
Di hotel Fazhr.
Zulfa berdiri di ujung tangga lantai 6. Dia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. ”Kurang ajar! Kenapa lantai di sini sangat tinggi-tinggi jaraknya! Membuat ku lelah saja!” gumamnya, kesal.
Dia pergi dari tangga setelah nafasnya kembali normal. Dia mencari Fajrin. Dia melihatnya. Fajrin bersandar di dinding sedang memegang kepalanya sambil memejamkan mata.
Apa reaksi obat sudah seratus persen bekerja? Jika begitu, seharusnya dia akan agresif, kan? Kalau bertemu lawan jenis? benak Zulfa. Dia berjalan mendekati Zahidin.
Kenapa kepalaku semakin pusing! Badan ku juga panas! Hah, nafasku...ada apa ini...! benak Fajrin.
Zulfa memegang Zahidin. ”Zahidin, kamu kenapa?” tanyanya.
Zahidin melihat Zulfa, sekilas dia melihatnya sebagai Fitri. Dia memejamkan mata dan kembali melihat wanita yang memegangnya. ”Hana, kamu di sini.”
Kesadarannya sudah menurun. Dia mengira aku wanita ****** itu. Apa sebenarnya hubungan mereka berdua? Mengapa Zahidin sangat lunak pada wanita itu? benak Zulfa.
”Iya. Aku bawa kamu ke kamar untuk istirahat ya.” tawar Zulfa.
Zahidin mengangguk. Zulfa memapah Zahidin ke kamar yang sudah di persiapkan, sebelumnya.
.. ..
Di tempat Ardi.
”Mbak, bisa minta tolong, gak?” tanya Ardi.
”Iya, ada apa?”
”Tolong bantu aku cek di dalam toilet apakah ada perempuan yang memakai gaun warna merah. Em..ini gambar wajahnya.” Ardi memperlihatkan foto Fitri pada wanita itu.
”Dia siapanya Mas?” tanya wanita itu setelah melihat dan menghafal wajah Fitri.
”Dia adikku. Aku mencarinya untuk mengajaknya kembali pulang. Tetapi, selama aku mencari ke-seluruh ruangan dari lantai bawah sampai atas, gak ketemu. Aku berfikir mungkin saja dia ada di toilet. Dan aku, tidak mungkin bisa masuk ke dalam toilet wanita. Jadi, aku meminta tolong padamu.” jelas Ardi.
Alasan pria ini masuk akal. Dia juga berbicara dengan sopan. Jadi, tidak mungkin dia akan berbohong kalau wanita itu adiknya. Keselamatan para tamu adalah tanggung jawab kami. Huff, hidup sangat berat! benak wanita itu.
”Baik, tunggu di sini. Aku akan cek kan untuk mu.” ucap wanita itu.
”Iya.” Ardi menunggu di tempatnya. Matanya masih memandang ke segala arah. Kiranya, dia bisa melihat sosok adiknya.
Wanita itu pergi ke toilet.
Di toilet.
Wanita itu terkejut melihat seorang pria yang berdiri di dinding pintu sambil terus melihat ke arah pintu toilet. ”Hei! Kamu ngapain di depan toilet wanita? Mau mengintip para wanita? Lelaki kurang ajar! Pergi dari sini!” usir nya.
”Em... Mba.. Mba jangan marah dulu. Aku sedang menunggu teman ku di sini. Dia ada di dalam toilet.”
Wanita itu memperhatikan Hasan dari ujung kaki sampai ujung rambut. ”Jangan banyak alasan! Kamu kira aku akan percaya padamu? Pergi!” usir nya lagi.
”Aku gak bohong, Mba! Aduh bagaimana jelaskan nya ini?” Hasan kebingungan. ”Em...begini saja, coba Mba lihat di dalam ada gadis berbaju merah...itu..itu teman ku.”
Laki-laki ini dan laki-laki tadi sama-sama mencari wanita yang sama kah? benak wanita itu.
”Wanita di sini banyak yang pakai baju warna merah, termasuk saya. Apa kamu punya fotonya?”
”Foto? Aku tidak punya fotonya.”
”Pergilah dari sini! Atau ku panggilkan satpam untuk mengusir mu!” gertaknya.
Bagaimana ini? Hana masih ada di dalam...gak tau bagaimana keadaannya. Mau masuk dari tadi tapi toilet ini tidak berhenti dari pengunjung. Jika aku pergi.. bagaimana dengan Hana? Aduh.... bagaimana ini? benak Hasan.
”Belum pergi juga?” wanita itu mengambil alat handy talk yang ada di pinggangnya.
Hasan melihat seorang wanita yang baru keluar dari toilet. Dia menahannya. ”Mba..apa di dalam ada wanita yang memakai baju merah?” tanyanya pada wanita itu.
”Ah, iya, ada. Sepertinya dia kurang sehat.”
__ADS_1
Obatnya sudah bereaksi seratus persen. benak Hasan.
”Apa?” Hasan berpura-pura khawatir. Dia bergegas menerobos masuk ke dalam toilet.
