Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Pulang Bareng lagi


__ADS_3

🌼🍁🌼🍁🌼🍁🌼🍁🌼🍁🌼


"Kak Sarah pulang bareng siapa?" tanya Reno pada Kak Sarah yang sedang serius melihat layar ponselnya.


"Hai Ren, saya lagi pesan ojek online nih tapi daritadi sinyalnya susah banget ya," jawab Kak Sarah kemudian melihat layar ponselnya kembali.


"Mau bareng saya Kak? Kebetulan saya bawa motor," ajak Reno pada Kak Sarah.


"Oh, nggak usah Ren, trimakasih saya naik ojek online saja."


"Ya anggap aja saya supir ojek online Kak, daripada Kakak nggak dapat-dapat drivernya."


"Haha kamu tuh bisa aja," ucap Kak Sarah sambil tertawa kecil.


"Sebentar Kak, tapi saya sudah ada janji duluan sama Kak Reno mau pulang bareng, ada yang mau kita bahas. Iya Kan Kak, Kakak nggak lupa kan?" ucap Dita menyelak pembicaraan, sambil kedua alisnya di naikan ke atas kemudian di perlihatkan kepada Reno.


Reno nampak kebingungan denga sikap Dita, begitu juga dengan Eyza, akhirnya mereka pun saling berpandangan.


"Memangnya kamu ada urusan apa sama Reno?" tanyaku pada Dita.


"Urusan pelajaran, iya urusan pelajaran. Iya kan Kak Ren? Kakak janji mau bahas bareng tugas bahasa indonesia aku," jawab Dita gugup.


"Sejak kapan Reno jadi lebih pintar dari kakakmu ini Dit?" ucapku membuat Dita mencubit lenganku.


"Aduhhhh sakit!"


"Kakak ngomongnya sembarangan," ucap Dita sambil mengusap-usap lenganku yang barusan dia cubit.


"Sudah, sudah biar saya naik ojek online saja ya," ucap Kak Sarah berusaha menenangkan suasana.


"Jangan Kak. Kakak tetap bisa pulang bareng kok, tapi naik motor sama Kak Eyza ya? Biar saya sama Kak Reno, saya mau bahas sambil di bonceng motor sama Kak Reno. Iya kan Kak?" tanya Dita pada Reno, Reno pun menjawab pertanyaan Dita dengan gugup.


"Iii-iya!"


"Ya udah yuk, kita berangkat!"


"Kamu yakin mau pulang bareng Reno?"


"Iya Kak, nggak apa-apa kan Dita pulang bareng Kak Reno?


"Mmmm gimana ya?"


"Tenang aja Za, adek lo nggak bakal gue culik, pokoknya selamat deh sampai rumah," ucap Reno meyakinkan aku.


"Oke deh, beneran ya di antar sampai depan rumah gue," ujarku pada Reno.


"Beneraaan," jawab Reno, kemudian memberikan helm pada Dita.


"Elo beneran kaya tukang ojek Ren, selalu bawa helm dua," celetukku.


"Terserah elo deh ah, mau bilang apaan."


"heummm ngambeeeek," ledekku pada Reno.


"Au ah, gelap," ucap Reno, kemudian mengeluarkan motornya dari area parkir sekolah, akhirnya Reno dan Dita pun pergi meniggalkan aku dan Kak Sarah.


"Ayo Kak, saya antar pulang!"


"Ini beneran kamu mau antar saya, Eyza?"


"Iya beneran Kak!" ucapku kemudian menyerahkan helm Dita pada Kak Sarah.


Kami pun pergi meninggalkan area parkir sekolah, dan terus berjalan menuju rumah Kak Sarah.


"Maaf ya Kak, kalau aku bau keringat," ucapku yang sedang tidak percaya diri dengan penampilanku saat ini.


"Saya juga berkeringat Eyza, jadi santai aja," jawab Kak Sarah yang duduk menyamping di belakangku.

