Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 22


__ADS_3

Di kampus.


Materi pertama telah terlewati dengan mudah. Fitri bernafas lega sambil bersandar dan memejamkan mata.


Pelajaran ini sudah ku pelajari sebelumnya. Sial juga, kenapa harus bereinkarnasi menjadi seorang mahasiswi, sih? benaknya.


Fitri membuka mata saat mendengar bunyi di atas mejanya. Ia melihat ada beberapa buku di atas mejanya tersebut, yang baru tersimpan. Ia melihat wanita yang ada di sampingnya.


”Hana, itu buku catatan yang ku buat untuk mu. Kamu tinggal lanjutkan saja materinya nanti. Tadi, aku gak sempat kasihkan buku itu padamu. Pak dosen keburu masuk.”


Fitri memaksakan senyum, ”Terima kasih,” ucapnya. Ia mengambil buku-buku itu dan memasukannya ke dalam tas. ”Bagaimana dengan buku mu ini, haruskah aku menggantinya?”


”Hah! Tidak perlu Hana!” cegah Alin.


”Hei, materi kedua lagi kosong nih! Ke kantin, yuk!” ajak Nita, yang baru saja masuk ke dalam kelas.


”Beneran kosong?” tanya Alin, tidak percaya.


”Iya, benar!” jawab Nita dengan yakin.


”Ok, kalau begitu, ayo ke kantin!” ucap Alin, bersemangat. Ia menarik tangan Fitri.


Fitri refleks berdiri akibat tarikan tangan Alin. Mereka pun pergi ke kantin. Dalam perjalanan ke kantin, Alin dan Nita sama-sama menggandeng kedua tangan Hana.


Fitri benar-benar merasa risih. Apakah mereka selalu berjalan seperti ini setiap harinya, jika mereka berjalan bersama? benaknya.


”Aduh, aduh! Alin, Nita, aku tidak bisa berjalan dengan benar, jika kalian berdua berdempetan seperti ini padaku.” Fitri melepaskan tangan Alin dan Nita yang menggandengnya.


”Hah! Hei...baru kali ini kamu mengeluh, biasanya fine fine saja.” ucap Alin. Ia kembali menggandeng tangan Fitri.


Fitri kembali melepas tangan Alin, ”Maaf, ya. Setelah aku sembuh, aku sudah tidak bisa terlalu dekat, dan mepet sama orang-orang. Itu akan memicu sesak nafas ku.” ungkapnya, berbohong.


”Hah! Sampai segitunya?” Alin dan Nita tidak percaya.


”Iya, jadi, jalannya biasa saja yah...jangan terlalu mepet.” ucap Fitri.


”Baiklah!” Alin dan Nita mengalah.


Jalan seperti ini kan lebih bagus! benak Fitri.


Mereka telah sampai di kantin. Mereka masuk dan duduk di tempat biasa mereka. Karena baru pertama kali masuk kantin, Fitri menyesuaikan diri saja.


”Kita mau makan apa ini?” tanya Nita.


”Hana, kamu mau makan apa?” tanya Alin.


Fitri bingung, ia tidak tahu menu apa saja yang ada di kantin ini. Daftar menu pun tidak ada di atas meja. Apa yang harus dia jawab?


”Di mana buku daftar menu nya?” tanya Fitri.


”Gak ada sayang!” jawab Nita.


Kalau gak ada buku menu, lalu...masa iya hanya datang, duduk saja begini makanan akan datang sendirinya! benak Fitri.


”Ok, aku yang akan pergi pesan makanan.” Alin berdiri. ”Tapi, kamu ingin makan apa Hana? Nita?” tanyanya.

__ADS_1


”Yang biasa saja untuk aku.” jawab Nita.


”Kamu, Hana? Yang biasa juga?” tanya Alin.


”Hah! Iya, yang biasa juga.” jawab Fitri.


Entah makanan apa kesukaan Hana di kantin ini. Apakah sesuai dengan seleraku atau tidak, ya? benak Fitri.


”Ok!” Alin pun pergi memesan makanan.


