
šššššš
Akhirnya acara reuni akbar di sekolahku tiba juga, cukup banyak juga yang datang dari berbagai angkatan.
"Za, lu udah siap tampil?" tanya Reno yang tiba-tiba duduk di sampingku.
"Hei, insya Allah Ren."
"Rencananya mau nyanyi apa?"
"Belum tahu Ren, tergantung mood."
"Lah, lo gimana udah mau tampil, masih belum tahu mau nyanyi apaan?"
"Kan gue cuma bintang tamu, nyanyi sendiri, main gitar sendiri, jadi lihat mood gue aja nanti."
"Udah kaya artis lo jadi bintang tamu."
"Hehehe habisnya lo tanya terus."
"Oh, iya Ren, kira-kira Kak Sarah datang nggak ya?" tanyaku.
"Lah, mana gue tahu, gue di Bandung dia di Jakarta."
"Biasanya lo tahu aja berita yang beredar."
"Lo pikir gue emak-emak komplek, yang tahu aja gosip tetangga."
"Ya kali ajaaa."
"Bukannya lo punya nomor telpon Kak Sarah ya? Lo tanya aja langsung ke orangnya."
"Kan dia udah lama ganti nomor telpon, dulu gue pernah hubungin nggak nyambung."
"Dulu kapan?"
"Waktu kita masih kelas dua."
"Itu mah, udah lama banget, selama itu juga lo nggak tahu kabar Kak Sarah?"
"Nggak."
"Kan adik lo teman SMP adiknya Kak Sarah, kenapa lo nggak minta tolong adik lo untuk tanya?"
"Nggak percaya diri gue Ren."
"Lah, nggak percaya diri kenapa?"
"Kak Sarah sekarang udah kuliah, lah gue masih SMA."
"Lo bilang cinta nggak memandang usia, apalagi ini cuma beda tingkatan sekolah."
"Cinta memang susah di tebak Ren, kadang bisa bikin kita percaya diri setinggi langit, kadang bikin kita minder seminder-mindernya."
"Cinta lo memang susah di tebak Za, hampir tiga tahun lo pendam, harusnya lo dapat rekor MURI hahaha ... "
Aku tersenyum mendengar celoteh Reno, "Ya udah, gue cari adek-adek gue dulu ya."
"Yaelaaaah udah satu sekolah masih di jagain aja."
"Adek gue udah tumbuh jadi gadis remaja, jadi gue harus jagain mereka dari kumbang-kumbang nakal."
"Kembang kaliii di gangguin kumbang."
" Hehehe ... " kemudian aku berlalu dari hadapan Reno.
Mataku terus saja menatap ke setiap sudut sekolah mencari kedua adik kembarku, namun tiba-tiba Dita memanggilku.
"Kak Eyza!" aku menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Hei, kakak cari-cari kamu daritadi, Dya mana?"
"Itu!" ucap Dita sambil menunjuk ke arah Dya. Tak lama kemudian Dya menghampiri kami.
"Kakak bukannya mau isi acara ya?" tanya Dya padaku.
"Iya tapi nanti masih lama, kalian udah pada sarapan?"
"Udah kan tadi di rumah," ucap Dita.
"Oh iya Kakak lupa."
"Kakak nggak ngumpul sama teman-teman Kakak?" tanya Dita padaku.
"Memangnya nggak boleh Kakak kumpul sama adek-adek Kakak sendiri?"
"Ya boleh aja, tapi biasanya cowok paling malas di ikutin adiknya," ucap Dya
"Kakak beda dari cowok lain."
"Iya deh, ya udah kita mau duduk dimana ini?"
Tiba-tiba Reno datang dengan tergesa-gesa.
"Za!"
"Kenapa Ren? Lo kaya habis lomba marathon."
"Coba tebak siapa yang datang?"
"Siapa?"
"Kak Sarah," ucap Reno, membuat hatiku begitu bahagia mendengar nama itu di sebut.
"Serius Ren?"
"Beneran, masa gue bohong."
"Ya udah yuk kita temuin Kak Sarah!" ucap Reno, lalu melangkah pergi, diikuti olehku, Dya dan Dita.
Tiba-tiba langkah kami terhenti, padahal hanya tinggal beberapa langkah lagi kami tiba di hadapan Kak Sarah.
"Saraaah, aku kangen banget sama kamu," ucap Nancy lalu memeluk Kak Sarah.
"Aku juga kangen banget sama kamu."
