Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 48


__ADS_3

Di rumah kediaman Zulfa dan Hasan.


Penampilan Hana saat berdansa sangat memukau. Dia tampak cantik, sangat cantik! Dia menyihir semua mata lelaki untuk memandangnya.


Hah! Tinggal selangkah lagi aku bisa mendapatkan dirinya! Sayangnya, malah gagal di langkah terakhir.


Semua itu gara-gara wanita sialan itu! Kalau tidak, aku sudah membuat Hana tidak berdaya di bawah ku! Dan membuatnya menjadi milikku! benak Hasan.


Dia menghela nafas, sambil membayangkan wajah cantik Fitri. Dia semakin tergila-gila dengan Fitri.


”Kakak, melamun kan apa? Tengah malam begini... duduk melamun di balkon. Apa yang kakak pikirkan? Kegagalan rencana tadi?” tebak Zulfa. Dia menarik kursi dan duduk di hadapan kakaknya, Hasan.


”Kamu kenapa belum tidur? Gak bisa tidur? Mikirin Zahidin?” Hasan balik bertanya.


Zulfa mengangguk. ”Apa menurut kakak... kita tidak akan ketahuan jika Zahidin menyelidiki kejadian malam ini?” Dia sangat penasaran.


”Seharusnya tidak. Cctv di bagian kafe, aku sengaja putuskan kabelnya. Jadi, gak bakal ketahuan.”


”Kakak yakin?” Zulfa tidak percaya.


”Sangat yakin!” sahut Hasan percaya diri.


”Huft! Syukurlah kalau begitu. Aku bisa tenang sekarang. Sayangnya... rencana gagal. Padahal... tinggal selangkah lagi.” Zulfa berwajah sedih.


”Jangan sedih... masih ada kesempatan lainnya.” hibur Hasan.


”Iya. Aku akan menunggu kesempatan itu datang lagi. Aku kembali ke kamar dulu. Kakak juga istirahatlah! Jangan melamun terus!” Zulfa berdiri.


”Hum.” sahut Hasan.


Zulfa pergi ke kamarnya. Dia tidak perlu khawatir lagi tentang peristiwa malam ini untuk ketahuan oleh Zahidin.


Hasan sendiri masih duduk di balkon. Dia masih memikirkan Fitri.


.. ..


Di lantai 7, hotel Fazhr.


”Umh!” jerit Fajrin, dia memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.


”Tuan, Tuan sudah bangun? Syukurlah!” anak buah Fajrin begitu lega melihat tuannya telah sadar. Dia menghampiri dokter yang tidur di kursi sofa panjang.


Fajrin duduk bersandar di ranjang.


”Dokter! Bangun dokter, tuan sudah bangun.” Dia membangunkan dokter yang tidur di kursi sofa.


”Oh, dia sudah bangun?” sang dokter bergegas bangun dari tidur dan menghampiri Fajrin.


Anak buah Fajrin segera keluar dari kamar, tanpa di perintah lagi.


”Gak nyangka pria yang selalu berhati-hati ternyata bisa kecolongan juga.” ledek Aswin, dia duduk di sisi ranjang.


”Huh! Aku juga gak nyangka cucunya Saputra akan melakukan hal se-licik itu padaku.”


”Jadi kamu sudah tahu siapa yang mencelakai mu?”


”Awalnya aku tidak tahu dan tidak curiga pada Zulfa. Aku mengira pusing di kepala ku hanya karena beberapa malam ini tidak tidur dengan teratur. Tapi... semakin kesini perasaan ku seperti lain. Apalagi saat di sentuh sama wanita... reaksiku berbeda. Tentu saja aku sudah curiga kalau aku di celakai dan dia adalah orang satu-satunya yang patut ku curigai. Aku hanya meminum minuman yang dia berikan padaku selama acara itu berlangsung,” ungkap Fajrin.


”Huh! Kalau begitu percuma dong video yang ku simpan ini... lebih baik ku hapus saja.” Aswin mengeluarkan hapenya dan menggeser layarnya mencari Video tersebut.


”Hapus! Tangan mu juga akan hilang.” ancam Fajrin. ”Kirimkan videonya padaku! Aku akan membuat perhitungan sama mereka.”

__ADS_1


”Ok!” Aswin mengirimkan video tersebut pada Fajrin. Video terkirim. ”Sudah terkirim.”


”Ok! Kenapa gak berbunyi di hapeku? Kamu membohongi ku?” Ia menatap Aswin dengan tajam.


”Tidak! Ini... lihatlah! Sudah terkirim, kan?” Aswin memperlihatkan layar hapenya pada Fajrin. Fajrin melihat layar handphone Aswin, memang sudah terkirim.


Kening Fajrin mengerut. Ia teringat di mana hapenya berada terakhir kali, ”Ah! Handphone ku tertinggal di kamar 608, di lantai 6.”


”Hei! Kamu mau kemana? Duduk kembali!” Aswin mencegah Fajrin yang turun dari ranjang dengan menekan bahu Fajrin.


Alis kiri Fajrin terangkat menatap Aswin.


