
šāļøšāļøšāļøšāļø
Akhirnya sampai juga aku mengantar Kak Sarah tepat di depan rumahnya.
"Terimakasih Eyza, kamu mampir dulu ya?"
"Lain kali aja Kak. Nggak enak saya, pakaian saya seperti ini."
"Memangnya mau seperti apa? Kita kan memang habis latihan basket," jawab Kak Sarah kemudian tersenyum.
"Iya sih hehehe!"
"Sudah, ayo masuk!" ajak Kak Sarah padaku.
Aku pun segera memarkir motorku di halaman rumah Kak Sarah. Kulihat ayah Kak Sarah sedang membaca koran, duduk di kursi depan rumah.
"Assalamu'alaikum Pah!" ucap Kak Sarah kepada ayahnya.
"Wa'alaikum salam," jawab ayah Kak Sarah, kemudian Kak Sarah mencium tangan ayahnya, begitu pun denganku.
"Ini Eyza yang waktu itu antar Sarah pulang Pah. Hari ini Sarah diantar lagi karna kesulitan cari ojek online."
"Oh, iya iya Papa ingat, trimakasih ya Eyza sudah antar Sarah pulang, sampai dua kali," ucap Ayah Kak Sarah kemudian tersenyum padaku.
"Iya om, sama-sama," jawabku sambil kubalas senyumannya.
"Gue udah deg-degan daritadi ternyata ayahnya ramah banget, murah senyum pula, nggak salah emang kalau Kak Sarah juga murah senyum, ternyata di turunin dari ayahnya."
"Ayo Nak, silahkan duduk, tidak usah sungkan-sungkan!"
"Iya om, trimakasih," ucapku kemudian aku duduk di kursi di hadapan ayahnya Kak Sarah.
"Saya tinggal sebentar ya Eyza, kamu bisa ngobrol dengan Papa, santai aja Papa bisa diajak ngobrol apa aja, dari politik sampai musik."
"Haha kamu bisa aja Nak!" ucap ayah Kak Sarah, Kak Sarah pun tersenyum kemudian masuk ke dalam rumah.
"Kamu tinggal dimana memangnya Eyza?"
"Di perumahan cempak hijau Om."
"Kamu sudah lama tinggal disini? Maksud saya pendatang atau memang orang Bandung?"
"Saya pindahan dari Jakarta Om, kebetulan Ayah saya di pindah tugaskan disini."
"Oh, ya. Memang ayah kamu kerja dimana?"
"Ayah kerja di kantor pemda Om."
"Oh, yaaa siapa nama ayah kamu? Mungkin saja saya kenal, saya ada beberapa kenalan orang Pemda."
Baru saja aku ingin menjawab pertanyaan ayahnya Kak Sarah, tiba-tiba Kak Sarah muncul dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh dan cemilan.
"Ayo ngeteh dulu, jangan ngobrol terus!"
Kak Sarah meletakkan dua cangkir teh dan setoples kue kering, kemudian duduk di kursi.
"Maaf kalau agak lama, saya ganti baju dulu barusan."
"Iya, nggak apa-apa kok Kak!"
"Ayo Eyza, di minum tehnya!" ucap ayah Kak Sarah mempersilahkan aku minum.
"Iya Om, trimakasih." Aku ambil secangkir teh kemudian aku minum perlahan.
"Kuenya juga dicoba, ini buatan mamanya Sarah."
"Iya Om!" Aku ambil kue dari toples yang dibawa Kak Sarah, ternyata kuenya sangat enak dan renyah.
"Gimana? Enak?"
"Iya Om, enak banget!"
"Kalau enak habiskan!"
"Saya bawa pulang aja boleh Om?" candaku membuat Kak Sarah dan ayahnya tertawa.
"Hahahaha ternyata kamu humoris juga ya." Ayah Kak Sarah tertawa kemudian menatapku, seperti sedang mengingat sesuatu. Aku salah tingkah di perhatikan terus olehnya, segera saja aku habiskan kue kering yang sedang aku makan dan secangkir teh yang di sajikan Kak Sarah.
"Saya pamit pulang ya Om, takut Bunda nunggu."
"Oh, iya iya silahkan, sebaiknya memang jangan membuat Bunda kamu resah menunggu."
"Sarah antar Eyza ke depan dulu ya Pah!"
"Oh, iya!"
