Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 54


__ADS_3

Di kampus.


”Kakak, terima kasih, sudah mengantar Hana. Nanti Hana telfon kakak kalau sudah waktunya pulang.” ucap Fitri.


”Iya. Hana, jangan godain kakak ipar mu, ya. Nanti dia malu kalau kamu godain terus.” nasehat Ardi pada adiknya.


Fitri tersenyum. ”Oh, sudah di akui nih? Kirain masih seperti kacang yang sembunyi pada kulitnya. Yah, gak apa-apa kali... sesekali godain dia, kan?”


”Hana...”


”Iya, gak. Udah, kakak pergi sana. Hana mau masuk dulu.” Fitri melangkah masuk ke dalam kampus.


Ardi menyalakan motor dan pergi dari kampus setelah ia mengirimkan chat pada Alin berpamitan pulang.


*


*


Di dalam kampus.


Alin, Nita, dan Alvin menyambut datangnya Fitri dengan sangat gembira. Membuat Fitri tidak bisa menahan diri untuk bertanya, ”Ada apa dengan kalian semua? Kok, bahagia sekali? Apakah ada sesuatu yang sangat membahagiakan?”


”Tentu saja. Hana, kamu tahu gak? Si pengganggu mu, Zulfa dan Hasan... sekarang sudah tidak ada lagi di kampus ini.” ucap Nita.


”Masa sih!” Fitri berpura-pura tidak tahu hal apapun, yang sebenarnya dia sangat tahu hal itu.


”Iya, Hasan dan Zulfa sudah tidak kuliah di sini lagi. Dia sudah pindah, entah pindah kemana? Yang intinya, si pembuat onar sudah tidak ada di kampus ini lagi.” ucap Alin.


”Apa kalian tahu alasan dia pindah, apa? Aku sangat kasian loh sama Zulfa. Kita kuliah sudah di semester akhir, dan tinggal beberapa bulan lagi kita akan lulus. Bukankah itu sia-sia saja usaha belajarnya selama ini?” ucap Fitri, ia menarik kursinya dan duduk.


”Kamu ada benarnya, Hana. Memang sih... terlihat kasihan sama kuliah Zulfa. Tapi... mau bilang apa lagi kalau mereka sudah pindah? Lagi pula... saham ayahnya di kampus ini sudah dia serahkan pada pak Fajrin. Aku sih, biarlah dia pergi dari kampus ini... biar kampus aman dari keributan ulah Hasan dan Zulfa.” sahut Alvin.


Fitri menunduk menatap meja.


Rupanya dia benar-benar sudah mengambil saham milik keluarga Zulfa. Dan dia mengeluarkan Zulfa dari kampus. Kemudian mengirim mereka keluar negeri. Untuk apa? Apakah dia takut jika Zulfa hamil dan orang-orang tahu jika itu anaknya? Jadi... dia mengasingkan Zulfa dan keluarganya di luar negeri? Dan dia sendiri yang akan bolak balik menengok Zulfa dan bayinya nanti?


Sementara Hasan adalah kakaknya Zulfa. Apakah dia sengaja membawa Hasan ke luar negeri untuk melindungi Hasan dari jeratan hukum? Apakah itu usulan dari Zulfa?


Zahidin Mufajrin... kamu benar-benar tidak punya hati... Kamu bilang mencintai ku, tapi kamu mengabaikan kehormatan ku. Meskipun kamu sudah dengan Zulfa, biarkan Hasan mempertanggung jawabkan perbuatannya padaku. benak Fitri. Ia menghela nafas.


”Kamu kenapa Hana? Sedang memikirkan apa, sampai-sampai menghela nafas kasar begitu?” tanya Alin.


”Ah, aku tidak apa-apa, hanya kasihan saja pada kuliah Zulfa, kakak ipar,” jawabnya.


”Apa? Kakak ipar?” tanya Alvin dan Nita yang terkejut. Mereka berdua melihat Alin dan bertanya, ”Sejak kapan?”


Alin menunduk malu.


Fitri tersenyum, ”Tidak usah malu-malu, kakak ipar. Aku setuju kok jadi adik ipar mu. Bukan kah itu hal bagus? Temanku adalah kakak ipar ku.”


”Hum, sejak kapan kamu tahu aku dan kakak mu memiliki hubungan? Setahuku... kakak mu tidak pernah memberitahukan hubungan kami sama kamu dan orang tuamu. Lalu, kamu tahu dari mana?” tanya Alin, ia penasaran darimana Fitri tahu hubungan Ardi dan dirinya.

__ADS_1


”Dia kakak ku, Alin. Tentu saja aku tahu... eh, ngomong-ngomong... dosen datang mengajar gak sih?”


