok dia."


"Oh, ya? Siapa cowok itu?"


"Hemmmm sudah mulai dewasa rupanya adik saya itu."


Tak lama kemudian pesanan kami pun datang.


"Nah, ini dia yang di tunggu-tunggu," ucapku.


Setelah pelayan meletakkan ayam bakar dan nasi putih yang kami pesan, kami pun memakannya dengan lahap karna memang sangat lapar, setelah seharian beraktifitas.


"Kamu sendiri bagaimana?"


"Maksud Kakak?"


"Kamu lagi dekat sama siapa?"


"Oh, itu .... Nggak lagi dekat sama siapa-siapa."


"Masa sih? Sudah kuliah begini masih juga sendiri."


"Beneran."


" Hmmm .... "


"Andai kamu tahu Kak, aku belum bisa melupakan kamu. Makanya sampai detik ini belum ada laki-laki yang bisa singgah di hatiku," gumam Nita dalam hati.


"Sudah selesai?" tiba-tiba aku mengagetkan Nita dari lamunannya.


"Sudah Kak."


"Sebentar Kakak bayar."


"Kak Eyza yang bayar?"


"Iya. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Nggak kenapa-kenap Nita jadi nggak enak, Nita bayar sendiri aja ya."


"Loh, jangan. Biar Kakak aja! Kamu tunggu di sini sebentar ya!" aku segera pergi ke meja kasir lalu membayar makanan yang barusan kami makan.


"Ayo, kita pulang!"


"Makasih banyak Kak."


"Sama-sama," ucapku lalu tersenyum pada Nita.


Kami pun segera menuju area parkir mobil dia depan masjid, setelah masuk ke dalam mobil, mobil pun segera aku lajukan.


"Terima kasih Kak untuk hari ini."


"Sama-sama Nita, sudahlah jangan berterima kasih terus, nanti lama-lama saya mengharapkan balasan."


"Hahaha Kak Eyza tuh, dari dulu nggak berubah senang bercanda."


"Loh, saya nggak bercanda. Beneran kalau kamu berterima kasih terus nanti saya bisa minta balasan," ucapku lalu tersenyum.


"Duh, senyum itu yang selalu membuat aku rindu," gumam Nita dalam hatinya.


"Hehehe memang Kakak minta balasan apa?"


"Hmmmm apa ya? Nanti lah saya buatkan dulu daftarnya."


"Hahaha banyak banget sepertinya nih permintaannya."


" Iya hehehe .... "


Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki menyebrang jalan hingga aku harus menghentikan mobilku tiba-tiba.


" Aoww .... " ucap Nita terkejut lalu memegang tanganku yang sedang memegang persneling mobil. Kami saling memandang untuk beberapa saat, namun aku segera tersadar.


"Maaf Nita, tangan kamu," ucapku sambil melirik ke arah persneling mobil.


"Oh, iya. Maaf, maaf Kak," ucap Nita gugup lalu melepaskan genggaman tangannya.


"Itu orang kenapa menyeberang sembarangan, tidak lihat kanan kiri dulu," ucapku kesal lalu kembali melajukan mobilku.


Setelah kejadian tadi kami hanya terdiam seribu bahasa, sampai akhirnya tiba juga di depan rumah Nita.


"Terima kasih Kak, salam untuk Kak Sarah."


"Insya Allah nanti di sampaikan."


"Iya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Nita pun turun dari mobilku, lalu segera masuk ke dalam rumahnya.


baru beberapa meter aku berjalan, tiba-tiba ponselku berdering, aku pun memberhentikan mobil untuk mengangkat telpon.


"Astagfirullahal'adziim, aku lupa Bunda menyuruh datang ke rumah."


"Assalamu'alaikum Eyza," suara Bunda terdengar dari dalam ponselku.


"Wa'alaikum salam."


"Kamu dimana? Sudah jam berapa ini? Kenapa belum datang juga?"


"Maaf Bunda, ini Eyza sedang dalam perjalanan."


"Baiklah Bunda tunggu, kamu di hati-hati di jalan ya!"


"Iya Bun."


"Ya sudah kalau begitu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam," ucapku lalu mematikan ponselku, kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah kedua orangtuaku.

__ADS_1


Bersambung ya Kakak, nanti kita lanjutkan kembali. Salam .... 😊


__ADS_2