Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Gelisahnya hati Ayah


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


"Dua minggu lagi kamu ujian kan Eyza?"


tanya Ayah padaku sambil menikmati makan malamnya.


"Iya Yah," jawabku yang juga sedang menikmati makan malamku bersama Bunda dan kedua adik kembarku.


"Kamu belajar yang serius ya, apalagi kamu mau masuk Arsitektur kan?"


"Iyaaa, Eyza serius kok belajar."


"Oh, iya Kak, minggu depan kita kan ada reuni akbar ya di sekolah?" tanya Dya yang kini sudah kelas 1 SMA dan bersekolah di sekolahku begitu juga dengan Dita.


"Iya ada reuni akbar minggu depan."


"Kamu nggak ikut terlibat dalam persiapannya kan Za?"


"Nggak Yah, kelas tiga tidak di ikut


sertakan karna harus fokus persiapan menghadapi ujian."


"Syukurlah kalau begitu, Ayah cuma nggak mau konsentrasi belajar kamu jadi terganggu karna terlalu banyak kegiatan."


"Iya," jawabku.


"Ya sudah, habiskan dulu makan malam kalian baru nanti ngobrol di ruang keluarga setelah ini," ucap Bunda, kami pun segera menghabiskan makan malam kami.


Selesai makan malam, Dya dan Dita membantu Bunda membereskan piring dan gelas bekas makan malam kami, sedang aku dan Ayah menuju ruang keluarga.


Di ruang keluarga Ayah menyalakan televisi, sedangkan aku asik memainkan game di ponselku.


"Kakak kelas kamu yang dulu pernah kesini, sekarang kuliah dimana?" tanya Ayah membuatku terkejut, sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengan Kakak kelasku itu.


"Kak Sarah maksud Ayah?" tanyaku kemudian menghentikan permainan gameku.


"Siapa lagi? Kakak kelas kamu yang pernah kesini kan hanya dia."


"Kuliah di Jakarta Yah," jawabku.


" Wah, bagus dong ... Kuliah jurusan apa?"


"Dokter Spesialis Anak."


"Wah, pasti dia cerdas ya bisa masuk kedokteran."


"Iya begitulah."


"Berarti sekarang sudah masuk semester empat?"


"Iya sepertinya, aku kan belum menngerti tentang perkuliahan Yah."


"Oh, iya ayah lupa kamu belum kuliah, tapi kamu jangan sampai kalah loh, kamu harus imbangi kecerdasan dia, kamu harus lulus dengan nilai yang baik."


"Kenapa harus begitu Ayah? Dia di Jakarta, aku dia Bandung, memangnya penting ya kalau kami bersaing nilai? Kita kan sudah tidak satu sekolah lagi."


"Bukan begitu maksud Ayah, masa kamu tidak mengerti?!"


"Aku nggak ngerti Ayah, memang apa maksudnya?"


"Oke, kita bicara antara sesama laki-laki, Ayah tahu kamu menyukai Kak Sarah itu dari kelas satu Kan?"

__ADS_1


Aku terkejut mendengar Ayah bicara seperti itu, ternyata bukan hanya Dita dan Bunda yang curiga kalau aku menyukai Kak Sarah, Ayah pun berpikiran yang sama.


"Kenapa Ayah bicara seperti itu?" tanyaku gugup.


"Kan tadi Ayah sudah bilang, kita bicara antara sesama laki-laki. Ayah ini laki-laki yang sudah berpengalaman, masa-masa seperti ini sudah Ayah lalui, jadi Ayah tahu kalau kamu sedang jatuh cinta."


"Hehehe Eyza jadi malu," ucapku dengan wajah yang mulai merona.


"Kenapa kamu tidak cerita ke Ayah Nak? Lama juga kamu pendam perasaan itu, hampir tiga tahun lamanya."


"Bagaimana Eyza mau cerita ke Ayah, kalau Ayah sendiri seperti Eyza, memendam perasaan kepada Bunda begitu lama."


