
ππΏππΏππΏππΏ
"Assalamu'alaikum," ucap Nita yang sudah sampai di rumahku di pukul sembilan pagi, hari sabtu ini.
"Wa'alaikum salam," jawab Dya dari dalam rumah, kemudian membukakan pintu.
"Nita! Gue nggak salah lihat nih!" ucap Dya cukup terkejut dengan penampilan baru Nita.
"Kenapa lo? Kaya lihat makhluk halus. Oh iya, sorry ya tadi gue lihat pintu pagar lo nggak di kunci ya udah gue langsung masuk aja."
"Nggak apa-apa, Masuk sini Nit!" Dya mengajak Nita masuk ke dalam rumahnya, kemudian mempersilahkan duduk.
"Ngomong-ngomong lo mau ikut pengajian dimana?" tanya Dya yang masih sedikit heran dengan penampilan Nita.
"Siapa yang mau ikut pengajian?"
"Nah, ini lo udah pakai baju gamis begini, mau kemana kalau bukan mau ikut pengajian?"
"Ya mau main ke rumah lo lah .... Eh, gimana menurut lo, udah pantas belum gue pakai hijab? Udah kaya wanita muslimah belum gue?"
Mendengar pertanyaan Nita, Dya langsung bangun dari sofa lalu memegang kening Nita dengan punggung telapak tangannya.
"Tapi nggak panas ya!"
Nita langsung menepis tangan Dya dari keningnya, "Iihhh apa-apaan sih lo? Gue sehat kok."
"Tumben aja, biasanya kan lo paling nggak mau pakai baju terlalu tertutup begini, gerah lah, nggak bisa nafas lah, ada aja alasan lo."
"Lo nggak suka banget sih, lihat gue jadi lebih alim."
"Bukan nggak suka, nggak kaya biasanya ajaaa."
"Mulai sekarang lo harus terbiasa, kalau sewaktu-waktu gue pakai pakaian begini."
"Wuiiiih beneran mau taubat nih?"
"Ah, rese' lo, memangnya gue melakukan dosa apaan? Justru gue mau berubah jadi lebih baik."
"Aamiiiiin ya Allaaaah!" ucap Dya dengan semangat.
"Sudah mau berangkat Kak?" tanya Dya padaku yang baru saja berjalan perlahan di depan mereka.
"Iya nih!" jawabku.
Tiba-tiba langkahku terhenti begitu melihat seorang gadis yang duduk di samping Dya, aku memandangnya sesaat mencoba mencari tahu siapa gadis itu.
"Nita!" ucapku sama terkejutnya dengan Dya melihat penampilan Nita yang baru.
"Iya Kak!" jawab Nita dengan senyum manisnya.
"Saya pikir siapa? Saya hampir nggak kenalin."
Nita hanya tersenyum, mendengar aku mengucapkan kata-kata barusan.
"Ya sudah, saya berangkat dulu ya mau ke kampus. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam," jawab Dya dan Nita bersama. Aku pun segera mengeluarkan motorku lalu pergi ke kampus.
__ADS_1
"Yaaaah cuma begitu doang Kak? Gue udah dandan dari shubuh, cuma segitu aja tanggapannya, hiks .... sedih banget gue," gumam Nita dalam hatinya.
"Woiiii Kakak gue udah pergi jauh kali." Dya menepuk bahu Nita.
"Astagfirulloh, ngagetin aja lo," ucap Nita dengan wajah terkejutnya.
"Nah, elo bengong aja."
"Abang lo kok kuliah sih, ini kan hari sabtu bukannya biasanya anak kuliahan libur ya?" tanya Nita penasaran.
"Nggak tahu tuh, ada tugas kampus mungkin."
"Sia-sia dong, gue udah dandan habis-habisan begini, abang lo malah pergi."
"Ooo jadi lo dandan begini, udah kaya mau ke majlis ta'lim, karna mau ketemu Kakak gue?"
"Hehehe iya," jawab Nita sambil senyum-senyum sendiri.
"Modus banget, gue pikir lo beneran mau merubah penampilan."
"Yaaa kan pelan-pelan Dya, nggak langsung berubah total, gue butuh proses juga kali."
"Iya deh, gimana baiknya menurut lo aja."
"Eh, ada Nita. Tumben baju kamu seperti ini, mau ikut pengajian dimana Nit?" tanya Dita pada Nita yang tiba-tiba muncul dari kamarnya.
"Tuh kan, Dita aja sangka lo mau ke pengajian," celetuk Dya.
"Bukan Dit, aku bukan mau ke pengajian kok, tapi mau main kesini aja."
