
Di hotel Fazhr.
”Tidak sangka ternyata anak-anak mu tampan dan cantik, Fandi.” puji papanya Fajrin, sambil tersenyum melihat Ardi dan Fitri.
Fandi dan Fatma tersenyum. ”Terima kasih, Pak.” sahut Fandi. Fitri dan Ardi hanya tersenyum.
”Acara dansa sudah di buka. Mau berdansa dengan Om, Hana?” tangannya terulur, mengajak Fitri berdansa.
Fitri melihat Fajrin sekilas. Pria itu terlihat sekilas sedang mengangguk. Fitri melihat papa dan mamanya. Fandi nampak khawatir.
”Tapi, maaf, Pak. Hana...belum pernah berdansa.” ungkap Fandi.
”Iya. Itu benar.” sambung Ardi dan Fatma.
Kening Fajrin mengerut, melihat Fitri. Belum pernah berdansa? Lalu? Yang di katakan Fitri padanya apa? Apakah Fitri berbohong padanya?
”Oh...ternyata begitu.” tangannya ia tarik kembali. Namun, sebelumnya benar-benar menarik tangannya, Fitri menaruh tangannya di atas telapak tangan papanya Fajrin.
”Tidak apa-apa, Ma, Pa, kakak. Hana bisa melakukannya. Iya, Om. Mari berdansa.” ucap Fitri.
Fatma, Fandi, dan Ardi terkejut. Mereka saling pandang, tidak yakin. Selama ini, Fitri tidak pernah dansa sama sekali. Apakah dia benar-benar bisa melakukannya?
”Baiklah. Ayo, berdansa!” papanya Fajrin menuntun Fitri ke lantai dansa. Bergabung dengan yang lain, yang sedang berdansa.
”Apakah Hana tidak akan menginjak kaki papanya Fajrin, Pa?” tanya Ardi.
”Mama meragukannya, Pa.” ucap Fatma.
Fandi terdiam. Dia tidak tahu ingin komentar apa.
Mereka semua melihat Fitri dan papanya Fajrin yang mulai berdansa. Mereka terkejut. Fitri memang bisa melakukannya. Bahkan dansanya sesuai dengan hentakan musik dan mengimbangi dansa papanya Fajrin.
Fajrin sendiri terpukau akan cantiknya aura dansa yang diperlihatkan Fitri.
Hasan dan Zulfa kembali bertemu di lantai satu. Setelah mereka lelah mencari keberadaan Fitri dan Fajrin yang tidak ketemu.
Mata Hasan tiba-tiba terbelalak melihat Fitri yang berdansa dengan papanya Fajrin.
Hana, mengapa kamu sangat cantik dan energik malam ini? Aku semakin bergairah ingin menyentuh tubuhmu. benak Hasan.
Zulfa sendiri telah melihat keberadaan Zahidin. Dia tersenyum. Dia melihat kakaknya, dia juga melihat arah pandang kakaknya tersebut.
Senyum Zulfa semakin lebar, ”Lagu pertama telah selesai. Kamu ajaklah dia berdansa. Aku juga ingin mengajak Zahidin berdansa. Setelah lelah berdansa, mereka akan haus dan kita sesuaikan rencana.” usulnya. Dia tersenyum licik.
Hasan juga tersenyum licik. ”Ok!” dia melangkah lebih dekat lagi dengan lantai dansa.
Zulfa menghampiri Zahidin. Lagu dansa pertama telah selesai. Lagu ke dua sementara di putar. ”Zahidin, ayo kita pergi berdansa.” ajaknya pada Zahidin.
Zahidin enggan menanggapi.
”Fajrin, Zulfa mengajak mu berdansa. Pergilah berdansa dengannya.” titah sang kakek. Dia masih berharap Fajrin akan menyukai Zulfa dan hubungan kerja sama antara perusahaannya dan perusahaan orang tua Zulfa semakin baik, dengan adanya pernikahan Zulfa dan Fajrin.
Zahidin tidak bisa menolak. ”Ayo, satu lagu saja.” ucapnya, datar.
Mereka pergi ke lantai dansa. Fajrin cemburu saat melihat Hasan mengajak Fitri berdansa. Dia terlihat marah saat Fitri menerima ajakan Hasan.
Apa dia sudah lupa dengan yang ku katakan? Bukan kah sudah aku tegaskan padanya untuk tidak berdansa dengan orang lain? Apalagi sama Hasan! Wanita ini ..mengapa selalu membuat ku marah. benak Fajrin.
Fajrin memilih tempat yang dekat dengan Fitri untuk berdansa dengan Zulfa.
Fitri terkejut melihat Fajrin yang menatapnya dengan tajam. Dia mengabaikannya. Dia melihat Hasan dan melakukan dansanya dengan serius.
