Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 63


__ADS_3

Di kediaman Fandi.


”Mama, lebih baik Mama istirahat di kamar Hana saja... bagaimana? Papa mau pergi mencari Hana,” usul Fandi. Fatma menggeleng.


”Mama... Mama ikut mencari Hana...”


”Tapi... tubuhnya Mama lemah saat ini! Papa khawatir nanti Mama akan kelelahan dan tubuhnya Mama semakin menurun...”


”Mama tetap ikut, Pa...” Fatma tetap kekeh dengan pendiriannya.


”Baiklah! Ayo, kita keluar dan mencari Hana,” Fandi memapah tubuh istrinya agar berdiri.


”Pak Arshad, Tuan besar, maaf atas peristiwa ini.” ucap Fandi pada kakek dan papanya Fajrin. Dia tetap menghargai dan menghormati Arshad meskipun Fajrin, anaknya dari Arshad yang telah membuat putrinya kabur dari rumah.


”Kamilah yang harus minta maaf, sebagai Papanya...aku...”


”Tidak apa-apa! Aku sudah mengerti dengan sikap Fajrin,” pangkas Fandi. Dia memang sudah tahu sikap keras dan pemaksa dari Fajrin. Dan dia juga tahu baik Arshad maupun kakeknya tidak bisa menolak kehendak ataupun memprotes sikap Fajrin yang terkesan memaksakan kehendak Fitri.


”Terima kasih Fandi, kamu sudah memahami keluarga ku dari dulu. Dengan begitu...kamu pasti juga tahu 'kan jika anakmu dan anakku bersatu... itu adalah hal yang baik. Apalagi... anakku benar-benar mencintai putrimu.” sahut Arshad serius.


Tapi aku tidak mau anakku bersanding dengan anakmu. Anakmu telah meniduri kekasihnya yang kalian jodohkan sebelumnya. Bagaimana bisa aku menempatkan putriku dalam posisi itu? Kamu ingin anakmu memiliki dua istri? Aku tidak akan membiarkan anakku menikah dengan anakmu. benak Fandi. Fandi hanya tersenyum masam.


”Maaf, aku harus pergi mencari anakku...” Fandi berjalan keluar dari kamar Fitri bersama Fatma.


Kakek dan papanya Fajrin memandang punggung Fandi dan Fatma yang sudah berjalan melewati pintu.


”Dari bahasa tubuhnya...dia terlihat kecewa, tetapi dia tidak menyalahkan kita karena perbuatan baikku padanya selama ini,” ucap Arshad.


”Sebaiknya kita pergi mencari menantu kita,” ajak papanya Arshad. Arshad mengangguk. Mereka ikut keluar dari kamar Fitri.


Di depan rumah Fandi.


”Kamu tidak mencari adikmu?” Fandi dan Fatma heran melihat Ardi yang hanya berdiri bersandar di dinding mobil.


Ardi menggeleng, ”Tidak perlu Ma, Pa. Hana mungkin sekarang sudah berada di bandara dan sedang check-in. Jam berangkatnya tinggal dua puluh lima menit lagi.” Ia membuka pintu mobil tempat ia bersandar, memperlihatkan apa yang ada di dalam mobil.


Fatma dan Fandi bernafas lega saat melihat di dalam mobil sudah tidak ada koper pakaian Fitri.


”Lalu... Fajrin?” tanya Fatma.


”Dia pergi mencari Hana,” jawab Ardi.


”Kita juga harus pergi... berpura-pura mencari Hana,” ucap Fandi.


”Iya,” Ardi masuk duluan ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan cepat sebelum papa dan kakeknya Fajrin melihat dirinya. Dia dan Fajrin sama-sama melompat dari jendela kamar untuk pergi mencari Fitri. Dan jika mereka melihat dirinya masih di sana, bukankah akan membuat papa dan kakeknya Fajrin curiga pada mereka, jika kepergian Fitri sudah terencana. Ardi duduk di bagian belakang.


Fatma juga segera masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Fandi. Fandi mulai menyalakan mobil dan menjalankannya.


Arshad dan papanya melihat mobil Fandi yang bergerak semakin jauh dari pandangan mereka.


”Tidak perlu mengirim orang mu untuk mencari menantu mu?” tanya papanya Arshad pada Arshad.


”Fajrin memiliki anak buahnya sendiri untuk mencari keberadaan Hana. Dia tidak membutuhkan anak buah ku,” sahut Arshad santai.


”Kalau begitu...bagaimana? Kita kembali ke luar negeri atau...”


”Kembali ke luar negri. Biarkan Fajrin membujuk dan meyakinkan calonnya untuk menikah. Setelah Hana yakin untuk menikah dengan cucu mu, baru kita kembali ke sini,” ucap Arshad.


”Hum. Arshad, apa kamu tahu kemana perginya keluarga Hasan? Di kota ini mereka tidak ada, di luar negeri juga tidak ada. Kemana Fajrin mengasingkan mereka?” Papanya Arshad penasaran dengan keberadaan keluarga Hasan.


”Tidak tahu... kenapa? Papa khawatir dengan mereka?” Tanya Arshad. Papanya Arshad terdiam.


