
Tak terasa setahun sudah aku dan Sarah berumah tangga, tapi kami belum juga di karuniai seorang anak, padahal kami sudah sangat merindukan tangisan kecil seorang bayi di rumah kami yang kebetulan hanya ada kami berdua, karna kami sudah tidak tinggal serumah lagi dengan kedua orangtua Sarah.
"Kamu datang kan ke acara wisuda aku?" tanya Sarah padaku.
"Tentu saja aku datang, tapi aku ke kantor sebentar nggak apa-apa ya? Aku ada presentasi sebentar setelah itu aku langsung pergi ke tempat acara wisuda kamu."
"Iya nggak apa-apa."
"Papah dan Mamah juga datang kan?"
"Iya, Papah dan Mamah, juga Faiz, Dewi dan Kak Adit nanti menyusul."
"Ayah dan Bunda juga akan menyusul nanti, tapi Dya dan Dita kemungkinan tidak bisa ikut, mereka ada kuliah hari ini."
"Iya nggak apa-apa."
"Ya sudah. Ayo kita berangkat!"
Aku segera mengeluarkan mobilku lalu kami pun segera berangkat ke tempat acara prosesi wisuda Sarah di laksanakan. Begitu sampai di depan gedung tersebut, Sarah mencium tanganku, aku pun mencium keningnya.
"Jangan lupa datang ya!"
"Iya sayaaang, insya Allah aku pasti datang."
"Ya sudah aku duluan ya!"
"Iya."
Sarah pun turun dari mobil lalu segera masuk ke dalam gedung pertemuan karena acara akan segera di mulai.
Di dalam gedung tempat prosesi wisuda di laksanakan, Sarah di temani oleh kedua orangtuanya, sedangkan yang lain yang ikut hadir menunggu di lobby gedung.
Setelah lima jam acara berlangsung akhirnya selesai sudah prosesi wisuda di perguruan tinggi tempat Sarah menimba ilmu untuk mendapatkan gelar dokter spesialis anak.
"Pah, Mah. Sarah kesana sebentar ya mau menemui teman-teman Sarah dulu."
"Iya. Papah sama Mamah tunggu di lobby ya mau menemui mertua juga adik dan Kakakmu, mereka sudah menunggu di sana."
"Iya Pah."
Papah Dani dan Mamah Lina pun segera menuju lobby gedung.
"Taniaa, Deva. Selamat yaaa!" ucap Sarah lalu memeluk Tania dan Deva.
"Sama-sama Sarah selamat juga untuk kamu," ucap Tania.
"Iya, selamat atas gelar barumu sebagai dokter anak."
"Kamu juga dokter Deva," ucap Sarah.
"Hahaha aku belum resmi praktek."
"Ehem, ehem." Tiba-tiba Yudha datang.
"Eh, Pak Yudha," ucap Tania lalu melepaskan pelukannya dari Sarah dan Deva.
"Selamat ya untuk kalian bertiga."
"Terima kasih Pak," ucap Sarah lalu tersenyum, Yudha pun membalas senyumannya.
Sementara itu aku sedang sibuk memilih bunga di toko bunga untuk aku berikan kepada Sarah.
__ADS_1
"Yang ini aja Kang!" ucapku pada penjual bunga sambil menunjuk satu buket mawar merah, pink dan putih.
Setelah membayar buket mawar yang aku beli, aku segera masuk ke dalam mobil lalu segera melajukan mobilku.
"mudah-mudahan belum terlambat," ucapku dalam hati.
Begitu sampai segera aku parkir mobilku di area parkir lalu masuk ke dalam gedung.
"Kamu baru datang Eyza?" tanya Ayah padaku.
"Iya Ayah, Eyza ada pekerjaan yang nggak bisa di tinggal," ucapku lalu aku cium tangan Ayah dan Bunda, juga Papah Dani dan Mamah Lina.
"Hai Faiz!"
"Hai Kak," jawab Faiz.
"Kak Adit!" Aku cium tangan Kak Adit.
"Kak Sita nggak ikut Kak?"
"Nggak. Dia kan baru sebulan lalu habis melahirkan, belum bisa kemana-mana."
"Oh, iya. Saya lupa."
"Kamu temui Sarah dulu Eyza, dia sudah menunggumu dari tadi."
"Iya Pah, Eyza temui Sarah dulu ya!"
Aku segera masuk ke dalam ruang pertemuan tempat acara prosesi wisuda yang tadi berlangsung.
"Maaf sayang aku terlambat," ucapku lalu aku kecup pipi Sarah kemudian aku serahkan buket bunga yang barusan aku beli kepadanya. Yudha tampak gusar melihat sikapku.
"Nggak apa-apa, bunganya cantik. Aku suka!"
"Terima kasih," ucap Sarah lalu tersenyum padaku, aku pun membalas senyumannya.
