Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Pertengkaran


__ADS_3

"Bagaimana hari pertamamu menjadi seorang Dokter Sarah Amelia Prasetyo?" tanyaku sedikit menggoda.


"Hehehe alhamdulillah baik-baik saja."


"Hanya baik?" tanyaku sekali lagi sambil tetap menyetir mobil.


"Baik dan menyenangkan," jawab Sarah lalu tersenyum padaku.


"Sekarang ceritakan bagaimana pasien-pasienmu?"


" Umm.... Kamu benar mau mendengarkan?"


"Tentu saja."


"Kamu tahu nggak siapa pasien pertamaku?"


"Siapa memang?"


"Anaknya Salman."


Tiiiiiiiiin!


Tiba-tiba aku mengerem mobilku begitu mendengar nama itu, di tambah ada seorang pria menyeberang jalan dengan mendadak sehingga aku harus membunyikan klakson mobil.


"Hati-hati Sayang."


"Iya, itu ada yang menyeberang jalan tiba-tiba."


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Sarah padaku.


"Baik, aku baik kok."


"Kamu yakin?"


"Iya, aku baik-baik aja kok." Aku berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya aku rasakan setelah mendengar nama Salman.


"Tapi aku nggak yakin."


"Oh, iya. Itu bagaimana ceritanya kamu bisa bertemu dengan dia?"


"Salman maksudmu?"


"Iya, tadi kita sedang bahas dia kan?"


"Awalnya aku tidak bertemu dengan dia, hanya istri dan anaknya saja. Eh, nggak lama setelah aku memeriksa anaknya dia masuk ke ruanganku, akhirnya kami bertemu."


"Lalu?"


"Ya sudah hanya seperti itu."


"Kamu tidak mengobrol apapun dengan dia?"


"Rasanya kurang tepat jika aku menceritakan kalau sebenarnya Salman menelponku, apalagi jika aku ceritakan apa saja yang dia bicarakan di telpon. Sepertinya Eyza sedang cemburu, sebaiknya aku tidak perlu menceritakan ini padanya," ucapku dalam hati.


"Nggak kok. Nggak ada yang kami bicarakan, aku kan di sana sedang bekerja, mana mungkin aku punya waktu untuk mengobrol dengan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan."


"Iya juga ya."


Akhirnya sampai juga kami di depan rumah, segera aku keluar dari mobil lalu membuka pintu pagar, kemudian masuk kembali ke dalam mobil.


Di dalam rumah, Sarah sudah mandi dan berganti pakaian lalu memasak makan malam untukku.

__ADS_1


"Kamu sudah mandi?"


"Belum, ini baru mau mandi."


"Aku sudah masak makan malam untukmu."


"Iya, sebentar aku mandi setelah itu kita makan malam bersama."


Selesai mandi dan berganti pakaian, kemudian aku dan Sarah makan malam bersama.


Setelah makan malam dan sholat isya, aku masih saja sibuk di meja kerja membuat sketsa gambar untuk proyekku yang baru.


"Ini coklat panasnya." Sarah datang ke kamar kerjaku membawa secangkir coklat panas untukku, kemudian di letakkan di atas meja.


"Terima kasih."


"Kamu masih lama?"


"Kalau kamu sudah mengantuk, duluan saja nggak apa-apa."


"Ya sudah aku ke kamar duluan ya?"


"Iya," jawabku yang masih saja fokus dengan sketsa gambar yang aku buat.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, segera aku rapihkan pekerjaanku lalu pergi ke kamar tidur.


"Aku pikir kamu sudah tidur?"


"Belum, ini hanya sedang melihat data-data pasien."


"Apa kamu sedang mencari tahu tentang anaknya Salman?"


Sarah terdiam lalu menatapku dalam.


"Ya mungkin saja, anaknya kan pasienmu."


"Pasienku banyak, bukan hanya anaknya Salman."


"Ya kan mungkin saja, kamu ingin tahu siapa nama lengkapnya, kapan tanggal lahirnya."


"Maksud kamu apa? Buat apa aku cari tahu itu semua."


"Ya siapa tahu, setelah kamu bertemu dengan Salman. Kamu jadi ingin tahu tentang dia lagi, kamu bisa cari tahu melalui anaknya."


"Apa serendah itu kamu berpikir tentang aku?"


"Ya bukan seperti itu maksud aku."


"Lalu seperti apa?"


"Ya bisa saja kan, kamu belum benar-benar bisa melupakan Salman."


"Kamu seperti anak kecil kalau terus seperti ini."


"Iya aku memang seperti anak kecil, bukankah kamu yang selalu bilang kalau aku seperti adikmu sendiri."


"Itu kan dulu Eyza, sekarang aku ini istrimu."


"Oke, kalau kamu memang istriku. Apa kamu bisa menuruti permintaanku?"


"Permintaan apa?"