Wanita penanggung jawab itu juga ikut masuk ke dalam toilet. Mereka sama-sama melihat Fitri yang begitu tersiksa di sudut dinding wastafel.
Hasan mendekati Fitri, memegang pundaknya. ”Hana? Kamu baik-baik saja?”
Hana melihat Hasan. ”Kakak. Kamu kakak?” tanyanya. Kesadarannya sudah lemah.
Kakak? Wajah wanita ini sama dengan foto yang ku lihat di hape pemuda yang pertama. wanita itu nampak berpikir. Dia mempelajari situasi.
”Iya, aku kakak mu. Ayo kita pergi dari sini.” Hasan memapah tubuh tidak berdaya Fitri.
Pria ini mengaku padaku dia temannya. Sekarang saat wanita itu setengah sadar, dia mengaku kakaknya. Gak benar ini! benak wanita itu.
”Tunggu!” cegah wanita itu. Dia berjalan mendekati Hasan.
Hasan menghentikan langkahnya yang sudah berada di bibir pintu toilet. ”Ada apa lagi? Apa Mba tidak lihat teman ku sedang kesakitan? Aku akan membawanya berobat!” ucapnya ketus.
”Apa benar dia teman mu?” tanya wanita itu.
”Iya. Dia teman ku. Untuk apa kamu mencurigai ku?” bentak Hasan.
Wanita itu merebut Hana dari tangan Hasan. ”Aku penanggung jawab di hotel ini. Wanita ini adalah urusan ku. Kamu pergilah!” dia kembali mengusir Hasan.
”Hei! Beraninya kamu! Apa kamu tidak tahu siapa aku? Beraninya mencurigai ku, kalau terjadi apa-apa dengan teman ku, aku akan menuntut mu!” gertak Hasan.
”Aku tidak peduli padamu!” Wanita itu mengacuhkan Hasan. Dia membawa Hana keluar dari toilet. Dia agak kesusahan memapah Hana yang jalanya gontai.
Tangan Hasan terkepal kuat. ”Sial! Apa aku pukul wanita itu sampai pingsan saja? Dia mengacaukan rencana ku yang hampir sempurna.” gumam Hasan. Dia mengejar wanita itu.
”Sebelum wanita itu berhasil membawa Hana pergi. Aku harus mengambil Hana dari dia!” dia mempercepat langkahnya. ”Itu dia!”
Hasan berlari kecil mendekati wanita itu. Namun, dia memundurkan kembali langkahnya ke belakang saat melihat Ardi berlari ke arah wanita itu. ”Sial! Ada Ardi, jangan sampai aku terlihat olehnya! Hargh! Rencana ku tinggal selangkah lagi akan berhasil, kacau seketika!” dia pergi dari sana dan menyembunyikan diri.
Ardi sangat khawatir melihat Fitri, ”Hana!” dia mengambil Hana dari wanita itu. ”Apa yang terjadi padanya? Hana, sadar Hana!” dia menepuk pipi Hana.
Pria ini memang kakaknya. Bersyukur menyerahkan dia sama orang yang tepat. benak wanita itu.
”Gak tau Mas. Saya menemukan dia di toilet dalam keadaan sudah seperti ini.” jawab wanita itu.
”Terima kasih, aku akan membawanya ke rumah sakit!” dia menggendong Hana dan membawanya pergi dari sana.
”Huh! Kalau saja aku biarkan dia pada laki-laki tadi, apa jadinya wanita itu? Dan lagi, wanita itu seperti bukan wanita biasa. Jika terjadi sesuatu padanya, keluarganya akan menuntut pihak hotel. Dan aku pasti akan di proses dan dikeluarkan dari pekerjaan.” gumamnya. Dia menoleh melihat pria yang di temui nya di toilet. Pria itu tidak terlihat lagi.
.. ..
Di kamar hotel.
Zulfa membaringkan tubuh Zahidin di atas kasur.
”Hana, apa yang kamu lakukan?” Zahidin memegang tangan Zulfa yang membuka kancing bajunya.
”Tidak ada. Aku melihat kamu kesusahan bernafas. Aku membuka kancing mu untuk melonggarkan pernafasan mu.” Zulfa kembali membuka kancing baju Zahidin. Bahkan sekarang mengelus lembut dada bidang Zahidin. Belaiannya turun sampai diperut six pack Zahidin.
Zahidin merasakan sensasi yang luar biasa. Dia membuka matanya melihat Zulfa. Penglihatannya seperti tidak jelas. Apakah wanita di depannya ini adalah Fitri atau bukan.
Zahidin kembali menahan tangan Zulfa yang membuka ikat pinggangnya. ”Hana! Hentikan! Aku seorang pria yang normal! Jangan menggoda ku.”
Zulfa tersenyum. ”Kenapa? Lakukan saja sesukamu. Kenapa harus menahan diri? Aku, hari ini adalah milikmu” bisiknya pada telinga Fajrin.
Dan setelah ini kamu adalah milikku selamanya. benak Zulfa.
”Hana,” Zahidin kembali menahan tangan Zulfa yang masih ingin membuka ikat pinggangnya.
