
πΌπ·πΌπ·πΌπ·πΌπ·
Dua bulan sudah aku menjalin hubungan dengan Kak Sarah, walau sampai detik ini dia belum bicara apapun tentang perjodohan kami, tapi aku sudah beberapa kali menjemputnya pulang kuliah selepas aku pulang dari kantor. Hari ini aku menjemputnya agak telat karna banyak pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan. Aku duduk di atas motorku menunggunya di area parkir di depan kampusnya.
"Maaf sudah menunggu lama ya?" tanya Kak Sarah mengagetkan aku yang sedang asik bermain ponsel.
"Eh, nggak kok. Saya yang seharusnya minta maaf karna telat menjemput."
"Nggak apa-apa kok, tadi saya juga sambil menunggu kamu, saya mencari referensi untuk tugas kuliah saya di perpustakaan."
Tiba-tiba salah seorang teman kampus Kak Sarah menyapa.
"Hai Sarah, siapa ini? Kenalin dong! Kamu nggak bilang punya adik seganteng ini," ucap teman Kak Sarah.
"Eh, dia ini .... " Belum selesai Kak Sarah bicara, temannya langsung mengulurkan tangannya padaku.
"Kenalin. Aku Tania," ucapnya.
"Eyza," kuterima uluran tangannya.
"Sayang ya, kamu bawa motor, kalau bawa mobil aku bisa ikutan pulang bareng."
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Tania.
"Sudah ya Tania, aku harus pulang ini sudah sore banget," ucap Kak Sarah yang langsung memakai helmnya.
"Yaah, baru juga sebentar aku ngobrol sama adik kamu Sarah."
Kak Sarah tersenyum, seperti senyum yang di paksakan, "Kan ada lain waktu, aku harus buru-buru pulang."
"Tapi Sarah?"
"Sudah ya aku pulang dulu, daaah!" ucap Kak Sarah dengan wajah sedikit kesal, lalu duduk di belakangku.
"Ayo Za, kita jalan!"
"Iya," ucapku, sengaja aku tidak memanggil Kakak di hadapan Tania, khawatir dia benar-benar mengira kalau aku ini adiknya Kak Sarah, kemudian aku tersenyum ke arah Tania.
"Aku baru lihat sikap Kak Sarah seperti ini, beda banget dengan Kak Sarah yang aku kenal di SMA dulu, ramah dan murah senyum. Tapi ini seperti tidak menyukai Tania," gumamku dalam hati, lalu segera melajukan sepeda motorku.
"Tuh, kan teman Saya menyangka kalau kamu
itu adik Saya," ucap Kak Sarah masih dengan wajahnya yang sedikit kesal.
"Lalu apa masalahnya Kak?" tanyaku dengan tetap fokus mengendarai motorku.
"Memangnya kamu nggak risih?"
"Risih? Nggak Kak, biasa aja."
"Kamu juga, kenapa masih panggil Saya Kakak?"
"Suka aja dengan panggilan itu."
"Tapi saya bukan Kakak kelas kamu lagi sekarang."
"Ya nggak apa-apa."
"Tapi kamu bukan adik kelas saya lagi Eyza, kamu calon suami saya sekarang."
"Apa yang Kakak bilang barusan?"
"Eh, nggak. Bukan apa-apa, sudah lupakan saja," ucap Kak Sarah gugup.
"Apa iya aku salah dengar, barusan kan Kak Sarah bilang kalau aku ini calon suaminya. Apa mungkin sudah ada cinta di hati Kak Sarah buat aku? Atau kah dia tidak menyadarinya? Ah, apapun itu, aku tetap senang mendengarnya, akhirnya dia bilang, kalau aku ini calon suaminya hehehe," ucapku dalam hati.
"Eyza!"
"Eyza! Kamu melamun?"
"Eh, nggak kok Kak. Saya tidak melamun."
"Hati-hati ya kamu sedang mengendarai motor."
"Iya Kakak."
__ADS_1
"Tuh, kan panggil Kakak lagi."
