
Di taman, di tempat istirahat Fandi.
”Loh, loh, kok, anak ini mengacaukan hari kebersamaan kita, Pa?” keluh Fatma pada Fandi.
Fandi tersenyum sambil membelai rambut Fitri, anaknya itu. Fitri mendatangi mereka dengan tiba-tiba. Dia duduk bukan di pinggir ayah dan ibunya, melainkan duduk di tengah, memisahkan Fatma dan Fandi.
”Pa, pindah di sini. Mama tidak mau memeluk lengan kurus ini, enak meluk lengan Papa.” ucap Fatma lagi. Ia menggeser Fitri dan menarik tangan Fandi untuk duduk di tengah.
Fitri enggan bergeser, ia juga menahan Fandi di tempatnya. ”Mama, Mama bisa gak mengalah sama anak sedikit? Ini Papanya Hana, milik Hana juga. Lagian, siapa yang kurus Ma? Hana gemuk.” ucapnya.
”Enggak! Papa mu, suaminya Mama. Miliknya Mama. Kamu..kalau ingin peluk pria, menikah lah sana. Jangan peluk suamiku!” ucap Fatma gak mau kalah.
”Hana gak mau menikah! Hana mau peluk Papa saja.” sahut Fitri, ia semakin memeluk lengan papanya.
Fandi geleng kepala, istri dan anaknya selalu menunjukkan rasa manja nya pada dirinya. Dan juga selalu berebut kasih sayang.
”Mana kakak mu? Kenapa gak bersama kakakmu?” tanya Fandi pada Fitri.
”Kakak ada tamunya Pa. Hana malas berada di sana, jadi Hana kesini, sengaja untuk mengacaukan kemesraan Papa dan Mama.” ucap Fitri. Ia sengaja berbicara seperti itu untuk memanasi hati mamanya.
”Hum? Siapa tamu nya kakak mu? Cewek apa cowok?” tanya Fandi dan Fatma, penasaran.
”Cowok! Cowoknya nyebelin, lihatin Hana terus.” keluh Fitri.
Fandi dan Fatma saling pandang. Putri mereka ini apakah normal? Kenapa sulit sekali berdekatan dengan pria lain? Sebelum dia pingsan, dia gak terlalu anti dengan pria. Tapi sekarang kok, seperti menjaga diri dari seorang pria.
”Kan cuma di lihati doang, kok, di bilang nyebelin?” tanya Fatma.
”Nyebelin lah, Mah! Hana gak suka di lihat sama pria lain. Apalagi punya tujuan dan maksud tertentu.”
”Memangnya Hana tahu darimana kalau pria itu punya maksud lain sama Hana?” tanya Fandi.
”Dari cara dia melihat Hana, Pa.” jawab Fitri.
”Memangnya cara pandangnya mengatakan apa?” tanya Fandi lagi.
”Dia...dia sepertinya suka sama Hana, Pa. Tapi, Hana merasa risih dengannya.” jawab Fitri.
”Hana, kamu bukan seorang lesbian, kan?” tanya Fatma.
”Astaghfirullah!” Fitri terkejut dan beristighfar. Bagaimana bisa mama nya berfikir dia punya kelainan ****. ”Mama, untuk apa Hana menyukai sesama jenis? Hana masih normal, Mah.” ucapnya.
Fatma menghela nafas lega, ”Syukurlah, Mama kira kamu sudah gak normal. Kamu tidak mau dekat dengan laki-laki dan tadi bilang gak mau menikah juga merasa risih dengan pria lain.”
”Sementara ini Hana memang gak mau menikah, Mah! Tapi...belum tentu kan tahun-tahun depannya Hana bersikeras gak mau menikah! Sekarang ini...hanya akan memikirkan kuliah Hana saja, bukan berarti Hana tidak menyukai pria.” jelas Fitri.
”Hana sedang menyukai siapa?” tanya Ardi, dia baru saja bergabung pada keluarganya. Ia duduk di hadapan keluarganya tersebut.
”Ardi, teman mu mana?” tanya Fatma.
Ardi melihat Fitri sebentar, ”Dia sudah pergi Mah.” jawabnya.
”Pa, Ma, hari sudah hampir gelap. Kita pulang sekarang.” ajak Ardi.
”Iya, ayo kita pulang.” sahur Fandi. Ia telah berdiri.
Ardi, Fitri, dan Fatma juga berdiri. Mereka pulang ke rumah dengan berjalan kaki.
.. ..
Di kediaman Fajrin.
Fajrin baru saja keluar dari kamar mandi. Dua terlihat segar. Jubah mandi masih melekat di badannya.
