Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Di perpustakaan


__ADS_3

Hari ini aku datang lebih awal, karna ada tugas bahasa indonesia yang harus aku selesaikan, dan aku harus mencari buku panduan untuk menyelesaikan tugas bahasa indonesia tersebut di perpustakaan.


"Za!"


Tiba-tiba Reno memanggilku.


"Hai Ren, datang pagi juga?" tanyaku pada Reno yang datang dengan tergesa-gesa.


"Iya nih, tugas bahasa indonesia gue kan belum selesai."


"Sama dong!"


"Lo mau kemana Za?"


"Ke perpustakaan."


"Ngapain?" tanya Reno.


"Lihat-lihat aja."


"Lo udah kaya di toko buku, cuma lihat-lihat doang."


"Nah, pertanyaan lo yang bikin gue jawab begitu, kan lo tahu kita sama-sama belum dapat buku panduan untuk tugas bahasa indonesia."


"He he he oh iya, gue lupa," jawab Reno sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Gue ikut ya?"


"Yuk!" jawabku.


Kami pun berjalan menuju perpustakaan sekolah.


Sampai di perpustakaan aku melihat-lihat kesekeliling rak buku, akhirnya kutemukan juga buku itu.


"Nah, ini dia yang gue butuhin."


"Buku apa itu Za?" tanya Reno padaku.


"Gurindam 12 karya Raja Ali Haji."


"Ini buku panduannya?"


"Iya!" jawabku sambil berjalan menuju bangku dan meja yang masih kosong disebelah kananku, di ikuti Reno yang berjalan di belakangku.


Aku Mulai membuka-buka buku Gurindam 12 sampai akhirnya tiba pada pasal 6 tentang pergaulan.


"Nih Ren, dengerin ya! Cahari olehmu akan kawan pilih segala orang yang setiawan."


"Maksudnya?" tanya Reno dengan wajah seriusnya.


"Maksudnya, carilah teman yang setia disaat kita senang maupun susah, jadi udah tepat banget lo berteman sama gue."


"Setia apaan lo, kemarin buktinya bayar taksi online, gue yang patungan lebih banyak."


Tiba-tiba kulihat Kak Sarah masuk ke dalam perpustakaan.


"Sssstttttt bawel lo, ada Kak Sarah itu. Awas ya kalau sampai kebongkar kita bayar taksi online patungan," ucapku sambil kucubit lengan Reno.


"Adowww sakit. Nggak usah pake cubit kali, mana sih Kak Sarah?"


"Sssttttt lo nggak usah nengok, ketahuan banget gue yang kasih info kalau dia datang."


"Iya, iyaaa lama-lama bawel lo kaya emak gue," jawab Reno sambil terus menatap ke arahku.


Setelah mendapatkan buku yang dicari. Kak Sarah menghampiri petugas perpustakaan untuk di data buku yang mau dia pinjam. Tiba-tiba Kak Sarah melewati meja dimana aku dan Reno berada.


"Loh! Eyza, Reno. Kalian disini juga?" tanya Kak Sarah pada kami.

__ADS_1


"Eh, iya Kak!" jawabku sedikit gugup setelah di ingatkan Reno tentang pembayaran taksi online.


"Kak Sarah, lagi cari buku juga?" tanya Reno pada Kak Sarah.


"Iya nih!" jawab Kam Sarah sambil menunjukan buku yang baru saja dia pinjam.


Kak Sarah melihat ke sekeliling perpustakaan, ternyata bangku sudah penuh dengan para siswa yang sedang membaca buku, hanya tersisa satu bangku di samping Reno.


"Kelihatannya hari ini perpustakaan penuh ya, boleh saya gabung dengan kalian?" tanya Kak Sarah pada kami


"Oh, boleh Kak. Boleh banget," jawabku penuh semangat sambil ku kerlingkan mataku pada Reno. Setelah diam beberapa saat akhirnya Reno mengerti maksudku.


"Duduk disini aja Kak, kebetulan saya masih mencari buku panduan untuk tugas bahasa indonesia," ucap Reno, kemudian berdiri mempersilahkan Kak Sarah duduk di hadapanku.


"Loh, saya jadi nggak enak nih, masa kamu pergi. Bukannya kamu sekelas dengan Eyza ya? Pasti tugas kalian sama kan?" ucap Kak Sarah pada Reno.


"Iya, sama Kak, tapi satu siswa satu buku panduan. Eyza sudah dapat tapi saya belum," jawab Reno lalu pergi dari hadapanku dan Kak Sarah menuju rak buku.


Kak Sarah duduk di hadapanku, kemudian tersenyum. Aku balas senyumannya hingga dapat ku perlihatkan kedua lesung pipiku yang menurut para kaum hawa cukup manis, semanis chocco float ice.


"Kamu ada tugas apa memangnya?" Kak Sarah memulai obrolan.


"Ini, tentang puisi lama yang terdiri dari dua bait dengan rima yang sama," jawabku sambil ku tunjukan buku yang barusan aku ambil dari rak buku perpustakaan.


"Gurindam 12 karya Raja Ali Haji."


"Iya betul!" jawabku.


"Puisi yang indah, berisi tentang nasehat kehidupan. Saya suka dengan karya-karya beliau," ucap Kak Sarah kemudian melihat ke arahku.


"Ya Tuhan, ini beneran yang duduk di hadapanku sekarang adalah bidadari yang enam bulan lalu aku lihat," gumamku dalam hati.


"Eyza!" Suara Kak Sarah mengagetkan aku.


"Iii-iya Kak!"


"Kamu melamun?"


"Daritadi saya panggil kamu nggak jawab."