Hah! Laki-laki ini...dalam keadaan sadar maupun setengah sadar, sangat sulit untuk di taklukan. Apakah dia seorang pria yang normal? Pria dalam keadaan sadar saja bisa terangsang saat di goda. Apalagi jika dalam pengaruh obat? Pasti sangat agresif sekali. Tapi dia? Huff tingkat kewaspadaannya sangat tinggi! benak Zulfa.
__ADS_1
Drrttrrt! Zahidin meraba sakunya saat mendengarnya berdering. Dia mengangkatnya.
”Halo, Bang! Bang, Hana sudah ketemu. Dia dalam keadaan tidak baik. Sekarang aku dalam perjalanan membawa Hana ke rumah sakit.”
Hana sudah ketemu? Perjalanan ke rumah sakit? Lalu, siapa yang di sini? Ah.. kepala ku..kenapa tubuhku tiba-tiba merasa kepanasan begini? Aku butuh sesuatu.... benak Zahidin.
Kening Zahidin mengerut melihat wanita di depannya, yang samar terlihat seperti Fitri. ”Siapa kamu?” tanyanya.
Zulfa terkejut. Dia ketakutan. Apakah Zahidin sudah menyadari kalau dia bukan Hana? Siapa yang menelfon Zahidin?
”Aku? Aku Ardi, Bang!”
”Bukan kamu!” Zahidin memutuskan telfon Ardi. Dia bangun dari kasur. Dia beranjak berdiri. Tubuhnya sempoyongan.
Zulfa memegangnya.
”Jangan sentuh aku! Pergi kamu!” dia mengusir Zulfa. Dia berjalan sempoyongan mencari pintu kamar.
”Zahidin! Kamu mau kemana? Kamu dalam keadaan tidak baik.” Zulfa mengejar Zahidin. Dia memeluk Zahidin dari belakang. ”Jangan pergi!”
Zahidin merasakan sesuatu yang bergairah dalam tubuhnya. Apalagi tangan Zulfa meraba perutnya, elusannya terus turun ke bawah. Dia menahan tangan Zulfa. Dia mendorong tubuh Zulfa menjauh darinya.
”Ah,” jetit Zulfa. Kakinya tersentuh kaki meja. Dorongan Zahidin begitu kuat.
Zahidin membuka pintu kamar dan keluar dari kamar tersebut. Dia berjalan sempoyongan menuju lift.
Zulfa keluar dari kamar dan mengejar Zahidin. Dia melihat Zahidin telah masuk ke dalam lift. ”Ah, siapa yang meneleponnya tadi? Apa yang dikatakannya? Membuat Zahidin berwaspada padaku!” kesalnya.
”Sial! Kalau saja dia di temukan sama wanita yang lain, yang mendambakannya, dalam keadaan seperti itu. Ah...aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi? Aku harus mencarinya.”
Terpaksa Zulfa kembali menuruni anak tangga. Mencari Zahidin.
.. ..
Di lantai 7.
”Tuan! Ada apa dengan mu, Tuan? Kenapa Tuan seperti ini?” anak buah Fajrin yang menjaga lantai 7 sangat khawatir melihat Fajrin yang berjalan sempoyongan keluar dari lift.
”Aku... kepalaku pusing...!” jawab Zahidin.
Anak buahnya memperhatikan Fajrin dengan sesama saat memapahnya. Wajahnya memerah namun, tidak panas. Nafasnya juga memburu.
”Tuan! Sepertinya Tuan terkena bius. Saya akan membawa Tuan ke kamar dan memanggil dokter kesini.” ucapnya.
”Hum!”
Dia membawa Zahidin ke kamarnya. Lalu, dia menelfon dokter pribadi Fajrin, yang merupakan teman dari Fajrin sendiri.
.. ..
Di halaman parkir hotel.
”Sial! Semuanya berantakan!” Hasan masih kesal. Dia memukul atap mobilnya dengan keras.
”Hah! Tapi, beruntung juga kakaknya yang bawa dia pergi! Kalau saja pria lain, aku sudah siap bertarung dengannya, asal bukan Zahidin saja.”
”Kakak? Kamu di sini? Bagaimana, kakak berhasil menyentuh Hana?” tanya Zulfa.
”Kamu berhasil dengan Zahidin?” Hasan bertanya balik.
”Kalau berhasil, Zulfa tidak berada di sini sekarang. Dia menyadarinya saat seseorang menelfon dia. Padahal, Zulfa sudah hampir mendapatkannya.” kesal Zulfa.
”Lalu, di mana dia?”
”Entahlah! Aku mencarinya tapi tidak ketemu.”
”Lalu, Hana sekarang di mana? Jangan-jangan mereka berdua saling bertemu!” Zulfa menjadi panik.
__ADS_1
”Dia di bawa pergi sama kakaknya, Ardi. Mereka berdua sangat beruntung!” ucap Hasan.
Lalu kemana perginya Zahidin? Aku sudah mencarinya di setiap lantai hotel, tidak menemukan dia. Sampai aku memeriksa ke toilet pria juga tidak ketemu. Dia dan Hana benar-benar beruntung bisa lolos dari jebakan kami. benak Zulfa.