Fitri Raihana

Fitri Raihana
epos 15


__ADS_3

Di kota P, sore hari di taman bunga Fatma.


Fitri duduk bersandar di bahu Ardi, kakaknya, di pinggir danau buatan. Mereka menikmati suasana sore yang indah dna sejuk. Fatma mendekati kedua anaknya itu. Ia duduk di samping Fitri.


”Anak Mama lagi ngapain di sini?”


”Gak lagi ngapa-ngapain, Ma. Hanya lihatin danau buatan ini... Mama sangat cemerlang, mempunyai ide untuk merancang danau buatan di taman bunga.” Ardi yang menjawab pertanyaan Fatma.


”Iya, Mama is the best!” Sambung Fitri.


Ibu ku di kehidupan ku dulu, juga is the best! Ibu ku selalu bisa membantu papa dalam membangun perusahaan yang di kembangkan papa. Setiap ada masalah, papa selalu di buat tenang oleh ibu. Dan ibu selalu mempunyai solusi memperbaiki masalah.


Begitu juga saat aku mempunyai masalah, ibu ku selalu di depan, membantu ku. Sayangnya, ibu pergi begitu cepat. Penyakit yang ibu derita sudah menyebar di seluruh organ dalam ibu. Meski ibu kesakitan karena penyakit di deritanya, ibu meninggal dengan tersenyum, di pelukan papa dan aku. benak Fitri.


Fatma tersenyum di puji sama kedua anaknya tersebut. ”Hana, boleh Mama bertanya sesuatu padamu?” Fatma melihat Fitri sebentar, lalu, beralih melihat danau di depannya itu.


Mama ingin bertanya tentang apa? Apa mungkin ini berkaitan dengan kata maaf papa? Mungkinkah masih perjodohan? Terka Fitri dalam hati.


”Boleh! Mama ku sayang ingin bertanya apa?”


”Apa...kamu sudah punya pacar?” Fatma bertanya dengan berhati-hati. Ia tidak ingin anaknya itu terkejut karena pertanyaannya. Fitri menegakkan kepalanya, melihat Fatma.


Ini adalah pertanyaan pancingan yang akan mengarah pada perjodohan. benak Fitri.


”Em... maksud Mama, kamu sudah besar, sudah dewasa. Pacaran, mengagumi, menyukai seorang pria kan hal wajar. Selama ini, Hana gak pernah bercerita pada Mama tentang orang yang istimewa di hati Hana. Ataupun bercerita tentang seorang pria yang mendekati Hana. Sebagai seorang Ibu, Mama juga ingin mendengar anak perempuan nya bercerita padaku tentang hubungan asmaranya. Seperti anak-anak perempuan teman Mama yang selalu bercerita hubungan asmaranya pada orang tuanya.” Wajahnya di buat sedih. Ardi hanya diam mendengarkan, ia tidak ingin ikut campur pembicaraan antara dua wanita.


Fitri menghela nafas. ”Jadi, ceritanya Mama sekarang lagi iri sama teman-temannya Mama? Begitu?”


Fatma mengangguk, mengiyakan. Hana kembali menghela nafas.


”Hana ingin bercerita apa sama Mama? Untuk sekarang, Hana belum menyukai seseorang. Mama tenang saja, Hana pasti akan bercerita pada Mama jika nantinya Hana menemukan seorang pria yang benar-benar mencintai Hana, menghargai Hana, menghormati dan menyayangi Hana sepenuh hatinya.”

__ADS_1


”Apa kamu benar-benar tidak menyukai seseorang sekarang?” Fatma ingin memastikan jika memang Hana tidak sedang menyukai seorang pria.


Ardi sedari tadi hanya menjadi pendengar kedua wanita di sampingnya itu bercerita. Namun, tanpa Fatma dan Fitri sadari, handphone Ardi dalam mode menelfon seseorang.


Ya, Ardi menghubungi papanya yang ada di kota B. Papanya sekarang sedang memperdengarkan percakapan Fatma dan Fitri.


Fitri terdiam. Saat ini aku memang tidak menyukai siapa pun! Aku juga berharap untuk tidak di cintai dan mencintai seseorang. Kisah asmara ku yang kandas di kehidupan lalu, membuat ku trauma untuk membuka hati, menerima cinta seorang pria.


Hana, aku tahu kamu menyukai Zahidin, dosen mu, di kampus. Yang menyukai nya adalah kamu, aku tidak. Maaf kan aku yang tidak bisa mewujudkan cinta mu itu. Ikhlaskan saja Zahidin berbahagia dengan segala kehidupannya. Kamu menyukai Zahidin, belum tentu Zahidin juga menyukai mu. benak Fitri.


”Iya, Ma. Hana mengatakan yang sejujurnya. Hana tidak em... bukan juga tidak, tapi, Hana belum tertarik untuk berpacaran. Sementara, Hana akan berfokus pada kuliah Hana.”


Fatma terdiam. Benarkah anaknya ini tidak tertarik dengan pacaran? Tidak tertarik dengan lawan jenisnya?


”Hana, Mama dulu seumuran kamu, Mama sudah memiliki dua mantan pacar, loh! Masa kamu biar satu pun gak ada! Jangan bohongi Mama, Hana!” Fatma terus memancing Fitri agar jujur tentang perasaannya. Fitri terdiam.


