
šššššššš
Hari ini Ayah masuk kantor lebih awal karna banyak tugas kantor yang harus dia selesaikan, begitu tiba di kantor, Ayah berjalan dengan tergesa-gesa sampai akhirnya menambrak seorang laki-laki bertubuh kekar.
Brukkkk!
"Maaf, maaf saya nggak sengaja," Ayah menegok ke arah laki-laki yang barusan dia tabrak, lalu menatapnya sesaat.
"Dani?" tanya Ayah pada laki-laki dengan wajahnya yang cukup terkejut.
"Radin!" Laki-laki itu memanggil nama Ayah, lalu mengajak bersalaman.
"Apa kabar?" tanya laki-laki itu pada Ayah, yang ternyata dia adalah Om Dani, ayahnya Kak Sarah.
"Alhamdulillaaaah baik baik, kamu sendiri bagaimana?"
"Saya juga baik," jawab Om Dani.
"Sebenarnya saya mau mengajakmu mengobrol lebih lama, tapi hari ini saya sangat sibuk."
"Nggak apa-apa, kamu bekerja di sini?"
"Iya benar. Oh, iya kamu sedang ada keperluan apa di sini?" tanya Ayah.
"Oh, ini saya sedang mengurus surat untuk kepeluan beasiswa anak saya."
"Oh yaa? Anakmu yang mana?"
"Yang kedua, dia akan melanjutkan S2 di salah satu perguruan tinggi di sini, alhamdulillah dapat beasiswa, saya mau urus surat-suratnya."
"Alhamdulillaaaah, bagaimana kalau nanti pas jam makan siang kita bertemu? Sudah lama sekali kita tidak mengobrol."
"Boleh, boleh. Kalau begitu saya minta nomor telpon kamu ya!"
"Oh, iya. Sebentar!" Ayah mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu memberikan nomor telpon yang ada di ponselnya, kemudian Om Dani memasukan nomor ponsel Ayah ke dalam contact telpon ponselnya.
"Oke, nanti saya yang akan hubungi kamu dimana kita akan bertemu."
"Baiklah, kalau begitu saya masuk ke dalam ya?"
"Oke silahkan! Saya juga mau masuk ke dalam."
Ayah dan om Dani pun sama-sama masuk ke dalam kantor Ayah.
Setelah lima jam berada di kantor, akhirnya Ayah dan Om Dani pun bertemu di sebuah restoran padang.
"Maaf saya agak telat," ucap Ayah pada Om Dani yang sudah menunggu sedari tadi.
"Nggak apa-apa kok, kamu mau pesan apa?"
"Biar saya pesan sendiri," ucap Ayah lalu pergi ke meja menu, untuk memesan makanan. Tak lama kemudian Ayah kembali dengan membawa makanan dan minuman yang dia pesan.
"Saya makan ya!" ucap Ayah kepada om Dani yang sudah makan lebih dulu.
"Silahkan, silahkan! Maaf saya makan duluan tadi."
"Nggak apa-apa," kemudian Ayah memakan makanan yang barusan dia pesan. Selesai makan Om Dani memulai obrolan.
"Bagaiman kabar keluarga kamu?"
"Alhamdulillah baik, keluargamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah baik."
"Anakmu sudah ada yang menikah?"
__ADS_1
"Belum, anak saya yang pertama aja baru dua bulan bekerja, dia baru lulus S1 tapi memilih bekerja, katanya tahun depan saja baru melanjutkan S2, dia mau kuliah sambil bekerja biar bisa biayai sendiri kuliahnya."
"Oh yaaa? Hebat, hebat. Kerja dimana?"
"Di perusahaan arsitektur."
"Oh yaa? Wah, hebat. Dia seorang arsitek kah?"
"Iya lebih tepatnya begitu."
"Lalu bagaimana kabar kedua putri kembarmu?"
"Mereka sudah kuliah sekarang."
"Oh, yaa? Hebat kamu Radin, sudah berhasil mengantarkan anak-anakmu sampai perguruan tinggi. Tapi kamu masih saja bekerja di usia sekarang ini."
"Dua tahun lagi saya pensiun, biasalah menghabiskan sisa-sisa tenaga yang ada."
"Hahaha bisa aja kamu."
"Kamu sendiri bekerja atau usaha?" tanya Ayah pada Om Dani.
"Setelah pindah ke Bandung, saya melanjutkan usaha Kakek saya. Istri juga usaha, dia buka toko kue."
"Oh, ya alhamdulillah. Kamu sendiri usaha apa?"
"Saya mengelola perkebunan teh milik Kakek."
"Alhamdulillah, enak ya punya usaha sendiri. Kalau saya belum tahu, setelah pensiun mau ngapain?"
"Haha jangan merendah begitu, saya tahu kamu cerdas, pasti punya banyak ide untuk buka usaha."
