Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Sama-sama deg-degan


__ADS_3

šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“šŸ’“


Selesai makan siang kami kembali berkumpul di ruang tamu.


"Alhamdulillaaaah kenyang. Masakan nyokap lo enak Za," ucap Reno sambil mengusap-usap perutnya yang kenyang.


"Gembul lo," ujarku sambil ku lempar kulit jeruk ke arah Reno.


"Aduhhhh, nggak usah pake lempar kali. Gue kan berkata jujur apa adanya."


"Kulit jeruk itu bukan untuk masakan nyokap gue yang enak."


"Trus buat apa?"


"Buat perut lo yang gembul hahaha ... "


"Rese' lo Za, eh daripada kita bengong-bengong disini, mending lo main gitar Za!"


"Ide yang bagus, sebentar gue ambil gitar!" ucapku kemudian segera pergi ke kamar mengambil gitar.


"Jang, lo kenapa daritadi nggak ada suaranya? Sariawan?" tanya Reno pada Ujang.


"Eh, nggak kok, abdi baik-baik saja."


"Iya, Ujang kalem banget ya dari tadi cuma senyum aja lihat kelakuan dua temannya," ucap Kak Sarah.


"Eh, memang begini dari sananya Ujang Kak," jawab Ujang malu-malu.


"Iya Kak Ujang, jadi laki-laki teh jangan terlalu malu-malu, nanti malah malu-maluin," celetuk Dya membuat Reno tertawa geli.


"Hehehehe, bener tuh Jang, jangan terlalu malu ntar malu beneran hahaha!"


"Sudah, sudah kalian senang benget ngeledek Ujang, kasian itu mukanya sudah merah begitu," ucap Kak Sarah menghentikan bercandaan Reno dan Dya.


"Muka Ujang merah bukan karna marah Kak, tapi malu," ucap Reno membuat Ujang makin tersipu.


"Eh, tapi bener loh kata Kak Sarah, Kak Ujang kenapa sih jadi cowok terlalu kalem? Jangan terlalu diam Kak, kalau Kakak terlalu pendiam nanti Kakak nggak akan berani bilang cinta sama cewek yang Kakak suka, sama kaya Kak Eyza tuh, uppsss!" Dita langsung menutup mulutnya membuatku sedikit berteriak mendengar Dita mengucapkan kalimat itu.


"Ditaaaaa kamu bicara apa barusan?"


"Eh, Kak Eyza. Maaf Kak, Dita hanya bercanda aja barusan."


"Kamu sok tahu, lain kali jangan bicara sembarangan tentang Kakak di depan teman-teman Kakak ya!" ucapku sedikit marah pada Dita.


"Iya, iyaaa Dita minta maaf Kak!"


"Sudah Eyza, jangan marahin Dita terus, mungkin dia memang hanya bercanda," ucap Kak Sarah sambil mengusap-usap bahu Dita.


"Iya nih Kak Eyza, marah-marah aja. Dita kan hanya bercanda," ucap Dita lalu memeluk Kak Sarah, Kak Sarah pun membalas pelukannya dengan mengusap rambut Dita yang panjang terurai.


"Kebiasaan kamu, selalu bicara sok tahu tentang Kakak," ucapku kesal bercampur malu.


"Memangnya benar ada yang kamu taksir dan kamu nggak berani mengatakannya? Kalau nggak ada, ya nggak usah marah pada Dita, kalau memang ada, sebaiknya kamu segera mengatakannya agar perasaan yang kamu pendam selama ini tidak berubah jadi amarah karna kamu nggak bisa mengungkapkannya," ucap Kak Sarah membuat wajahku memerah karna malu. Aku lihat Dita saling bertatapan dengan Dya setelah mendengar Kak Sarah mengucapkan itu, kemudian Dita menatap Kak Sarah lalu menatapku. Reno dan Ujang pun saling menatap setelah mendengar Kak Sarah mengatakan hal itu.


"Ditaaa, Dita. Kamu benar-benar sudah sukses membuat Kakak malu di hadapan Kak Sarah," bisikku dalam hati.


