Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Membuat makalah


__ADS_3

πŸ‚πŸŒΏπŸ‚πŸŒΏπŸ‚πŸŒΏπŸ‚πŸŒΏπŸ‚πŸŒΏπŸ‚πŸŒΏ


"Maaf, jika menunggu lama," ucap Kak Sarah mengagetkan aku yang sedang asyik mendengarkan musik di ponsel dengan headset di telingaku.


"Eh, nggak apa-apa kok Kak, Kakak sudah selesai?"


"Sudah, ayo kita jalan!" jawab Kak Sarah.


"Yuk!" ucapku lalu menyerahkan helm kepada Kak Sarah.


"Kita naik motor?"


"Iya Kak. Tenang aja, saya sudah punya SIM kok!"


"Baiklah kalau begitu."


Kami pun pergi meninggalkan sekolah menuju rumahku, di ikuti Ujang yang juga mengendarai sepeda motor berboncengan dengan Reno.


Sesampainya di rumah, segera aku memarkir motorku di halaman depan rumah, begitu juga dengan Reno.


"Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai di rumah.


"Wa'alaikum salam," jawab Bunda.


"Kenalin Bun, ini Kakak kelas Eyza mau membantu Eyza membuat makalah."


"Oh iya, ayo silahkan masuk!" jawab Bunda mempersilahkan masuk, kemudian Kak Sarah mencium tangan Bunda lalu masuk ke dalam di ikuti Reno dan Ujang.


"Saya permisi ke dalam dulu ya!" ucap Bunda kemudian tersenyum kepada kami.


"Iya tante, silahkan!" jawab Kak Sarah, kemudian Bunda kembali ke dapur.


"Dita dan Dya kemana Eyza? Sudah lama saya tidak bertemu mereka," tanya Kak Sarah padaku.


"Sebentar lagi juga pulang Kak, di tunggu aja."


Tak beberapa lama kemudian Dya dan Dita pun datang mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam," jawab kami serentak.


"Kak Sarah!" ucap Dita langsung menghampiri Kak Sarah kemudian mencium tangan Kak Sarah. Di susul Dya juga langsung mencium tangan Kak Sarah.


"Kak Sarah apa kabar?" tanya Dita.


"Alhamdulillah Kakak baik Dita."


"Duh, Dita kangen banget sama Kakak, udah lama banget kita nggak ketemu."


"Sama, Kakak juga kangen, sama kamu juga Dya," ucap Kak Sarah kemudian memegang bahu Dya lalu tersenyum, Dya dan Dita pun membalas senyum Kak Sarah.


"Kalau begitu Dita ke dalam dulu ganti baju ya Kak, nanti kita ngobrol lagi."


"Iya!" jawab Kak Sarah lalu tersenyum.


"Hei, Kak Sarah kesini mau bantu Kakak buat makalah bukan buat ngobrol sama kalian," ucapku sedikit sewot.


"Iya, iyaaa. Dita kan kangen sama Kak Sarah, memangnya nggak boleh ngobrol?"


"Ya boleh aja, tapi bukan sekarang waktunya."


"Iya nih Kakak, Kita kan mau ngobrol antara sesama wanita, Kakak kan cowok mana ngerti urusan cewek," ucap Dya padaku.


"Sudah, sudah. Kalian jangan bertengkar, nanti setelah Kakak ajarkan Kak Eyza buat makalah. Kita ngobrol yaaa, kalian bisa cerita apapun sama Kakak," ucap Kak Sarah Pada Dya dan Dita.


"Benar ya kak?" tanya Dita.


"Iya. Ya sudah sekarang kalian ganti baju dulu sana!" jawab Kak Sarah.


"Oke Kak. Tuh boleh kan, weeee," ucap Dita padaku sambil menjulurkan lidahnya kemudian pergi menuju kamarnya. Kak Sarah hanya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya melihat tingkah kami.


"Kayanya adek-adek lo pengen Kakak cewek Za, eh yang nongol malah elo," celetuk Reno.

__ADS_1


"Maksud lo?"


"Ya lo kasih mereka Kakak cewek!"


"Lo pikir bisa beli di toko!"


