
Di kota P, taman bunga Fatma.
Fatma, Fitri, dan Ardi sedang membersihkan rumah kecil yang sudah mereka tinggali selama dua hari ini. Mereka akan kembali ke kediamannya.
Setelah selesai membersihkan rumah, Ardi dan Fitri pun berkemas. Mengemasi barang yang mereka bawa sebelumnya dari rumah. Mereka mengemasinya untuk di bawa pulang kembali ke rumah.
”Semua sudah di kemas, Fitri? Ardi?” Fatma memastikan kembali jika semuanya sudah di kemas, tidak ada yang tertinggal. Ia pun telah selesai menutup kursi, meja, dan yang lainnya dengan kain panjang.
”Sudah, Mama. Sudah bisa kita pergi sekarang.” Ucap Ardi sambil berjalan keluar rumah dengan membawa koper pakaian.
”Mama, kakak dan Hana duluan ke mobil, ya!” Pamit Fitri pada Fatma.
”Iya, sayang!” Sahut Fatma. Fitri keluar dari rumah dengan membawa bahan-bahan dapur yang tersisa.
Ardi memasukan koper pakaian dan barang yang di pegang Hana ke dalam mobil. Sementara Hana, ia sedang jongkok melihat bunga mawar yang berwarna jingga dan mencium aromanya dengan tersenyum lembut.
Ardi tersenyum dan mengambil hape dari saku celananya. Ia mengarahkan hapenya ke arah Fitri. Tanpa pengetahuan Fitri, Ardi memotret dirinya dalam posisi seperti itu.
Jarang-jarang aku melihat ekspresi Fitri yang imut seperti ini. Adikku ini...entah orang seperti apa yang akan menjadi suaminya nanti. Aku harap, suaminya akan merawat, menjaga, dan menyayangi adikku dengan baik. benak nya.
”Kamu sedang apa?” Fatma menegur Ardi yang diam-diam memotret Hana. Ardi terkejut.
”Mama! Mama buat Ardi kaget saja!” Ardi memasukkan kembali hapenya ke saku celana.
”Kamu memotret adikmu?”
”Iya, Ardi baru saja mengambil potret Hana. Dia sangat imut dalam posisi tadi. Jarang-jarang melihat adikku seperti ini, jadi Ardi ingin mengabadikannya,” jelasnya.
”Oh! Setelah adik mu terbangun dari pingsannya, ia mengalami perubahan yang luar biasa! Mama sampai tidak percaya, betulkah ini Hana anaknya Mama?” Fatma tersenyum melihat Fitri.
”Kalau bukan anaknya Mama, bagaimana bisa Hana menjadi adiknya Ardi? Apa Mama mengadopsinya?” Ardi sengaja menggoda mama nya.
”Hum? Mengadopsi? Kamu yang Mama adopsi dari panti asuhan!” Fatma membalas menggoda anaknya.
”Em... Ma, sebaiknya kita pulang sekarang. Mama masuklah ke dalam mobil.” Ucap Ardi. Fatma menurut, ia masuk ke dalam mobil.
”Hana! Ayo kembali! Kita pulang sekarang!” Teriaknya pada Fitri.
Fitri menoleh melihat kakaknya dan menjawab, ”Iya, ya, kak! Hana datang!” Fitri berjalan cepat menghampiri Ardi.
”Masuklah!” Ardi membukakan pintu mobil untuk Fitri. Fitri mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
Ardi masuk ke mobil, menyalakan mesin dan menjalankannya dengan kecepatan ringan meninggalkan taman bunga.
”Hana, besok, kamu sudah mulai kuliah. Kita singgah ke mall sebentar untuk beli hape baru buat kamu.” Tawar Ardi.
”Oh, iya, kamu benar, Ardi.” Fatma melihat Fitri, ”Hapemu rusak parah saat terjatuh di waktu kamu pingsan. Kalau kamu kuliah nanti, kamu akan setengah mati menghubungi Ardi, Mama, dan papa jika tidak memegang handphone. Jadi, kata kakak mu benar, kita singgah saja untuk belikan kamu hape.”
”Tidak usah, Ma, kak. Hana masih enggan untuk memiliki handphone.” Tolak Fitri, ”Nanti saja kalau seandainya Hana ingin memiliki hape, baru Hana akan meminta kakak Ardi belikan hape keluaran terbaru, yang terbatas, dan termahal.”
Fatma tersenyum, Fitri sedang menggoda kakaknya, Ardi.
”Kamu berencana membuat kakak mu ini bangkrut?” Ardi melihat Fitri dari kaca spion.
