
Di rumah Fitri.
Fitri sedang membersihkan kamarnya. Ia juga mencuci pakaian kotor. Setelah selesai membersihkan kamarnya, ia membersihkan ruang keluarga, ruang tengah, hingga dapur.
Barang-barang yang sudah tidak terpakai, ia buang di tong sampah. Setelah selesai membersihkan semuanya, ia beristirahat di ruang keluarga sambil menonton tv.
Tok tok tok! Terdengar suara ketukan di pintu. Fitri melihat jam dinding dengan bingung. Jam-nya menunjukkan pukul 10 : 00 pagi, masih terlalu awal untuk Randi pulang kerja.
Tok tok tok! Suara ketukan kembali terdengar. Kelihatannya orang itu tidak sabar, ketukannya begitu kasar.
Fitri berdiri dan melihat keluar dari jendela rumah. Matanya membulat melihat Cindy di depan pintu rumahnya.
Cindy? Buat apa dia mendatangi ku? benaknya.
Tok tok tok! Fitri melihat Cindy kembali mengetuk pintu, wajahnya begitu kesal.
Fitri mengambil handphone dari saku celananya. Ia mengetik dengan cepat di depan layarnya itu.
”Mas! Apa Mas yang menyuruh Cindy datang ke rumah ku?”
Namun, ia melihat jika Randi belum membaca pesannya. Ia kembali menyimpan hapenya di saku celana.
Fitri membuka pintu setelah terdengar lagi ketukan dari luar.
”Mau apa kamu datang ke sini?” tanya Fitri dengan ketus.
Cindy menggeser tubuh Fitri dari depan pintu dan melenggang masuk ke dalam rumah. Ia langsung duduk di kursi, di ruang depan.
Fitri menutup pintu rumah dan menyusul Cindy masuk di dalam. Ia berdiri di depan Cindy dengan marah.
”Apa perlu mu datang kesini? Mas Randi tidak ada di rumah. Sebaiknya kamu pulang saja!”
Cindy menyeringai, ”Aku tahu Randi ada di kantor sekarang. Tujuan ku kesini untuk membuat perhitungan dengan mu. Duduk!”
”Apa yang ingin kamu bicarakan?” Fitri duduk mengikuti kemauan sang tamu.
Cindy mengeluarkan kertas dari tasnya. ”Ambil dan bacalah!” Ia memberikan kertas itu pada Fitri.
Fitri mengambil kertas tersebut. Matanya berkaca-kaca membaca tulisan di kertas itu.
”Tidak! Itu tidak mungkin! Mas Randi tidak mungkin melakukan ini padaku!” Ia tidak percaya dengan apa yang baru dia baca itu.
”Kamu percaya atau tidak...itu adalah benar! Saham yang atas nama Randi sekarang beralih menjadi Na ma ku, Cindy. Dia begitu mencintai ku, apapun dia akan lakukan itu untuk diriku.” Cindy menjelaskan dengan begitu tenang.
”Kapan? Kapan Mas Randi mengubah peralihan ini?” Fitri menahan tangis. Ia masih tidak percaya dengan keaslian surat itu, meskipun tandatangan Randi tertera di sana.
”Satu bulan yang lalu,” senyum Cindy mengambang di kedua sudut bibirnya, mengejek ketidaktahuan Fitri.
”Apa? Sa__satu bulan yang lalu...” Lirih saat Fitri mengucapkan kata itu, air matanya juga mengalir membasahi pipinya.
Mengapa Mas? Mengapa Mas selalu membohongi ku? Semalam, semalam Mas baru menandatangani surat pemisahan aset. Tapi ternyata... mas sudah mengalihkan saham ayahku pada selingkuhan Mas! Mas tega!! benaknya.
Cindy tersenyum penuh kemenangan. ”Kenapa? Kecewa? Ternyata saham yang ayahmu kasih untuk Randi sekarang menjadi milikku?” Ia tertawa, ”Aku istrinya yang dia cintai, miliknya adalah milikku juga. Oh, satu hal lagi...dia sangat-sangat tidak menginginkan kehadiran kamu dan anak yang ada di perut mu itu dalam kehidupannya,” bisiknya pada telinga Fitri.
