Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Dan akhirnya ....


__ADS_3

šŸ’šŸ’šŸ’šŸ’šŸ’šŸ’


"Eyza! Ayo!" ucap Ayah padaku yang sedang tiba-tiba berjongkok.


"Sebentar Yah, tali sepatu Eyza lepas. Ayah sama Bunda duluan aja, nanti Eyza menyusul."


"Ya sudah. Ayah dan Bunda duluan ya?"


Aku hanya menganggukan kepala lalu kembali memperbaiki tali sepatuku. Sedangkan Ayah dan Bunda terus saja berjalan menuju depan rumah Kak Sarah.


"Assalamu'alaikum,"ucap Ayah begitu sampai di depan pintu rumah Kak Sarah.


"Wa'alaikum salam," jawab Om Dani dari dalam rumah, kemudian membukakan pintu.


"Hai Radin, masuk masuk!" ucap Om Dani mengajak masuk ke dalam rumahnya setelah bersalaman dengan Ayah.


"Apa kabar Wirda?" tanya Om Dani pada Bunda, terlihat wajah Om Dani begitu bahagia begitu melihat Bunda, mungkin karna sudah lama tidak bertemu.


"Alhamdulillah baik," jawab Bunda lalu tersenyum.


"Oh iya, dimana putra kalian?"


"Tadi bilang mau menyusul, dia sedang memperbaiki tali sepatunya yang lepas," jawab Ayah pada Om Dani.


"Ya sudah kalau begitu kita masuk duluan aja, silahkan silahkan!"


Ayah dan Bunda pun masuk ke dalam begitu di persilahkan, kemudian duduk di sofa. Tak lama kemudian Mamah Kak Sarah pun muncul.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam," jawab Ayah dan Bunda bersama.


Bunda berdiri salaman dengan Mamah Kak Sarah, sedangkan Ayah tetap duduk di sofa hanya tersenyum begitu Mamah Kak Sarah melihat ke arah Ayah.


"Maaf kami tidak bawa apa-apa, hanya sekedar untuk teman ngeteh," ucap Bunda lalu menyerahkan bungkusan berwarna putih kepada Mamah Kak Sarah.


"Aduh Wirda, kenapa pakai repot-repot segala."


"Nggak repot kok, hanya kue aja."


"Terima kasih ya," ucap Mamah Kak Sarah lalu menerima bungkusan itu.


"Saya taruh ini dulu ya, sekalian mau ambilkan minum dulu."


"Sekalian tolong panggilkan Sarah ya!" ucap Om Dani.


"Iya," ucap Mamah Kak Sarah lalu melangkah menuju dapur.


Tak lama kemudian Mamah Kak Sarah datang dengan membawa nampan berisi empat cangkir teh manis hangat kemudian di letakkan di atas meja, di ikuti asisten rumah tangganya membawa nampan berisi cemilan lalu meletakan di meja.


"Bi, tolong buatkan teh manis dua cangkir lagi ya! Sekalian tolong panggilkan Sarah!"


"Baik bu."


Tidak berapa lama kemudian, asisten rumah tangga Kak Sarah datang membawa dua cangkir teh, setelah meletakkan di meja lalu kembali ke dapur.


"Assalmu'alaikum," ucap Kak Sarah yang tiba-tiba muncul, tak lama setelah asisten rumah tangganya pergi.


Bunda kaget bukan main melihat Kak Sarah, begitu juga dengan Kak Sarah, sama kagetnya seperti Bunda.


"Bunda?" ucap Kak Sarah lalu menghampiri Bunda dan mencium tangan Bunda, kemudian menatap Ayah lalu tersenyum, Ayah pun membalas senyuman Kak Sarah. Kemudian Kak Sarah duduk di samping Mamahnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu panggil istrinya Om Radin ini dengan sebutan bunda, Sarah?" tanya Om Dani pada Kak Sarah.


"Memangnya Papah tidah tahu? Bunda ini, Bundanya Eyza Pah!"


" Maksud kamu ....?"


Tiba-tiba Bunda menyelak pembicaraan sebelum Kak Sarah menjawab pertanyaan Papahnya.


"Jadi, Sarah ini putrimu yang akan kamu kenalkan pada anak kami Dan?"


"Iya, Sarah ini anak saya yang akan saya kenalkan pada anak kalian!"


"Maksud Papah, laki-laki yang ingin Papah kenalkan ke Sarah, itu Eyza?"


"Ini Papah baru mau tanya ke Om Radin, apa anaknya itu Eyza."


"Apa benar yang barusan Sarah katakan Radin, jadi Eyza itu putramu?" tanya Om Dani pada Ayah, namun baru saja Ayah ingin menjawab pertanyaan Om Dani, tiba-tiba aku datang.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam," jawab orang-orang yang ada di ruang tamu Om Dani, kamudian aku menghampiri Om Dani lalu mencium tangannya setelah itu menatap Mamah Kak Sarah dan juga Kak Sarah lalu tersenyum, mereka pun membalas senyumanku, baru setelah itu duduk di samping Bunda.


"Ternyata dunia ini memang sempit Radin, akhirnya kita di pertemukan lagi di sini. Kalau dulu kau yang memperkenalkan aku dengan Lina, sekarang aku yang ingin memperkenalkan putriku dengan putramu," ucap Om Dani pada Ayah. Ayah hanya tertawa kecil lalu tersenyum.


"Maksud Om Dani?" tanyaku pada Om Dani.


