Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Aku dan Kak Sarah di jodohkan?


__ADS_3

πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


"Setelah makan malam Papah mau bicara ya Sarah!" ucap Om Dani pada Kak Sarah.


"Iya Pah," jawab Kak Sarah.


"Mau bicara apa sih Pah? Kelihatannya serius banget," tanya Mamah Kak Sarah.


"Nanti kamu juga tahu."


Selesai makan malam, Om Dani dan istri segera pergi ke ruang keluarga di ikuti oleh Kak Sarah, sedangkan Dewi dan Faiz pergi ke kamarnya masing-masing.


"Jadi begini Sarah, tadi itu waktu Papah sedang mengurus surat-surat untuk keperluan beasiswa kamu, Papah ketemu dengan teman lama Papah, sudah lama sekali kami tidak bertemu. Lalu Papah janjian makan siang dengan dia, di restoran kami mengobrol banyak hal salah satunya, kami berniat ingin memperkenalkan kamu dengan anak laki-laki teman Papah itu."


"Maksud Papah, Papah mau menjodohkan Sarah dengan anak teman Papah itu?"


"Iya, lebih tepatnya seperti itu."


"Masa Sarah di jodoh-jodohin sih Pah, ini kan bukan zaman Siti Nurbaya lagi."


"Iya Papah tahu, tapi apa salahnya jika kalian coba berkenalan dulu."


"Hemmm gimana ya Pah .... "


"Teman Papah yang mana sih Pah?" tanya Mamah Kak Sarah pada Om Dani.


"Itu- Radin."


"Radin? Jadi dia ada di Bandung juga?"


"Iya, ternyata dia sudah lama tinggal di sini."


"Anak laki-laki dia memang usia berapa? Seingat Mamah waktu terakhir ketemu, saat itu usianya dua tahun lebih ya dan Sarah saat itu berusia lima tahun."


"Maksud Mamah dia lebih muda dari aku?" tanya Kak Sarah begitu terkejutnya begitu mendengar ucapan Mamahnya.


"Iya memang lebih muda dari kamu,tapi dia sudah cukup dewasa dan mandiri, sekarang dia sudah bekerja, dan mau melanjutkan S2 dengan biaya sendiri sambil dia bekerja," ucap Om Dani meyakinkan Kak Sarah.


"Tetap aja dia lebih muda dari aku Pah, tadi berapa usianya? Tiga tahun di bawah aku? Berarti dia seumuran Faiz dong Pah?"


"Iya seumuran Faiz, tapi memang apa masalahnya? Kalau dia sudah siap menikah ya nggak masalah walau usia lebih muda dari kamu."


" Tapi kan Pah .... "


"Kamu tahu kenapa Papah ingin sekali kamu dengan anak teman Papah itu?"


"Kenapa memangnya Pah?"


"Papah kenal baik dengan dia dan istrinya, Papah yakin mereka sudah mendidik anak mereka dengan baik, jadi Papah akan lebih tenang jika kelak kamu tinggal bersama mereka. Kamu tahu kan, tidak mudah bagi seorang Ayah menyerahkan anak perempuannya pada seorang laki-laki, jadi Papah harus pastikan jika laki-laki itu benar-benar baik."

__ADS_1


"Iya Pah."


"Sekarang terserah kamu, sebagai orangtua Papah hanya kasih saran yang insya Allah baik untuk kamu."


"Baiklah! Sarah akan pikirkan tentang ini, tapi ingat ya Pah, ini hanya baru perkenalan saja, jika ternyata Sarah tidak sreg, Sarah berhak menolak perjodohan ini."


"Tentu saja kamu berhak menolak, yang terpenting bagi Papah kamu mau bertemu dengan anak teman Papah dulu, setelah itu keputusan ada di tangan kamu."


"Kalau begitu Sarah pamit ke kamar ya!"


"Baiklah Nak, kamu istirahat saja dulu di kamar!"


Kak Sarah pun pergi meninggalkan Mamah dan Papahnya menuju kamarnya.


"Apa Papah sudah yakin mau menjodohkan Sarah dengan anaknya Radin?" tanya Mamah Kak Sarah.


"Tentu saja Papah yakin Mah, kamu sendiri kenal baik bagaimana Radin kan? Dia laki-laki yang baik, begitu juga istrinya. Papah yakin kalau Sarah menikah dengan anak mereka dan tinggal bersama dengan mereka dia akan bahagia."


"Iya, ada benar juga omongan Papah, kita memang harus benar-benar mencari laki-laki yang tepat untuk Sarah dengan mengenal keluarganya. Papah tenang aja, Mamah akan bantu bicarakan ini dengan Sarah, siapa tahu dia mau mendengarkan omongan Mamah."