Biar bagaimanapun kakeknya Hasan adalah teman ku dan cucunya pernah menjadi calon menantu di keluarga ku. benak kakek Fajrin.


”Ayo pulang,” papanya Arshad masuk ke dalam mobil. Arshad juga masuk ke dalam mobil. Ia menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Fandi. Mereka langsung pergi menuju bandara.

__ADS_1


*


*


*


Di bandara.


Fitri Raihana sedang melakukan check-in. Setelah selesai, ia berjalan menuju pesawat yang akan di tumpanginya.


Mama, papa, kakak, maaf, Hana pergi tidak berpamitan. Setelah tiba di kota C, baru Hana akan menghubungi kalian semua. benak Fitri.


Ia naik ke dalam pesawat. Ia duduk di samping jendela pesawat. Lima menit kemudian pesawat, pesawat yang di naiki Fitri mulai bergerak dan perlahan mulai mengudara.


15 menit setelah pesawat yang bertujuan kota C terbang.


”Tuan, pesawatnya sudah siap! Mari, ikuti saya Tuan,” ucap anak buah Arsyad pada Arshad dan papanya Arshad.


”Hum,” mereka berdua berjalan mengikuti langkah anak buahnya. Sepuluh menit, mereka tiba di depan pesawat. Mereka berdua naik ke dalam pesawat.


Drrttrrt! Drrttrrt! Suara handphone Arshad berbunyi. Arshad mengangkatnya.


”Papa, Papa ada di mana?” tanya Fajrin.


”Papa dan kakek di dalam pesawat sekarang, di bandara. Papa dan kakek akan kembali ke luar negeri,”


Fajrin mencubit pangkal hidungnya sambil memejamkan mata dan berkata, ”Oh, aku kira Papa dan kakek masih di rumahnya Hana. Fajrin kembali mencari Papa dan kakek, tapi Papa dan kakek tidak ada. Bertanya pada anak buah ku, mereka tidak mengetahui keberadaan Papa dan kakek. Fajrin mencari ke rumah Fajrin, Papa dan kakek juga tidak ada. Maaf, Fajrin bergegas pergi dari rumah Hana tanpa memperdulikan Papa dan kakek,” sesal Fajrin.


”Tidak apa-apa! Papa memakluminya. Apa kamu sudah menemukan Hana?”


”Belum, Pa...”


”Perlu bantuan Papa untuk membantu mencari kekasihmu?” tawar Arshad.


”Baiklah, Papa dan kakek berangkat dulu. Beritahu Papa jika kamu sudah menemukan menantu ku...”


”Iya, Pa. Maaf, Fajrin tidak mengantar,”


”Hum,” Arshad memutuskan sambungan telfon. Ia melihat pilot dan berkata, ”Berangkat.”


Pilotnya mengangguk dan mulai menerbangkan pesawat pribadi milik Arshad.


”Anak bodoh! Terlalu angkuh! Sudah ada di bandara bukannya menemui ku...malah menelfon ku saja,” gerutu Arshad. Ia melihat keluar dari jendela pesawat, melihat mobil Fajrin yang masih berada di sana.


Fajrin menghela nafas setelah melihat pesawat papanya sudah mengudara.


Ia bersandar, ”Sekarang aku cari Hana kemana lagi! Wanita itu...kucing liar ku sudah mulai liar sekarang! Mana handphonenya tidak aktif.” gumamnya. Ia menghubungi anak buahnya. Telfon tersambung.


”Ya, Tuan!”


”Sudah menemukan keberadaannya?”


”Maaf, Tuan. Kami masih mencari...”


”Hum. Laporkan padaku jika ada kabar.”


”Iya, Tuan!” Telfon terputus.


Fajrin menghela nafas. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankannya keluar dari bandara. Bandara milik pribadi keluarga Arshad, bersampingan dengan bandara umum.


*


*


*

__ADS_1


Di kediaman Fandi.


”Hah! Setelah tiga kali putar-putar...kita kembali ke rumah, akhirnya...mereka pergi juga,” ucap Fandi lega.


”Iya. Sepertinya...tuan Arshad dan kakeknya Fajrin tahu jika pertunangan Hana dan Fajrin, Hana menerimanya dengan terpaksa,” ucap Ardi mengungkapkan pendapatnya.


”Kamu benar! Arshad dan kakeknya memang tahu, tapi mereka berdua tidak bisa berkata apapun untuk melarang Fajrin dan Hana tetap untuk bertunangan. Bahkan keinginan Arshad adalah mereka berdua menikah,” sahut Fandi menjelaskan.


”Apa orang kaya memang begitu?” tanya Ardi penasaran.


”Tidak! Mereka adalah keluarga baik-baik! Hanya saja... untuk masalah ini... mereka berdua tidak bisa berkutik. Fajrin adalah anak dan cucu mereka satu-satunya. Jika mereka mengkritik atau memprotes apa yang menjadi keinginan Fajrin, maka Fajrin tidak akan mau memimpin perusahaan yang sudah di bangun susah payah oleh keringat dan kerja keras dari kakek Fajrin dan Arshad,” ungkap Fandi. Ardi terdiam.


