
Siang hari, di kantor kerja Fandi, ruangan Fajrin.
”Hanya itu saja?” Tanya Fajrin.
”Iya,” jawab Fandi.
”Kerjakan saja sesuai dengan kesepakatan di awal. Aku tidak ingin perusahaan ku mengalami kerugian, juga tidak ingin kolega ku mengalami kerugian.”
”Baik, Pak,” sahut Fandi.
”Hum. Kalau tidak ada hal lain lagi, aku pergi dulu.” Fajrin beranjak berdiri.
”Tunggu! Pak direktur,” Fandi menahan Fajrin yang hendak meninggalkan tempat duduknya. Fajrin kembali duduk dengan santai.
”Ada apa Pak Fandi? Bukan kah sudah tidak ada urusan kerjaan yang ingin Bapak sampaikan lagi padaku? Mengapa masih mencegah ku untuk pergi?” Fajrin mengubah wajahnya, serius menatap Fandi.
”Em... maaf, Pak! Tapi, tapi, ini bukan mengenai pekerjaan, Pak direktur. Melainkan saya ingin membahas mengenai masalah pribadi dengan Bapak. Tolong berikan waktu Bapak sebentar untuk saya berbicara.” Fandi sedikit gugup melihat tatapan tajam dari Fajrin.
Ingin menolak perjodohan dengan anak mu! Jangan harap! benak Fajrin.
”Perjodohan?” Fajrin langsung menebak isi kepala Fandi.
”Tidak perlu terburu-buru, Pak Fandi! Masih ada dua Minggu untuk kepastian dan penolakan bukanlah hal yang ingin aku dengar!” Tegasnya. Fandi terkejut.
”Tapi...Pak! Saya... Pak direktur, saya tidak tahu apa yang membuat Bapak tertarik dengan putri saya. Kami hanya keluarga sederhana, sedangkan Bapak, Bapak orang terpandang....” Ucapannya terpangkas langsung oleh Fajrin.
”Tidak perlu berbelit-belit dalam berbicara! Aku tekan kan lagi, aku tidak menerima penolakan! Anak Bapak, Fitri Raihana, akan bertunangan dengan ku dua Minggu kedepannya.” Tegas Fajrin lagi.
”Tapi... Pak direktur! Alangkah bagusnya jika Bapak bertemu dulu dengan putri saya. Jika putri saya tertarik dengan Bapak, saya akan menyetujui pertunangan ini. Tapi jika putri saya tidak tertarik...maka...” Fandi tidak melanjutkan ucapannya karena tatapan yang semakin tajam dan mendominasi dari Fajrin, atasannya itu padanya. Fandi menunduk ragu dan gugup.
”Apa kurang jelas untuk mu? Aku! Tidak! Menerima! Penolakan!” Fajrin mempertegas ucapannya. Fandi terdiam.
”Baiklah! Hanya dua pilihan untukmu... terima aku jadi anak mantu mu atau... keluar dari kantor ini!” Ancamnya.
Fandi mendongak, melihat Fajrin, atasannya itu dengan panik. Ia juga tidak percaya jika Fajrin mengancamnya dengan pekerjaan nya kali ini, yang biasanya hanya di ancam di kurangi gaji dan di turunkan jabatannya.
Apa yang harus aku jawab? Jika aku keluar dari pekerjaan ini, kantor mana lagi yang bisa menerimaku? Perusahaan mana lagi yang bisa memanggilku bekerja? Perusahaan ini adalah perusahaan terbesar dan terkemuka, di kota ini, bahkan perusahaan nomor dua yang di akui dalam dunia. Jika di depak dari perusahaan ini, tidak ada perusahaan lain yang akan menerima mantan karyawan yang di depak dari perusahaan ini. benak Fandi.
”Maaf, Pak direktur! Bukannya saya menolak keinginan Bapak. Justru... saya bersyukur dengan niat baik Bapak. Tapi, hal ini pernah saya bicarakan dengan Hana, Hana jatuh sakit karenanya. Mohon....” Ucapan Fandi kembali di pangkas oleh Fajrin.
”Terima atau keluar! Itu saja pilihan mu!” Fajrin berdiri. ”Masih ada dua Minggu, jangan terburu-buru!” Ia berjalan keluar dari ruangannya.
Fandi mendengus kesal. Ia sedang bingung. Posisinya di kantor ini sudah tinggi berikut dengan gajinya.