__ADS_1
Tok tok tok! ”Tuan, ada seseorang datang mencari Tuan.” suara sang bibi di balik pintu kamar.
”Hum! Bawalah dia ke ruang tamu, aku akan segera ke sana.” jawab Fajrin.
”Baik, Tuan!”
Fajrin mendekati lemari pakaiannya. Ia memilih baju kaos untuk di pakainya. Setelah berganti, ia pergi ke ruang tamu.
Dia lagi...untuk apa dia datang kemari? benak Fajrin.
Dia dapat menebak tamunya yang datang saat ini.
”Zulfa? Ada perlu apa menemui ku?” tanyanya pada Zulfa. Wajahnya datar. Terlihat sekali dia tidak suka dengan kehadiran Zulfa.
Zulfa tersenyum melihat Zahidin yang berjalan ke arahnya. Zahidin duduk di sofa tunggal.
Zulfa menghirup aroma segar dan wangi dari tubuh Zahidin yang melewatinya. Ia menelan saliva nya kasar. Ia ingin sekali memeluk tubuh atletis Zahidin itu.
”Zahidin...”
”Mana sopan santun mu? Aku ini guru mu, Panggil aku dengan sopan.” pangkas Fajrin. Hanya dua orang yang pantas memanggil dia dengan nama Zahidin tanpa embel-embel di depan namanya. Yaitu, almarhumah ibunya dan Fitri Raihana.
Zulfa merasa kesal, ”Pak dosen, aku sudah susah payah mencari alamat rumah mu untuk bertemu dengan mu...”
”Ada perlu apa mencari ku? Bukan kah sudah ada dosen pengganti? Jika ada yang kamu tidak mengerti, kamu bisa bertanya kan pada dosen baru mu?” pangkas Fajrin lagi.
”Aku tidak suka di ajarkan sama dia! Aku maunya kamu yang ajarin aku.”
”Gak ada waktu.” sahut Fajrin.
”Pak dosen, kamu jangan galak-galak begitu dong sama aku. Kamu lupa ya, aku ini calon tunangan mu. Kakek mu dulu dan kakek ku sudah mengikat janji untuk menjodohkan kita.” ucap Zulfa dengan sedih.
”Jika tidak ada urusan lain, kamu pergilah. Aku ingin istirahat.” Fajrin berdiri dari duduknya. ”Dan ingat, itu hanya perjanjian bodoh yang di lakukan oleh kakek kita. Kamu carilah lelaki lain, aku sudah punya seseorang yang aku cintai.” ungkapnya dengan jelas dan tegas. Ia melangkah pergi dari ruang tamu.
Zulfa semakin sebal. Ia tidak terima keputusan Fajrin. Menurutnya Fajrin adalah pria terbaik di hatinya. Fajrin adalah miliknya.
Fajrin menghentikan langkahnya. ”Jika dia tidak pantas untukku, apalagi kamu! Dari mananya kamu merasa kamu pantas untukku?” tatapannya tajam melihat Zulfa.
”Aku pantas untuk mu, keluarga ku adalah keluarga terpandang di kota ini. Status kita sama, di mananya aku tidak pantas untuk mu?” Zulfa bertanya kembali pada Fajrin.
”Kamu tidak pantas dan tidak layak untuk ku. Jangan bermimpi untuk aku mencintai mu. Dan satu hal lagi... jangan kamu mencari hal pada Fitri Raihana, atau aku gak akan sungkan padamu.” ancam Fajrin. Ia berlalu pergi begitu saja dari sana, meninggalkan Zulfa yang marah dan kesal, di ruang tamu.
”Tidak! Kamu hanya milikku! Jika aku tidak bisa dapatkan kamu, orang lain pun tidak akan ku biarkan bersama mu! Apalagi hanya seorang Fitri Raihana itu, tidak akan ku biarkan!” gumamnya. Ia pun pergi dari rumah Fajrin.
Di dapur.
”Bi, dia sudah pulang?” tanya Fajrin pada bibi, sang art di rumahnya.
”Iya, Tuan. Tuan tampak rapi, apakah Tuan ingin keluar?” sang bibi bertanya kembali.
”Iya, Bi. Aku akan keluar. Tidak usah memasak untukku, masak saja untuk kalian semua.” ucap Fajrin.
”Oh, iya, baiklah Tuan.” jawab bibi.
Fajrin pun pergi dari dapur. Ia keluar dari rumahnya. Ia masuk ke dalam mobil dan pergi ke suatu tempat.
.. ..