"Nggak kok, nggak ada yang aku taksir. Sudah yuk, kita main gitar aja!" ucapku sedikit canggung kemudian duduk di samping Reno tepat di hadapan Kak Sarah, lalu mulai memainkan gitar dan bernyanyi.


"Baiklah Kak, kalau itu yang Kak Sarah mau, aku akan ungkapkan perasaanku sekarang tapi lewat lagu, kalau Kakak paham maka lagu ini akan sampai ke hati Kakak, dan Kak Sarah akan mengerti betapa dalam perasaan ini buat Kakak," ungkapku dalam hati.


Sebelum aku mulai memainkan gitar, aku minum segelas air putih dingin terlebih dahulu yang tersedia diatas meja, agar tenggorokanku lebih plong saat bernyanyi, lalu senar gitar pun mulai aku petik.


Andai engkau tahu


bila menjadi aku, sejuta rasa di hati


lama t'lah ku pendam,


tapi akan ku coba mengatakan


Ku ingin kau menjadi milikku


entah bagaimana caranya


lihatlah mataku untuk memintamu

__ADS_1


Aku tatap mata Kak Sarah. Tatapan yang dalam, dia terlihat gugup saat aku terus bernyayi sambil menatap matanya, kemudian aku mulai bernyanyi lagi.


Ku ingin jalani bersamamu


coba dengan sepenuh hati


ku ingin jujur, apa adanya,


dari hati,


Reno, Ujang, Dya, dan Dita seperti terbius mendengar suaraku, mereka begitu khusyu mendengarkan aku bernyanyi. Kak Sarah pun tersenyum menatapku, lalu terdiam seperti ada sesuatu yang dia pikirkan.


"Kenapa jantungku deg-degan begini mendengar Eyza bernyayi lagu ini, dan tatapan itu dalam sekali," ucap Kak Sarah dalam hatinya.


Kini engkau tahu


aku menginginkanmu,


tapi tak kan ku paksakan


Dan ku pastikan


kau belahan hati, bila milikku


Ku ingin jalani bersamamu


coba dengan sepenuh hati


ku ingin jujur, apa adanya,


dari hati ....


menarilah bersamaku


dengan bintang-bintang


sambutlah diriku


untuk memelukmu


dari hati


dari hati


dari hati


Selesai bernyanyi aku dan Kak Sarah saling berpandangan, entah apa yang di pikirkan Kak Sarah setelah mendengar aku menyanyikan lagu ini. Tapi yang jelas, hatiku sangat lega karna berhasil mengungkapkan perasaanku di hadapannya meski hanya lewat lagu.


Sirkulasi udara di dalam dadaku seperti lancar kembali setelah hampir satu tahun menahan rindu yang setiap hari menyiksaku. Kini, tak perlu lagi aku khawatirkan nafasku akan sesak menahan rasa cinta yang selalu bertambah setiap harinya. Tiba-tiba kami di kagetkan oleh suara tepuk tangan Reno dan yang lainnya.


PROK!


PROK!


PROK!


PROK!


"Gilaaaa, keren, kereeeen Za! Lo udah kaya peserta idol, suara lo bener-bener bikin kita terbius, berasa elo nyanyi ini buat gue," ucap Reno begitu terpesonanya dengan suaraku.


"Idiiihhhh ngapain gue nyanyi lagu ini buat elo."


"Ya bukan begitu maksudnya."


"Trus kalau bukan buat Kak Reno, atau bukan buat kita-kita, buat siapa Kakak nyanyi lagu ini?" tanya Dita membuatku salah tingkah.


"Yaaa buat Kakak sendiri lah," jawabku gugup.


"Buat Kakak dan perasaan Kakak maksudnya?" Dya menyelak pembicaraan.


"Kalian ngomong apaan sih? Udah ah, Kakak mau antar Kak Sarah pulang, udah sore. Ayo Kak, saya antar pulang!"


"Iya!" jawab Kak Sarah.


Tak lama kemudian Bunda muncul dari arah kamar tidur.

__ADS_1


"Memangnya sudah mau pulang?"