Mama hari ini selalu membahas tentang pacaran, tunangan, bermesraan. Sebenarnya, Mama ingin mengatakan apa? Saat makan siang juga, Mama menyinggung masalah pacaran. Apa mau Mama sebenarnya? benaknya.


Fatma menghela nafas. ”Baiklah! Mama langsung saja katakan. Bagaimana pendapatmu tentang Fajrin?”


”Fajrin? Mama, Hana belum pernah bertemu dia, melihat dia, dan bagaimana dia! Namun, Hana tidak penasaran dengan sosok dia. Dan, Hana tidak mau di jodohkan dengan dia! Hana ingin kuliah, belajar baik-baik, dan mencari pekerjaan untuk menyambung hidup Hana kedepannya.” Terang Fitri.


”Hana, kakak belum pernah melihat dia, temperamen nya seperti apa, kakak juga tidak tahu. Tapi, menurut kakak, dia pasti orang yang bertanggung jawab, karena dia mampu menanggung beban di sebuah perusahaan besar. Bukankah dia pria hebat?” Ardi mencoba membujuk Hana sekaligus memuji Fajrin.


”Mama dan kakak begitu menyukai Fajrin, ya!”


Ardi dan Fatma terdiam. Tidak menanggapi pertanyaan Fitri.


”Kakak, Ma, Hana tidak menyukainya! Apapun yang Mama dan kakak katakan tentang Fajrin, tidak akan merubah pendirian Hana. Hana tidak akan bertunangan dengan Fajrin.” Tegas Fitri.


”Bagaimana jika Fajrin tetap ingin bertunangan dengan kamu? Dan dia akan memaksa papa, Mama untuk menerimanya sebagai mantu di keluarga kita?” tanya Ardi.

__ADS_1


Fitri terdiam sesaat sebelum akhirnya ia berkata, ”Um.... kalau begitu, biarkan Fajrin datang ke rumah untuk bertunangan dengan kakak Ardi.” Di ujung ucapannya ia tertawa geli.


Ardi melongo. ”Hana!” Ia mencubit gemas pipi Fitri. ”Beraninya kamu berpikir kakak akan bertunangan dengan pria! Apa kakak mu ini homo?”


Fatma mengulum senyum. Di sela pembicaraan mereka yang serius, Fitri malah bercanda dengan santainya.


”Hahahaha! Kakak dengan dia pasti cocok!” Tangan Fitri menepis tangan Ardi yang masih melekat di pipinya. Ia berhenti tertawa, raut wajahnya berubah menjadi serius.


”Hana tidak akan bertunangan dengan dia.” Sekali lagi Fitri menegaskan keputusannya.


”Bagaimana kalau pekerjaan papa di jadikan ancaman Fajrin agar kamu bertunangan dengan dia?” Kini Fatma yang bertanya.


Mata Fitri memicing melihat Fatma. Ia kembali teringat dengan percakapan mereka waktu itu. Papanya pernah mengatakan jika Fajrin mengancamnya jika tidak menerima pertunangan.


”Jadi, benar dia mengancam papa dengan pekerjaan papa? Mama, bukankah lelaki seperti itu tidak layak untuk jadi menantu Mama dan papa, kan? Baru begini saja sudah berani mengancam, bagaimana kalau setelah Hana bertunangan, atau menikah dengan dia? Apa Mama mau Hana meninggal karena tekanan batin di siksa, di paksa sama dia?”


Fatma menggeleng.


”Jika dia mengancam papa, memecat papa dari pekerjaan papa, biarkan saja! Masih banyak perusahaan lain yang membutuhkan karyawan. Kalau pun dia mencegah perusahaan lain atau kantor lain untuk menerima papa bekerja, kita buka usaha sendiri saja. Mama punya banyak tanaman bunga, kita bisa buka ini sebagai tempat wisata, misalnya. Di setiap pengunjung yang masuk harus membayar dulu. Dan bunga-bunga Mama bisa kita jual, kita bangun toko bunga. Kita harus hidup dengan cara kita, bukan karena cara orang lain.” Imbuhnya.


Fatma mengelus pundak anak perempuan nya itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa untuk menyahuti ataupun menanggapi ucapan anaknya itu. Apa yang di ucapkan Hana adalah benar.


Ardi mematikan sambungan telpon nya dan memasukkan hape ke dalam saku celananya. Ia meraih kepala Hana dan menyandarkannya ke bahu kirinya.


Ia membelai lembut kepala Hana dan berkata, ”Kakak tidak menyangka kalau adiknya kakak ini sudah berpikiran dewasa.”


Fitri tersenyum.”Terima kasih, kakak! Pikiran dewasa kakak lah yang menurun di kepala Hana.”


”Kamu ini, bisa saja!” sahut Ardi. Mereka tertawa bersama.


Merasakan kembali kasih sayang dari sebuah keluarga sungguh sangat indah. Aku akan menjalani hidup ku baik-baik dalam keluarga ini. Setelah aku lulus kuliah, aku ingin pergi ke kota C untuk mengambil kembali milik ku. benak Fitri.

__ADS_1


__ADS_2