Setelah aku mencium tangan ayahnya Kak Sarah, kemudian aku berjalan menuju motorku, diikuti Kak Sarah dari belakang.
"Trimakasih ya, kamu sudah antar saya lagi!"
"Sama-sama Kak!"
"Assalamu'alaikum Kak!" Tiba-tiba seorang laki-laki, kira-kira seumuran aku datang menghampiri Kak Sarah kemudian mencium tangannya.
"Kamu habis latihan Karate?"
"Iya Kak!"
"Ini adik saya Faiz. Faiz kenalin ini teman Kakak!"
Faiz mengulurkan tangannya padaku.
__ADS_1
"Faiz!"
"Eyza!"
"Faiz ke dalam dulu ya Kak, capek banget!"
"Iya!" jawab Kak Sarah.
Faiz melihat ke arahku kemudian tersenyum, lalu pergi meninggalkan aku dan Kak Sarah, tak lama kemudian datang seorang gadis seumuran adikku.
"Assalamu'alaikum Kak Sarah!" ucap gadis itu manja kemudian mencium tangan Kak Sarah.
"Wa'alikum salam sayaaang!" Kak Sarah pun menjawabnya dengan manja, kemudian mencium pipi kanan dan kiri gadis itu.
"Heummm bau asem."
"Aku kan habis latihan taekwondo Kak, keringetan pasti bau lah."
Kak Sarah tersenyum, " Ya sudah mandi sana, oh iya kenalin dulu ini teman Kakak."
Adik Kak Sarah mencium tanganku kemudian menyebutkan namanya.
"Dewi!"
"Eyza!"
"Baiklah, aku ke dalam dulu ya Kak, mari Kak Eyza!" ucap Dewi menatap ke arahku.
"Oke!" jawabku.
Dewi pun masuk ke dalam rumah.
"Adik Kakak yang itu seumuran adik-adik saya sepertinya."
"Tidak, sepertinya dibawah satu tahun dari adik-adik kamu, tapi Dewi sudah kelas satu SMP loh!"
"Oh ya, satu tahun dibawah Dya dan Dita dong, mereka kelas 2 SMP sekarang."
"Iya!" jawab Kak Sarah kemudian tersenyum padaku.
"Baiklah, saya pamit pulang ya Kak!"
"Oke, hati-hati di jalan!"
Setelah memakai helm kemudian aku duduk diatas motor, tiba-tiba saja aku memanggil Kak Sarah. Entah ada kekuatan apa yang menghampiriku hingga aku berani meminta nomor telpon Kak Sarah.
"Kak Sarah!"
"Iya, ada apa Eyza?"
"Saya boleh minta nomor telpon Kakak?"
"Kakak pernah bilang akan membantu, jika saya perlu bantuan soal pelajaran, jika Kakak sudah lulus nanti bagaimana cara saya bertanya?"
"Oh iya. Oke, simpan ya!"
"Sebentar Kak, saya ambil ponsel dulu."
Aku keluarkan ponselku dari dalam tas. Kak Sarah pun memberitahu nomor ponselnya, kemudian aku simpan, tanpa Kak Sarah ketahui kalau aku menyimpan nomor telponnya dengan nama Bidadari.
"Oke, makasih ya Kak, kalau begitu saya pamit pulang. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam," jawab Kak Sarah, kemudian aku pun berlalu dari hadapan Kak Sarah.
Sementara itu, di rumahku Reno dan Dita sudah menungguku hampir dua jam.
"Kak Eyza kemana ya kok lama banget ya?"
"Iya, itu anak nyangkut dimana sih? Udah dua jam kita nunggu, sampai film yang kita tonton tamat, dia belum pulang juga," ucap Reno yang mulai bosan menungguku.
"Memangnya Kak Eyza kemana Dit?" tanya Dya.
"Antar Kak Sarah!"
"Maksud kamu Kak Sarah yang waktu itu tampil bareng Kak Eyza, diacara pentas seni itu?"
"Iya Kak Sarah mana lagi? Masa Sarah Azhari," celetuk Dita.
"Biasa aja kali jawabnya."
"Hehehe becanda Kakak," ucap Dita kemudian tersenyum.
"Assalamu'alaikum," ucapku setelah sampai di rumah.
"Alhamdulillaaah panjang umur lo Za, sampai bulukan gue nungguin lo," ucap Reno.
"Udah kaya roti kelamaan dong, bulukan."
"Rese' lo Za," ucap Reno kesal.