”Iya ya, dosen akan datang gak sih? Ini sudah jam sembilan lewat sepuluh.” sambung Alvin yang melihat jam tangannya.


”Bagus lagi kalau tidak ada. Eh, ngomong-ngomong... kalian pilih magang atau KKN?” tanya Nita pada ketiga temannya.


”Aku milih magang.” jawab Fitri.


”Aku juga magang.” jawab Alvin.


”Aku juga magang.” jawan Alin.


”Wah, jadi semuanya milih magang nih? Kalian magang di mana?” tanya Nita lagi.


”Ada deh... rahasia dong!” jawab Fitri.


”Kalau aku akan magang di perusahaan Wisma Grub.” jawab Nita dan Alvin bersamaan.


”Wah, bagus kalau kalian satu perusahaan... itu perusahaan besar di kota ini ya? Eh, iya... memang perusahaan besar, papaku kan kerja di perusahaan tersebut.” ucap Fitri.


”Iya, memang perusahaan terbesar. Bukan kah bagus kalau bisa di terima magang di sana? Kalau hasil kerja bagus, setelah lulus kuliah bisa-bisa menjadi pekerja aktif di sana, yang di panggil langsung dari perusahaan.” jelas Alvin.


”Kalau kamu mau magang di mana, kakak ipar? Apakah di perusahaan yang di sebelah jalan kampus kita ini?” tanya Fitri pada Alin sambil menyenggol lengan Alin. Ia sengaja menggoda Alin.


”Aku ikut kamu aja deh. Kamu magang di mana... aku akan magang di situ. Biar kamu ada temannya di perusahaan tersebut.” jawab Alin.


”Gak, aku tidak perlu di temani. Aku sudah mendaftarkan formulir magang ku di salah satu perusahaan. Siang ini adalah jawaban di terima atau tidaknya aku magang di perusahaan tersebut.” ucap Fitri.


”Selamat pagi semua!” terdengar suara dan langkah kaki seorang pria yang masuk ke dalam kelas. Semua murid terdiam dan kembali di tempatnya masing-masing.


Fitri langsung mendongak melihat pria itu dengan bingung.


Bukankah pria ini tidak ada jadwal mengajarnya hari ini? Kenapa dia tiba-tiba masuk ke kelas ini? Seharusnya hari ini yang memberikan materi adalah dosen Hilya, kenapa jadi dia? benak Fitri. Ia menundukkan pandangan ketika Zahidin melihatnya.


”Selamat pagi, Pak!” sahut semuanya. Setelah menjawab sahutan, mereka semua terdiam. Terakhir kali saat mereka tidak memperhatikan dosen tersebut mengajar. Hukumannya lumayan menguras tenaga dan fisik.


”Kalian semua pasti bingung dan bertanya-tanya, kenapa saya yang berada di hadapan kalian... bukan dosen Hilya ya, kan?” tanya Zahidin melihat semua anak muridnya.


”Iya, Pak!” jawab semuanya, kecuali Fitri. Wanita itu memasang wajah kusut dan menunduk. Zahidin memperhatikannya.


”Dosen Hilya berhalangan hadir di hari ini... jadi, dari pihak kampus menelfon ku untuk menggantikannya mengajar.” jelas Zahidin.


”Fitri Raihana, apa kamu ada masalah? Jika ada masalah... keluarlah dari kelas. Pikirkan masalah mu di luar kelas ini. Jika tidak ada masalah, lihat ke depan. Perhatikan dosen mu saat berbicara.” tegur Zahidin dengan tegas.


Fitri menghela nafas. ”Tidak ada, Pak. Silahkan Bapak lanjutkan saja. Meskipun saya menunduk, saya mendengarkan apa yang Bapak ucapan kan,” ucapnya tanpa melihat lawan bicaranya.


Zahidin merasa tidak senang dengan perilaku dan cara bicara Fitri padanya. Ia menatap wanita itu dan berkata, ”Fitri Raihana, kamu majulah ke depan dan jelaskan materi yang sudah Bapak lingkari pada teman-teman mu.”


”Apa, Pak?” Fitri melihat Zahidin dengan terkejut.


”Maju ke depan dan jelaskan materi pada temanmu.” ucap Zahidin sambil berjalan ke tempat duduk Fitri. Ia menaruh meja di atas meja Fitri. Fitri melihat buku tersebut dengan bingung. ”Ada pertanyaan?”

__ADS_1


”Pak, di sini saya adalah muridnya. Bapak adalah dosennya. Tugas ini adalah tugasnya Bapak, bagaimana saya akan berbuat lancang untuk maju ke depan menjelaskan ini pada teman-teman? Saya sendiri tidak tahu ingin menjelaskan apa.” ucap Fitri menatap buku di hadapannya.


