
🌿🌾🌿🌾🌿🌾🌿🌾
"Eyza, hari ini kamu ada kuliah?" tanya Bunda kepadaku yang sedang asik menonton televisi.
"Nggak Bun, aku kan tinggal tunggu jadwal sidang."
"Kalau begitu, kamu tolong Bunda ke sekolah Dya dan Dita ya. Bunda nggak bisa ikut rapat, di kantor Ayah ada acara, Bunda harus menemani Ayah."
"Memang rapat apa Bun?"
"Persiapan ujian."
"Oh, iya Bun, nanti Eyza yang ikut rapat."
"Ya sudah, Bunda sama Ayah berangkat duluan ya!"
"Iya Bun."
Aku pun segera bersiap-siap untuk menghadiri rapat di sekolah Dya dan Dita.
Hampir dua jam aku mengikuti rapat di sekolah Dya dan Dita, akhirnya selesai juga. Semua orang tua dan perwakilan orang tua murid pun keluar dari ruangan.
Aku tidak langsung pulang melainkan ke kantin sekolah terlebih dahulu, tiba-tiba ingin mengenang masa-masa sekolah dulu. Begitu sampai di kantin aku memesan jus mangga lalu duduk di bangku kantin.
"Di sini, dulu gue sama Kak Sarah pernah ngobrol, makan bakso bareng, seru-seruan bareng. Gimana kabarnya sekarang ya? Kak Sarah, i'm miss you so much."
Tiba-tiba Nita mengagetkan aku dari belakang.
"Dorrrrr!"
"Hei Nit! Kamu di sini? Bukannya sekolah di liburkan ya karna ada rapat orang tua murid?"
"Iya tapi aku tadi antar Mama ke toko kue, trus sekalian rapat, ya udah aku ikut sekalian."
"Trus Mama kamu mana?"
"Sudah pulang."
"Kamu nggak ikut pulang?"
"Eh, itu aku masih ada urusan Kak, jadi belum pulang," ucap Nita lalu tersenyum padaku.
"Sebenarnya gue tahu kalau Kak Eyza yang hadir rapat dari Dya, makanya gue bela-belain ke sekolah cuma buat ketemu kamu Kak," ucap Nita dalam hatinya.
"Nita boleh duduk di sini Kak?"
"Oh, boleh. Tentu saja boleh," jawabku kemudian Nita duduk di hadapanku.
"Kamu mau jus?"
"Nggak Kak, makasih tadi aku sudah minum."
Di kantin sekolah aku dan Nita mengobrol banyak hal, mulai dari film, musik dan pelajaran sekolah sampai membicarakan para guru di sekolahnya, membuatku mengenang masa-masa di SMA dulu, waktu aku masih bersekolah disini.
Tiba-tiba Nita memegang mesra telapak tanganku, membuatku cukup terkejut.
"Kak, aku pinjam tangannya sebentar ya!"
"Pinjam tangan?"
__ADS_1
"Sssssttttt!" ucap Nita, lalu ada seorang anak laki-laki menghampiri kami.
"Tenyata cowok ini beneran pacar kamu Nit?"
tanya Yogi pada Nita.
"Loh, memangnya kurang jelas? dua bulan yang lalu waktu kita ketemu di mall, aku kan sudah kenalkan Kak Eyza ini sebagai pacar aku."
"Aku pikir kamu hanya pura-pura untuk menghindari aku."
"Sudahlah Yogi, kita sudah putus. Tolong jangan ganggu aku lagi."
"Kalau nggak salah Kak Eyza, alumni di sini ya?" tanya Yogi padaku, aku hanya tersenyum lalu menganggukan kepala.
"Jadi Kakak alumni di sini?" tanya Nita dengan wajah terkejutnya, aku hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaannya.
"Baiklah, aku nggak akan ganggu kamu lagi Nit! Aku akuin selera kamu cukup bagus, putus dari aku, kamu dapat anak kuliahan alumni di sekolah ini pula."
"Terima kasih, dan aku harap kamu jangan mengikuti aku lagi, aku tahu setiap kamu dapat info tentang keberadaanku, kamu pasti ikutin aku kan?"
"Haha oke, oke aku nggak akan ikutin kamu lagi, aku pergi ya!"