Zulfa dan Fajrin mulai berdansa. Zulfa tersenyum senang. Dansa pada lagu ini sangat romantis. Dengan tangan pria yang memegang kedua panggul wanita dan kedua tangan wanita yang bersilang di leher belakang pria.
”Kamu sangat cantik malam ini dengan gaun yang kamu kenakan. Kamu membuat ku terpukau.” ucap Hasan, pelan pada Fitri.
Namun, masih terdengar oleh Fajrin yang pendengarannya sangat tajam. Suasana hatinya sangat kacau sekarang. Dia ingin menghajar Hasan dan menarik Fitri, melemparkan Fitri di atas ranjangnya dan menghukumnya. Namun, itu tidak mungkin dia lakukan. Ini adalah acara besar dan di hadiri banyak kalangan pejabat. Dia harus menjaga imagenya. Dia berusaha tenang.
”Terima kasih. Nikmati saja dansanya tanpa mengajakku berbicara. Aku menerima ajakan mu bukan karena aku mau sendiri. Kalau bukan di suruh papanya Fajrin, apa menurutmu aku mau berdansa sama kamu?” ketus Fitri berucap.
Hasan tersenyum. Dia menarik tubuh Fitri agar semakin dekat dengan tubuhnya dan dia menahan tubuh Fitri dengan memeluk pinggulnya. ”Ku rasa, kamu yang lebih menikmati dansa kita. Bagaimana kalau satu kali lagi kita berdansa, setelah lagu ini?”
”Jangan berharap!” jawab Fitri.
__ADS_1
Hasan hanya tersenyum, menikmati wajah judes Fitri.
Fajrin sangat geram. Rasanya dia ingin lagu dansa sekarang cepat selesai.
”Zahidin, setelah lagu ini. Sekali lagi kita berdansa ya?” pinta Zulfa.
Zahidin tidak menjawab. Lagu telah selesai dan lagu dansa lainya terputar.
Zulfa dan Hasan sama-sama menahan Fitri dan Zahidin untuk berdansa lagi. Di keramaian orang, dan lagu cepat sekali bergantinya, mereka berdua terpaksa berdansa lagi dengan pasangannya.
”Lihatlah, kamu salah meremehkan anakmu, Fandi! Dia sangat pandai berdansa.” puji papanya Fajrin.
”Oh, iya. Anda benar, Pak. Saya sungguh tidak tahu sejak kapan dia belajar berdansa.” sahut Fandi, ia tersenyum kikuk.
”Lihatlah cucu mu dan cucu ku, sekali berdansa malah ingin berdansa terus.” ucap kakeknya Zulfa pada kakeknya Fajrin.
”Anak muda, tidak bisa di tebak.” hanya itu tanggapan kakek Fajrin.
”Iya. Kamu benar!” ucap kakeknya Zulfa.
Lagu telah selesai.
”Satu kali lagi.” pinta Hasan dan Zulfa pada Fitri dan Zahidin.
”Tidak! Aku lelah, aku haus. Aku ingin minum” tolak Fitri. Dia berjalan meninggalkan lantai dansa.
”Aku juga haus. Ayo, kita pergi ambil minum dan berbincang-bincang.” Hasan memegang tangan Fitri.
”Tidak perlu memegang ku!” gertak Fitri.
Hasan menurut, dia melepaskan tangan Fitri.
”Sori, aku haus!” tolak Zahidin. Dia juga meninggalkan lantai dansa.
”Kalau begitu. Ayo pergi minum!” ajak Zulfa. Dia memegang tangan Zahidin.
Zahidin melepaskan tangannya. Dia memang ingin pergi ke sana karena ada Fitri di sana.
”Duduklah, aku akan pergi mengambil minuman. Kamu ingin minum apa?” tanya Hasan.
”Aku bisa ambil sendiri. Jangan mencegah ku!”
”Aku akan mencegah mu. Duduk, aku ingin bicara baik-baik sama kamu. Aku ambilkan jus jeruk untuk mu.”
”Jus anggur.” ucap Fitri.
”Ok.” Hasan pergi mengambil minuman.
Dia menyeringai memasukkan obat yang dipegangnya dari tadi ke dalam gelas Fitri, tanpa ketahuan orang lain. Dia kembali menghampiri Fitri dan memberikan minuman Fitri padanya.
Fitri dan Hasan terkejut, tiba-tiba saja Fajrin datang dan duduk bersama mereka. Hasan mencari adiknya. Zulfa sedang mengambil minuman.
”Bicaralah, kamu ingin bicara apa?” tanya Fitri, dia meminum anggurnya sedikit.
”Em...” Hasan melirik Zahidin yang duduk di sebelah kursi Fitri.
Fitri ikut melirik Fajrin. Pria itu nampak datar melihat Hasan.