Ayah terdiam sesaat begitu mendengar ucapanku, kemudian tertawa.


"Hahahaha pasti Bunda kamu yang cerita ya!"


"Hehehe iya."


"Apa karna Ayah seperti itu, lalu kamu harus seperti Ayah juga?"


"Ya nggak memang, tapi Eyza memang nggak bisa mengungkapkan, mau gimana lagi?"


"Hhhhhhhh ya sudah, kamu fokus saja belajar, begitu lulus kuliah nanti kamu langsung lamar saja, semoga saja belum ada yang mendahului kamu," ucap Ayah sambil menepuk bahuku perlahan.


"Ayah, mau kasih aku semangat atau membuat aku bertambah galau?"


"Hehehe kamu harus jadi laki-laki yang kuat, bukan hanya kuat fisik tapi juga kuat hati, kalau dia memang jodoh kamu, Allah pasti akan pertemukan, kalau tenyata kalian belum berjodoh, maka kamu harus terima itu dengan lapang dada, oke Bro?"


Aku diam sebentar, "Insya Allah Ayah."


"Nah, ini baru anak laki-lakinya Ayah," ucap Ayah lalu tersenyum kemudian merangkulku.


"Wah, Anak dan Ayah sepertinya sedang membicarakan hal yang serius," ucap Bunda dari arah dapur sambil membawa nampan berisi lima gelas teh manis hangat, di ikuti Dya dan Dita dari belakang membawa piring berisi pisang goreng coklat dan panada.


"Kalau sudah ada perempuan disini, jadi pembicaraan bersama."


"Hehehe Bunda bisa aja," ucapku.


Kami pun bersenda gurau sambil menikmati teh hangat dan camilan yang barusan di bawa Bunda, Dya dan Dita.


"Bun, Eyza boleh tanya ga?"


"Boleh, mau tanya apa?"


"Butuh waktu berapa lama, Ayah baru berani mengungkapkan perasaannya ke Bunda?"


Bunda terdiam lalu menatapku, "Kenapa kamu tidak langsung bertanya kepada Ayah?"


"Biasanya laki-laki itu terlalu gengsi untuk berterus terang, mending Eyza langsung tanya ke Bunda aja."


"Termasuk kamu, kamu juga laki-laki kan?" celetuk Ayah.


" Hehehe .... "


"Sudahlah kamu nggak perlu tahu bagaimana Ayah dulu menghadapi wanita, yang terpenting sekarang bagaimana kamu jadi laki-laki memperjuangkan perasaan kamu terhadap wanita."


"Sudah, sudah ini sedang bicarakan apa sih sebenarnya? Eyza masih sekolah sebentar lagi juga ujian, biarkan dia fokus belajar, kamu jangan ajarkan yang aneh-aneh yaaa!" ucap Bunda menyelak pembicaraan Ayah.


"Siapa yang ajarkan yang aneh-aneh, aku hanya memberi semangat pada anak kita agar menjadi laki-laki sejati."


"Memangnya Kak Eyza, belum jadi laki-laki sejati Yah?" tanya Dita pada Ayah.

__ADS_1


"Tentu saja dia laki-laki sejati, hanya saja dia belum punya keberanian untuk mengungkapkan kejujuran hatinya pada seorang gadis."


Bunda menatap Ayah cukup lama begitu mendengar Ayah berucap seperti itu.


"Kamu jangan bicara macam-macam lagi tentang aku di depan anak-anak ya!" ujar Ayah pada Bunda dengan menahan raut wajahnya yang malu-malu.


Bunda tersenyum, "Oke, saya tutup mulut."


"Ya sudah, anak-anak ini sudah malam, sekarang kalian masuk ke kamar masing-masing ya, besok kalian sekolah kan?"


"Iya Ayah," ucap Dita lalu pergi ke kamarnya di ikuti oleh Dya, begitu juga dengan aku. Aku pun melangkah pergi ke kamarku.


