Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)

Eyza & Sarah (Kakak Kelasku Sayang, Menikahlah Denganku!)
Ayah dan Bunda bernostalgia


__ADS_3

πŸŒπŸŒ“πŸŒπŸŒ“πŸŒπŸŒ“πŸŒπŸŒ“


"Ditaaa, cepetan nanti telat nih!" ucapku sedikit berteriak kepada Dita yang masih saja berdandan di dalam kamarnya.


"Iya sebentar Kak, ini sudah selesain kok!"


"Iya nih, Dita lama banget sih!" ujar Dya.


Tak lama kemudian Reno pun datang dengan sepeda motornya.


"Itu kaya suara motor Reno!"


"Sepertinya kak."


"Assalamu'alaikum," ucap Reno ketika tiba di depan pintu rumahku.


"Wa'alaikum salam," jawabku bersama Dya.


"Sendiri Ren?" tanyaku karna tak melihat Ujang bersama dengan dia.


"Ujang nggak bisa ikut, bapaknya lagi kurang sehat, dia mau antar ke klinik," jawab Reno kemudian duduk di sofa.


"Oh begitu, sakit apa bapaknya Ujang?"


"Rhematiknya kambuh."


"Oh, memang penyakit orang tua ya."


"Memangnya ada penyakit khusus anak muda?"


"Ada!"


"Apaan?"


"TBC, tekanan batin cinta hahaha ... "


"Elo itu mah!"


"Sialan lo Ren."


" Hehehe ... "


Tak lama kemudian Dita mucul dari kamarnya, menuju ruang tamu.


"Ayo Kak, Dita udah siap nih!"


"Kamu kaya mau pergi kondangan, lama banget dandannya."


"Yah, namanya juga mau bertamu ke rumah teman Kakak, harus rapih dandannya biar nggak malu-maluin Kakak nanti."


"Bener juga, tapi nggak selama ini juga kali, hampir setegah jam lebih kamu dandan. Udah yuk ah, kita berangkat!"


"Iya, iyaaa maaf deh ... " jawab Dita dengan wajah memelasnya.


"Sebentar Kakak ambil kunci mobil, motor lo taruh disini aja Ren, kita naik mobil aja!"


"Oke Za!"


Kemudian aku pergi ke ruang kerja ayah untuk mengambil kunci mobil.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!" jawab Ayah dari dalam ruangan, kemudian aku pun masuk ke dalam.


"Ada apa Za?" tanya Ayah.


"Eyza pinjam mobil ya?"


"Mau kemana memangnya?"


"Ada undangan syukuran dari Kakak kelas, Reno, Dya dan Dita di undang juga!"


"Loh, kok bisa Dya dan Dita di undang juga?"


"Mereka kenal sama Kakak kelas Eyza, Kak Sarah namanya, sudah pernah kesini kok, bantuin Eyza dan teman-teman buat makalah."


"Oh ya, ya sudah ini kuncinya, kamu hati-hati bawa mobilnya ya!"


"Iya!" jawabku lalu ku ambil kunci mobil dari tangan Ayah, kemudian mencium tangannya.


"Eyza berangkat ya!"


"Iya, hati-hati di jalan ya!"


"Iya Ayah. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikum salam."


Aku segera keluar dari ruangan kerja ayah, kemudian menuju garasi mobil, di ikuti oleh Reno dan kedua adik kembarku. Kami pun segera berangkat menuju rumah Kak Sarah.


Baru beberapa menit aku berangkat, Bunda masuk ke dalam ruang kerja ayah.


"Eyza, Dya dan Dita sudah berangkat?"

__ADS_1


"Loh, memangnya nggak pamit sama kamu?"


"Sudah pamit, tapi aku masuk ke kamar lagi," jawab Bunda, lalu duduk di samping Ayah.


"Baru beberapa menit kok, mereka berangkat."


"Oh ya, ya sudah nggak apa-apa."


"Sarah itu siapa Bun?"


"Kakak kelasnya Eyza!"


"Maksud Ayah, apa mereka punya hubungan khusus?"


"Sepertinya nggak, hanya berteman saja."


"Oh, Ayah pikir ada hubungan, tumben-tumbenan ada Kakak kelas syukuran kelulusan ngundang Eyza, perempuan pula."


"Nggak kok, mereka nggak ada hubungan apa-apa, cuma yang Bunda pernah dengar dari Dita. Eyza punya perasaan dengan anak itu."


"Pasti Eyza nggak berani mengungkapkan!"


"Iya, persis seperti kamu dulu."


"Hahaha kamu masih ingat saja, jangan-jangan kamu juga masih hafal dialog-dialog kita dulu."


"Hehehe masih lah, bahkan aku ingat betul kamu hampir saja memelukku," jawab Bunda kemudian tersenyum menatap Ayah.


"Refleks, karna terlalu bahagianya," ucap Ayah kemudian tersenyum kepada Bunda lalu merangkul bahu Bunda.


"Tapi butuh waktu yang lama, kamu berani ungkapkan perasaan kamu."


"Tapi akhirnya aku ungkapkan juga kan?"


"Itu pun karna kamu di desak Nina kan, makanya kamu berani ungkapkan."


"Hehehe iya!"


"Kenapa kita jadi bernostalgia begini ya?"


"Ya nggak apa-apa, mengingat-ingat kisah cinta di waktu muda, biar tambah awet muda hehehe ... "


"Kenapa dulu kamu begitu sulit mengungkapkan perasaan kamu?" tanya Bunda, lalu merebahkan kepalanya di bahu Ayah.


"Karna aku pikir kamu akan menikah dengan Dani." Mendengar Ayah menyebut nama Dani, Bunda langsung mengangkat kepalanya dari bahu Ayah, kemudian menatap Ayah.