"Maaf, maaf Kak. Saya hanya lagi pikirkan tugas yang hari ini harus di kumpulkan."


"Oh, begitu!" jawab Kak Sarah kemudian tersenyum padaku.


"Kamu belum paham tentang gurindam?"


"Belum," jawabku sambil ku gelengkan kepala.


"Kapan pelajaran bahasa indonesianya?"


"Setelah istirahat Kak, menjelang pulang sekolah."


"Nanti pas jam istirahat kita bertemu lagi disini. Insya Allah saya akan bantu kamu," ucap Kak Sarah, membuatku ingin melompat tinggi rasanya.


"Beneran Kak?" tanyaku untuk meyakinkan hatiku kalau ini bukan mimpi.


"Iya beneran!" jawab Kak Sarah.


"Yes, yes, yessss memang kalau jodoh nggak kemana, nanti pas jam istirahat gue akan bertemu Kak Sarah lagi," ungkapku dalam hati.


Tet, tet, tetttttttttttt!


Bel masuk sekolah pun berbunyi, para siswa keluar dari perpustakaan.


"Bel sudah berbunyi, memang waktunya sangat sempit kalau kita berdiskusi sekarang. Saya ke kelas duluan ya nanti pas jam istirahat, insya Allah kita bertemu lagi disini."


"Iya Kak, terima kasih sebelumnya," ucapku.

__ADS_1


"Saya belum bantu apa-apa, hanya baru berencana," ucap Kak Sarah lalu tersenyum padaku.


"Saya duluan ya. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikum salam," ucapku sambil terus menatap Kak Sarah keluar dari perpustakaan.


"Saya pinjam ini ya Kak!" ucapku pada petugas perpustakaan, setelah di catat aku pun segera berlari menuju kelas.


"Tuhan, kenapa engkau menciptakan waktu begitu singkat untuk aku dan Kak Sarah, tapi aku selalu berusaha bersangka baik padamu, hingga Engkau tambahkan durasi pertemuan kami hari ini atas permintaan Kak Sarah sendiri, pas jam istirahat kami akan bertemu lagi disini. Walau ini baru rencana kami berdua, tapi aku percaya Engkau tidak akan pernah mengecewakan hatiku, Tuhan," ucapku dalam hati sambil terus berlari menuju kelas, khawatir Pak Burhan, guru agamaku sampai di kelas lebih dahulu.


"Alhamdulillaaaaah Pak Burhan belum datang," ucapku dengan nafas tersengal-sengal.


"Kenapa lo Za? Kaya habis di kejar-kejar setan," tanya Reno yang sudah berada di dalam kelas lebih dahulu.


"Hhhhhh setannya yang habis gue kejar."


"Masa sih, mana setannya?"


"Ini di hadapan gue," jawabku sekenanya.


"Sialan lo Za, masa muka sekeren ini, di samain sama muka setan," ucap Reno kesal.


"Hahahaha keren kata lo, tapi lo masih jomblo sampai sekarang!"


"Kaya lo udah punya pacar aja," ucap Reno.


"Gue memang masih jomblo, karna gue setia sama perasaan cinta di hati gue."


"Hahahaha setia? Kalau lo pendam terus, lama-lama lo akan jadi bujang lapuk. Mau sekeren apapun elo, kalau udah tua, cewek mikir-mikir kali mau nikah sama elo," ucap Reno membuatku sedikit kesal tapi juga memikirkan perkataan Reno barusan.


"Iya juga ya, sampai kapan gue pendam perasaan ini yang semakin hari semakin bikin gue sesak nafas."


"Nah, apalagi sampai sesak nafas begitu, lama-lama elo bisa kena asma."


"Sialan lo Ren, mana ada orang jatuh cinta jadi kena penyakit asma."


"Memang belum ada, mungkin aja elo yang akan jadi pelopornya hahahaha," ucap Reno membuatku tambah kesal lalu kupukul perlahan bahunya.


"Adowwwww sakit Za!"


"Manja lo, baru dipukul pelan begitu aja sakit."


"Coba sini gue pukul bahu lo," ucap Reno sambil mengepalkan telapak tangannya, bersiap memukul bahuku.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi anak-anak!" Pak Burhan mengucapkan salam.


"Alhamdulillaaaah, akhirnya Pak Burhan datang," ucapku sambil tersenyum kepada Reno.


"Ntar lo, jam istirahat kena sama gue."


"Hahahaha udah ah, damai gue minta maaf ya!" ucapku kemudian tersenyum pada Reno.


"Nggak, gue nggak maafin."


"Yah, Ren. Udah dong, cuma elo sama Ujang sohib gue di sekolah ini. Kalau lo marah, tambah galau dah hati gue, udah galau karna cinta masa lo mau tambahin lagi."


"Hahahaha jadi lo ngakuin ya kalau gue teman terbaik lo?" ucap Reno sambil tersenyum penuh kebanggaan.


"Yeee ge er lo!" jawabku sambil ku acak-acak rambut Reno yang sudah disisir rapih mengkilap karna menggunakan pomade.


"Berantakan lagi nih rambut gue. Sudahlah susah banget sih untuk mengakui, kalau elo nggak bisa hidup tanpa gue," ucap Reno meledekku.


"Uweeekkk!" ucapku ingin muntah rasanya mendengar laki-laki bilang seperti itu padaku.


"Anak-anak, keluarkan buku agama kalian. Buka halaman 155," ucap Pak Burhan menghentikan obrolanku dengan Reno.


**Nanti di sambung lagi ya Kakak. Penulis mau istirahat dulu sebentar hehehe 😊

__ADS_1


Terima kasih untuk kalian yang masih setia dengan ceritaku.


See you šŸ˜


__ADS_2