"Haha ya paling tidak jauh dari kemampuan saya."
"Iya apa sajalah yang penting menghasilkan uang."
"Anak saya yang pertama sudah menikah, sekarang istrinya sedang hamil anak ke dua."
"Wah, kamu sudah Kakek rupanya."
"Ya alhamdulillah."
"Lalu anak yang lain?"
"Yang kedua sedang melanjutkan S2 nya, dia kuliah kedokteran, itu yang barusan surat-surat untuk persyaratan beasiswanya sedang saya urus."
"Oh jadi anak kamu kuliah kedokteran, kalau nggak salah yang kedua itu, yang pernah saya foto bareng anak pertama saya ya?"
"Iya sepertinya, sudah lama sekali, saya lupa. Kalau anak saya yang dari istri saya juga bekerja, membantu saya mengurus pekebunan teh, sedangkan anak saya yang terkahir sekarang kelas 3 SMA."
"Lengkap sudah kebahagiaanmu Dan, anak sudah pada sukses, di tambah kehadiran cucu pula."
"Haha bisa aja, kamu sendiri kapan mau menimang cucu?"
"Hehehe entahlah, anak saya aja belum punya pacar bagaimana dia mau menikah?"
"Masa sih, belum ada? Sudah bekerja, seorang arsitek pula, saya nggak yakin dia belum punya pacar."
"Beneran, anak saya yang satu ini memang agak susah untuk tertarik dengan wanita, kalau bukan benar-benar dari hatinya. Sudah berapa kali saya kenalin dengan anak teman-teman kantor saya, tapi belum ada yang sreg di hatinya. Entah, dia mau cari yang seperti apa?"
"Hemmm saya punya ide."
"Ide apa Dan?"
"Bagaimana kalau kita jodohkan anak-anak kita?"
__ADS_1
"Haah? Kamu serius?"
"Serius!"
"Tapi apa anakmu mau sama laki-laki yang lebih muda dari dia? Terakhir ketemu saja anakmu usia lima tahun sedangkan anak aku usia dua tahun, berarti beda usia mereka sekitar tiga tahun."
"Itu bukan masalah, tinggal bagaimana cara kita mendekatkan mereka. Saya yakin, kamu dan istrimu sudah mendidik anak-anak kalian dengan baik, makanya saya yakin untuk menjodohkan anak saya dengan anakmu."
"Memangnya anakmu belum punya calon suami?"
"Dulu sempat ada, tapi sudah putus. Sudah sekitar enam bulanan lah."
"Putus?"
"Iya, laki-laki itu di jodohkan oleh orangtuanya, maklum dalam adat kelurganya masih berlaku sistem perjodohan dengan keluarga jauh, dia di jodohkan dengan sepupu jauhnya."
"Oh ya, memang orang mana?"
"Orang Padang, ada keturunan Arab juga."
"Oh, begituuuu!"
"Nah, kembali ke pembahasan kita. Bagaimana kamu setuju nggak kalau kita jodohkan anak-anak kita?"
"Kalau saya sih setuju aja, bahkan sangat setuju. Saya yakin putrimu anak yang baik."
"Masya Allah," ucap Om Dani.
"Oh, iya sebentar saya kasih lihat fotonya."
Om Dani mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan foto putrinya kepada Ayah.
"Ini putri saya!"
š±
Rupanya Ayah tidak mengenali kalau yang di foto itu adalah Kak Sarah, karna memang setiap Kak Sarah datang ke rumah untuk membantu aku dan teman-temanku mengerjakan tugas sekolah, Ayah tidak pernah ada di rumah.
"Masya Allah, cantik putrimu Dan, laki-laki itu pasti menyesal sudah mengakhiri hubungannya dengan anakmu."
"Hehehe memang belum berjodoh, toh pria itu pun sudah menikah sekarang."
"Oh, yaaa!"
"Sekarang saya mau lihat foto anakmu, boleh?"
"Tentu saja boleh, sebentar!"
Ayah mengeluarkan ponselnya lalu mencari-cari foto aku di dalam ponselnya.
"Astagfirullah, saya lupa ponsel saya baru saja di restrart jadi banyak foto-foto yang hilang, sebenarnya sudah saya backup tapi ada di laptop."
"Ya sudah nggak apa-apa, kamu kan sudah simpan nomor whatsapp saya, nanti kamu bisa kirim."
"Oke oke, nanti saya kirim ya!"
"Ya sudah, kita sudah cukup lama di sini, kamu juga harus bekerja lagi, kalau begitu saya pamit pulang ya?"
"Oh, iya saya juga kan harus balik ke kantor."
"Baiklah kalau begitu, assalamu'alaikum," ucap Om Dani.
"Wa'alaikum salam," jawab Ayah, lalu Ayah pun pergi meninggalkan restoran setelah Om Dani keluar dari restoran terlebih dahulu.
__ADS_1
šššššš