”Saya tidak menerima alasan apapun! Berdiri dan jelaskan di depan, sekarang!” titah Zahidin.


Hei, Hana, si pemilik tubuh ini. Lihatlah pria yang kamu cintai ini. Apakah pria seperti ini pantas untuk kamu cintai? Galak, gak punya hati nurani, arogan, mesum. Apa yang kamu sukai dari pria ini? Apakah wajahnya yang tampan? Cih, modal tampang. benak Fitri.


Fitri menghela nafas. ”Baik, Pak!” Fitri mengambil buku tersebut dan beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah maju ke depan kelas. Zahidin duduk di bangku Fitri.


Fitri berdiri menghadap teman-temannya. Zahidin memandang Fitri dengan serius. Fitri selalu menghindari untuk berpandangan dengan Zahidin. Dan itu membuat Zahidin sangat tidak senang.


”Teman-teman... materi hari ini tentang..... ... ...” Fitri mulai menerangkan tentang materi yang sudah di lingkari sebelumnya oleh Zahidin. Teman-temannya mendengarkan dengan serius. Begitu juga dengan Zahidin. Dia memperhatikan Fitri dengan kagum.


Kecerdasan Hana sama persis dengan ayah dan kakaknya. Mereka semua pantas untuk bekerja di perusahaan besar yang ternama, seperti perusahaan ku. Tapi... mempekerjakan Hana di perusahaan ku tidak tepat. Karena Hana adalah si pemilik perusahaan ku, karena dia adalah calon istriku. Aku akan mengundang dia untuk magang di perusahaan ku. benak Zahidin.


”... ... jadi, seperti itulah penjelasan dari materi hari ini. Apakah masih ada yang kurang jelas? Atau ada yang ingin bertanya” ucap Fitri. Ia telah selesai menerangkan materinya dengan baik dan tepat.


”Tidak ada, semuanya sudah jelas. Kamu menjelaskan dengan sangat baik dan semuanya dapat di mengerti.” ucap Alvin.


”Iya, aku juga sudah mengerti.” ucap siswa di belakang Zahidin.


”Terima kasih.” sahut Fitri. Ia melihat Zahidin sebentar. Pria itu masih duduk dengan tenang di bangkunya bersandar dan berlipat tangan melihat dirinya.


”Baiklah, kalau memang semuanya sudah di mengerti dengan jelas. Pada pertemuan selanjutnya kalian pasti sudah siap untuk melakukan ulangan. Sekarang, saatnya untuk pulang.” ucap Zahidin.


”Baik, Pak.” sahut semuanya. Mereka merapikan kembali materinya dan bergegas keluar dari kelas.


Fitri melangkah kembali ke bangkunya. Ia menaruh buku di atas meja dan mengambil tasnya, tanpa melihat Zahidin.


Zahidin menangkap tangan Fitri yang hendak melangkah. Fitri berbalik dan melihat tangannya, kemudian dia melihat Zahidin. Fitri melihat ke seluruh ruangan. Masih ada beberapa orang yang tersisa dalam kelas itu.


”Maaf, Pak. Bisa lepaskan tangan ku?” ucap Fitri dengan sopan.


Zahidin tidak menjawab, ia hanya menatap Fitri dengan tajam dan marah. Fitri melihat beberapa orang itu sudah keluar dari kelas. Kini hanya ada dia dan Zahidin saja di kelas tersebut.


Fitri menarik tangannya dengan kuat, namun, genggaman tangan Zahidin juga semakin erat. Jadi, tidak memungkinkan Fitri untuk melepaskan tangannya dari genggaman Zahidin.


”Lepaskan tangan ku!” bentak Fitri.


”Ingin ku lepaskan? Duduk! Kita perlu bicara.”


”Tidak ada yang harus di bicarakan di antara kita... Pak Zahidin Mufajrin yang terhormat. Jadi, lepaskan tangan ku! Sebelum aku berteriak meminta tolong,” ancamnya.


”Kamu mengancam ku?”


”Hana... kamu di sini?” terdengar suara Ardi dari depan pintu kelas.


Fitri merasakan genggaman tangan Fajrin sedikit longgar. Ia segera menarik tangannya dan berlari ke arah Ardi. ”Iya, kak. Aku di sini. Ayo pulang kak.” ajak Fitri.


”Iya, ayo pulang.” sahut Ardi sambil menatap marah pada Zahidin. Ia membalikkan badan ketika Fitri menarik tangannya untuk pergi. Mereka pergi dari kelas itu.


Apa kalian pikir aku takut dengan kalian? Aku hanya mencoba tidak berbuat kasar pada kalian. benak Zahidin. Ia menghela nafas kasar.

__ADS_1


__ADS_2