”Em... pergilah!” Aswin menarik tangannya dari pundak Fajrin. Fajrin turun dari ranjang dan pergi.


”Eh, tunggu! Aku ikut!” Aswin mengejar Fajrin yang sudah dekat pintu.


Fajrin mundur beberapa langkah ke belakang saat pintu kamar terbuka dari luar.


”Eh, Tuan. Ini handphonenya Tuan! Saya lupa untuk menyimpannya di dalam laci kamar Tuan. Ini ada pesan masuk, baru saya tersadar jika saya memegang hapenya Tuan. Maafkan saya, Tuan.” ucap anak buah Fajrin sambil menunduk. Dia memberikan hape pada Fajrin.


Fajrin mengambilnya. ”Oh, tidak apa-apa!” Dia membuka pesan video yang masuk. Dia menyeringai lalu menyimpan hapenya di dalam sakunya.


Fajrin melangkah keluar dari kamar. Aswin mengikutinya lagi. ”Kamu mau kemana? Gak sebaiknya kamu istirahat saja?” usul Aswin.


”Aku ingin menemui seseorang di rumah sakit. Tidak perlu mengikuti ku.” Fajrin mencegah Aswin yang berjalan mengikutinya.


Aswin menghentikan langkahnya. Dia menghela nafas melihat punggung Fajrin yang memasuki lift. ”Apa kamu tahu siapa yang ingin di temui Fajrin di rumah sakit?” tanya Aswin pada anak buah Fajrin.


”Maaf, saya tidak tahu Dokter.” jawab anak buah Fajrin.


Bos dan anak buah sama saja. Siapa yang ingin di temui Fajrin? Siapa yang sudah membuat Fajrin begitu memperhatikannya? Dulu, selain kakek, nenek, dan orang tuanya sendiri... Fajrin tidak akan begitu peduli di tengah malam seperti ini untuk keluar menemui seseorang. Siapa dia, ya? Aku sangat penasaran. benak Aswin.


”Sudahlah! Tuan mu sudah sadar. Aku kembali dulu.” Aswin mengalah dengan rasa penasarannya. Dia tidak ingin mencari tahu lagi. Nanti juga dia akan tahu dengan sendirinya. Dia pergi dari hotel.


.. ..


Fajrin menghubungi Ardi. Telfon tersambung.


”Iya, Bang!” sapa Ardi


”Kalian di rumah sakit mana?”


”Di rumah sakit Dirgahayu, ruang mawar nomor 12, Bang.” jawab Ardi.


”Ok!” Fajrin memutuskan sambungan. Dia meningkatkan laju mobil agar cepat sampai di rumah sakit.


Dua puluh menit berlalu. Fajrin telah sampai di rumah sakit. Ia memasuki halaman parkir rumah sakit dan menghentikan mobilnya.


Di rumah sakit.


Dia turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Dia langsung pergi menuju ruang mawar dan mencari nomor kamar inap Fitri.


Dia berdiri tepat di depan pintu kamar nomor 12, di ruang mawar. Dia membuka pintu ruangan Fitri. Dia melihat Ardi sedang berbaring sambil melihat ke arahnya.


”Abang?” Ardi bangun dan duduk di kursi.


Fajrin melangkah masuk, menghampiri Ardi. Dia duduk di samping Ardi. ”Bagaimana keadaan Hana? Kenapa sampai bawa dia ke rumah sakit?” tanyanya penasaran.


”Dia sudah baikan, Bang. Sudah sadar... sekarang lagi istirahat. Dia di bius, Bang. Ada orang yang memberikan obat perangsang pada Hana, tanpa Hana sadari,” ungkap Ardi.


”Hah! Hana juga kena bius!” Fajrin terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Bagaimana bisa Hana kena bius?

__ADS_1


”Iya, Bang. Hana kena bius. Dan si brengsek yang melakukannya adalah Hasan. Besok, aku akan melaporkan dia pada pihak kepolisian.” ucap Ardi. Raut wajahnya berubah marah saat menyebut nama Hasan.


Wajah Fajrin tak kalah suramnya dari Ardi. ”Kurang ajar! Beraninya dia punya niat buruk sama wanita ku! Dia berkhayal ingin menyentuh wanita ku! Jangan harap!”


”Apa papa mu sudah tahu hal ini?” tanya Fajrin.


”Iya, papa sudah tahu. Dan tolong, jangan sebut adikku dengan kata "Wanita ku!" Abang tidak pantas lagi.” ucap Ardi dengan tegas.


”Apa maksud mu aku tidak pantas?” Fajrin menatap marah pada Ardi.


Ardi menghela nafas. ”Sudahlah, tidak usah bahas itu. Aku punya bukti kejahatan yang Hasan lakukan pada adikku. Dia sengaja mengambilkan minuman untuk Hana dan menaruh obat ke dalam minuman Hana. Apa dia kira dia bisa menyentuh adikku dengan gampang?” Ardi kembali memasang wajah marah.


”Ardi, apa kamu percaya padaku?” tanya Fajrin.