"Oke, silahkan!"
Yogi menatapku dan Nita lalu pergi dari hadapan kami.
"Hhhhhhhh alhamdulillaaaah," ucap Nita, lalu melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.
"Maaf ya Kak, lagi-lagi aku memegang tangan Kakak."
"Nggak apa-apa, tapi apa harus pegangan tangan ya?"
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Nita.
"Nita ini sebenarnya gadis yang menyenangkan, kalau sudah ngobrol sama dia, jiwa remajaku kembali bangkit jadi teringat masa-masa SMA dulu. Dia juga manis dan kelihatannya baik hati, walau terkadang agak agresif memang," gumamku dalam hati namun tiba-tiba.
"Kak lihat kesini!"
Cekrekkk!
Nita mengajakku berfoto bersama menggunakan kamera ponselnya.
"Nggak apa-apa ya Kak? Buat kenang-kenangan."
Aku hanya tersenyum, "Oke."
"Kak aku boleh tanya nggak?"
"Tanya apa?"
"Apa memakai hijab bagi seorang perempuan muslim itu di wajibkan?"
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Nggak tahu kenapa rasanya aku ingin pakai tapi hati belum benar-benar mantap."
"Di dalam al qur'an surat al ahzab ayat lima puluh sembilan. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, yang bunyinya kurang lebih seperti ini. Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Nah, sekarang tinggal bagaimana Nita, mau mengikuti perintah Allah atau tidak? Kalau memang masih ragu atau belum mantap benar, tunggulah sampai hati benar-benar yakin, sehingga kamu memakai hijab itu memang karna Allah bukan karna hal lain."
"Oh, begitu ya Kak?"
__ADS_1
"Iya begitu sih menurut pendapat Kakak."
"Udah ganteng, sholeh lagi. Cocok banget buat di jadiin suami, pasti Kak Eyza bisa jadi ayah yang baik buat anak-anak aku nanti," ungkap Nita dalam hatinya sambil terus saja tersenyum ke arahku.
"Nita!"
"Nitaaaa! Kamu melamun?"
"Eh, nggak kok Kak."
"Kakak mau pulang, kamu mau tetap di sini atau pulang bareng Kakak?"
"Mau Kak, mau. Aku mau pulang bareng Kakak!" jawab Nita dengan mata berbinar.
"Ya sudah yuk, kita pulang!"
Kami pun berjalan menuju parkiran motor, setelah memakai helm Nita duduk di belakangku dengan posisi duduk menyamping karna dia memakai rok.
"Kak mau antar aku sebentar nggak?"
"Kemana?" tanyaku sambil terus mengendarai sepeda motorku.
"Ke toko yang jual barang untuk kado ulang tahun gitu, teman aku ada yang ulang tahun."
"Oh, boleh nanti kamu bilang aja ya dimana saya harus berhenti."
"Iya Kak!"
Setelah berjalan selama dua puluh lima menit akhirnya sampain juga di toko yang Nita maksud.
"Stop, stop di sini Kak!"
Aku pun berbelok ke toko tersebut lalu menghentikan motorku.
Di dalam toko Nita memiilih barang yang mau dia beli, sedangkan aku asik melihat-lihat kacamata hitam. Sampai akhirnya Nita datang menghampiri ketika aku sedang mencoba sebuah kacamata hitam, lalu memotretku.
"Buat apa Nit? Buat kenangan lagi?"
"Iya Kak, hehehe."
Aku hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala. Nita terus saja memotretku dari arah samping, kemudian depan.
"Kak Eyza!"
Begitu aku menoleh ke arahnya, dia langsung memotretku.
Cekrekk!
"Kalau saya artis, kamu harus bayar mahal ini. Sudah berapa banyak foto saya di handphone kamu?!"
"Hahaha Kak Eyza bisa aja!"
"Sudah yuk Kak, pulang! Aku sudah dapatkan barang yang aku cari."
"Oke, tunggu sebentar Kakak bayar ini dulu!"
Aku menuju kasir lalu membayar kacamata hitam yang aku inginkan, kemudian kami keluar dari toko untuk melanjutkan perjalanan pulang.
🌲🌳🌲🌳🌲🌳🌲🌳
__ADS_1