
ššššš
"Cocok kok jam tangan itu di tangan Kakak," ucapku pada Kak Sarah yang masih saja memperhatikan jam tangan yang aku berikan kepadanya.
"Bukan masalah itu Eyza," jawab Kak Sarah.
"Iya aku tahu, Kakak merasa nggak enak hati kan?"
"Nah, itu. Kamu tahu itu!"
"Kenapa harus merasa nggak enak hati?"
"Jam tangan ini mahal Eyza, saya tahu berapa harganya."
"Lalu apa masalahnya Kak? Mau dia mahal atau nggak, dia tetap hanya sebuah benda. Sebuah benda yang murah sekalipun akan menjadi lebih bernilai jika kita merawat dan menjaganya. Saya hanya berharap Kakak mau merawat dan menjaga jam tangan itu dengan baik, agar ia semakin lebih bernilai," ucapku meyakinkan Kak Sarah.
"Heummm baiklah!"
"Terima kasih Kak."
"Sama-sama," ucap Kak Sarah lalu tersenyum padaku.
"Oh, iya Kakak sudah lama menjalin berhubungan dengan Kak Salman?"
Kak Sarah terdiam beberapa saat, tidak langsung menjawab pertanyaanku.
"Maaf kalau saya lancang, saya hanya sekedar bertanya. Kalau Kakak tidak mau jawab nggak apa-apa kok."
"Nggak apa-apa kok, saya menjalin hubungan dengan Kak Salman, sejak kuliah semester ke tiga."
"Oh, sudah lama juga ya!"
"Hee iya."
"Saya pikir dari SMA," ucapku lalu tersenyum.
"Saya tidak berpikir untuk pacaran saat itu, memang dia sudah ada perasaan saat di SMA tapi tidak berani mengungkapkan, barulah pas kuliah kami bertemu lagi saat salah seorang teman kami ada yang menikah."
"Oh, begituuu, Kakak sendiri kapan menikah dengan Kak Salman?"
"Aduh, sepertinya itu masih lama ya. Kami saja belum selesai kuliah, kalau nanti sudah lulus pun Kak Salman langsung melanjutkan kuliahnya di Jepang, begitu juga dengan saya, untuk melanjutkan menjadi dokter spesialis, saya harus langsung melanjutkan S2 saya."
"Bukannya, walau masih kuliah bisa tetap menikah ya Kak? dan kuliah tetap bisa berjalan."
"Bisa, bisa bangettt. Mungkin kalau jodoh saya sudah ada, saya akan seperti itu hehehe."
"Hehehe kan jodohnya sudah ada Kak."
"Manusia hanya berencana, tapi Tuhan yang menentukan, walau saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan Kak Salman tapi belum tentu dia jodoh saya," ucap Kak Sarah membuat hatiku sedikit lega.
"Bener juga kata Kak Sarah, jodoh di tangan Tuhan. Jika saya boleh memaksa Mu Tuhan, biarkan Kak Sarah berjodoh dengan saya saja," gumamku dalam hati.
"Kalian sudah selesai ngobrolnya?" tiba-tiba Kak Salman datang mengagetkan kami.
"Eh, sudah kok," jawab Kak Sarah.
"Kalau sudah, bisa kita pulang sekarang?"
"Oh, iya bisa."
Kak Sarah bangun dari duduknya, " Eyza, saya pulang duluan ya?"
"Oh, iya Kak. Silahkan!"
"Saya pamit ya Eyza!" ucap Kak Salman lalu mengajakku bersalaman.
Aku terima jabat tangannya, "Iya Kak, silahkan."
Kak Sarah dan Kak Salman pun pergi dari hadapanku, aku juga segera pergi mencari kedua adik kembarku, untuk mengajak mereka pulang.
"Za, lo cari siapa?" teriak Reno dari belakangku.
"Hei Ren, gue cari Dya dan Dita."
"Mereka ada di sana!" ucap Reno sambil menunjuk ke arah Dya dan Dita.
__ADS_1
"Oh iya, lo mau pulang bareng gue nggak?"
"Oke deh, tapi memangnya lo nggak bawa motor?"
"Nggak, gue naik taksi online tadi."
"Sama, gue juga nggak bawa motor, ya udah deh gue bareng."
Kami pun berjalan ke arah Dya dan Dita berada.
"Eh, Kakak. Mau pulang sekarang?" tanya Dita padaku.
"Iya yuk! Ini Kak Reno juga mau bareng kita."
"Ya udah yuk!" jawab Dita.
"Nah, itu Ujang. Ujang!" panggil Reno.
"Eh, Reno."
"Lo, kemana aja? Dari sepanjang acara baru kelihatan."
"Abdi sama adik sepupu tadi."
"Sekarang dimana adik sepupu lo?"
"Itu di sana!" jawab Ujang sambil menunjuk ke arah Cempaka.
"Lo mau pulang bareng kita nggak?"
"Sepertinya tidak Reno, Abdi teh mau ke rumah paman sama Cempaka, selesai acara ini."
"Oh, begitu. Ya udah deh kita pulang duluan ya?"
"Iya, hati-hati di jalan ya semua!"