__ADS_1


"Ya Allah, ini beneran, *g*ue boncengan motor sama Kak Sarah antar dia pulang? Apa Dita sengaja ya biar gue bisa pulang bareng Kak Sarah. Ya Allah jagain hati hamba, jangan sampai bunyi detak jantung hamba sekenceng bedug masjid di depan rumah hamba," gumamku dalam hati.


"Kamu sayang banget sama adik-adik kamu ya Eyza?" tiba-tiba Kak Sarah mengagetkan aku dengan sebuah pertanyaan.


"Iya Kak, karna cuma mereka berdua saudara yang saya punya di kota Bandung ini."


"Eh Kak, kita mampir kesitu dulu yuk. Itu ada warung es dawet kelihatannya enak, saya haus banget!"


"Kamu haus banget ya?"


"Iya Kak!"


"Ya sudah kita mampir dulu disitu."


"Beneran Kakak mau?"


"Iya boleh, kalau kamu memang sudah sangat haus."


Aku pun segera menghentikan motorku di depan warung es dawet pinggir jalan. Kemudian kami pun mencari meja yang masih kosong, kebetulan ini warung lesehan jadi tak ada bangku hanya meja kecil saja.


"Kita duduk disitu saja," ucapku sambil menunjuk meja yang masih kosong.


"Kang, es dawetnya dua ya!" pintaku pada penjual es dawet.


"Iya a', di tunggu ya," jawab penjual es dawet.


Tak lama kemudian, es dawet pun datang di bawa oleh si akang penjual es.


"Hmmm ini enak banget Kak, segerrrr!"


"Iya enak ya!"


"Oh ya, ngomong-ngomong Kakak berapa bersaudara?" tanyaku sambil terus meminum es dawetku.


"Empat bersaudara, saya punya kakak kandung satu, adik tiri satu dan satu adik dari ayah yang sama."


"Iya, ketika saya berumur 2 tahun, orang tua saya berpisah."


"Maaf saya nggak bermaksud mengingatkan," ucapku merasa tidak enak hati.


"Nggak apa-apa kok, bagi saya ini bukan aib, memang jodoh kedua orang tua saya tidak panjang."


"Ya Allah, ini cewek dewasa banget sih. Sikapnya lembut, murah senyum. Buat saya aja ya Allah, hamba mohon!" bisikku dalam hati.


"Tiga tahun kemudian, ayah saya menikah lagi dengan seorang single parent makanya saya punya adik tiri." Kak Sarah melanjutkan ceritanya.


"Oh, begituuu trus Kakak punya adik lagi, dari mama yang sekarang?"


"Iya betul, saya sangat sayang dengan kedua adik saya itu, mereka anak yang baik dan penurut. Oh iya, kamu sendiri bagaimana? Cerita dong tentang keluarga kamu, tentang adik kamu. Saya tuh gemes kalau lihat kedua adik kembar kamu, Dya dan Dita, mereka lucu dan manis."


"Mereka memang menggemaskan Kak, walau kembar, mereka punya sifat yang berbeda. Dya agak tomboy dan keras kepala, sedangkan Dita sangat feminim dan penurut. Tetapi, walau mereka mempunyai sifat yang berbeda saya sangat sayang sama keduanya."


"Ternyata kita sama-sama menyayangi adik-adik kita," ucap Kak Sarah kemudian tersenyum padaku.


"Walau sedang lelah, senyummu selalu ada menghiasi wajah, membuatku tak pernah menyerah untuk selalu dekat dengan dia. Walau tak pernah ku ungkap rasa, tapi aku sudah cukup bahagia bersamamu bisa bicara dan banyak bercerita. Kak Sarah, i am falling in love with you and i hope one day you know that," ungkapku dalam hati.


"Eyza, Eyzaaa!"


"Iii-iya Kak!"


"Kamu kenapa? Ada masalah?"


