
ππΏππΏππΏππΏ
Setelah menempuh perjalanan selama hampir empat puluh lima menit akhirnya kami sampai juga di rumah Kak Sarah.
"Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai di depan pintu rumah Kak Sarah.
"Wa'alaikum salam," jawab Kak Sarah dari dalam kemudian membuka pintu.
"Akhirnya kalian datang juga, mari masuk!"
"Maaf ya Kak, kami telat," balasku.
"Nggak apa-apa, hanya telat lima belas menit," jawab Kak Sarah kemudian melepaskan senyumnya kepada kami. Dya dan Dita segera mencium tangan Kak Sarah lalu masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh aku dan Reno. Di dalam rumah Kak Sarah, di ruang tamu tepatnya sudah terlihat Om Dani beserta Istri, juga Faiz dan Dewi, mereka menyambut kami dengan ramah. Aku mencium tangan Om Dani dan Istrinya, lalu berjabat tangan Dewi, "Selamat ulang tahun ya Dewi, maaf Kakak dan adik-adik Kakak hanya bisa kasih ini!" ucapku pada Dewi, kemuidan Dewi menerima kado dariku lalu mencium tanganku.
"Ah, nggak apa-apa Kak, ini sudah merepotkan banget. Kakak pakai bawa kado segala."
"Nggak apa-apa, nggak repot kok!"
"Makasih ya Kak."
"Sama-sama," jawabku kemudian Reno juga mengucapkan selamat dan memberikan Dewi hadiah ulang tahun. Dya dan Dita menatap Dewi sesaat ketika giliran mereka yang mengucapkan selamat untuk Dewi.
"Dewi! jadi kamu adiknya Kak Sarah?" tanya Dita dengan wajah terkejutnya, begitu juga Dya, dia sama terkejutnya dengan Dita.
"Eh, Kak Dita. Jadi Kakak Adiknya Kak Eyza?"
"Iya, aku adiknya Kak Eyza!"
"Jadi kalian sudah saling kenal?" tanyaku pada Dita dan Dewi.
"Dewi ini adik kelas aku Kak!" jawab Dita.
"Iya benar Kak, Dewi adik kelas kami," balas Dya meyakinkan aku.
"Syukurlah kalau kalian sudah saling mengenal," ucapku.
"Iya, Alhamdulillah kalau kalian sudah saling mengenal, jadi Kakak tidak perlu memperkenalkan kalian lagi," jawab Kak Sarah pada Dewi, Dya dan Dita.
Kemudian Dita dan Dya pun menjabat tangan Dewi untuk memberikan ucapan selamat.
"Selamat ulang tahun ya Dewi."
"Terima kasih Kak Dita."
"Selamat ulang tahun ya Dewi."
"Terima Kasih Kak Dya."
"Nah, sekarang kenalkan ini adik laki-laki Kakak, Faiz namanya. Mungkin Reno, Dya dan Dita belum mengenal!" ucap Kak Sarah memperkenalkan Faiz, kemudian Faiz menjabat tangan Reno lalu Dya dan Dita.
"Faiz."
"Reno."
"Faiz."
"Dita."
__ADS_1
"Faiz."
"Dya." Dya terdiam sesaat menatap Faiz, namun di kagetkan oleh senggolan tangan Dita di sikunya.
"Ssttttt, udah kali natapnya!"
" Ehh ... " Ucap Dya lalu melepaskan genggaman tangannya, Faiz hanya tersenyum menatap Dya.
"Dan ini Papa dan Mama Kak Sarah, kalian juga belum kenal kan?"
Kemudian Reno menghampiri Om Dani dan Istrinya lalu mencium tangan mereka, di ikuti oleh Dita dan Dya.
"Oh, iya saya kok nggak melihat Ujang ya! dia nggak ikut dengan kalian?" tanya Kak Sarah yang baru menyadari tidak ada kehadiran Ujang bersama kami.