"Insya Allah!" jawab kami serempak.
"Oke, Jang duluan ya!"
"Iya Eyza!"
Setelah mendapatkan taksi online, kami segera masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Reno yang duduk di bangku tengah sebelah kanan, memperhatikan pergelangan tangan kananku.
"Itu gelang apa Za?"
"Oh, ini gelang Kaukah namanya, ada 33 butir bisa untuk tasbeh juga."
"Oh, begitu. Gue baru lihat lo pakai gelang itu."
"Iya, gue juga baru di kasih barusan."
"Oh, ya sama siapa?"
"Sama Kak Sarah."
"Serius lo?"
"Serius!" jawabku.
"Beneran Kak?" tanya Dita.
"Masa Kakak bohong sih Dit."
"Kenapa Kak Sarah kasih Kakak gelang?" tanya Dya padaku.
"Katanya buat kenang-kenangan."
"Kenangan terakhir maksudnya?" tanya Reno.
"Dia bilang sih, insya Allah suatu saat kita akan ketemu lagi."
"Tunggu tunggu, daritadi aku mau tanya ini sama Kakak tapi lupa terus," ucap Dita.
"Tanya apa?"
__ADS_1
"Jam tangan Kakak kemana? Daritadi aku perhatiin jam tangan Kakak nggak ada, perasaan waktu mau berangkat Kakak pakai jam tangan."
"Kakak kasih Kak Sarah."
"Haahhh!" Teriak Dita, Dya dan Reno bersama.
"Nggak salah Za, jam tangan semahal itu lo tukar sama gelang kayu?" tanya Reno.
"Memangnya dimana kesalahannya?"
"Itu kan jam tangan pemberian Ayah Kak, hadiah ulang tahun dari Ayah," ucap Dya padaku.
"Ayah tahu kok, malah Ayah setuju Kakak kasih jam tangan itu ke Kak Sarah."
"Kok, ayah lo bisa setuju Za? Kan itu pemberian dari dia."
"Karnaaa, karnaaa karna Kak Sarah baik," jawabku kemudian tersenyum ke arah Reno.
"Karna bokap lo tahu, lo suka sama dia, itu jawaban yang benar." celetuk Reno.
"Sok tahu lo Ren," ucapku dengan wajah malu-malu.
"Kok Kakak bisa sih, gampang banget kasih jam itu ke Kak Sarah?" tanya Dita.
"Karna Kakak nggak punya apa-apa lagi untuk di kasih sebagai kenang-kenangan hanya ada jam tangan itu, sebenarnya Kak Sarah nggak mau terima tapi Kakak yang memaksa, sampai Kakak telpon Ayah untuk meyakinkan Kak Sarah, kalau Ayah mengizinkan Kakak memberikan jam tangan itu ke Kak Sarah."
"Oh, jadi begitu ceritanya, tapi memang sih Kak Sarah memang terlihat bukan seperti cewek matre, dia memang perempuan berhati baik. Andai saja Kak Eyza jadian sama dia."
"Kamu bicara apa sih Dit? Jangan bicara seperti itu lagi, sekarang Kak Sarah sudah punya calon suami."
"Baru calon kan Kak? Belum tentu berjodoh," ucap Dya membuatku terkejut.
"Kamu bicara apa barusan Dya?"
"Aku bukan anak SMP lagi Kak, Kakak harus ingat sebentar lagi aku kelas dua SMA, aku sudah mengerti tentang jodoh."
"Oke, oke adik Kakak sudah remaja sekarang."
"Terus gimana ceritanya Za, Kak Sarah bisa jaidan sama Kak Salman?" tanya Reno padaku.
"Ternyata Kak Salman sudah lama suka sama Kak Sarah sejak masih di SMA tapi baru berani mengungkapkan pas mereka sama-sama kuliah di semester ke tiga."
"Lo kalah cepat dong Za?"
"Iya, gue kalah cepat hahahha."
"Lah, lo kok malah senang kalah cepat?"
"Lucu aja, gue lagi ketawain kisah cinta gue sendiri."
"Hihihi kasihan deh lo Za."
"Hati gue udah kaya roller coaster, naik turun sekarang gue berasa lagi di turunan banget Ren, mungkin lebih tepatnya di dasar jurang."
"Wakakkkkkkk!"
"Ketawa lo Ren."
"Memang lucu banget kisah cinta lo."
"Ketawa aja terus lo di atas penderitaan gue."
"Hahahaha!"
"Udah iiihhh Kak Eyza, Kak Reno. Bercanda terus, udah mau sampai tuh!" ucap Dita.
"Oh iya, udah mau sampai. Lo turun di rumah gue dulu ya Ren, pulangnya habis maghrib aja ntar gue antar pake motor."
"Kenapa lo? Mau curhat sama gue?"
"Iiiih, siapa yang mau curhat sama elo? Mending gue curhat sama Mamah Dedeh."
"Hahahaha curhat dong Maaah!" ledek Reno padaku.
"Hahahaha!" Dita dan Dya ikut tertawa.
__ADS_1
Akhirnya kami pun sampai di depan rumahku, setelah membayar taksi online, kami segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
š š š š š