Di rumah Zulfa.
Zulfa nampak sedih. Wajahnya cemberut, ia nampak tidak berselera untuk makan. Makanan di hadapannya hanya di aduk-aduk nya saja.
”Kenapa lagi dengan anaknya Mama ini? Mukanya kok cemberut terus dari tadi?” tanya Mila, ibu Zulfa.
__ADS_1
”Kamu kenapa, sayang?” tanya Darman, ayah Zulfa.
Zulfa berdecak, ”Pa, Ma, kapan pertunangan Zulfa dan Zahidin di adakan? Zulfa ingin cepat-cepat bertunangan dengan Zahidin, Mah, Pa.” ucapnya, wajahnya masih terlihat kesal.
”Kenapa? Kamu sudah tidak sabar lagi, ingin memberitahukan pada dunia Zahidin adalah calon suami mu? Hum?” tanya Hasan, ia sengaja menggoda adiknya itu.
”Mama, Papa, Zulfa takut Zahidin akan berubah pikiran nanti. Dan di kampus ku, di kelasku khususnya, ada seorang wanita yang mencintai Zahidin. Zulfa takut Zahidin akan menyukai wanita itu.” ucap Zulfa.
”Siapa? Aku akan memberinya pelajaran!” sahut Hasan.
”Kakak juga tidak akan tega melukai wanita itu. Hmm kakak saja sudah beberapa kali membela wanita itu daripada aku, adik mu sendiri.” ucap Zulfa.
Hasan nampak berpikir. Siapa kira-kira wanita yang di maksudkan adiknya itu?
”Tenang saja! Zahidin akan mengingat perjanjian alm kakeknya dengan kakek mu. Kalaupun dia mengingkari, kan ada papanya! Dia tidak akan berkutik jika sudah di perintah oleh ayahnya. Jadi, kamu tidak usah risaukan itu. Kamu makan saja makanan mu itu, gak baik jika perutmu tidak kamu isi.” kata Darman.
”Iya, Pa.” sahut Zulfa. Ia pun memakan makanannya.
Hasan, Darman sudah selesai makan, tinggal Zulfa dan Mila.
Darman pergi ke ruang bacanya dan Hasan pergi ke kamar Zulfa. Dia duduk di ranjang adiknya itu, menunggu Zulfa di sana.
”Ma, Zulfa ke kamar dulu.” pamit Zulfa. Ia telah selesai makan.
”Iya, besok pergilah ke kampus. Perutmu gak sakit lagi kan?” tanya Mila.
”Iya, Ma.” jawab Zulfa. Ia melenggang pergi setelah menjawab ibunya. Ia pergi ke kamarnya.
Di kamar Zulfa.
”Kakak? Ngapain kakak di kamarnya Zulfa?” tanya Zulfa pada Hasan yang duduk bersandar di atas ranjangnya. Ia duduk menghadap Hasan.
”Menunggu kamulah!” jawab Hasan.
”Menunggu ku? Kenapa?” tanya Zulfa, penasaran. Namun, ia tersadar sesuatu, ”Oh... kakak penasaran kan wanita yang ku maksud tadi?”
”Hum! Apa benar dia Fitri Raihana?” tanya Hasan.
Zulfa mengangguk.
”Tahu darimana kamu kalau Hana suka Zahidin?” Hasan sangat penasaran.
”Taulah! Orang Hana sering mencari perhatian sama Zahidin, sewaktu Zahidin masih mengajar di kampus.” ungkap Zulfa.
Hasan terdiam. Pantas saja Hana bersikap lain kalau bertemu dengan Zahidin saat di kampus.
”Kak, bukannya kakak menyukai Hana, iya kan?” tanya Zulfa.
Hasan mengangguk.
”Kak, Zulfa kurang suka sama Hana. Tapi, kalau kakak mau menjadikan Hana kakak ipar ku, tidak masalah. Yang penting, dia tidak punya kesempatan untuk mendapatkan Zahidin. Aku akan mendukung kakak dengan Hana.” ucap Zulfa.
”Ok! Tapi, kamu jangan cari masalah sama Hana di kampus. Kamu cari cara saja bagaimana agar Zahidin menyukai mu.”
”Ok, Kak!”
”Kalau begitu, kita sepakat!” sahut Hasan.
Setelah berbicara dan membuat kesepakatan dengan Zulfa, Hasan pun keluar dari kamar Zulfa.
”Zahidin, kamu milikku!” gumam Zulfa.
Di kamar Hasan.
__ADS_1
”Fitri Raihana, kamu milikku!” gumam Hasan.
.. ..