Jika ia keluar dari perusahaan ini karena di depak, perusahaan manapun tidak akan mau menerimanya. Kalaupun kembali bekerja di sini, tidak lah mungkin!
Bukan hanya itu, jika sudah di depak dan di masukkan dalam daftar merah, anak dan cucunya pun tidak dapat melamar pekerjaan di perusahaan ini maupun di perusahaan lainnya.
”Hah! Apa yang harus ku lakukan?”
Fandi sangat bimbang. Ia terus-menerus menghela nafas. Ia keluar dari ruangan sang direktur tanpa semangat.
Ruangan Fandi.
Fandi duduk merenungi ucapan dari Fajrin, atasan barunya itu.
”Bagaimana kalau langsung datangi saja papanya untuk membicarakan hal ini?” Ide Fandi.
__ADS_1
Tok tok tok! ”Permisi, Pak!” Terdengar suara dari depan pintu ruangan Fandi.
”Masuk!” Fandi mengizinkan orang tersebut untuk masuk.
Fandi melihat pintu ruangannya terbuka. Ia melihat Wati, sekretarisnya melangkah masuk menghampirinya sambil membawa dua file di tangannya.
”Pak, ini file yang akan Bapak bahas dalam rapat besok! Perinciannya semua sudah ada di dalam, data nya juga sudah lengkap. Mohon Bapak koreksi lagi, jika masih menemukan hal yang salah, mohon beritahukan kepada saya.” Wati menaruh dua file di atas meja, di hadapan Fandi.
”Iya, saya akan memeriksanya nanti.”
”Baik, Pak! Pak, sepertinya Bapak tampak lesu hari ini! Apa Bapak kurang sehat?” Tanya Wati, sang sekretaris.
”Tidak! Saya baik-baik saja! Kamu keluarlah! Saya akan memanggil mu jika ada yang harus di ubah.”
”Baiklah! Saya permisi, Pak!” Pamit Wati.
”Hum!”
Wati keluar dari ruangan Fandi. Fandi kembali menyandarkan kepalanya, dan menghela nafas. Lama dalam berdiam, ia pun mulai memeriksa file yang ada di atas mejanya.
*
*
*
Di kota C, di kantor Randi.
”Kamu tidak bersiap-siap? Ini adalah hari ketujuh dari mendiang istri mu, Fitri.” Dito mengingatkan Randi. Randi menggeleng pelan. Wajahnya terlihat lesu.
”Hei...ada apa? Kamu sehat saja 'kan? Ini sudah tujuh hari dari hari kematian Fitri dan kamu masih memancarkan wajah sedih mu. Kenapa? Kepergiannya sangat melukai mu? Bukan kah kamu tidak mencintainya?” Imbuh Jaka. Randi semakin merasa pusing dengan ucapan dua sahabatnya itu.
”Kejam amat Lo, Bro! Santai saja! Lagian... keinginan mu kan sudah tercapai! Perusahaan ini sudah 100% atas namamu.” Ucap Dito.
”Bisa gak kalian berdua gak berisik begini! Aku sedang pusing!” Randi berbicara dengan ketus.
Dito dan Jaka saling pandang. Apakah benar-benar Randi sudah jatuh cinta pada Fitri?
”Apa lagi yang membuat mu pusing? Hum? Kawinan mu dengan Cindy tidak lama lagi di sahkan. Semua aset milik Fitri sudah jatuh ke tangan mu. Apa yang membuat mu tidka senang? Atau....” Dito sengaja menggantung ucapannya. Ia serius melihat Randi.
Randi memicing melihat Dito. Jaka juga melihat Dito, mereka menunggu apa sambungan dari ucapan Dito.
”Jangan-jangan kamu beneran jatuh cinta dengan Fitri dan kehilangannya sangat membuat mu sakit. Iya, kan?” Tebak Dito.
Jaka menaikkan sebelah alisnya melihat Randi. Ia menunggu apa reaksi dari Randi atas ucapan Dito?
”Ya. Aku memang mencintai Fitri... sayangnya... perasaan itu aku menyadarinya setelah kepergiannya.” Randi jujur mengakui perasaannya.
Jaka dan Dito saling pandang, mereka tidak percaya, tebakan Dito ternyata benar!
”Aku merasa menyesal sekarang! Aku tidak pernah menghargainya, padahal dia selalu menghargai ku, menghormati ku. Bayangan dirinya selalu menghantuiku di dalam rumah itu.” Terlihat jelas sekali di mata Randi kalau dia begitu menyesal.