"Ayahmu sudah memberi tahu maksud kedatangan kalian ke sini kan?"


"Maksudnya apa ya Om?" tanyaku sedikit bingung.


"Begini Eyza, gadis yang ingin Ayah kenalkan padamu itu adalah anaknya Om Dani," ucap Ayah padaku, membuatku shock tak percaya.


" Jadi .... Gadis yang Ayah maksud itu Kak Sarah?" tanyaku tak percaya.


"Dan akhirnya .... Ya Allah, rasanya jantungku mau copot. Ini beneran? Aku mau di jodohkan dengan Kak Sarah? Bertahun-tahun aku pendam perasaan ini, ternyata malah orangtua kami yang menyatukan," gumamku dalam hati.


"Ayah, Nak Sarah ini Kakak kelasnya Eyza, yang pernah datang ke rumah sewaktu mereka masih sama-sama sekolah SMA," ucap Bunda pada Ayah.


" Jadi ....? " tanya Ayah pada Bunda sama tidak percayanya sepertiku. Bunda hanya menatap Ayah dalam lalu menganggukan kepala.


"Ya Allah, apa ini pertanda bahwa mereka memang berjodoh?" tanya Ayah dalam hatinya.


"Jadi benar Pah, laki-laki yang Papah ingin kenalkan ke Sarah itu Eyza?" tanya Kak Sarah pada Om Dani.


"Iya, benar Nak!"


Aku dan Kak Sarah saling berpandangan, kami sama-sama masih tidak percaya kalau kami di jodohkan.


"Mungkin ada baiknya jika kalian berdua mengobrol dulu di teras depan, mungkin kalian masih kaget," ucap Om Dani padaku dan Kak Sarah.


"Iya Pah. Kalau begitu Sarah pamit ke depan ya Bunda, Om Radin."


"Iya, silahkan Nak!" ucap Ayah pada Kak Sarah.


"Kita ke depan Eyza!"


"Iya Kak."


Kak Sarah pun berdiri lalu pergi ke teras depan, di ikuti olehku, kemudian kami duduk di kursi yang memang sudah ada di situ.


"Kamu kelihatan lebih dewasa sekarang," ucap Kak Sarah padaku.

__ADS_1


"Hehehe Kakak bisa aja."


"Serius, oh iya. Saya dengar kamu sudah kerja ya?"


"Alhamdulillah sudah Kak."


"Akhirnya jadi arsitek juga kamu."


"Alhamdulillah Kak. Kakak sendiri jadi dokter kan? Langsung melanjutkan S2 pula."


"Masya Allah, alhamdulillah."


"Oh, iya tentang perjodohan ini. Kamu bisa menolak jika memang tidak berkenan."


"Tentu saja saya menerima Kak," ucapku dengan mantap dan penuh semangat.


"Kamu menerima perjodohan ini?"


"Eh, itu. Maksud saya, saya ikut saja apa kata Ayah dan Bunda, kalau memang menurut mereka baik, ya saya terima saja."


"Kamu memang anak yang berbakti ya."


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Kak Sarah.


"Tapi usia saya lebih dewasa dari kamu, apa kamu tidak masalah? Saya tiga tahun di atas kamu loh."


"Kenapa harus mempermasalahkan itu. Bukankah Rasulullah menikah dengan Sayyidah Khadijah dengan perbedaan usia yang cukup jauh? Berarti kan Rasulullah sudah memberi contoh, jika menikahi wanita yang lebih dewasa dari kita bukan sesuatu hal yang di larang dalam agama."


"Kamu dari dulu, memang paling bisa jawabnya."


" Hehehe .... "


"Benar kamu tidak malu, punya istri lebih dewasa dari kamu?"


"Ya nggak lah Kak. Malu itu, jika saya tidak juga mau menikah, padahal usia sudah cukup."


"Hahaha oke, oke. Tapi saya butuh waktu Eyza, nggak apa-apa ya kalau saya memikirkan ini dulu, bukan karna saya tidak menyukaimu. Saya senang dengan kamu, kamu baik dan menyenangkan, hanya saja saya perlu meyakinkan hati saya, untuk menikah dengan laki-laki yang usianya di bawah saya."


"Iya nggak apa-apa Kak. Kakak memang


harus benar-benar meyakinkan hati untuk menerima saya."


"Terima kasih atas pengertian kamu Eyza."


"Sama-sama Kak," balasku kemudian tersenyum pada Kak Sarah, Kak Sarah pun membalas senyumanku.


"Oh, iya memang Kak Sarah sudah tidak berhubungan dengan Kak Salman?"


"Sudah tidak, dia di jodohkan dengan sepupu jauhnya oleh kedua orangtuanya."


"Oh, begitu."


"Oh, iya saya boleh minta nomor handphone Kakak yang baru?"


"Boleh, sebentar." Kak Sarah membuka ponselnya lalu memperlihatkan nomor ponselnya kepadaku.


" Sudah Kak, terima kasih."


"Sama-sama."


Kami pun berusaha mengobrol tentang banyak hal, walau sedikit canggung jadinya karna perjodohan ini.

__ADS_1


*Bersambung.


Sabar ya Kakak, segera di update episode berikutnya 😊 Bay the way, ini kenapa Author lebih baper sama pertemuan Om Dani dengan Bundanya Eyza ya šŸ˜€ apakah kalian sama dengan yang Author rasakan? šŸ˜…šŸ˜†*


__ADS_2