Fitri menggeleng, ”Tidak! Mas Randi mencintai ku...dia juga menginginkan anaknya. Kamu jangan memfitnah mas Randi di hadapan ku....” Ia membela Randi.
”Gugatan cerai! Dan dia menyuruh mu menggugurkan kandungan mu sejak awal... apakah itu belum cukup untuk membuktikan jika Randi tidak peduli padamu juga kandungan mu?” Cindy memberikan alasan yang tepat untuk menguatkan bahwa perkataannya itu benar.
__ADS_1
”Tidak! Itu tidak benar!” Fitri tetap percaya dengan keyakinannya kalau Randi menginginkan dia dan anaknya.
Cindy tertawa mengejek Fitri sambil mengeluarkan handphone dari dalam tasnya. Ia memperdengarkan rekaman suara Randi untuk Fitri. Rekaman yang ia rekam sewaktu berbicara dengan Randi saat berada di kantor Randi.
Di situ terdengar jelas suara Randi yang mengatakan jika Randi tidak menginginkan Fitri dan bayi yang di kandungnya kepada Cindy. Randi juga mengatakan jika dia tidak pernah mencintai Fitri.
Air mata Fitri mengalir keluar membasahi kedua pipinya. Jika saja itu hanya ucapan Cindy, ia tidak akan mempercayainya karena Cindy hanya cemburu padanya dan mencari cara agar Randi dan dirinya berpisah. Tapi...rekaman suara Randi sangat jelas mengatakan hal itu di hadapan Cindy.
Betapa sakitnya hati Fitri mendengar suara rekaman Randi. Randi tidak pernah mencintainya. Bahkan anaknya, darah dagingnya sendiri, ia tidak menginginkannya. Randi juga tidak ingin memiliki ikatan apapun dengannya.
”Sudah dengar?” Cindy kembali tersenyum mengejek Fitri. ” Kalian berdua tidak di inginkan oleh Randi. Sebaiknya...kalian berdua pergi saja dengan tenang dari hidup Randi. Kamu tahu... sudah lama Randi ingin menyingkirkan mu. Tapi, ia mempertahankan kamu demi mendapatkan semua hartamu,” bisiknya lagi pada Fitri.
Fitri menatap lantai dengan tatapan kosong. Kerongkongan nya serasa kering. Air mata terus membasahi pipi. Ia tidak menyangka, suaminya, yang sangat ia cintai dengan begitu besar menorehkan luka untuknya.
Suami yang ia nikahi selama sepuluh bulan ini, suami yang begitu ia cintai, yang dia selalu memaafkan jika suaminya melakukan salah. Tapi apa yang ia dapat? Balasan cinta dari Randi? Ia tidak mendapatkan itu, bahkan Randi tidak menginginkan dia dan anaknya. Yang Randi inginkan hanyalah hartanya. Dada Fitri seakan sesak memikirkan itu.
Brak!! Terdengar suara pintu yang terbuka dengan keras.
”Fitri...!” Terdengar teriak Randi sambil melangkah berjalan masuk ke dalam rumah.
Cindy terkejut mendengar suara pintu yang terbuka keras, juga mendengar suara Randi yang memanggil Fitri.
”Fitri! Kamu di mana?” Randi sangat khawatir pada Fitri ketika ia membaca pesan dari Fitri. Ia buru-buru berangkat dari kantor ke rumah Fitri.
Randi semakin khawatir melihat tatapan kosong Fitri yang melihat ke lantai, suaranya juga tidak di dengar oleh Fitri.
”Randi!” ucap Cindy.
”Cin__Cindy? Buat apa kamu datang kesini?” Randi mendekati Fitri. Ia memegang kedua bahu Fitri yang terbengong melihat lantai.
”Apa yang kamu lakukan pada Fitri?” tanya Randi pada Cindy.