"Eh, tapi Ayah tahu nggak? Waktu Bunda ngobrol dengan Sarah, saat dia tersenyum, itu mirip banget sama Dani."


"Kamu masih ingat saja dengan Dani?"


"Ya kan nggak sengaja ingat, bukan mencoba ingat-ingat!" ucap Bunda lalu tersenyum.


"Memangnya kamu cemburu? Sudah berumur begini, masih cemburu."


"Siapa yang cemburu, aku kan hanya bertanya."


"Bertanya, apa menyelidiki?"


"Memangnya aku polisi?" jawab Ayah dengan wajah dinginnya.


"Hehehe oke, oke kamu nggak cemburu!" ucap Bunda lalu tersenyum menatap Ayah, namun Ayah malah mendekatkan wajahnya ke wajah Bunda.


"Kamu mau ngapain?"


"Memangnya menurut kamu apa yang di lakukan seorang suami, jika sudah sedekat ini?"


"Malu ah, kita sudah tidak muda lagi."


"Memangnya pacaran hanya untuk anak muda saja?"


"Ya nggak, tapi aku yang malu."


Ayah tersenyum, "Kamu dari dulu nggak pernah berubah." Ayah menatap Bunda tanpa berkedip lalu semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Bunda, namun tiba-tiba-


KRIIIING!!!


Suara telpon rumah berbunyi. Bunda hanya tersenyum melihat wajah kesal Ayah.


"Siapa sih yang telpon? Bikin kaget aja!"


"Coba angkat dulu, barangkali ada berita penting!"


Ayah beranjak untuk mengangkat telpon yang ada di meja kerjanya.


☎️


πŸ“ž Ayah


"Assalamu'alaikum, iya benar ini dengan siapa ya? Oh, Kak Nina. Apa kabar Kak? Iya ada, sebentar saya kasih telponnya ke dia ya!"


"Dari Kak Nina Bun!" Bunda beranjak dari sofa lalu memegang gagang telpon yang Ayah berikan.


πŸ“ž Bunda


"Assalamu'alaikum Nin, apa kabarnya kamu sekeluarga?"


πŸ“ž Nina

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?"


πŸ“ž Bunda


"Alhamdulillah, aku dan keluarga juga baik, ada kabar baik apa nih, malam-malam telpon?"


πŸ“ž Nina


"Hanya ingin kasih kabar aja, minggu depan aku dan keluarga main ke tempatmu ya?"


πŸ“ž Bunda


"Oh, iya silahkan dengan senang hati, sudah lama jugan kan kita nggak ketemu."


πŸ“ž Nina


"Iya nih, kamu kapan main ke tempat aku?"


πŸ“ž Bunda


"Pengen banget, tapi bagimana suami lagi sibuk dengan pekerjaannya. Anak-anak aku juga sebentar lagi mau UKS."


πŸ“ž Nina


"Oh iya, sudah mau kenaikan kelas ya?"


πŸ“ž Bunda


"Anakmu, Amira sedang hamil ya? Bagaimana kabarnya sekarang?"


πŸ“ž Nina


"Iya, sudah bulannya, tinggal tunggu lahiran aja."


πŸ“ž Bunda


"Wah, sebentar lagi kamu jadi nenek. Senang dong Nin?"


πŸ“ž Nina


"Alhamdulillah senang banget, menyambut cucu pertama. Kamu sendiri kapan mau menimang cucu?"


πŸ“ž Bunda


"Hahaha aku masih lama, Eyza aja belum lulus SMA, kuliah apa lagi. Masih lama lah, pokoknya."


πŸ“ž Nina


"Mudah-mudahan setelah lulus kuliah dan dapat pekerjaan, cepat ketemu jodohnya ya!"


πŸ“ž Bunda


"Aamiiiiiiin!"


πŸ“ž Nina


"Ya sudah aku mau kasih kabar itu, sudah ya!"


πŸ“ž Bunda


"Baiklah, aku tunggu loh kedatangannya."


πŸ“ž Nina


"Iya, insya Allah jadi. Sudah ya, assalamu'alaikum."


πŸ“ž Bunda


"Wa'alaikum salam."


Kemudian Bunda menutup telponnya, lalu menghampiri Ayah yang sudah duduk di sofa sedari tadi.


"Nina dan keluarganya mau main kesini minggu depan," ucap Bunda pada Ayah.


"Oh ya, sudah lama juga ya kita nggak ketemu dia."


"Iya, cukup lama juga."


"Kamu mau ngapain?" tanya Bunda pada Ayah yang kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Bunda.


"Mau melanjutkan yang tadi!"


"Hahaha masih aja, sudah ah Bunda mau ke kamar, ngantuk!"


"Mumpung nggak ada anak-anak Bun!"


"Hehehe!" Bunda hanya tertawa, kemudian tiba-tiba.


Cup!


Bunda mencium pipi kiri Ayah, lalu bangun dari sofa.


"Sudah yaaa, aku mau tidur dulu!" ucap Bunda lalu pergi meninggalkan Ayah.


"Yaaah, kalau begitu Ayah ikut deh!"


"Ikut kemana?" Bunda menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Ayah.

__ADS_1


"Ikut Bobo!" jawab Ayah kemudian tersenyum manja. Bunda hanya tersenyum lalu menggelengakan kepala melihat tingkah Ayah, kemudian melangkah meninggalkan ruang kerja Ayah menuju kamar tidur, diikuti Ayah dari belakang.


**Nanti di lanjut lagi ya Kakak-kakak baik yang masih setia dengan ceritaku😊. Penulis mau bobo juga πŸ˜€ Daaaah! see you again😍


__ADS_2