”Zahidin, ini minuman mu. Lebih baik, kita cari meja lain saja. Jangan mengganggu Hasan dan Hana. Mungkin saja mereka ada urusan pribadi yang harus di selesaikan.” Zulfa membujuk Zahidin.
Zahidin bergeming. Dia mengambil minumannya dan meminum setengahnya.
Fitri meminum kembali minumannya, sesedikit. ”Bicaralah, jangan buang-buang waktu ku!” tegasnya pada Hasan.
”Aku minta maaf, karena selama ini, aku selalu mengganggu mu di kampus. Tolong maafkan aku.” ucap Hasan.
”Hanya itu saja?” Fitri meminum habis minumannya yang tinggal sedikit.
”Em...iya. Apa kamu memaafkan ku?” tanya Hasan.
Fitri berdiri, ”Iya. Aku maafkan.” dia melangkah pergi dari sana.
”Hana! Tunggu!” Hasan mengejar Fitri.
__ADS_1
Zahidin meminum habis minumannya dan mengejar mereka.
”Zahidin! Tunggu! Tidak perlu mengejar mereka.” cegah Zulfa. Dia memegang tangan Zahidin.
”Lepaskan tanganku!” bentak Zahidin.
Zulfa melepaskannya. Zahidin pergi. Zulfa membuntuti langkah Zahidin. Dia tidak ingin melepas pandangannya dari Zahidin. Dia tidak tahu kapan obat itu akan bereaksi.
Di tempat Fitri saat ini.
”Kenapa kamu mengikuti ku terus! Bukan kah aku sudah memaafkan mu? Pergilah, jangan ikuti aku!” tukas Fitri. Dia memegang kepalanya yang pusing.
”Aku hanya khawatir padamu. Aku melihat mu memegang kepalamu dari tadi. Apa kepala kamu sakit?” tanya Hasan.
”Aku ingin pergi ke toilet! Kamu.pergilah!” Fitri mengusir Hasan.
Hasan melihat Fitri memang melangkah ke toilet. Dia menunggu Fitri di luar toilet wanita.
Di tempat Zahidin.
”Apa Hana sudah kembali ke sini?” tanya Zahidin pada Ardi.
”Belum. Justru aku sedang menunggu dia dari tadi. Kami ingin pulang. Mama dan papa sudah pulang duluan.” jawab Ardi.
”Hubungi ponselnya.”
”Dia gak membawa handphone.” jawab Ardi.
Zahidin berdecak. Wanita ini! Tunggu saja kalau aku bertemu sama kamu. Kamu benar-benar liar! benaknya.
”Ya, sudah. Jangan di tunggu saja, cari dia!” titah Fajrin.
”Iya.” Ardi berdiri. Dia mulai mencari Fitri.
Zahidin memegang kepalanya.
Obatnya sudah bereaksi. Bagaimana kalau aku bohongi saja dia kalau Hana ada di lantai 6. benak Zulfa. Dia tersenyum licik.
”Zahidin, aku baru saja selesai menghubungi Hasan. Katanya, Hana pergi ke lantai 6 sendirian, setelah berpisah dengan kakakku.” ucap Zulfa.
Tanpa berkata. Zahidin mempercepat langkah menuju lift. Zulfa mengikutinya.
”Kenapa kamu mengikuti ku?” Zahidin menggertak Zulfa yang mengikutinya masuk ke dalam lift. Dia menahan tombol agar pintu lift tidak tertutup.
”Tidak apa-apa. Aku melihat mu memegang kepala. Aku hanya khawatir saja.”
”Tidak perlu khawatir! Cepat, keluar!” dia mengusir Zulfa.
”Tapi...”
”Aku bilang keluar!” bentak Zahidin.
Zulfa menciut ketakutan. Dia melangkah keluar dari lift. Lift tertutup. ”Sial! Apa aku harus mengejarnya melalui tangga?” gumam Zulfa.
Dia berlari menuju anak tangga untuk mengejar lift.
Di tempat Ardi.
”Kemana Hana? Aku sudah berkeliling mencarinya tapi tidak melihatnya. Apa dia pergi ke toilet? Apa perlu aku mengeceknya ke sana? Sebaiknya begitu.” gumam Ardi.
Dia berjalan ke penanggung jawab acara, yang wanita, yang selalu siap berdiri di sudut ruangan. Tangannya memencet layar hape. Dia menghubungi seseorang. Telfon tersambung.
”Halo! Abang sudah menemukan Hana?” tanyanya.
”Belum. Lagi mencarinya di lantai 6. Ada yang melihatnya dia pergi ke lantai 6.” jawab Fajrin.
”Ya, sudah. Kalau Abang ketemu, kabarin aku ya, Bang.”
”Iya.” Fajrin menutup telfonnya.
Ardi menyimpan kembali handphonenya di saku celananya.
Apa aku masih perlu mencarinya di toilet? benak Ardi.
__ADS_1