”Cindy! Argh!” Teriak Randi frustasi. Ia mengabaikan Cindy.
Randi menggoyangkan bahu Fitri sambil berkata, ”Hei...Fit__Fitri! Kamu mendengarkan Mas? Fit, bicaralah Fit. Lihat Mas, Fit...” Ia khawatir Fitri hanya terbengong menatap lantai, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
”Fitri...!” Randi berteriak keras di hadapan Fitri. Fitri tiba-tiba pingsan di depan Randi.
”Fitri!” Randi semakin khawatir. Ia membaringkan tubuh Fitri dengan baik di sofa. Ia mengambil minyak kayu putih di dalam laci meja televisi. Cindy cemburu melihat kekhawatiran Randi pada Fitri.
”Fit, bangun Fit...” Randi menggosok-gosok telapak tangan, telapak kaki Fitri dengan minyak kayu putih. Ia juga mengoles minyak kayu putih itu pada hidung Fitri sambil terus berusaha membangunkan wanita itu.
Randi melihat Cindy. ”Kamu keterlaluan Cindy! Kamu dan dia sama-sama hamil. Kamu kayak gak tahu saja emosi wanita hamil itu seperti apa,” ucapnya marah.
”Sudahlah Randi! Dia juga cuma pingsan saja. Kenapa kamu jadi emosi dengan aku?” Cindy tidak terima di teriaki oleh Randi hanya gara-gara Fitri, saingan cintanya.
”Cindy! ...” Ia tidak melanjutkan ucapannya. Ia tidak ingin beradu mulut dengan Cindy. Yang terpenting sekarang adalah menyadarkan Fitri.
”Ambilkan aku segelas air,” titahnya pada Cindy.
Dengan enggan Cindy pergi ke dapur mengambil air untuk Randi. Ia tersenyum licik memasukkan racun ke dalam air itu. Racun yang tidak berbau dan tidak berwarna.
Cindy kembali ke depan dengan membawa segelas air. ”Ini!” Ia memberikan gelas itu pada Randi.
Randi mengambilnya, menuangkan air pada telapak tangannya dan memercikkan air itu pada wajah Fitri.
”Fitri! Bangun Fit!” Ia masih berusaha membangunkan Fitri. Perlahan Fitri membuka matanya. Randi menghela nafas lega. Cindy menjadi kesal.
__ADS_1
”Fit, akhirnya kamu sudah sadar?” Randi memeluk tubuh Fitri. Ia juga senang tidak terjadi apa-apa pada Fitri, wanita yang sudah mengisi hatinya itu.
”Mas...” Fitri memegang kepalanya yang terasa pusing.
”Kamu kenapa? Kepalamu sakit?” Randi membantu mendudukkan Fitri. ”Minum dulu Fit.” Ia menyuapi Fitri minum. Fitri meminumnya.
Cindy tersenyum licik. Minumlah sampai habis! Kamu dan anak mu istirahat lah dengan baik-baik! benaknya.
Mata Fitri terbelalak merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya saat meminum air itu. Kerongkongan nya terasa tercekat, kepalanya semakin sakit, ia merasa mual, gelisah, dan sesak nafas.
Ia menjauhkan gelas itu dari mulutnya dengan keras hingga gelas itu jatuh ke lantai dari tangan Randi. Membuat Randi menjadi heran.
”Fit...” Ia sangat bingung melihat reaksi Fitri yang tiba-tiba mencengkeram erat bajunya.
”Ma__Mas! Ka__kamu...kamu benar-benar i__ingin a__ku dan anakku ma__mati Mas!” Ucap Fitri terbata-bata.
Ia tidak menduga Randi tega meracuni dirinya. Sebegitu tidak inginnya Randi memiliki hubungan dengan dirinya hingga Randi tega mencelakai dirinya.
Randi menjadi bingung. ”A__apa maksud mu? Fit! Jangan kamu menakuti Mas! Fitri...!” Ia ketakutan Fitri mulai kehilangan kesadaran.