"Saya hanya tidak ingin menghilangkan kenangan kita sewaktu SMA, jadi nggak apa-apa ya saya tetap panggil Kakak."
"Hhhhhh terserah kamu saja deh, bagaimana nyamannya."
"Hehehe makasih ya. Oh, iya Kak, apa kita bisa keluar malam ini?"
"Kalau malam ini saya tidak bisa, adik sepupu saya mau datang, mau menginap. Insya Allah malam minggu besok saja ya?"
"Iya boleh Kak."
Tak lama kemudian sampai juga di depan rumah Kak Sarah, setelah turun dari motor Kak Sarah langsung turun dari motoku, lalu memberikan helm yang barusan dia pakai.
"Kamu mau mampir dulu?" tanya Kak Sarah padaku.
"Langsung aja deh."
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya!" ucap Kak Sarah lalu tersenyum padaku.
"Iya, insya Allah." Ku balas senyumannya, lalu pergi meninggalkan Kak Sarah.
"Assalamu'alaikum," ucap Kak Sarah begitu sampai di depan pintu rumahnya.
"Wa'alaikum salam," jawab seorang gadis dari dalam rumah, kemudian membukakan pintu.
"Kak Saraaaah!" ucap gadis itu.
"Nita! Kamu kapan datang? Kakak kangen bangettt," ucap Kak Sarah lalu memeluk Nita.
"Nita juga kangen banget sama Kakak, baru aja kok Nita sampai Kak."
Kak Sarah melepaskan pelukannya dari Nita lalu memandangnya dari atas sampai ke bawah.
"Kamu benar-benar sudah berubah ya sekarang. Beda banget, Kakak pikir Kakak hanya bisa lihat kamu di foto."
"Hehehe masya Allah, ini semua berkat seseorang Kak."
"Oh ya, siapa tuuuu?" tanya Kak Sarah penasaran.
"Hehehe oke, ya sudah yuk. Kita masuk ke dalam!" Ajak Kak Sarah kepada Nita, lalu mereka pun masuk ke dalam menuju ruang keluarga.
"Assalamu'alaikum Pah. Mah," ucap Kak Sarah begitu sampai ke ruang tengah, lalu mencium tangan Papah dan Mamahnya.
"Kamu pulang sendiri?" tanya Om Dani, Papahnya Kak Sarah.
"Tadi di antar kok Pah, hanya sampai depan aja. Mungkin ingin segera istirahat di rumah, karna baru pulang kerja juga."
"Oh, begitu. Ya sudah nggak apa-apa, Papah pikir kamu pulang sendiri."
"Cieeee Kak Sarah di antara siapa tu?" ledek Nita pada Kak Sarah.
"Hehehe kamu mau tahu aja deh," balas Kak Sarah sambil mencubit pelan pipi Nita.
"Aduh, sakit Kak."
"Masa begitu doang sakit. Udah ah, Kakak ke kamar dulu ya capek! " ucap Kak Sarah lalu tersenyum pada Nita kemudian pergi menuju kamarnya.
"Kamu juga istirahat dulu Nita, kamu juga baru sampai," ucap Mamah Kak Sarah.
"Iya tante, kalau begitu Nita ke kamar dulu ya!"
Nita pun pergi meninggalkan Om Dani dan istri menuju kamar tamu.
Selesai makan malam bersama Nita manemuni Kak Sarah di kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
"Ini aku Kak Sarah. Nita."
"Masuk Nita, pintunya nggak di kunci kok."
Setelah masuk ke dalam Kamar Kak Sarah, Nita duduk di samping Kak Sarah yang sedang fokus melihat laptopnya di atas tempat tidur.
"Kakak lagi sibuk ya?"
__ADS_1
"Nggak kok Nita, ada yang mau kamu ceritakan?"
"Iiihh Kak Sarah selalu tahu deh, apa yang Nita pikirkan."
"Hehehe Kakak hanya menebak saja," ucap Kak Sarah lalu menutup laptopnya.