"Nggak kok Kak, nggak ada."


"Setiap kali kamu ngobrol dengan saya, kamu sering banget melamun. Beneran, nggak ada masalah apa-apa?"


"Masalahnya, aku jatuh cinta sama kamu Kak," ungkapku dalam hati.

__ADS_1


"Sarah, kamu disini juga?" tiba-tiba teman Kak Sarah menyapa.


"Ratih!" Kak Sarah langsung berdiri lalu bersalaman dengan Ratih.


"Ini pacar kamu? Sekarang kamu sukanya sama brondong ya!" bisik Ratih di telinga Kak Sarah, kemudian tersenyum ketika aku melihat ke arahnya, aku pun membalas senyumannya.


"Dia bukan pacar aku, dia adik kelasku," jawab Kak Sarah setengah berbisik di telinga Ratih.


"Pacar juga nggak apa-apa kali, walau brondong tapi ganteng," ucap Ratih masih berbisik di telinga Kak Sarah.


"Kamu apaan sih, udah ah. Nggak enak kita ngobrol bisik-bisik begini." Kak Sarah mencubit pinggang Ratih, lalu tersenyum padaku begitu sadar aku memperhatikan tingkah dia dan Ratih.


"Ya sudah, aku pulang duluan ya mau ada urusan lagi, nanti kita telpon-telponan ya," ucap Ratih kemudian bersalaman dengan Kak Sarah.


"Duluan ya!" ucap Ratih padaku.


"Oh, iya Kak!"


"Eyza, namanya," ucap Kak Sarah pada Ratih.


"Oh iya, Eyza!"


Aku hanya tersenyum begitu Ratih memanggil namaku, kemudian Ratih pun keluar dari warung es dawet.


"Itu tadi teman SMP saya, tapi begitu SMA kami terpisah tidak satu sekolah lagi."


Aku hanya menganggukan kepala setelah mendengar penjelasan Kak Sarah.


"Kak, Kakak lapar nggak?"


"Memangnya kenapa?"


"Saya pesanin mie ayam ya? Ternyata ada mie ayam juga disini."


"Boleh deh!"


"Oke, tunggu sebentar saya pesan dulu ya!"


"Iya!" jawab Kak Sarah.


"Tadi saya dengar pembicaraan teman Kak Sarah barusan."


"Oh ya, aduh jadi nggak enak saya. Kamu jangan masukan ke dalam hati ya!"


"Santai ajaaa!"


"Saya boleh tanya nggak?"


"Mau tanya apa?"


"Sebenarnya Kak Sarah sudah punya pacar apa belum? Kenapa teman Kak Sarah tadi sampai menyangka saya pacar Kak Sarah?"


Kak Sarah kaget mendengar pertanyaanku lalu tersenyum.


Tak berapa lama kemudian, penjual mie ayam datang membawakan mie ayam pesanan kami.


"Kita makan dulu ya!" ucap Kak Sarah kemudian mengambil satu mangkuk mie ayam lalu memakannya. Aku pun segera menghabiskan mie ayam yang barusan aku pesan.


Selesai menikmati mie ayam dan es dawet, aku segera pergi ke meja kasir untuk membayar.


"Saya biar bayar sendiri aja," ucap Kak Sarah.


"Nggak usah Kak, biar saya aja kan saya yang ajak."


"Nggak enak saya masa kamu bayar semua."


"Ya nggak apa-apa," ucapku lalu pergi ke meja kasir, selesai membayar kami pun segera pergi dari warung tersebut, melanjutkan perjalanan pulang. Selama perjalanan tidak ada obrolan sama sekali diantara kami, bahkan Kak Sarah pun belum menjawab pertanyaan aku barusan.

__ADS_1


πŸŒΊπŸ€πŸŒΊπŸ€πŸŒΊπŸ€πŸŒΊπŸ€πŸŒΊπŸ€πŸŒΊ


__ADS_2