"Tadi lo bilang bulukan."
"Nggak kaya roti basi juga kali."
"Hahahaha!"
Aku letakkan tasku di atas meja, kemudian aku hempas tubuh lelahku di atas sofa.
"Hhhhhh capek banget gue Ren."
"Emang lo habis kemana sih Za?"
__ADS_1
"Ya antar Kak Sarah lah!"
"Lama banget."
"Gue diajak mampir dulu ke rumahnya."
"Seriusan lo? Trus trussss?!" tanya Reno lalu mendekatkan duduknya di sampingku.
"Ya nggak ada terusannya."
"Yaaahhhh nggak seru banget sih!"
"Emang lo mau kaya gimana lanjutannya?"
"Udah kaya nonton sinetron gue," ucap Reno membuat Dya dan Dita tertawa.
"Hahaha Kak Reno lucu ya!" ucap Dita.
"Emang Kakak badut."
"Hihihihi Kakak bukan badut tapi ondel-ondel," celetuk Dya.
"Wah, Za. Ini adik-adik lo kayanya ketularan elo nih, demen menghina gue."
"Maaf, maaf Kakak. Dya bercanda, abisnya Kak Reno lucu sih!"
"Iya Kakak, Dita juga minta maaf ya, Dita juga bercanda."
"Iya Kakak maafin, Kakak kan pemaaf, baik hati dan tidak sombong," ucap Reno yang langsung di balas dengan timpukan bantal sofa olehku.
"Ngomong lo sekebun!"
"Lo nggak suka banget gue kelihatan baik di depan adik-adik lo Za!"
"Hehehe becandaaa!"
"Oh, iya trus gimana tuh barusan, pertemuan lo sama bokapnya Kak Sarah?"
"Biasa ajaaa, ngobrol, minum teh trus gue di kenalin sama adik-adiknya, abis itu gue pulang."
"Udah, begitu doang?"
"Emang lo maunya gue gimana?"
"Ya ada kemajuan dikit lah, lo tembak kek!"
Aku timpuk muka Reno sekali lagi dengan bantal sofa.
"Nggak sekalian lo ngomong pake toa, di depan adek-adek gue nih!"
"Adek lo udah pada tahu kali."
"Apaaaaa? Akh, elo emang ember Ren!" aku tutup wajah Reno dengan bantal sofa yang barusan aku gunakan untuk menimpuk wajahnya.
"Ampun Za, ampuuuun gue nggak bisa nafas nih!"
Setelah aku lepaskan bantal sofa itu dari wajah Reno, aku pun berdiri hendak pergi ke kamarku.
"Udah ah, gue mau ke kamar. Lo mau ikut gue apa mau tetap di sini?"
"Mau ngapain di kamar Za?"
"Bobo sore," ucapku.
"Idiiiihhh ngapain gue temenin lo tidur sore."
"Emang mau ngapain? Kan cuma tidur doang, pikiran lo ngeres aja, gue juga ogah kali di temenin lo. Udah ah, gue ke kamar ya!" ucapku kemudian melangkah ke kamar.
"Ya Za, gue di tinggal nih! Gue udah setia nungguin lo sampe bulukan, sekarang lo tinggalin gue?
"Kan gue suruh lo antar adek gue sampai rumah, bukan nyuruh lo nungguin gue sampai pulang," ucapku sedikit berteriak karna sudah melangkah menuju kamar.
"Lo emang bener raja tega Za!"
Aku menghentikan langkahku, "Udah pulang sana, gue mau tidur dulu, capekkkk!"
"Segitu doang Za? Nggak ada makasih makasihnya?"
"Iyaaa makasih yaaa mmmuaaahh!"
"Idiiiiihhh udah kaya banci pengkolan lo!"
"Sialan lo, udah pulang sana sebelum gue usir," ucapku lalu pergi meninggalkan Reno dan kedua adikku.
"Tega banget sih lo, iya gue pulang nih. Dya, Dita Kakak pulang ya!"
"Iya Kak, makasih ya!" ucap Dita.
"Hati-hati di jalan Kak," ucap Dya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam," jawab Dya dan Dita serentak.
"Za, gue balik!"
"Iyaaaaa!" jawabku yang sudah ada di depan pintu kamar.
**Segini dulu ya Kakak-kakak baik yang sudah setia membaca novelku, nantikan episode berikutnya. Keep stay in my novel š
š·š·š·š·
__ADS_1