"Ya sudah sekarang kamu mau cerita apa?"
Tanya Kak Sarah pada Nita. Nita memang terbiasa curhat dengan Kak Sarah sejak dia masih duduk di bangku SMP.
"Tadi kan, Nita janji mau cerita tentang seseorang yang sudah membuat Nita banyak berubah."
"Oh, iya. Gimana? Gimana? Ayo cerita dong. Kakak jadi penasaran."
"Hehehe jadi waktu Nita kelas tiga SMA, Nita kan suka sama Kakaknya teman Nita. Dia masih kuliah saat itu, lama-lama Nita akrab sama dia, tapi hanya sebagi teman."
"Hmmm oke, terus?"
"Awalnya Nita pakai hijab hanya untuk menarik perhatian dia aja, karna menurut info dari adiknya, dia suka gadis berkerudung sejak dia naksir Kakak kelasnya sewaktu di SMA."
"Kelihatannya menarik nih, cerita kamu," ucap Kak Sarah lalu tersenyum.
"Hehehe kaya baca novel dong Kak."
"Kurang lebih seperti itu hehehe. Lalu, selanjutnya bagaimana?"
"Nah, dia ini yang selalu kasih nasehat pada Nita. Kalau kita mau pakai hijab harus benar-benar dari hati, benar-benar karna Allah bukan karna hal lain."
"Wah, dia pasti laki-laki yang baik banget ya?"
"Makanya Nita jatuh cinta sama dia Kak, udah baik, sholeh, ganteng lagi."
"Cieeee ada yang jatuh cinta, terus bagaimana hubungan kamu sekarang sama dia?"
"Sekarang dia sudah kerja Kak. Nah, setelah Nita kuliah. Nita baru berani mengungkapkan perasaan kita ke dia."
"Wah, kamu berani juga."
"Hehehe namanya juga cinta Kak, apa sih yang nggak gila," ucap Nita lalu tersenyum.
"Hemmmm sudah mengerti cinta rupanya, adik Kakak ini."
"Iya doang Kak, aku kan bukan anak SMA lagi."
"Oke, oke. Lalu apa dia terima perasaan kamu itu?"
"Belum Kak, tapi dia janji dia akan berusaha buka hatinya buat Nita."
"Loh, memangnya kenapa butuh usaha untuk buka hatinya buat kamu?"
"Karna dia belum bisa move on dari Kakak kelas yang dia taksir sejak dia masih sekolah di SMA."
"Oh, begitu. Jadi Kakak yang penasaran nih, seperti apa sih laki-laki itu? Sampai kamu rela menunggu dia untuk bisa buka hatinya buat kamu."
"Nita punya fotonya kok, kalau Kakak mau lihat!"
"Oh ya, boleh boleh. Kakak mau lihat dong!"
"Sebentar Nita cari di ponsel dulu ya Kak," ucap Nita lalu mengeluarkan ponselnya, kemudian mencari fotoku.
"Ini Kak!" ucap Nita sambil memperlihatkan foto aku kepada Kak Sarah.
Kak Sarah melihat foto itu dari ponsel Nita, betapa kagetnya dia begitu melihat foto itu.
π±
"Jadi ini, laki-laki yang kamu maksud?" tanya Kak Sarah dengan hati yang terus saja berdegup kencang karna begitu terkejutnya.
"Iya Kak, ganteng kan?" ucap Nita lalu tersenyum pada Kak Sarah.
"Oh, jadi ternyata laki-laki yang Nita cintai dari dia duduk di bangku SMA itu adalah Eyza. Kenapa Eyza nggak pernah cerita soal ini padaku? Apa sebaiknya, aku tidak usah cerita dulu sama Nita, soal perjodohanku dengan Eyza ya .... " ucap Kak Sarah dalam hatinya.
*Bersambung .....
__ADS_1
Mohon kesabarannya lagi ya Kakak untuk mengikuti kelanjutan ceritanya. Insya Allah akan segera di update π*