”Kamu... mem__mem__membunuhku dan a__anakku... Mas!” Tubuh Fitri menjadi sangat lemah dan lemas.
”Apa?” Randi semakin tidak mengerti maksud ucapan Fitri. Perlahan mata Fitri mulai terpejam. Randi mulai panik dan khawatir.
”Fitri! Bangun Fit! Jangan menakuti Mas, Fit! Apa maksud kamu, Fit! Jelaskan pada Mas! Fit! Bangun!” Randi mencoba membangunkan Fitri.
Namun, Fitri tidak kunjung bangun. Ia memeriksa nafas Fitri, ia juga memeriksa denyut nadi Fitri. Nafas dan denyut nadinya tidak terdeteksi lagi.
Jangan-jangan... jangan-jangan air itu... Cindy menaruh racun di air yang di minum Fitri. benak Randi. Nafas Randi seakan ikut hilang.
Ia melihat gelas yang pecah di lantai, ia beralih melihat Cindy sambil bertanya, ”Apa yang kamu campurkan di minuman itu? Jawab aku, Cindy!”
Cindy berdecak malas. Ia bahkan duduk dengan santai di kursi seperti tidak melakukan salah apa-apa.
”Randi, sudahlah! Sekarang kamu sudah bebas menikmati harta Fitri. Dan tidak ada lagi penghalang untuk kita bersama. Seharusnya kamu puas dan tenang sekarang, mengapa malah berteriak padaku?”
”Kamu... kamu membunuh dia, Cindy! Aku...aku memang tidak mencintainya. Tidak menginginkan anak yang di kandungnya tapi... aku tidak ingin Fitri mati, Cindy....”
Aku mengatakan itu di hadapan mu hanya untuk menghibur hatimu. Aku tidak menginginkan hal ini terjadi. Aku mencintai Fitri. benak Randi.
”Apa? Kamu mau bilang kamu sudah mencintai Fitri, Randi!?” Cindy menatap Randi dengan marah.
”Bukan begitu__” Randi menghentikan ucapannya. Ia malas untuk berdebat dengan Cindy. Ia memeluk tubuh Fitri dengan penuh penyesalan.
Maafkan Mas, Fitri. Maafkan Mas, Mas tidak menginginkan ini terjadi padamu. Maafkan Mas, Fitri. Kamu pergi seperti ini...Mas merasa bersalah, Fit. Bangun Fit, bangun... Mas tidak membunuh mu...tidak membunuh anak kita. Bangun Fitri! Dengarkan penjelasan Mas! benak Randi. Tak sadar, ia menangis.
”Kamu menangis untuknya?! Kamu menyesal?” Cindy tidak terima melihat Randi yang bersedih hati untuk kematian Fitri.
”Aku malas berdebat dengan mu sekarang! Sekarang kita harus mengurus Fitri. Apa kamu sudah memikirkan perbuatan mu ini sebelum kamu bertindak? Cindy, kamu membuat kita berada dalam masalah.”
Cindy menanggapi ucapan Randi. Yang di katakan Randi memang benar. Di dalam rumah ini hanya mereka bertiga, Fitri meninggal, tersangkanya hanyalah mereka berdua.
”Randi, sekarang kita bawa dia ke rumah sakit. Kita palsukan kematiannya, kita buat pernyataan jika dia sakit parah dan meninggal saat perjalanan ke rumah sakit.” Ucap Cindy, ia mulai ketakutan.
”Kita harus menyogok dokter?”
”Ada sepupu ku yang bekerja di rumah sakit xxx. Kita kesana saja meminta bantuannya. Dia akan membantu kita,” terang Cindy. Randi mengangguk setuju.
__ADS_1
Ia tidak ingin masuk penjara. Ia juga tidak ingin membiarkan Cindy masuk ke penjara, akhirnya ia menyetujui ide Cindy. Mereka membawa mayat Fitri di rumah sakit tempat sepupu Cindy bekerja.