"Ujang nggak bisa ikut Kak, mau antar ayahnya ke klinik," jawabku pada pada Kak Sarah.
"Loh, memang ayahnya Ujang kenapa?"
"Rhematiknya Kambuh Kak!" Reno membantu menjawab pertanyaan.
"Oh yaa, kasihan. Ya sudah, kita langsung mulai aja ya acaranya, takut keburu kemalaman."
Kami pun berjalan bersama menuju ruang makan, yang cukup luas aku rasa. Kak Sarah segera mempersiapkan kue ulang tahun untuk di potong oleh Dewi.
"Ayo Pah, di mulai acaranya." ucap Kak Sarah.
"Baiklah, assalamu'alaikum warrohmatullohi wabarakaatuh."
"Wa'alaikum salam warrohmatullohi wabarakaatuh," jawab kami serentak.
Om Dani melanjutkan kata sambutannya," puji dan syukur tak lupa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa ta'ala karna berkat rahmat dan kasih sayang-Nya kita bisa berkumpul di sini, tak lupa pula kita sampaikan sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Saw beserta keluarganya, berkat kasih sayang dan keridhoan Beliau juga kita bisa berkumpul di sini dalam acara syukuran kecil-kecilan atas kelulusan Sarah, yang telah berhasil menyelesaikan sekolah menengah umumnya dan insya Allah akan segera melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Dalam acara syukuran ini juga sekaligus untuk merayakan atas bertambahnya usia Dewi yang ke tiga belas tahun, semoga Allah berikan Dewi umur yang panjang dalam kebaikan, kesehatan dan keberkahan, di murahkan rezekinya dan di mudahkan segala urusannya baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin amiin ya Robbal'alamiin. Baiklah untuk mempersingkat waktu segera saja kita mulai acaranya karna hari sudah semakin malam. Saya sebagai kepala keluarga mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman Sarah yang sudah menyempatkan diri untuk datang, demikian kata sambutan dari saya, wasaalamu'alaikum warrohnatullohi wabarakaatuh."
"Ayo, sekarang di cicipi nasi tumpengnya," ucap Mamanya Kak Sarah. Kami pun melangkah ke meja makan untuk mengambil hidangan yang sudah di sediakan.
Kak Sarah menghampiriku yang sedang asik makan sendiri, karna Reno, Dya, Dita, Dewi dan Faiz sedang asik kumpul bersama sambil menikmati makan malam mereka, sedangkan Papa dan Mamanya Kak Sarah duduk di depan meja makan, sambil menikmati makan malam mereka.
"Di tambah makannya Eyza!"
"Terima kasih Kak, ini sudah kenyang banget saya," ucapku lalu aku melangkah pergi untuk menaruh piring yang tadi aku gunakan untuk makan, lalu kembali ke tempat dudukku.
"Kak Sarah nggak makan?"
"Saya sudah makan duluan sebelum kamu datang, saya punya penyakit magh jadi tidak boleh telat makan."
"Oh, begitu. Oh iya, bagaimana, Kakak sudah di terima di perguruan tinggi yang Kakak tuju?"
"Alhamdulillah sudah."
"Wah, sekarang kita tinggal berjauhan dong. Dulu saya dari Jakarta hijrah ke Bandung, sekarang Kak Sarah dari Bandung hijrah ke Jakarta."
"Hehehe iya, untuk mencapai apa yang kita harapkan terkadang kita harus rela berkorban. Baik itu harta maupun keluarga, sebenarnya berat bagi saya jika harus meninggalkan keluarga, tapi mau bagaimana lagi, sudah keharusan jika ingin mencapai tujuan."
"Memang di Bandung nggak bisa Kak, kuliah jurusan kedokteran?"
"Bisa saja, tapi perguruan tinggi yang saya inginkan adanya di Jakarta," jawab Kak Sarah kemudian tersenyum padaku, aku pun membalas senyumannya.
"Kamu sendiri kalau sudah lulus SMA mau kuliah dimana?" tanya Kak Sarah padaku.