Drrttrt! Drrtrt! Handphone Randi berbunyi. Ia melihat di layar papanya yang sedang menelfon.
”Halo! Pa, ada apa?” Dengan malas Randi mengangkat telfonnya.
”Kamu masih bertanya ada apa?” Andika berbicara pelan. Ia melihat orang-orang yang ada di dalam rumahnya. Semua sudah menunggu suami almarhum Fitri untuk hadir.
__ADS_1
”Randi, ini hari ke tujuh dari almarhum istri mu! Datang dan hadirlah acaranya!”
”Iya, Pa! Sebentar lagi Randi ke sana.” Randi langsung menutup telfonnya, secara sepihak. Ia menghela nafas sambil memejamkan mata.
”Kamu akan pergi?” tanya Jaka. Randi mengangguk.
”Ayo, pergi! Kami akan temani kamu.” Dito telah berdiri. Jaka pun berdiri, Randi ikut berdiri dengan malas.
”Ayo, pergi!” Ajak Randi. Ia keluar dari ruangannya. Jaka dan Dito menyusul di belakangnya.
*
*
*
Di rumah Andika.
”Kemana anak ini? Kenapa belum datang juga?” Gerutu Andika dengan pelan. Ia begitu risau, Randi belum juga datang. Sementara acara sudah mau di mulai. Acaranya tidak akan di mulai sebelum suami almarhum datang.
Dan bukan hanya itu, yang membuatnya semakin resah adalah gosip-gosip yang di dengarnya dari para ibu-ibu majelis, yang hadiri acara itu.
Deru mobil berhenti di depan rumah. Andika segera berdiri dan keluar menyambut datangnya Randi.
”Randi! Cepatlah masuk ke dalam! Mereka telah menunggu mu dari tadi.” Andika menarik pelan tangan Randi.
”Iya, Pa. Pelan-pelan saja! Ini Randi juga sudah datang.” Sahut Randi dengan malas.
”Assalamu 'alaikum!” Randi memberi salam sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Dito, Jaka, dan Andika juga masuk ke dalam rumah.
”Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!” Sambut semua orang yang ada di dalam rumah. Randi bersalaman dengan pak imam.
”Maaf, Pak kyai, saya datang terlambat. Ada urusan kantor yang tidak bisa di tunda.” Randi berkata bohong, jika bukan paksaan dari papanya, ia tidak akan datang. Ia duduk di samping pak imam tersebut.
”Gak apa-apa! Yang penting kamu sudah datang! Sekarang kita sudah bisa memulai acaranya.”
”Iya, Pak kyai, silahkan!” Randi mempersilahkan. Pak kyai pun memulai acaranya.
Randi termenung, melihat foto pernikahan Fitri dan dirinya, yang masih tergantung di dinding.
Sikap lembut Fitri, perhatian Fitri, kasih sayang Fitri padanya terbayang lagi di pelupuk matanya.
Fitri...Mas menyesal! Mas benar-benar menyesal! Setelah kepergian mu, Mas baru menyadari, Mas mencintai mu, Fit. Mas minta maaf, sudah mengabaikan mu selama sepuluh bulan ini. Mas menyesal, Fit!
Tak sadar air matanya mengalir. Dito dan Jaka tercengang melihatnya. Mereka tidak pernah melihat Randi sesedih ini sebelumnya.
Waktu dia putus dengan Cindy pun, ia tidak sesedih ini. Randi benar-benar mencintai Fitri.
Seandainya, kamu hadir kembali. Mas akan memperhatikan mu setiap hari. Mas gak akan menduakan kamu. Mas akan mengganti semua perlakuan buruk Mas dengan kasih sayang untuk mu.
Tangis Randi pecah saat pak kyai membaca doa untuk almarhum Fitri.
Membuat orang-orang yang ada di sana ikut bersedih. Bahkan Dito dan Jaka pun tidak percaya melihat itu.
”Ternyata pak Randi sangat mencintai istrinya, ya! Rumor yang beredar tentang perselingkuhan Randi, tidak benar!”
”Iya, pak Randi saja begitu terpukul dengan kepergian almarhum! Lihat lah, pak Randi menangis seperti itu! Mana mungkin pak Randi tidak mencintai almarhum!”
__ADS_1
”Iya, benar!”
Bisik-bisik para ibu-ibu yang hadiri acara ke tujuh hari nya almarhum Fitri.