"Iya Mah, makasih ya!"


"Iya, kalau begitu Mamah ke kamar Sarah dulu ya!"


"Iya Mah!"


Mamah Kak Sarah pun pergi meninggalkan Om Dani menuju kamar Kak Sarah.


"Siapa?" tanya Kak Sarah dari dalam kamarnya.


"Ini Mamah Nak!"


"Masuk aja Mah!"


Mamah Kak Sarah pun masuk ke dalam kamar Kak Sarah lalu duduk di pinggir tempat tidur, lalu menggenggam tangan Kak Sarah.


"Mamah tahu kamu kaget mendengar ini, tapi maksud Papah kamu baik. Bagi seorang Ayah, anak perempuan adalah permata hatinya. Dia nggak akan menyerahnya anak perempuannya itu pada sembarang laki-laki, Mamah kenal baik dengan teman Papah itu, begitu juga dengan istrinya, mereka sepasang suami istri yang sangat baik, insya Allah mereka pasti juga sudah mendidik anak-anak mereka dengan baik, itu menjadi pertimbangan Papah. Sehingga jika kelak kamu menikah dengan anak mereka, kamu akan mendapatkan keluarga yang baik dan menyayangi kamu."


"Iya Mah, Sarah ngerti. Tapi laki-laki itu usianya di bawah Sarah, apa nanti Sarah tidak seperti Kakaknya?"


"Usia tidak menjadi patokan kedewasaan seseorang Sarah, mungkin saja usia dia lebih muda dari kamu, tapi pemikirian dia sudah cukup dewasa," ucap Mamah Kak Sarah, lalu melepaskan genggaman tanganya dari tangan Kak Sarah, kemudian membelai rambutnya.


"Iya juga sih Mah, tapi bukan karna Sarah habis putus dari Salman kan? Akhirnya Papah buru-buru mencarikan jodoh buat Sarah."


"Bukan Nak, bukan karna itu. Papah dan Mamah percaya, insya Allah kamu bisa mencari yang lebih baik dari Salman. Ini semua hanya kebetulan saja, kebetulan Papah bertemu dengan temannya itu, ternyata anaknya juga belum menikah, sehingga Papah punya ide memperkenalkan kamu dengan anaknya, dan teman Papah pun setuju."


"Baiklah, kalau begitu Sarah mau di perkenalkan dengan anak teman Papah itu, tapi Papah dan Mamah janji ya? Kalau ternyata Sarah kurang sreg, tidak usah di lanjutkan perjodohan ini."


"Iya Mamah dan Papah berjanji, kan tadi juga Papah kamu sudah bilang, keputusan tetap ada di tangan kamu. Kami sebagai orangtua hanya berusaha mencarikan yang terbaik, keputusan tetap ada di tangan kamu, kami nggak akan memaksa."

__ADS_1


"Iya Mah."


"Ya sudah Mamah temuin Papah dulu ya, Mamah akan beritahukan Papah kalau kamu setuju untuk di perkenalkan dengan anak teman Papah itu."


Kak Sarah hanya menganggukan kepala tanda setuju, lalu keluar dari kamar Kak Sarah untuk kembali ke ruang keluarga.


"Mamah sudah bicara dengan Sarah, dan dia setuju untuk di perkenalkan dengan anaknya Radin."


"Alhamdulillaaaah, kalau begitu saya hubungi Radin dulu," Ucap Om Dani lalu mengambil ponselnya untuk menelpon Ayahku.


πŸ“² Dani


Assalamu'alaikum Radin.


πŸ“² Radin


Wa'alaikum Salam Dani.


πŸ“² Dani


Saya sudah bicara dengan anak saya, dan dia setuju berkenalan dengan anakmu.


πŸ“² Radin


Alhamdulillaaaaah saya senang mendengarnya, kalau begitu saya akan segera bicarakan ini dengan anak saya.


πŸ“² Dani


Baiklah Radin!


πŸ“² Radin


Saya minta alamat rumahmu ya Dan. Biar saya bisa silaturrahmi sekalian memperkenalkan anak kita.


πŸ“² Dani


Oke, nanti saya kirim via sms ya.


πŸ“² Radin


Baiklah! Saya tunggu ya!


πŸ“² Dani


Iya, ya sudah ya. Saya hanya ingin memberitahukan ini. Assalamu'alaikum.


πŸ“² Radin


Wa'alaikum salam.

__ADS_1


Om Dani mengakhiri percakapannya dengan Ayah, lalu meletakan ponselnya di atas nakas, terlihat ada raut kebahagiaan di wajahnya, Mamah Kak Sarah pun tersenyum penuh kelegaan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2