"Oh, iya saya belum memperkenalkan kepada Pak Yudha. Kenalkan Pak, ini Eyza suami saya."
Aku ulurkan tanganku, "Eyza."
Yudha pun menerima uluran tanganku, "Yudha."
"Jadi kamu sudah punya suami Sarah? Hampir empat bulan saya mengajar di kampusmu, baru sekarang saya tahu kamu sudah menikah."
"Hehehe iya Pak."
"Sarah ini memang hebat Pak. Dia sudah menikah tapi tetap bisa fokus melanjutkan kuliahnya," ucap Deva pada Yudha.
"Oh yaa? Hebat kamu Sarah."
"Masya Allah Pak, memang jodoh saya di kasih cepat dan Allah pun memudahkan saya untuk menyelesaikan kuliah saya."
Yudha tersenyum penuh kekaguman mendengar penjelasan Sarah. Hatiku sedikit resah melihat cara Yudha menatap Sarah seperti itu.
"Kalau begitu saya pamit ya Pak, Tania, Deva. Orangtua saya sudah menunggu di lobby."
"Oh, iya. Silahkan!" ucap Yudha, sedangkan Tania dan Deva hanya menganggukan kepala mereka.
"Mari semua, kami duluan ya!" ucapku lalu menggenggam tangan Sarah, kemudian kami pun pergi menuju lobby gedung.
Begitu sampai di lobby Sarah langsung mencium tangan Ayah dan Bunda, lalu memeluk Adit.
__ADS_1
"Kak Adit, Sarah kangen banget sama Kakak."
"Kakak juga kangen sama kamu." Adit semakin mempererat pelukannya.
"Kak Sita nggak ikut?" perlahan Sarah melepaskan pelukannya dari Adit.
"Kan habis melahirkan, belum selesai masa nifasnya."
"Oh, iya. Sarah lupa, Sarah juga belum jenguk keponakan baru nih."
"Ya sudah nanti kita bareng ke rumah Kakak."
"Ya sudah, oke."
"Selamat ya Kak," ucap Faiz lalu memeluk Sarah.
"Makasih Faiz."
"Selamat ya Kakakku yang cantik," ucap Dewi lalu memeluk Sarah dengan erat.
"Terima kasih adikku yang manja."
"Ya sudah yuk kita pulang, nanti keburu sore!" ucapku, kami pun segera menuju area parkir. Sarah naik mobil beramaku. Papah Dani, Mamah Lina, Faiz, Dewi dan juga Kak Adit naik mobil Kak Adit. Sedangkan Ayah dan Bunda mengendarai mobilnya sendiri.
"Yudha itu dosenmu?" tanyaku sambil menyetir mobil.
"Iya, dia baru empat bulan mengajar di kampusku."
"Masih muda banget ya sudah jadi dosen.
"Iya, dia juga seorang dokter spesialis anak di salah satu rumah sakit swasta di kota ini."
Mobil pun berhenti karna lampu merah.
"Oh, yaaa hebat. Masih muda, tampan, kariernya bagus pula."
"Kamu juga hebat sayang." Sarah menggenggam tanganku yang sedang memegang perseneling mobil seperti ingin menenangkan perasaanku, seolah dia tahu kalau hatiku sedang resah.
Aku menatap mata Sarah lalu tersenyum, "Terima kasih sayang, kamu selalu bisa menenangkan perasaanku."
Sarah membalas senyumku, "Aku tahu kamu sedang resah."
"Kamu tidak akan meninggalkan aku kan?"
"Kenapa kamu berpikir kalau aku akan meninggalkanmu? Tentu saja aku akan selalu bersamamu."
"Aku hanya khawatir kalau kamu akan tergoda laki-laki lain yang lebih mapan dan lebih sukses dari aku."
"Aku bukan wanita seperti itu, kalau kamu khawatir aku seperti itu, sama saja tidak ada keyakinan dalam hatimu, kalau aku wanita setia yang akan selalu mendampingimu."
"Bukan, bukan itu maksudku sayang. Terkadang laki-laki berada pada titik ketidakpercayaan dirinya, jika dia melihat ada laki-laki lain yang lebih dari dirinya."
Sarah semakin menggenggam tanganku.
"Dan aku akan selalu membangkitkan kepercayaan dirimu. Banyak impian kita yang belum terwujud, jadi jangan berpikir yang macam-macam harus tetap fokus pada tujuan pernikahan kita."
Ku kecup tangan Sarah, "Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu."
Sarah hanya membalasnya dengan senyuman. Senyuman penyemangat, senyuman yang selalu membuatku jatuh cinta berkali-kali dan membuatku rindu sepanjang hari.
"Sarah Amelia Prasetyo, I love you so much, again and again," ucapku dalam hati.
__ADS_1
Bersambung .....
Nanti kita lanjut lagi ya Kakak ššš¹