
š±š±š±š±š±
Di rumah Kak Sarah
"Kapan kamu ujian Sarah?" tanya Om Dani, ayahnya Kak Sarah pada Kak Sarah.
"Minggu depan Pah!" jawab Kak Sarah, kemudian meneguk teh manis hangatnya.
"Kamu jangan terlalu sibuk, kurangi kegiatan di luar, harus fokus belajar."
"Iya Sarah, jangan terlalu sibuk, untuk toko kue juga, kamu berhenti dulu bantu-bantu mama, fokus belajar aja."
"Iya Mah, pah. Sarah akan fokus belajar."
"Apalagi kamu mau masuk perguruan tinggi negeri kan, jadi harus di usahakan dapat nilai yang bagus," ucap Om Dani.
"Oh, iya Mah, kamu dapat salam dari Bundanya Eyza. Papa sampai lupa, baru tadi sore Sarah sampaikan ke Papa."
"Eyza siapa Pah?"
"Adik kelas Sarah Mah, yang waktu itu antar Sarah pulang latihan basket, tapi mama lagi di dapur jadi nggak sempat ketemu deh," jawab Kak Sarah.
"Oh, iya iya Mama baru ingat, memangnya kapan kamu bertemu dengan Bundanya Eyza?"
"Tadi siang mah, Sarah bantu dia dan teman-temannya buat makalah. Bundanya Eyza itu baik banget loh mah, Sarah dan teman-temannya Eyza di masakin makan siang, belum lagi cemilan-cemilannya, udah begitu ramah banget orangnya."
"Oh ya, dari cerita kamu kelihatannya memang baik, sampai titip salam untuk mama dan papa, salam kembali untuk Bundanya Eyza dari mama dan papa ya kalau nanti kamu ketemu lagi."
"Iya mah, insya Allah Sarah sampaikan."
"Ngomong-ngomong siapa nama Bundanya Eyza? Waktu itu Papa juga tanya nama Ayahnya, tapi Eyza belum sempat jawab."
"Aduh, siapa ya? Sarah lupa tanya, nanti kalau ingat pas ketemu Eyza, Sarah tanya ya."
"Kak, ajarin Dewi kerjakan PR matematika ini dong! Dewi nggak ngerti," ucap Dewi adiknya Kak Sarah.
"Yang mana? Coba sini Kakak lihat!"
"Yang ini!"
"Ya udah kita kerjakan di kamar Kakak yuk, Kakak juga mau belajar!"
"Ya udah yuk!"
"Pah, mah. Sarah ke kamar dulu ya!"
"Iya Nak," jawab Om Dani yang sedang asyik membaca koran sambil meminum kopi hitamnya.
Kemudian Kak Sarah dan adiknya Dewi pun pergi ke kamar Kak Sarah.
"Faiz ke kamar juga ya Pah, mah. Ada tugas sekolah juga!"
"Oh, iya Faiz, kamu juga harus belajar yang rajin ya sebentar lagi mau uks kan?"
"Iya Pah, ya udah Faiz ke kamar ya!"
Faiz pun pergi meninggalkan Papa dan Mamanya menuju ke kamarnya.
"Kalau nggak salah Faiz itu seumuran dengan Eyza mah."
"Oh, ya!"
"Mau ujian akhir sekolah juga, sama dengan Faiz."
"Saya belum pernah bertemu dengan Eyza jadi nggak tahu yang mana orangnya."
"Dan mama tahu nggak? Waktu pertama bertemu dengan anak itu, papa jadi ingat seseorang tapi siapa, papa lupa."
"Masa sih Pah?"
"Iya benar!" jawab Om Dani meyakinkan Mamanya Kak Sarah.
"Mungkin kebetulan aja Pah, anak itu mirip dengan seseorang yang Papah kenal."
"Iya juga ya!"
"Oh, iya Adit kapan ke Bandung Pah?"
"Minggu depan katanya, pas liburan semester dia mau pulang ke Bandung."
"Wah, itu saat Sarah sedang ujian ya!"