__ADS_1
"Di Bandung saja Kak, kalau saya kuliah jauh-jauh nggak ada yang jagain kedua adik saya."
"Kamu sayang banget ya sama Dya dan Dita, beruntungnya mereka punya Kakak seperti kamu."
"Saya yang beruntung punya adik seperti mereka, merasa jadi Kakak yang sangat di sayang sama adiknya."
"hehe oke, oke kalian adalah orang-orang yang beruntung."
"Aamiiiiin!" ucapku kemudian kami tertawa bersama.
" Hahaha ... "
"Kamu tahu Eyza, kamu itu menyenangkan walau usia kamu lebih muda dari saya, tapi kamu bisa di ajak berdiskusi apapun, mulai dari pelajaran, musik sampai politik. Tapi yang saya heran, kenapa kamu belum juga punya pacar? Padahal saya yakin, setiap perempuan pasti nyaman kalau ngobrol sama kamu."
"Termasuk Kakak? Apa Kak Sarah nyaman ngobrol dengan saya?"
Tiba-tiba Kak Sarah terdiam, wajahnya sedikit merona begitu mendengar aku bicara seperti itu.
"Ii-iya saya nyaman ngobrol dengan kamu, karna- seperti yang saya bilang barusan."
Aku tersenyum mendengar jawaban Kak Sarah, "Terima kasih kalau Kakak nyaman ngobrol dengan saya."
"Kamu itu sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, makanya kalau kamu butuh bantuan untuk menyelesaikan tugas sekolah, saya jadi teringat Faiz. Cuma bedanya, Faiz itu lebih pendiam, harus di pancing dulu untuk bicara baru kemudian dia bisa di ajak ngobrol."
"Ah, lagi-lagi Kak Sarah menganggap aku seperti adiknya. Jadikan aku pacarmu Kak!" gumamku dalam hati.
"Eyza!"
"Eyza!
"Eyza, kamu melamun lagi?"
"Eh, nggak kok, tadi sampai dimana ya pembahasan kita?" jawabku gugup.
"Bahkan kamu sendiri lupa kita bahas apa barusan, apalagi kalau bukan kamu sedang melamun?"
"Nggak kok Kak, saya nggak melamun, cuma bengong sebentar aja."
"Heheheh ngeles terus, sudah sekarang kamu cerita ke Kakak, kamu ada masalah apa?"
"Masalahnya saya lagi jatuh cinta Kak!" aku langsung terdiam dan menutup mulutku.
"Duh, kenapa gue jadi keceplosan begini," batinku.
"Eh, anu nggak kok, saya lagi nggak jatuh cinta, itu tadi bercanda aja," ucapku sambil cengar-cengir sendiri. Kak Sarah tersenyum melihat tingkahku.
"Kamu nggak usah bohong Eyza, saya tahu kamu memang lagi jatuh cinta, kenapa kamu nggak ungkapkan saja, daripada kamu jadi sering melamun begini."
"Gimana aku mau ungkapin, kalau yang aku cinta itu kamu, apa kita akan tetap bisa se-asik ini jika aku ungkapkan, apa sikapmu benar-benar nggak akan berubah jika aku sudah ungkapkan semua perasaanku padamu?"
Tiba-tiba Reno memanggilku membuyarkan semua tanya dalam hatiku.
"Za, lo main gitar dong biar Kak Sarah yang nyanyi. Sepi banget perasaan, ulang tahun nggak ada musik."
"Eh, iya ya. Benar juga kata Reno, sepi ya acara begini aja. Ya sudah sebentar saya ambil gitar ya!" ucap Kak Sarah, lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil gitar.
"Alhamdulillaaaah, untung aja Reno bersuara, gue nggak jadi kan di desak Kak Sarah untuk ungkapin perasaan gue, masa iya gue ungkapin di sini, di depan keluarganya." Bisikku dalam hati.
__ADS_1
**Sabar ya readers nanti kita lanjut lagi, okay?!
πππ