”Hum?” Ardi menatap Fajrin dengan bingung. Dia tidak mengerti dengan maksud Fajrin.


”Jika kamu percaya padaku. Berikan bukti itu padaku. Aku akan membuat Hasan dan Zulfa pergi dari kota ini.” jelas Fajrin.


”Apa? Abang ingin membawa mereka kemana? Luar negri? Abang membela dia kan? Makanya Abang mengirim mereka ke luar negri, Abang melindungi mereka. Kenapa Bang? Apa karena mereka adalah calon keluarga Abang? Aku tahu Abang dan Zulfa di jodohkan. Abang juga dengan Zulfa sudah....jadi Abang ingin melindungi calon keluarga Abang, kan? Mending Abang pergi sekarang!” usir Ardi, dia sangat marah pada Fajrin.


”Ardi! Kamu jangan kelewat batas!”


”Sudah, Bang! Abang pergi saja dari sini!” pangkas Ardi. ”Jangan ganggu adikku lagi, Bang! Aku tidak peduli siapa Abang, dan hubungan Abang dengan Hasan! Aku akan tetap membawa kasus ini ke pihak berwajib!” tegas Ardi.


Tanpa sadar, keributan yang mereka buat membangunkan Fitri. Fitri mendengar ucapan mereka.


Jadi, Zulfa dan Fajrin sudah... sudah melakukan hubungan intim? Kenapa hatiku sakit mendengar kabar ini? Seharusnya aku senang, aku ada alasan untuk membuat Fajrin menjauh dariku. Tapi kenapa, aku malah sakit hati begini dan tidak menerima kenyataan ini? Kenapa? benak Fitri.


”Ardi! Jangan menuduh ku yang tidak-tidak! Aku punya alasan sendiri melakukan ini, aku tidak melindungi Hasan. Aku ada urusan bisnis dengan mereka. Dengan menggunakan kesalahan fatal mereka, aku ingin mengakuisisi perusahaan mereka dari kota ini. Mereka akan ku kirim ke luar negri dan tidak akan kembali ke kota ini sampai kapan pun.” jelas Fajrin.


”Aku tidak peduli dengan urusan bisnis Abang dan mereka! Yang aku peduli adalah adikku! Aku harus membuat Hasan merasakan balasannya karena nekat mencelakai adikku! Aku tidak peduli Abang mau bawa calon keluarga Abang kemana, yang aku mau adalah Hasan di penjara!” tegas Ardi.


Teganya kamu Fajrin. Demi melindungi calon keluarga mu, kamu mengabaikan kehormatan ku. Kamu ingin dia bebas setelah dia berusaha mencelakai ku? Apa hanya seperti itu rasa cinta mu untukku? Oh, aku lupa, kamu lelaki mesum. Kamu pasti menganggap hal ini hal biasa, kan?


Heh! Laki-laki semuanya sama saja... Fajrin, kamu adalah orang ketiga pria brengsek yang pernah ku kenal! benak Fitri.


”Lebih baik Abang pergi sekarang! Aku lagi gak mood berbicara dengan Abang! Dan ingat Bang, Abang sudah punya calon istri sendiri... jauhi adikku, Bang!” tegas Ardi lagi.


”Aku tidak memiliki calon istri, kalaupun ada... dia adalah Hana! Cuma Hana yang akan menjadi istriku!”


Cuma aku? Setelah mendapatkan keinginan mu, kamu akan mengabaikan aku, seperti sekarang yang kamu tidak akui Zulfa? Padahal kamu sudah menyentuhnya. Aku tidak butuh cinta yang hanya menginginkan kepuasan semata. benak Fitri.


Bugh! Ardi memberikan tinju nya pada wajah Fajrin dengan tiba-tiba. ”Jangan dekati adikku lagi Bang!” nafas Ardi memburu.


Fajrin menatap Ardi dengan tajam. ”Kamu sudah sangat keterlaluan Ardi,” bentaknya. Jarinya terkepal erat.


”Stop! Hentikan! Jangan pukul kakakku!” Fitri menghentikan Fajrin yang melayangkan tinjunya pada Ardi.


Tangan Fajrin berhenti pas di depan mata Ardi. Kedua rahang Fajrin mengeras menatap pria di depannya itu dengan tajam. Perlahan, Fajrin menurunkan tangannya dan melemahkan kepalan-nya.


”Han__”


”Fajrin, aku ingin istirahat. Kenapa kamu datang tengah malam begini dan membuat keributan di sini? Ini adalah rumah sakit. Tolong, hilangkan sikap arogan mu itu!” pangkas Fitri.


Kening Fajrin mengerut melihat Fitri.


”Tolong, pergilah!” usir Fitri.


Tangan Fajrin kembali terkepal erat. Dia ingin memberikan pelajaran pada wanita yang berani mengusirnya itu.


Kepalan tangannya kembali terbuka. Dia memutar bandan dan keluar dari ruangan Fitri, tanpa berkata.

__ADS_1


Kucing liar! Aku lepaskan kamu malam ini. Tapi, tidak untuk besok. benak Fajrin.


__ADS_2