"Iya!"
"Kangen juga dengan anak itu, semenjak dia kuliah di semarang, nggak ada lagi yang antar Mama kesana kemari."
"Kan sekarang ada Faiz Mah, dia sudah bisa setir mobil, biar dia yang menggantikan tugas Kakaknya."
"Iya, selama ini juga dia yang antar Mama, cuma Mama lagi kangen aja sama Adit."
"Papa juga kangen sama anak itu, apalagi Sarah dan Dewi, mereka selalu menanyakan kapan Kakaknya liburan semester."
"Nggak terasa anak-anak kita sudah pada besar ya Pah!"
"Iya nggak terasa, Sarah pun sebentar lagi akan masuk perguruan tinggi, Papa di tinggal lagi deh."
"Memang rencananya Sarah mau kuliah di mana Pah?"
"Waktu itu sih, dia bilang mau kuliah di Jakarta. Mau masuk perguruan tinggi negeri disana!"
"Oh, begitu semoga Allah beri kemudahan ya Pah!"
"Aamiiiiin!"
"Ya sudah Pah, mama ke kamar duluan ya! sudah ngantuk, besok harus bangun pagi, ada banyak pesanan kue."
"Iya Mah, duluan aja ya. Papa belum mengantuk!"
"Ya sudah, Mama duluan ya!"
Satu minggu kemudian
"Eyza, temenin Bunda ke supermarket ya, kamu libur kan hari ini?"
"Iya Bun, libur. Kan kelas tiga ada ujian."
__ADS_1
"Dita ikut ya Bun?"
"Dya juga ya Bun, mumpung lagi libur juga sama kaya Eyza. Kapan lagi ke supermarket bareng-bareng."
"Ya udah, ayo Bunda tinggal pakai kerudung ini."
"Ya sudah Eyza panasin mobil dulu sebentar ya Bun!"
"Iya!" jawab Bunda.
"Untung ayah ke kantor pakai motor. Bunda sama Ka Eyza ke supermarket kan jadi naik mobil, jadi Dita sama Kak Dya bisa ikut deh
hehehehe," ucap Dita dengan senangnya.
"Sudah, ayo kita berangkat!" ucapku yang baru saja selesai panaskan mobil. kemudian Bunda, Dya dan Dita pun masuk ke dalam mobil. Setelah aku kunci pintu rumah dan pintu pagar, kami pun segera pergi menuju supermarket.
Tak beberapa lama kemudian kami tiba di supermarket. Bunda sedang mencari kebutuhan rumah tangga di temani Dya dan Dita, sedangkan aku asyik melihat alat-alat elektronik.
"Sebentar lagi kan Kak Sarah mau lulus sekolah, gue kasih apa ya sebagai hadiah kelulusannya? Heummmm kaset cd mp3 aja ya!" ucapku dalam hati, lalu menuju rak kaset cd mp3 berada.
"Nah, itu dia. Lagu apa ya?"
tiba-tiba mataku tertuju pada kaset cd mp3 Club eighties.
"Nah, ini kan lagu yang kemarin gue nyanyiin di depan Kak Sarah, apa gue kasih ini aja ya, biar dia tahu lagu yang kemarin gue nyanyiin itu buat dia."
Aku mengambil kaset cd mp3 itu lalu segera pergi ke kasir untuk membayarnya.
"Harus buru-buru di bayar nih, sebelum ketahuan Dita dan Dya, bisa berabe kalau mereka tahu gue beli mp3 ini."
"Ini aja mas?" tanya petugas kasir padaku.
"Iya itu aja, berapa ya?
"jadi tiga puluh empat ribu."
Aku memberikan uang sebesar lima puluh ribu rupiah, kemudian di kembalikan enam belas ribu rupiah kepadaku. Segera aku masukkan kaset cd mp3 itu ke dalam saku jaketku sebelum ketahuan Dya dan Dita.
"Kak ayo, Bunda sudah selesai belanjanya!" ucap Dita padaku.
"Ya sudah yuk!"