Nancy melepaskan pelukannya begitu melihat Kak Salman ada di samping Kak Sarah.
"Hei, Salman, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik Nancy, kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah aku juga baik. Oh, iya aku dengar-dengar kalian sudah jadian ya? Jadi kapan nih nikahnya?"
"Iya nih, kapan kita dapat undangan pernikahan? Tahu-tahu udah jadian aja, waktu SMA kemana ajaaaa," ucap Kak Rina.
"Haha kami masih kuliah, nanti lah setelah lulus baru kami rencanakan itu. Iya kan Sarah?" ucap Kak Salman lalu tersenyum kepada Kak Sarah, Kak Sarah pun membalas senyumannya.
"Eh, ii-iya. Sudah ah, kita kumpul disini, bukan mau bahas soal pernikahan kan?" ucap Kak Sarah membuat teman-teman Kak Sarah tertawa.
" Hahaha .... "
Bagai tersambar petir rasanya aku mendengar ini semua, seperti ada gemuruh di dalam dadaku. Dunia seakan runtuh, tubuhku pun menjadi rapuh, hanya rasa cintaku yang tersisa meski ia sudah terluka. Reno memegang bahuku kemudian mencengkramnya perlahan.
"Sabar ya Za!" ucap Reno yang tidak aku jawab, ku lihat Dya dan Dita saling berpandangan, terlihat rona kesedihan di mata mereka.
Aku pun berlalu pergi di ikuti Dya dan Dita, hanya Reno yang masih di tempat itu.
Tiba-tiba-
__ADS_1
"Eyza!" Kak Sarah memanggiku, aku pun berhenti tidak jadi melanjutkan langkahku, begitu juga dengan kedua adik kembarku, kemudian Kak Sarah menghampiri kami.
"Eh, Kak Sarah," ucapku sedikit gugup.
"Dya, Dita. Apa kabar? Kakak kangen deh sama kalian!" ucap Kak Sarah lalu memeluk kedua adik kembarku.
"Alhamdulillah kami baik Kak," ucap Dita lalu mencoba untuk tersenyum.
"Nah, teman-teman sekarang kita hibur hati kita sejenak, dengan alunan musik yang akan di bawakan oleh adik-adik kelas kita, yang pertama kita panggilkan Eyza,
dari kelas 3 IPA 1." Kak Ryan memanggilku. Dia adalah salah satu alumnie di sekolahku, sekarang dia menjadi host di acara reuni akbar ini.
"Maaf Kak, saya harus naik ke atas panggung."
"Kamu mengisi acara ini? Wah, pasti keren nih kalau kamu yang nyanyi," ucap Kak Sarah. Aku hanya tersenyum walau sebenarnya hatiku terluka, kemudian aku pergi melangkah ke atas panggung.
Aku mengambil gitar dari tangan Kak Ryan, lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan, kemudian mulai memainkan gitar dan bernyanyi.
*Telah lama kau tinggalkan ku
Sempat sia-siakan aku
Pergi jauh titipkan perih
Tak sedikitpun peduli
Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Takkan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah*
Semua mata seakan tertuju padaku seolah merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini.
*Pergi jauh titipkan perih
Tak sedikitpun peduli
Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Takkan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah
Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Takkan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah* ....
Kulihat dari kejauhan Reno mendengarkan aku bernyanyi dengan mata yang berkaca-kaca, begitu juga dengan Kak Sarah, begitu serius mendengarkan aku bernyanyi seolah merasakan apa yang ada dalam hatiku, apalagi kedua adikku. Ah, tidak usah di gambarkan bagaimana hati mereka sekarang, yang jelas mereka sama terlukanya dengan aku.
Akhirnya selesai juga aku bernyanyi, suara tepuk tangan penonton mengiringi kepergianku dari atas panggung, mereka tidak tahu betapa hatiku sedang merana saat ini.
"Ren, mata lo merah begitu, kenapa?" tanyaku pada Reno.
"Lo menghayati banget nyanyinya Za, gue sampai sedih begini."
"Hahaha cengeng banget sih lo."
"Nah, elo pilih lagunya yang bikin bawa perasaan begini, alias baper."
"Ini memang perasaan gue Ren," bisikku di telinga Reno.
__ADS_1
šššššš
**Duh, ini lagu memang bikin galau banget tapi Author suka šāŗ nanti kita lanjut lagi ya guys galau-galauannya hehehe ....