"Iya Bunda, sudah sore. Sarah harus pulang, takut papa dan mama nunggu," jawab Kak Sarah.


"Oh, begituuu. Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya. Salam untuk papa dan mama kamu, sering-sering main kesini!"


"Iya, insya Allah. Sarah pamit dulu ya Bunda. Assalamu'alaikum," ucap Kak Sarah lalu mencium tangan Bunda. Dya dan Dita pun segera menghampiri Kak Sarah lalu mencium tangan Kak Sarah.


"Reno dan Ujang juga pamit ya Bun. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, hati-hati di jalan ya kalian semua!"


"Dita, Dya Kakak pulang dulu ya!" ucap Reno pada Dita dan Dya.


"Iya, hati-hati di jalan Kak!" ucap Dita.


"Hati-hati Kak!" ucap Dya.


Kami pun pergi meninggalkan rumahku, aku membonceng Kak Sarah, sedangkan Ujang di bonceng Reno. Di perempatan jalan kami berpisah karna rumah Kak Sarah berlawanan arah dengan rumah Reno.


Selama perjalanan kami hanya terdiam, namun tiba-tiba Kak Sarah bertanya membuatku jantungku kembali berdetak hebat.


"Suara kamu bagus Eyza!"


"Masya Allah, terima kasih Kak!"


"Dan lagu yang kamu nyanyikan barusan, sepertinya kamu betul-betul menghayati. Apa kamu memang benar sedang jatuh cinta dengan seorang gadis?"


Aku diam tidak langsung menjawab, baru kemudian setelah beberapa saat aku memberanikan diri menjawabnya.


"Memang apa yang Kak Sarah rasakan setelah mendengar lagu itu?"


Kali ini Kak Sarah yang terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaanku.


"Bukankah tadi hatiku deg-degan saat mendengar Eyza menyanyikan lagu itu, tapi tidak mungkin aku bilang ini ke dia," bisik Kak Sarah dalam hatinya.


"Heummm apa ya? Saya suka dengan lagu itu!"


"Hanya suka?"


"Memangnya kamu mau saya jawab apa?"


"Ah, tidak Kak. Sudah lupakan saja pertanyaan saya tadi," jawabku lalu terus melajukan sepeda motorku.


"Maafkan saya Eyza, saya nggak bisa jujur tentang apa yang saya rasakan setelah mendengarkan kamu menyanyikan lagu itu, entah apa yang akan kamu pikirkan kalau kamu tahu jantungku berdetak kencang, saat kamu menyanyikan lagu barusan," ucap Kak Sarah dalam hatinya.


Tak lama kemudian kami pun sampai di depan rumah Kak Sarah.


"Kamu mau mampir?"


"Lain kali aja Kak, sudah sore. Saya juga belum mandi."


"Baiklah kalau begitu, ini helm kamu. Terima kasih ya sudah mengantar pulang."


"Saya yang berterima kasih, Kakak sudah membantu saya membuat makalah. Salam ya untuk Om, maaf saya nggak masuk ke dalam."


"Iya, insya Allah nanti di sampaikan."


"Assalamu'alaikum Kak."


"Wa'alaikum salam," jawab Kak Sarah, lalu aku pun pergi meninggalkan Kak Sarah yang masih berdiri di depan rumahnya.


"Loh, Sarah kamu baru pulang?" tiba-tiba ayah Kak Sarah datang, Kam Sarah pun langsung mencium tangan ayahnya.


"Iya Pah, maaf pulangnya terlalu sore. Tadi Sarah ke rumah Eyza dulu, bantu dia dan teman-temannya buat makalah. Barusan Eyza, antar Sarah pulang, tapi nggak mampir sudah sore katanya, hanya titip salam untuk Papa!"


"Wa'alaikum salam."


"Oh iya, Bundanya juga titip salam untuk Papa, untuk mama juga!"


"Oh, begitu. Baik nanti Papa sampaikan ke mama."


"Ya udah, Sarah ke dalam dulu ya Pah, mau mandi dan ganti baju."


"Iya!"

__ADS_1


Kak Sarah pun masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh ayahnya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2