Setelah memasukan barang belanjaan ke dalam mobil, kami pun pergi meninggalkan supermarket.
"Iya, Bunda mau langsung masak untuk makan malam dan selesaikan pekerjaan yang lain."
Sampai di rumah, aku segera mengeluarkan barang belanjaan dari dalam mobil, kemudian masuk ke dalam kamar.
"Bungkus pakai apa ya? Gue kan nggak punya kertas kado. Heumm coba tanya Dita Deh, biasanya anak cewek suka simpan kertas kado."
"Ditaaa!" Aku keluar kamar mencari Dita, yang ada di ruang tengah sedang menonton televisi.
"Ada apa Kak?"
"Punya kertas kado nggak? Kakak minta dong!"
"Buat apa Kak?"
"Buat prakarya!"
"Masa anak SMA masih bikin prakarya aja, kaya anak SD."
"Iya, iyaaa. Sebentar Dita ambil dulu di kamar!"
Tidak lama kemudian, Dita datang membawa kertas kado motif bunga mawar merah.
"Ini Kak!"
"Makasih ya!"
Kemudian aku langsung masuk ke dalam kamar lagi.
"Sebenarnya kertas kado itu untuk apa ya? Kok aku nggak yakin ya untuk prakarya, memang anak SMA ada ya prakarya pakai kertas kado mana itu motif bunga mawar, ah nanti aku tanya Kak Reno aja," gumam Dita dalam hatinya.
Aku letakan kaset cd mp3 yang barusan aku beli di atas meja belajar, sambil aku berpikir mau di bungkus seperti apa.
"Oh iya, gue kan punya kotak kardus kecil bekas jam dinding, pakai itu aja ya."
Aku masukan kaset cd mp3 itu ke dalam kotak kardus kecil kemudian aku bungkus rapih dengan kertas kado yang barusan aku minta dari Dita.
"Yess, selesai juga, tinggal nanti gue kasih ke Kak Sarah. Taruh dimana ya biar aman? Apalagi Dita suka masuk ke kamar gue."
Mataku melihat ke sekeliling, akhirnya aku putuskan untuk menaruhnya di dalam lemari bajuku.
"Kaaak, ada Kak Reno tuh datang!" ucap Dya sedikit berteriak.
"Suruh langsung masuk ke kamar Kakak aja."
"Za, lo lagi ngapain?"
"Hei Ren, masuk sini. Lagi istirahat aja, capek gue abis anterin nyokap sama adek-adek gue ke supermarket!"
Mata Reno tertuju pada foto yang menempel di dinding kamarku, foto kecilku bersama adik-adikku.
"Itu foto lo sama adik-adik lo Za?"
"Iya!"
"Lo dari kecil memang udah ada bakat ganteng kaya bokap lo ya!"
"Wuiiiiih itu udah takdir Yang Maha Kuasa."
"Gaya lo Za!"
"Lah, memang bener kan?"
"Adik-adik lo lucu-lucu ya waktu kecilnya."
"Menggemaskan!" ujarku.
"Lo sayang banget ya sama mereka?"
"Banget Ren!"
"Eh, tunggu tunggu, itu foto siapa yang lo selipin di bingkai foto?"
__ADS_1
"Yang mana?"
"Yang ini!" Reno mengambil foto yang terselip di bingkai fotoku bersama kedua adikku, lalu menyerahkan kepadaku.
"Oh, yang itu, itu foto gue waktu umur dua tahun!"
"Trus, anak cewek yang di samping lo siapa?"
"Kalau nggak salah, itu anak temannya Bokap dan nyokap gue."
"Kok bisa lo pajang disitu, bareng foto elo dan adik-adik lo?"
"Bokap gue yang selipin disitu, katanya buat kenang-kenangan. Ya gue nurut aja!"
"Coba lo perhatiin wajah anak cewek itu deh Za!"
"Memangnya kenapa?"
"Mirip banget sama Kak Sarah!"