"Hehehe ya nggak beli juga Za, nanti lo kasih mereka Kakak ipar maksudnya, iya kan Kak Sarah?"


"Eh, ii-ya!" jawab Kak Sarah gugup kemudian tersenyum.


"Haduuuhh pikiran lo udah jauh banget Ren, gue lulus SMA aja belum. Udah ah, kita buat makalahnya, ngobrol terus kapan selesainya," ucapku pada Reno.


"Iya bener tuh kata Eyza, kalian nggak akan selesai buat makalah nanti kalau ngobrol terus," ucap Kak Sarah.


"Saya ke kamar dulu ya Kak, ambil laptop!"


"Iya!" jawab Kak Sarah.


Tak lama kemudian Bunda datang dengan membawa nampan berisi empat gelas teh manis hangat.


"Aduh, tante kenapa repot-repot," ucap Kak Sarah lalu segera menanggapi nambah tersebut lalu manaruh teh manis itu di atas meja.


"Nggak apa-apa hanya teh manis aja kok, ayo silahkan di minum!"


"Iya tante, trimakasih."


"Makasih Bunda," ucap Reno dan Ujang.


"Di minum teh nya Kak!" ucap Dita yang tiba-tiba datang bersama Dya.


"Dita, tolong ambilkan cemilan di meja makan ya!"


"Iya Bun!" ucap Dita kemudian langsung pergi ke ruang makan, sedangkan Dya duduk di samping Bunda.


"Taraaaa pisang goreng dan brownies panggang buatan Bunda dataaaang," ucap Dita sambil membawa sepiring pisang goreng dan sepiring brownies panggang, kemudian meletakannya di atas meja.


"Ayo di coba. Nak Reno, Ujang daaan maaf nama kamu siapa? Bunda belum tahu," ucap Bunda pada Kak Sarah.


"Sarah, tante!"


Kak Sarah mengambil sepotong brownies, sedangkan Ujang dan Reno mengambil pisang goreng.


"Heummm ini enak banget tante," ucap Kak Sarah pada Bunda.


"Alhamdulillah kalau enak dan kamu suka."


"Suka, Sarah suka banget," ucap Kak Sarah kemudian tersenyum pada Bunda. Bunda menatap Kak Sarah untuk beberapa saat seperti sedang mengingat sesuatu.


"Senyum anak ini, kenapa mirip sekali dengan senyum Dani," gumam Bunda dalam hati. Kak Sarah salah tingkah di perhatikan oleh Bunda, kemudian tersenyum.


"Bun, bunda melamun?" tanya Dya pada Bunda.


"Oh, nggak. Bunda nggak sedang melamun kok!" jawab bunda.


"Ya sudah kalau begitu Bunda ke dapur lagi ya belum selesai masak, kamu dan Dita disini aja temenin Kak Sarah," ucap Bunda pada Dya.


"Iya Bun!" jawab Dya.


"Bunda ke dapur dulu ya Nak Sarah!"


"Iya Tante!"


"Panggil Bunda saja seperti yang lain, berasa muda terus Bunda, kalau di panggil tante."


"Hehehe kan memang masih kelihatan awet muda tante, eh Bunda," jawab Kak Sarah.


"Kamu bisa aja," jawab Bunda kemudian pergi ke dapur.


"Nah, ini laptopnya Kak!" ucapku yang baru saja mengambil laptop dari kamarku.


"Oke, sekarang kita mulai ya!" ucap Kak Sarah, kami pun mulai membuka buku panduan untuk membuat makalah.


"Hal yang paling utama di kerjakan saat membuat makalah ialah menentukan tema atau topik, karena tema atau topik adalah suatu gagasan utama yang harus ada di dalam suatu makalah," ucap Kak Sarah.

__ADS_1


"Oke Kak, sekarang saya dan Reno juga Ujang akan mendiskusikan topiknya dulu," jawabku kemudian membuka buku panduan sebagai referensi kemudian mendiskusikannya dengan Reno dan Ujang.


Setelah hampir dua jam kami membuat makalah dengan bimbingan Kak Sarah, akhirnya selesai juga.


"Alhamdulillaaaah selesai juga, tinggal di print kemudian di jilid," ujarku.


