Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Di kamar sepi bisu


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


Dua tahun kemudian.


"Masuk aja Kak Ren, Kak Eyza ada di kamar," ucap Dita pada Reno yang baru saja tiba di rumahku.


"Makasih Dit, Kakak masuk ya!"


"Iya!" jawab Dita, kemudian kembali melanjutkan membaca novelnya.


Reno pergi meninggalkan Dita menuju kamarku, begitu sampai di depan kamarku, dia tidak langsung masuk ke dalam tapi tetap berdiri di depan pintu memperhatikan aku yang sedang asik bernyanyi sambil bermain gitar. Mata Reno tertuju pada sebuah foto yang sedang aku pandangi, namun aku tetap saja bernyanyi sambil ku petik gitar kesayanganku.


Mulanya biasa saja


Kita saling bercanda


Berbincang seadanya


Semua biasa saja


Tak pernah kubayangkan


Akhirnya datang juga


Gelisah dan rinduku


Menyatu dalam mimpi


Reno begitu serius mendengarkan lagu yang aku bawakan.


"Lagu apaan ini? Gue baru dengar," gumam Reno dalam hati.


Malam-malam begini


Termenungku sendiri


Menunggu kau disini


Kehadiran dirimu


Di kamar sepi bisu


Ku cari bayang-bayangmu


Di dalam hati ini


Merindukan dirimu


Begitu aku selesai bernyanyi, Reno memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamarku.


"Foto siapa sih yang daritadi lo pandangin Za?"


"Hei Ren, lo kapan datang?"


Reno tidak menjawab pertanyaanku, tapi langsung mengambil Foto di hadapanku yang sudah di bingkai warna hitam ukuran 5R, betapa terkejutnya dia begitu melihat foto itu.



"Ini serius, lo foto bareng Kak Sarah?" tanya Reno kemudian duduk di sampingku.


"Serius lah masa bohong, itu buktinya ada fotonya,"jawabku coba menjelaskan.


"Kapan fotonya?"


"Udah lama, waktu reuni akbar di sekolah kita dulu."


"Udah lama juga ya."


"Iya lumayan lama."


"Dan selama itu juga lu masih aja pendam perasaan lo?" tanya Reno kemudian meletakan foto yang barusan di lihat di hadapanku.


"Hehehe mau gimana lagi?"


"Memangnya elo nggak bisa move on? Buka hati lo buat perempuan lain, dari jaman SMA sampai kuliah masih Kak Sarah aja yang lo ratapin."


"Habis gimana? Cinta gue udah mentok ke dia."


"Tapi cewek yang lo suka dari jaman SMA itu udah punya calon, lo harus sadar itu, cari pengganti dia, biar lo nggak galau terus."

__ADS_1


"Kaya sendirinya nggak jomblo aja."


"Jangan salah, begini-begini gue udah punya pasangan Za."


"Serius lo?" tanyaku penasaran


"Serius lah, memangnya elo, senang pendam perasaan," jawab Reno.


"Siapa cewek yang mau sama elo?"


"Sialan lo Za, perasaan gue, lo selalu anggap gue rendah banget, jadi nggak ada cewek yang mau sama gue."


Ku rangkul bahu Reno, "Bukan begitu Sob, justru gue senang banget lo nggak sendiri lagi sekarang, nggak kaya gue bucin habis tapi nggak berani mengungkapkan, makanya masih jomblo sampai sekarang."


"Hahaha memang dasar lo bucin, budak cinta tapi lebih tepatnya si pengemis cinta."


"Ah, sial lo Ren." Aku lepaskan rangkulanku dari bahu Reno.


"Eh, ngomong-ngomong lagu yang barusan lo nyanyiin lagu siapa? Gue baru dengar."


"Itu lagu lawas, lo nggak tahu deh."


"Kok lo bisa tahu lagu lawas?"


"Bokap gue sering setel lagu-lagu lawas, makanya gue tahu."


"Tapi jujur sih, lagunya enak di dengar."


"Enak kan? Nah, sekarang kasih tahu gue, siapa cewek beruntung yang udah mendapatkan hati sohib gue ini?"


"Lo masih ingat Nancy temannya Kak Sarah nggak? Yang waktu itu lo ajak jenguk gue, waktu gue lagi sakit."


"Sebentar gue ingat-ingat dulu."


Aku diam sebentar mencoba mengingat-ingat sepertinya aku pernah kenal dengan gadis itu.


"Oh, iya iya gue baru ingat sekarang, itu kan temannya Kak Sarah."


"Iya betul, gue sama dia sekarang."


"Hahh? Serius lo?"


"Masa gue bohong sih, serius lah."


"Dia kan teman kampus gue, tapi dia udah sidang, tinggal tunggu pengumuman."


"Jadian sama Kakak kelas dong lo? Bagus deh Ren, keren keren senang gue dengarnya. Jangan kaya gue jomblo ngenes, demen sama Kakak kelas tapi nggak berani ungkapin."


"Dan lebih parahnya lagi, galaunya kebawa-bawa sampai kuliah," celetuk Reno membuatku tertawa lepas.


"Hahahaha bisa aja lo."


"Ayo dong Za, move on jangan begini terus, mau sampai kapan lo mencintai Kak Sarah?


Tahu-tahu dia udah nikaaah aja sama orang lain."