"Masa sih, coba sini gue lihat!" ucapku lalu aku ambil foto itu dari tangan Reno, kemudian ku perhatikan foto itu dengan seksama.
"Iya ya, mirip. Eh, tapi kalau nggak salah namanya juga Sarah deh!"
"Beneran Za?"
"Serius!"
"Jangan-jangan dia beneran Kak Sarah!"
"Ah, ngaco lo nggak mungkin. Dia kan udah lama tinggal di Bandung. Nah, gue aja baru mau setahun tinggal disini. Itu foto waktu gue masih tinggal di Jakarta."
"Ya kali aja, sekarang lo tahu dia tinggal dimana?"
"Nggak tahu."
"Nah, itu mungkin aja dia itu Kak Sarah!"
"Apa iya ya, ntar gue coba cari tahu deh!"
"Eyzaaaa!" tiba-tiba Bunda memanggilku.
"Iya Bun, sebentar Eyza kesana!"
"Bentar ya Ren, kayanya Bunda butuh bantuin gue."
"Oke!"
Aku segera pergi menuju dapur.
"Kenapa Bun?"
"Tolongin Bunda, angkat aqua galon itu, taruh di atas dispenser ya!"
"Iya Bun!" ucapku lalu aku taruh aqua galon tersebut di atas dispenser.
"Sudah Bun, apa lagi yang bisa Eyza bantu?"
"Nggak ada, sudah itu aja!"
"Eyza balik ke kamar ya!"
"iya!"
Sesampainya di kamar ku lihat Reno masih saja memperhatikan foto.
"Sudah sini fotonya taruh lagi aja, dari pada lo penasaran begitu."
"Memang lo nggak penasaran Za?"
"Nggak, biasa aja!" kemudian aku selipkan foto itu di bingkai fotoku bersama adik-adikku.
"Za, memangnya waktu SMP dulu, lo udah pacaran berapa kali?
"Kenapa memangnya, tiba-tiba lo tanya itu?"
"Tanya aja, abisnya lo betah banget nge-jomblo. Kadang gue nggak percaya tampang kaya lo betah nge-jomblo sampai hampir setahun."
"Memangnya kenapa sama tampang gue?"
"Tampang lo itu, tampang playboy!"
"Ah, sialan lo!"
"Lah, memang bener!"
"Tapi gue bukan cowok gampangan Ren, gampang bilang suka sama cewek, walau masih sekolah. Harus bener-bener yakin kalau mau menjalani hubungan sama seorang cewek."
"Iya gue percaya, buktinya lo masih jomblo sampai sekarang."
"Kaya lo nggak jomblo aja."
"Ceweknya nggak ada yang mau sama gue."
"Jadi lo belum pernah pacaran Ren?"
"Ya pernah waktu SMP, tapi kalau sekarang biar mengalir kaya air aja deh, kalau udah saatnya ketemu jodoh gue, ntar juga ada saatnya."
"Cakep tuh Ren, pemikiran elo!"
"Gue gitu loh, eh ngomong-ngomong lo belum jawab pertanyaan gue. Berapa kali lo pacaran waktu SMP?"
"Tiga kali. Kelas satu sekali, kelas dua sekali, kelas tiga sekali."
"Jadi tiap tahun lo ganti pacar? Udah kaya ganti kalender."
"Hahahaha namanya juga membuka lembaran baru."
"Jadi cuma di tahun ini aja lo masih jomblo?"
"Iya!"
"Trus sampai kapan lo mau pendam perasaan lo sama Kak Sarah? Kalau lo nggak ungkapin mana lo tahu, dia ada perasaan sama elo apa nggak?"
Pertanyaan Reno membuatku terdiam cukup lama.
__ADS_1
"Iya juga ya, kalau gue terus pendam perasaan gue tanpa gue katakan, lama-lama gue bisa jadi bujang lapuk. Sedangkan hati gue maunya sama Kak Sarah. Masa sih, gue harus jadi bujang lapuk. Duh Kak Sarah, padahal kamu dekat tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk aku gapai," ungkapku di dalam hati.
ššššš