Bunda masih saja tersenyum kepada Ayah, lalu pergi ke kamar, meninggalkan Ayah.


"Tunggu Sebentar Bun, mentang-mentang Ayah yang menyuruh kalian pergi ke kamar, lalu Ayah di tinggal sendirian?"


"Ya sudah, lekas masuk sebelum aku kunci pintu kamarnya," ucap Bunda meledek Ayah.


"Waduh, jangan bisa kedinginan Ayah disini!" jawab Ayah lalu pergi menyusul Bunda yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam kamar.


Bunda berganti pakaian lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ayah pun sudah berganti piyama, lalu duduk di tepi tempat tidur.


"Aku kasihan sama Eyza sebenarnya Bun."


"Kasihan kenapa Yah?" tanya Bunda lalu mengganti posisi tubuhnya menjadi duduk bersandar di kepala tempat tidur.


"Siapa nama anak yang dulu kamu ceritakan itu, Sarah ya?"


"Iya, kenapa memangnya?"


"Anak itu kan sudah kuliah sekarang, dua tahun lagi lulus, pasti dia akan cari calon suami yang sudah siap menikah, sedangkan anak kita kuliah aja belum."


"Terus masalahnya apa? Kan Eyza memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Sarah."


"Tapi anak kita menyukai gadis itu."


"Eyza sendiri tidak pernah mengungkapkan perasaannya, lalu bagaimana Sarah bisa tahu apa yang dia rasakan."


"Itulah yang aku khawatirkan."


"Khawatir kenapa?"


"Khawatir seperti aku dulu, dulu aku tidak percaya diri karna sainganku seorang laki-laki yang sudah cukup mapan, sedangkan aku hanya anak kuliahan."


Bunda tersenyum, " Tapi kamu yang berhasil mendapatkan hati aku," ucap Bunda lalu merebahkan kepalanya di bahu Ayah, kemudian Ayah membalasnya dengan mencium punggung telapak tangan Bunda.


"Tapi itu kan kita, lalu bagaimana dengan Eyza? Kita kan nggak pernah tahu bagaimana ke depannya. Ayah kenal banget bagaimana dia, dia benar-benar mirip aku. Kalau sudah mencintai satu orang gadis, akan sulit membuka hati untuk yang lain."


"Iya juga sih, anak itu memang mirip sekali dengan kamu."


"Hampir tiga tahun dia pendam perasaannya untuk seorang gadis, dan selama itu juga dia tidak pernah memperkenalkan seorang gadis mana pun pada kita kecuali Sarah, aku khawatir dia tidak bisa membuka hatinya untuk gadis lain, lalu kalau nanti Sarah sudah jadi dokter dan Eyza masih kuliah, apa dia akan percaya diri untuk melakukan pendekatan dengan gadis itu?"


"Sudahlah Ayah, kita tidak usah memikirkan ini. Masih terlalu jauh juga bagi Eyza untuk melangkah ke jenjang pernikahan, biarlah Tuhan yang mempertemukan mereka jika memang mereka berjodoh."


"Heummm benar juga, kenapa aku sudah berpikir untuk punya menantu, sedangkan anak-anak kita masih sekolah semua."


"Hehehe ya sudah, kita tidur ya! Aku sudah mengantuk."


"Iya," jawab Ayah lalu mengecup kening Bunda, " Selamat tidur sayang .... " Bunda hanya tersenyum lalu mencium pipi Ayah.


Malam pun semakin larut, menemani hati Ayah yang sedang gelisah, memikirkan aku yang sedang jatuh cinta namun tak bisa aku ungkapkan hampir tiga tahun lamanya, tetapi untung saja ada Bunda di sampingnya.

__ADS_1


šŸŒšŸŒšŸŒšŸŒšŸŒšŸŒšŸŒšŸŒ


__ADS_2