__ADS_1


"Kamu tidak usah merawat anaknya lagi."


"Hah? Aku ini seorang Dokter, mana bisa aku memilih-milih siapa yang ingin aku rawat."


"Ya bisa saja. Kamu bisa saja menolak, atau mengalihkan ke dokter yang lain kan?"


"Ya tidak bisa begitu, kalau dia sudah terdaftar sebagai pasienku. Maka aku harus merawat dia."


"Berarti benar dugaanku, kalau kamu belum benar-benar bisa melupakan Salman kan?"


"Sudah cukup! Aku lelah, aku mau istirahat. Aku tidak punya waktu untuk menanggapi rasa cemburumu yang tidak beralasan."


"Siapa yang cemburu?"


"Lalu kalau bukan cemburu apa namanya?"


" Itu kan hanya, hanya .... "


Belum selesai aku bicara, Sarah langsung membereskan berkas-berkas pekerjaannya lalu segera berbaring di tempat tidur dengan posisi membelakangiku.


Aku baringkan tubuhku di samping Sarah lalu aku coba menyentuh bahunya.


"Sayang, kamu marah sama aku?" tanyaku pada Sarah tapi dia hanya diam tidak menjawabku.


Aku mencoba semakin mendekatkan tubuhku, aku lingkarkan tanganku di perutnya lalu aku taruh daguku di bahunya.


"Maafkan aku sayang, aku terlalu menyayangimu. Aku hanya takut kehilangan kamu."


Sarah tetap diam tidak menjawab sepatah kata pun. Aku semakin mempererat pelukanku padanya, lalu aku kecup pipinya ternyata dia tetap tidak menggubrisku.


Akhirnya Sarah pun tertidur dalam pelukanku yang mungkin terasa dingin baginya, walau aku sudah memeluknya begitu erat.


Suara adzan shubuh berkumandang membangunkan Sarah dari tidurnya yang panjang, lalu dia mencoba melepaskan tanganku yang melingkar di perutnya dengan perlahan. Dia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu lalu segera melaksanakan sholat shubuh tanpa diriku.


Begitu aku terbangun, ku lihat Sarah sedang membaca kitab suci al qur'an dengan tetap memakai mukenanya, namun matanya berkaca-kaca, entah apa yang sedang dia rasakan. Karna terlalu terggelam dalam bacaan yang sedang dia baca atau terluka karna perkataanku.


Aku segera bangun dari tidurku lalu berwudhu dan segera melaksanakan sholat shubuh. Begitu selesai sholat, aku lihat Sarah sudah kembali berbaring di tempat tidur.


"Apa dia benar-benar sudah terluka karna perkataanku? Kenapa dia seperti menghindar dariku?" tanyaku dalam hati.


Aku tidak melanjutkan tidurku tapi lebih memilih mandi pagi lalu segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Tapi sebelumnya aku buatkan dulu sarapan untuk Sarah lalu segera berangkat ke kantor.


Tepat pukul 6.30 Sarah terbangun dari tidurnya, dia mencariku ke setiap sudut ruangan namun tidak ada. Kakinya melangkah ke meja makan, kemudian dia membuka tutup saji makanan yang terbuat dari rotan. Sarah cukup terkejut sudah ada sepiring nasi goreng dengan telur ceplok di pinggirnya, juga segelas teh manis hangat. Mungkin yang menarik perhatiannya adalah secarik kertas yang tergeletak di meja makan. Dia mengambil kertas itu lalu membaca tulisannya.


*Sayang, aku tahu kamu marah padaku. Aku minta maaf, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu. Mungkin sarapan pagi tidak cukup untuk mewakili perasaan bersalahku, tapi setidaknya bisa menambah tenagamu agar dapat kembali beraktifitas untuk melayani para pasienmu hari ini. Di makan yaaa!


Maaf aku berangkat duluan, mungkin kamu butuh waktu untuk berangkat kerja sendiri.


Dari Pasienmu tersayang,


I love you so much*.


Sarah meletakkan kembali secarik kertas itu di atas meja, dia hanya tersenyum.


"Bagaimana aku tidak jatuh cinta sama kamu Eyza, kamu selalu bisa membuat hati wanita meleleh. Tapi sayang, terkadang kamu tidak begitu mempercayai apa yang aku rasakan, sampai aku bingung bagaimana caranya untuk menunjukkan perasaanku padamu," ucap Sarah dalam hatinya, kemudian dia menyantap nasi goreng buatanku sampai habis, setelah meminum teh manis hangat. Dia mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan singkat padaku.


*Terima kasih ya .... Nasi goreng buatanmu enak, sudah aku makan sampai habis.


I love you too and i hope you believe it's true*.


šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’–

__ADS_1


Bersambung .....


Mohon dukungannya ya Kakak melalui read, like and coment or vote agar bisa aku lanjutkan ceritanya. Thank you so much šŸ˜


__ADS_2