”Lalu bagaimana dengan anak kita setelah sampai di sana, Pa? Mama khawatir! Dia baru pertama kali bepergian jauh dan sendirian di kota yang belum pernah ia kunjungi,” ucap Fatma sedih.


”Papa yakin, anak kita akan baik-baik saja di sana dan akan menjaga dirinya. Dia bukan Hana yang lemah dan perlu di awasi setiap hari seperti dulu....” sahut Fandi.


”Ardi setuju, Pa. Hana sudah dewasa dan sudah bisa melindungi dirinya sendiri. Bahkan untuk Zulfa dan Hasan pernah ia pukul,” sambung Ardi. Fandi mengangguk setuju, kabar itu ia juga dengar. Matanya terbelalak melihat mobil Fajrin.


”Berpura-pura sedihlah! Fajrin mendatangi kita,” ucap Fandi seketika. ”Menunduk lah dalam sedih... anggap kita tidak tahu kedatangan mereka,” ucapnya lagi. Fatma dan Ardi menurut. Mereka semua duduk dengan menunduk dan terdiam dalam kesedihan.


Fajrin menghentikan mobilnya. Ia menghela nafas, semenit kemudian, dia keluar dari mobil. Ia melangkah menghampiri Fandi, Fatma, dan Ardi. Fajrin melihat kesedihan di wajah mereka, apalagi Ardi, ia terlihat khawatir dan sesekali melihat layar hapenya.


”Papa, Mama, adik ipar,” sapa Fajrin setelah berada tepat di hadapan mereka bertiga. Semua mendongak melihat Fajrin.


”Fajrin,” Fandi yang menyahuti sapaan Fajrin. Fajrin menarik kursi dan duduk di samping Fatma.


”Fajrin sudah mencari Hana dan juga menyebar anak buah ku untuk mencari di pelabuhan dan bandara, tetapi... Hana tidak ada.” ucap Fajrin.


”Kami juga sudah mencari Hana kemana-mana tapi tidak ketemu. Bahkan, kami pergi ke rumah Alin dan Nita juga tidak ada di sana,” sahut Fandi.


”Bagaimana dengan rumah Alvin?”


”Tidak mungkin Hana akan ke rumahnya Alvin. Meskipun dia adalah temannya, Alvin adalah seorang pria!” Ardi yang menyahuti Fajrin. Fajrin mengangguk mengerti, tidak mungkin Hana, yang seorang perempuan mendatangi rumah seorang pria.


”Nomornya Hana belum bisa di hubungi...”


”Iya,” ucap Fandi.


”Malam ini...aku ingin menginap di sini. Aku akan tidur di kamarnya Hana,” pinta Fajrin.


”Tidak! Kamu tidak bisa tidur di sini, apalagi di kamarnya Hana! Kalau Hana kembali, dia akan tidur di mana nanti?” Fatma yang menolak keinginan Fajrin.


”Jika dia pulang, aku akan tidur di kursi sofa, ruang tengah.” sahut Fajrin.


Kalau di biarkan tidur di kamar Hana... takutnya dia akan memeriksa lemari pakaian Hana dan akan menemukan sesuatu yang men-janggal. Tidak bisa di biarkan! benak Ardi.


”Sebaiknya kamu pulang dan tidur di rumah mu saja. Setelah Hana kembali aku akan memberimu tahu mu.” ucap Ardi.


”Yakin kamu akan memberitahu ku? Sementara kontak ku kamu blokir.” sahut Fajrin. Ardi terdiam. Ia memang sudah memblokir kontak dengan Fajrin.


”Aku akan membuka blokirnya,” Ardi merasa bersalah. Ia mencari kontak nomor Fajrin di layar hapenya lalu ia buka blokiran nya. Ia menunjukkan layar hapenya pada Fajrin. ”Lihatlah, sudah ku buka!” ucapnya. Fajrin melihatnya.


”Meskipun kamu sudah membukanya, malam ini aku tetap akan tidur di sini, di kamar Hana,” ucap Fajrin.


”Kamu__” ucapan Ardi terhenti melihat gelengan kepala papanya. ”Kamu tidur di kamar ku saja, aku akan tidur di kamarnya adikku,” Ardi berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah.


”Aku tidur di kamar Hana,” tegas Fajrin. Ardi keluar kembali melangkah keluar dan berhenti di depan pintu.


”Hana... adikku, kamu baru tunangannya. Belum berhak tidur di kamarnya adikku,” Ardi tak kalah tegas menyahuti Fajrin.


”Kalian berdua berhenti berdebat! Malam ini kamarnya Hana, Papa akan menguncinya. Kalian berdua tidurlah di kamar Ardi,” ucap Fandi melerai.


”Tidak mau!” tolak mereka berdua.


”Jika kalian tidak mau, salah satu di antara kalian harus tidur di kursi sofa,” tegas Fandi. Ia berdiri dan masuk ke dalam rumah. Fatma ikut melangkah masuk. Fajrin dan Ardi saling melihat dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2