Fitri tertawa kecil. ”Mumpung kakak belum punya istri, Fit...eh Hana akan menguras keuangan kakak, sampai habis!”
”Apa menurut mu kakak akan melakukannya?”
”Sudah! Sudah! Bisa bicara serius?” tanya Fatma. Ardi dan Fitri terdiam.
”Tapi, Hana...kamu harus memiliki ponsel untuk memudahkan kami menghubungi mu juga.” Fatma membujuk Fitri.
__ADS_1
”Hum, Mama benar, Hana. Bukan hanya itu, kalau terjadi sesuatu padamu, kamu dengan mudahnya menghubungi kami nantinya. Kita singgah beli ponsel. Ok?” Ardi juga membujuk Fitri. Fitri terdiam.
”Bagaimana? Ok?” Kembali Ardi menanyai jawaban Fitri.
”Baiklah! Terserah kakak dan Mama saja deh.” Fitri mengalah. Punya handphone juga bagus.
”Ok!” Ardi tersenyum senang adiknya masih tetap penurut.
*
*
*
Di hotel, di kota B.
Fajrin menunggu Fandi di lobi hotel. Mereka akan terbang kembali ke kota P. Setelah lima menit lamanya menunggu, ia pun melihat Fandi yang baru saja keluar dari dalam lift yang berhenti di lantai dasar itu.
”Apa yang membuatmu sampai terlambat? Saat berangkat pun Anda terlambat, saat ini juga sama, terlambat! Apa Pak Fandi punya kebiasaan terlambat?” Fajrin memojokkan Fandi.
”Maaf, Pak direktur. Saya meneliti kembali barang-barang bawaan saya, kerjaan saya, agar tidak ada yang tertinggal.” Fandi tidak berdaya. Ia hanya bisa meminta maaf dan mengemukakan alasan mengapa ia terlambat.
”Anda ingin mengatakan jika Anda orang yang jeli?” Fajrin masih berusaha memojokkan Fandi, mencari celah kelemahan Fandi.
”Maaf, bukan begitu, Pak direktur. Hanya mencegah segala sesuatunya saja.” Kembali Fandi menjawab dengan merendah.
”Hum! Cepatlah! Tinggal lima belas menit lagi pesawat akan berangkat. Saya tidak ingin terlambat.”
Bukan kah pesawat itu adalah milik perusahaan? Yang jam terbangnya tergantung dari Anda, sendiri? Apakah Anda sengaja mencari masalah dengan saya? benak Fandi.
”Baik, Pak! Silahkan masuk!” Fandi membukakan pintu mobil untuk Fajrin. Fajrin masuk.
Fandi juga masuk ke dalam. Mobil pun mulai berjalan, meninggalkan halaman parkir hotel.
Sementara Fandi, ia sedang membuka kembali file-file di dalam laptopnya. Ia memeriksa kembali data-data dan rangkuman yang tersimpan di draft. Ia sedang memperbaiki sebuah laporan pekerjaan selama beberapa hari di kota B.
Bapak mantu ku ini sangat jeli, tegas, bertanggung jawab, teliti, cerdas. Apakah dia yang tidak menginginkan aku menjadi anak mantunya? Dan memberitahu Fitri Raihana untuk menolak ku? Apa kurangnya aku? Aku pewaris tunggal di Wisma Grub, tampan, cool, kaya, postur tubuh pun idaman setiap wanita. Apa yang membuat mereka tidak menerima ku jadi suami Fitri Raihana? benak Fajrin.
Rupanya ia tidak benar-benar tertidur. Ia hanya memejamkan mata saja. Telinganya mendengar suara-suara ketikan saat Fandi menulis sesuatu di layar laptop. Lama kelamaan ia tertidur tanpa sadar.
Beberapa menit berlalu, mereka tiba di bandara. Fandi segera menyimpan kembali pekerjaannya itu. Mobil telah berhenti di halaman parkir bandara. Ia melihat Fajrin. Pria itu masih tidur.
”Pak direktur! Kita sudah sampai di bandara.” Fandi membangunkan Fajrin dengan pelan dengan menyentuh lengan direkturnya itu. Sepertinya bos nya itu tertidur dengan nyenyak, tidak ada pergerakan tubuhnya untuk bangun.
”Pak Fajrin!” Fandi kembali membangunkannya.
”Oh... ada apa Pak Fandi?” Fajrin terbangun dengan sedikit terkejut. Ia memijit sebentar pangkal hidungnya, mengusir rasa ngantuk di matanya.
”Kita sudah sampai di bandara, Pak!” Fandi keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk atasannya itu.
Fajrin keluar dari mobil. Fandi memasukkan sedikit badannya ke dalam mobil, ia mengambil barang-barangnya dan barang atasannya.