"Alhamdullilaaaah akhirnya Dita bisa ngobrol juga sama Kak Sarah, ayo Kak Sarah kita ke ruang tengah," ucap Dita kemudian menarik lengan Kak Sarah perlahan.


"Iya, ayo Kak!" ucap Dya mengajak Kak Sarah.


"Baru juga selesai, biarkan Kak Sarah istrirahat dulu," ucapku pada Dita dan Dya.


"Sudah, nggak apa-apa Eyza biar saya temenin mereka ngobrol dulu," ucap Kak Sarah kemudian mereka pun pergi ke ruang keluarga, ruang untuk menonton televisi.


Di ruang keluarga Dita dan Dya banyak bercerita, mulai dari teman sekolah, guru-guru sampai novel.


"Kak Sarah suka baca novel?" tanya Dita.


"Suka, kamu juga suka baca novel?"


"Suka!" ucap Dita kemudian tersenyum.


"Novel apa yang sudah kamu baca?"


"Baru beberapa sih Kak, biasanya aku suka baca novel romantis remaja Kak!"


"Oh, yaaa!"


"Iya, ada tuh Kak, satu novel yang aku suka banget."


"Apa itu?" tanya Kak Sarah.


"Judulnya, mencintai Kakak kelas!"


"Memangnya ada ya judul novel seperti itu?"


"Ada Kak, ceritanya tentang seorang adik kelas yang memendam perasaannya hampir satu tahun lamanya sama kakak kelasnya, karna dia tidak berani mengungkapkan."


"Aku baru tahu kamu baca novel dengan judul itu, kayanya aku nggak pernah lihat ada novel itu di meja belajar kamu Dit," Ucap Dya pada Dita.


"Ada kok, aku memang nggak taruh di meja belajar tapi di dalam lemari," jawab Dita gugup.


"Memang apa yang berkesan dari novel itu?" tanya Kak Sarah penasaran.


"Yang berkesan disitu, perasaan yang begitu dalam seorang adik kelas kepada Kakak kelasnya, dia menjaga perasaan itu tak berani mengungkapkan karna takut kebahagiaan di hatinya akan hilang jika perasaan yang dia rasakan tidak berbalas, hanya dengan mencintai dia sudah cukup bahagia." Dita menjelaskan novel yang dia baca kepada Kak Sarah, yang sebenarnya tidak pernah dia baca novel seperi itu.


Tanpa mereka sadari aku memperhantikan dan mendengarkan obrolan mereka dari balik tembok.


"Novel apaan begitu, kenapa mirip banget sama isi Diary gue, tentang perasaan gue ke Kak Sarah," ungkapku dalam hati.


"Za, elo ngapain ngintip-ngintip? Mau tau aja lo urusan cewek," ucap Reno mengagetkan aku.


"Sssstttt jangan berisik ntar ketahuan gue!"


"Nah, elo lagian kaya orang mau maling ngintip-ngintip."


"Masa gue maling di rumah gue sendiri."


"Ya kali aja, lo mau maling informasi."


"Lo pikir gue detektif."


"Eyza, kamu ngapain ngintip-ngintip di situ?" tanya Bunda mengagetkan aku, begitu juga dengan Kak Sarah, Dita dan Dya. Tiba-tiba mereka melihat ke arahku. Sekarang aku benar-benar seperti pencuri yang ketangkap basah.


"Eh, nggak Bun. Ini aku lihat-lihat tembok kayanya ada yang retak," ucapku gugup sambil mengusap-usap tembok yang tak retak.


"Iya Bun, barusan ada gempa bumi dihati Eyza, sampai-sampai temboknya ikutan retak," ucap Reno, membuat Bunda dan yang lainnya tertawa, sekarang aku benar-benar dibuat malu oleh Reno.


"Hahahaha!"


"Sialan lo Ren," gumamku dalam hati.


"Sudah ayo pada makan siang dulu, Bunda sudah masak untuk kalian."

__ADS_1


"Asiiiikkk ayo kita makan teman-teman," ucapku mengalihkan rasa maluku, kemudian segera pergi ke ruang makan.


πŸ½πŸ§πŸ΅πŸ—πŸ€πŸ²πŸΉ


__ADS_2