"Oh ya, kok tumben pakai gamis? Eh, tapi kamu kelihatan cantik pakai hijab, aku aja udah kepengen banget, tapi belum mantap hatinya."
"Heummm nanti mungkin Nit, pas kuliah aja."
"Aamiiiiin," jawab Nita.
"Loh, ada tamu rupanya," ucap Bunda yang datang dari arah dapur.
"Kenalin ini teman sekolah aku Bun," ucap Dya pada Bunda.
Nita segera bangun dari duduknya kemudian mencium tangan Bunda.
"Siapa nama kamu Nak?" tanya Bunda.
"Saya Nita tante," jawab Nita kemudian tersenyum pada Bunda.
"Oh iya, kamu belum di kasih minum apa-apa sama Dya? Dya, temannya di suguhkan minum dong ... "
"Iya Bun, Dya ambilkan minum dulu." Dya segera pergi ke dapur mengambilkan minum untuk Nita.
"Ayo duduk lagi Nak!"
"Iya tante." Nita duduk kembali di sofa.
"Di minum Nit." Dya mempersilahkan Nita untuk meminum es sirup cocopandan yang dia sajikan, Nita pun segera meminumnya.
"Ya sudah, Bunda ke dapur lagi ya! Belum selesai masak." Bunda pun melangkah kembali ke dapur.
__ADS_1
"Kita ke kamar aja yuk Nit, biar enak ngobrolnya!" Ajak Dita. Nita dan Dya pun menyetujui, lalu mereka pergi meninggalkan ruang tamu.
Sebelum sampai ke kamar Dya dan Dita, mereka melewati kamarku terlebih dahulu, tiba-tiba Nita menyentuh pintu kamarku.
"Ini pasti kamar abang lo kan?" tanya Nita pada Dya.
"Iya, lo ngapain ngusap-ngusap pintu kamar abang gue?"
"Baru lewat depan kamarnya aja udah wangi begini, gimana orangnya? Pasti abang lo selalu wangi ya?" tanya Nita sambil mengusap-usap pintuk kamarku.
"Lo ngapain usap-usap pintu kamar abang gue? Jangan gila dehhh!"
"Namanya juga cinta, apa sih yang nggak gila?"
"Lo udah bisa bilang cinta? Baru juga dua kali ketemu."
" Hei .... Pada ngapain di depan kamar Kak Eyza?" tanya Dita yang sudah sampai di depan kamarnya.
"Nggak ngapa-ngapain," jawab Dya kemudian segera melangkah menuju kamarnya di ikuti oleh Nita.
Di dalam kamar Nita membuka kerudungnya karna tak tahan gerah.
"Gue buka kerudung nggak apa-apa ya?" ucap Nita lalu membuka kerudungnya.
"Kan, baru gue bilang barusan, lo kan ada aja alasannya kalau pakai hijab," ucap Dya.
"Duh, gue bukannya beralasan tapi memang gerah ini. Lagian di kamar ini kan cewek semua jadi nggak masalah dong."
Tiba-tiba mata Nita tertuju pada foto ukuran A4 yang terpasang di dinding.
"Itu foto kalian sama Kakak kalian ya?"
"Iya itu foto kami waktu kecil," jawab Dita.
"Kakak kalian memang udah ganteng ya dari kecil," ucap Nita penuh kekaguman.
"Wah, kamu ada apa Nit, tiba-tiba puji Kak Eyza?" tanya Dita penasaran.
"Dia suka sama Kakak kita Dit." Dya memberi penjelasan.
"Serius?"
"Gue nggak pernah main-main kalau urusan cinta Dit, cuma cowoknya aja tuh yang suka mempermainkan perasaan gue, hiks ... "
"Oh, i'm so sad to hear that," ucap Dita dengan wajah sedihnya.
"Makanya kalian bantu gue ya supaya bisa dekat dengan abang kalian, gue yakin pasti gue akan lebih bahagia kalau sama abang kalian."
Dita dan Dya saling berpandangan seolah mereka sedang berdiskusi lewat tatapan mata mereka.
Setelah hampir tiga jam Nita di rumahku akhirnya dia pamit pulang.
"Gue pulang ya Dya, Dita. Eh benar ya besok kita ke mall? Jangan lupa ajak Kak Eyza ya!" ucap Nita lalu tersenyum kemudian memakai kerudungnya kembali.
"Iya, insya Allah," jawab Dita.
Nita pun keluar dari kamar Dya dan Dita lalu pamit pada Bunda, kemudian pergi meninggalkan rumahku.
__ADS_1
π»π»π»π»π»π»π»