
"Ada apa? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Hiro yang sedikit panik
Charlie menjelaskan semua yang terjadi kepada Zen.
Setelah sedikit lama mendengarkannya, Hiro berlutut lemas dan mengeluarkan air mata sedikit demi sedikit, dia tak tahu tentang kepergian kawannya yang pertama kali ia temui.
"A...apa yang baru saja menimpanya?" Tanya Hiro
"Dia terlalu banyak menghirup asap, dan di sekitarnya juga banyak api, jadi pemadam kebakaran dan dokter terlambat menyelamatkannya, maaf Hiro" ungkap Charlie
Hiro yang se akan tak percaya mulai meratapi dirinya yang tak berguna ini, dan mulai menggenggam tangannya dan melancarkan sumpah dalam hati.
"(Kak... Aku akan buat kau menyesal, tak peduli apa yang kau lakukan kepada diriku di masa lalu!)"
"Apa dia sudah di kuburkan?" Tanya hiro
"Ya, datang lah nanti sore Hiro, aku akan memberikan alamatnya, dan kamu lah yang akan pergi mengunjunginya sendirian" ucap Aartox.
Sore hari tiba, Hiro datang ke tempat yang di berikan oleh Aartox dan Charlie, dia masih berusaha menahan sedihnya itu dan berjalan ke makan Zen.
Hiro menemukan makam Zen yang baru saja di kubur kemarin siang, dia menabur bunga dan berdoa.
"Maaf, Zen, aku telah gagal menjadi teman baik untuk mu, aku telah membawa mu menuju ke binasaan, maafkan aku, maaf" ucap Hiro yang menyesal sambil menangis
Hiro tak sadar sedari tadi ada gadis kecil kelas 4 SD yang berada di makam Zen juga, Hiro bertanya
"D-dek? A-apa yang kamu lakukan d-disini?" Tanya Hiro
"Aku menjenguk kakak!" Ucap adik itu sambil tersenyum
Hiro jadi teringat bahwa Zen pernah bercerita dia memiliki seorang adik yang bernama shopia, Hiro juga bingung mengapa dengan Shopia yang tak menangis dengan kepergian Zen
__ADS_1
"Hai Shopia, apa kamu ga merasa kamu telah kehilangan sosok kakak mu? Dia orang yang penting loh!" Ucap Hiro
"Engga, kata kakak, menangis adalah perbuatan orang lemah, jadi aku ga nangis deh" ucap Shopia
Hiro mendekati Shopia dan memegang bahunya
"Dek, ini adalah saat penting, kamu harus berduka atas kem-"
Hiro belum sempat menghabiskan kata katanya, dia sadar bahwa yang dia lihat saat ini adalah senyuman palsu atau topeng milik Shopia.
Mata yang mengkerut, dan senyuman yang di paksakan, Hiro sadar akan hal itu, kalau Shopia berusaha tegar.
"Kak... Kepergian Kakak ku itu emang udah sewajarnya kok, manusia kan emang seharusnya pergi meninggalkan dunia ini, jadi kakak jangan nangis lagi ya!" Ucap Shopia yang mengusap air mata Hiro
Hiro melihat yang akhirnya Shopia meneteskan air matanya juga dengan tersenyum. Saat itu, Hiro langsung memeluk Shopia dan berkata
"Maafkan Kakak, kakak selama ini salah telah membawa Abang mu menuju jurang kematian, maafkan Kakak, maafkan Kakak"
"Kak... Tolong antar aku pulang, ya?" Ucap Shopia
Shopia yang masih berusaha terlihat tegar, kini berjalan bersama Hiro ke arah rumahnya, Hiro yang kagum melihat kuatnya hati Shopia, dia luluh dan tak akan menangis lagi.
Shopia sekrang hatinya sedang kacau parah, nampak terjadi badai di otak dan hatinya. Dia memilih untuk melepaskan tangisnya, atau menahannya.
Mereka berlama lama jalan, dan melihat rumah Zen yang kecil dan terbuat dari kayu.
Shopia masuk ke dalam rumahnya, Hiro menyusulnya. Di dalam, Hiro melihat kondisi nya yang nampaknya sudah tak layak di huni lagi, namun, dia tak melihat orang tua Shopia sama sekali.
"Hei, Diaman ornag tua mu?" Tanya Hiro
"Ga ada, aku sama Abang hidup berdua di rumah tua, ini. Orang tua kita meninggalkan kita disini" ungkap Shopia
__ADS_1
"Bisakah kamu ceritakan kepadaku?" Tanya Hiro yang penasaran
"Kata abang aku, dahulu, ayah adalah orang yang suka mabuk Dan judi serta main wanita, jadi membuat kita ga bisa kaya dan makan pun susah. Suatu hari, ayah kita melihat ayah membunuh ibu yang berusaha melindungi uang terakhirnya untuk aku dan Abang, mayat ibu di buang ke ladang jagung di sana. Ayah pergi entah kemana, menyisakan kita berdua bertahan hidup."
Hiro kaget mendengar pernyataan Shopia, yang selama ini dia pikir kalau Zen adalah keluarga yang bahagia, dugaannya salah, dia adalah orang yang selalu tegar dan tersenyum, dia tak pernah mengeluh tentang kehidupannya dan hidupnya.
"Setelah ini, kamu mau tinggal sama siapa dek?" Tanya Hiro
"Aku ga ada siapa siapa lagi kak, aku ga tau harus lari ke siapa" ucap Shopia
Hiro yang kaget mendengar itu langsung berinisiatif mengantar kan adiknya ke panti asuhan agar bisa di rawat disana.
Hiro membantu Shopia mencari surat surat yang di butuhkan, serta membuat surat keterangan.
Mereka berdua meninggalkan rumah tua itu dan berjalan menuju pantai asuhan.
Saat sampai, Hiro mendaftarkan Shopia dan menceritakan segalanya.
"Ahhh.... Shopia ya, sini anak lucu, main sama aku" ucap salah satu pengasuh
Shopia nampak bahagia di sana dan Hiro juga merasa lega saat itu, namun perasaan sedihnya itu tak lagi sirna.
Hiro berjalan pergi untuk pulang, saat berbalik, dia melihat Shopia yang melambaikan tangannya.
Saat Hiro membalas lambaian itu, dia melihat sosok bayangan Zen di belakang Shopia, banyangan Zen itu mengacungkan jempol untuk Hiro dan sembari tersenyum.
Hiro yang melihat itu, sedikit meneteskan air mata dan membalas acungan jempol itu.
Hiro berjalan pulang sambil menahan kesedihan, dia berjanji dalam hati, tak akan meninggalkan temannya, dan berjanji kembali akan melindungi temannya meskipun nyawa taruhannya.
-bersambung
__ADS_1