"Gue akan coba Ren."


"Memang teman cewek di kampus lo, nggak ada satu pun yang nyangkut di hati lo?"


"Ada sih yang berusaha dekat sama gue, tapi hati gue nggak mau, gimana dong?"


"Bukan nggak mau, tapi lo nggak mau berusaha buka hati lo, buat menyukai perempuan lain selain Kak Sarah."


"Iya juga sih Ren, sampai-sampai bokap gue udah lima kali kenalin gue sama anak teman kantornya, tapi nggak ada yang sreg di hati gue."


"Kalau belum sreg sih nggak masalah, yang penting lo masih normal aja."


"Sialan lo Ren." Ku timpuk Reno dengan bantal guling yang ada di sampingku.


"Aowww hehehehe."


"Eh, ada Nak Reno, sudah dari tadi?" tiba-tiba Bunda datang ke kamarku, segera aku raih foto yang ada di hadapanku kemudian aku sembunyikan di bawah tempat tidur.


"Iya Bun, sudah hampir satu jam saya disini," jawab Reno.


"Kok nggak di sedain apa-apa Za? ambilkan minum untuk Nak Reno!"


"Iya Bun." Aku segera bangkit dari dudukku, lalu melangkah menuju dapur, membuatkan teh manis untuk Reno.

__ADS_1


"Kita ngobrol di sana aja Nak Reno, di teras belakang!" Bunda mengajak Reno mengobrol di teras belakang.


Reno segera berdiri lalu mengikuti Bunda menuju teras belakang, sesampainya di sana Reno langsung duduk di kursi yang memang sudah tersedia.


"Bagaimana kuliah kamu?" tanya Bunda pada Reno.


"Alhamdulillah lancar Bun."


"Alhamdulillaaaah, sudah lama juga ya kamu nggak datang kesini."


"Hehe iya Bun, enam bulan ada kali ya Bun, tapi saya masih suka ketemu Eyza di luar, kadang kita suka janjian pas pulang kuliah."


"Oh, iya alhamdulillah kalau silaturrahmi kalian masih berjalan dengan baik, kalau teman Eyza yang satu lagi siapa namanya itu? Yang dulu pernah belajar kelompok juga di sini."


"Ujang Bun?"


"Iya benar, kuliah dimana dia sekarang?"


"Kuliah di tasikmalaya Bun."


"Oh ya, ambil jurusan apa dia?"


"Pendidikan guru agama Bun."


"Masya Allah, kamu sendiri kuliah jurusan apa? Sejak kalian sudah pada kuliah kita belum pernah ngobrol seperti ini lagi ya, Bunda juga belum sempat tanya-tanya tentang kuliah kamu."


"Saya kuliah jurusan manajemen bisnis Bun, kebetulan papi menyuruh saya melanjutkan bisnisnya, jadi saya ambil jurusan itu aja."


"Masya Allah, bagus dong. Memangnya papi kamu punya usaha apa?"


"Papi buka usaha kuliner Bun. Alhamdulillah sudah buka beberapa cabang, papi berharap saya bisa meneruskan."


"Alhamdulillah ya, mudah-mudahan Allah kasih kelancaran supaya kamu bisa segera selesaikan kuliah kamu."


"Aamiiiin makasih Bun." Bunda hanya tersenyum.


"Oh, iya kabar Kakak kelas kamu gimana? Itu yang pernah datang kesini."


"Kak Sarah, maksud Bunda?"


"Iya benar!"


"Kuliah di Jakarta kan Bun, mungkin sekarang sudah sidang.


"Dia gadis yang baik dan ramah."


"Memangnya Eyza, nggak pernah cerita-cerita tentang Kak Sarah Bun?"


"Dia terlalu tertutup kalau soal teman-teman perempuannya."


"Apa Eyza juga nggak cerita, kalau Kak Sarah sudah punya calon suami?"


"Tidak, dia tidak cerita apa-apa."


"Jadi waktu acara reuni akbar di SMA kita dulu, Kak Sarah datang bersama calon suaminya Bun, calonnya itu teman sekelasnya waktu di SMA."


"Oh, begitu Eyza nggak cerita apa-apa."


"Masa sih Bun? Dya dan Dita juga tahu kok."


"Mereka juga nggak cerita apa-apa sama Bunda."


"Saya kasihan sama Eyza sebenarnya Bun, suka sama Kak Sarah dari masih SMA bahkan sampai kuliah, padahal dia tahu kalau Kak Sarah sudah punya calon suami, entah sampai kapan akan seperti itu terus."


"Itu sebenarnya yang Bunda khawatirkan, kalau dia tidak mau mencoba buka hatinya untuk wanita lain, lalu bagaimana dia bisa menikah."


Tiba-tiba pembicaraan Bunda dan Reno terhenti, begitu melihat kedatanganku dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh manis hangat.


Aku letakkan cangkir teh di atas meja, "Minum Ren," ucapku pada Reno.


"Makasih Za." Reno segera meminum teh manis hangat yang aku suguhkan.


Kami bertiga mengobrol dengan santai sambil menikmati teh manis hangat. Tak terasa sore pun datang di iringi suara adzan ashar yang berkumandang dari masjid depan rumahku.


Allahuakbar


Allahuakbar


Allahuakbar

__ADS_1


Allahuakbar ....


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2