Mereka berjalan menuju pesawat perusahaan mereka. Mereka segera masuk ke dalam pesawat. Sang pilot pun mulai menerbangkan pesawatnya, setelah semua kru sudah masuk ke dalam pesawat.
Di dalam bilik Fajrin.
”Pak direktur, Anda istirahat lah! Saya melihat Bapak masih mengantuk,” ucap Fandi pada Fajrin. Mereka sedang membicarakan hasil rapat dan peninjauan lokasi dua di kota B, tetapi Fajrin terlihat tidak bersemangat.
”Hum. Saya akan tidur sebentar. Kamu jangan kemana-mana! Tetap di kamar ku,” titah Fajrin.
”Tapi, Pak! Saya tidak ingin mengganggu istirahatnya Bapak, lagi pula, saya juga ingin beristirahat di kamar saya.” Fandi menolak titah Fajrin.
__ADS_1
Fajrin melonggarkan dasinya. Membuka jas dan berbaring di ranjang. ”Tidak menerima sebuah alasan!” Ia memejamkan mata, mengistirahatkan dirinya.
Apa dia tidak sadar? Aku adalah papa dari perempuan yang dia sukai, tidak bisakah dia memberikan perhatian, atau kesan baik di depan ku untuk memujinya? Mungkin saja aku bisa menerima dia sebagai anak menantu ku. benak Fandi.
Ia melihat malas atasannya itu. Ia pun merebahkan dirinya di sofa panjang, di kamar Fajrin. Ia tidak berani keluar dari kamar Fajrin.
*
*
*
Di mall, kota P.
”Ayo, sayang! Carilah handphone yang kamu suka!” Ucap Fatma pada Fitri.
”Hana bingung untuk memilihnya, Mama.” Matanya melihat satu persatu merek ponsel yang terpampang di dalam etalase. ”Kakak, kakak bantu Hana untuk memilihnya.”
”Kakak mau, asal... ada imbalannya.” Sahut Ardi.
”Hum?” Fitri melihat Ardi.
Ardi menyentuh pipi kanannya dengan jari telunjuk, matanya melihat ke arah lain. Ia menyuruh Fitri untuk mencium pipinya. Fitri tahu maksud kakaknya itu.
Cup! Fitri mencium pipi Ardi. Ardi tersenyum senang.
”Kakak pilihkan hape yang sama dengan kakak saja ya,” tawarnya.
”Terserah kakak deh!” Fitri pasrah.
Ardi memilihkan hape yang sama dengannya untuk Fitri. Sementara Fitri sedang melihat kartu sim card.
Ia tertarik dengan nomor yang sama angkanya dengan nomor yang ia gunakan di masa lalunya, hanya berbeda satu angka saja dari nomor tersebut. Di angka terakhir nomornya dulu adalah angka tiga dan sekarang ini adalah angka dua.
”Kamu mau nomor yang itu?” Fatma menyadari tatapan mata Fitri yang terus memandang nomor yang di taksir oleh anaknya itu.
”Iya, Ma,” tanpa ragu Fitri menjawabnya.
”Mbak! Tolong ambilkan kartu yang ini.” Fatma menunjuk kartu yang di maksud.
Penjaga tersebut mengambilkan kartu yang di inginkan oleh pelanggannya. ”Ini, Bu.” Ia memberikan kartunya pada Fitri.
Fitri memberikan kartu itu pada kakaknya, Ardi. ”Kakak, ini kartu Hana. Kakak pasanglah kartunya,” titahnya pada Ardi.
”Ok!” Ardi memasukkan kartu sim card di ponsel tersebut. Lalu menghidupkan kembali ponselnya.
”Jadi berapa semuanya, Mbak?” Tanya Ardi pada sang penjual.
”Dengan kartunya kan Mas?”
”Iya.”
”Semuanya empat juta lima puluh ribu, Mas.” Ucap si penjual. Ardi mengeluarkan kartu atm-nya. Namun, tangannya di tahan oleh Fatma saat memberikan kartu itu pada sang penjual.
”Tidak usah, Nak! Biar Mama saja yang bayar.” Fatma memberikan kartu atm-nya pada sang penjual.
”Baiklah!” Ardi menurut. Ia membiarkan mamanya yang membayar.
Si penjual mengambil atm Fatma dan menggesek nya. Kemudian, ia mengembalikannya kembali kepada Fatma dan membungkus handphone lalu memberikannya pada Ardi.
”Terima kasih,” ucapnya di selingi dengan senyuman.
__ADS_1
”Sama-sama!” Jawab Ardi, Fatma, dan Fitri.