”Hana. Kamu harus hati-hati sama Zulfa nanti. Dia menjadikan mu sebagai lawan cintanya. Kamu tahu kan dia terang-terangan menantang mu untuk mendapatkan perhatian pak dosen tampan.” ucap Nita.


”Hum? Zulfa itu siapa? Dan pak dosen tampan itu siapa?” tanya Fitri.


”Zulfa itu..wanita norak yang selalu mencari gara-gara sama kamu. Dan pak dosen tampan adalah pak Zahidin, yang kamu sukai itu, loh! Masa kamu lupa, sih?” ungkap Nita.


Fitri terdiam. Ia kembali mengingat buku diary Hana.


O...Zahidin, pak dosen yang di sukai Hana. Seberapa tampan sih, sampai di bilang pak dosen tampan? benak Fitri.


”Oh...sudahlah! Kalau Zulfa ingin cari gara-gara sama aku...”


”Tenang saja, sayang! Ada aku yang akan membantu mu. Kamu jangan takut.” pangkas seseorang, tangannya di simpan di bahu Fitri.


Fitri melihat tangan pria yang bertengger di bahunya, lalu, ia melihat si pemilik tangan itu. Pria itu tersenyum padanya.


Fitri melihat Nita, ia ingin mencari informasi padanya tentang pria yang ada di belakangnya ini. Tetapi, Fitri melihat Nita yang terdiam melihat pria itu.


Fitri menepis tangan pria itu dengan kasar, ”Jangan sentuh bahuku!” ucapnya, ketus.


”Sayang? Apa kamu sudah lupa aku? Baru sepuluh hari kamu gak masuk kuliah, sudah melupakan pacar ganteng mu ini? Hum?” tangannya kembali ia simpan di bahu Fitri. Bahkan, wajahnya, ia setara kan dengan wajah Fitri.


”Oh...ada pembelanya!” sahut pria itu. Ia menarik tangannya dari bahu Fitri. Ia berjalan pelan, mendekati Alin. ”Kenapa? Kamu mau aku mengganggu mu juga?” tangannya menjepit dagu Alin.


”Kalau kamu macam-macam dengan Hana, aku akan melaporkan kamu pada kakaknya.” ancam Alin. Ia memberanikan diri menyahuti pria itu.


Pria itu melepas dagu Alin dengan keras. ”Pergilah lapor! Terakhir kali, aku masih memberikan hati baikku, mengingat kamu adalah temannya wanita yang ku cintai.” tangannya membelai kepala Fitri. ”Tapi, jika lain kali....aku tidak perlu sungkan lagi!” ia tersenyum di akhir kalimatnya.


Alin jadi takut. Ia gemetar dan duduk di bangku. Ia teringat akan seseorang yang mencelakai dirinya beberapa Minggu yang lalu. Ia mengingat jelas senyum licik yang di berikan Hasan saat itu.


Dia mengancam Alin untuk merusak reputasinya dan juga pekerjaan ayahnya yang bekerja di perusahaan milik ayah pria itu. Jika sekali lagi, ia mengacaukan hari baiknya untuk mengganggu Fitri.


Fitri adalah idola cewek di kampus tersebut. Ia cantik, menawan, tinggi semampai, hidung mancung, kulit putih, mulus dan bersih.


Meskipun begitu, Fitri tidak sombong, dan selalu merendah diri. Fitri Raihana selalu melawan jika di ganggu oleh orang lain. Tetapi, ia takut jika Hasan yang telah mengganggunya, ataupun Zulfa. Hasan dan Zulfa adalah saudara kandung.


Bukannya Fitri takut untuk melawan mereka, tetapi, Fitri tidak ingin dia dikeluarkan dari kampus nomor satu, di kota itu. Dan lagi, ia tidak ingin ayahnya, atau keluarga nya menjadi bahan balas dendam oleh Hasan maupun Zulfa.


Ia sangat sadar diri, dia bukan lah orang kaya. Dan orang seperti Hasan, dan Zulfa, bukan lah tandingannya. Bukan orang yang gampang untuk di singgung.


Fitri juga tidak suka mengadu persoalannya pada siapapun. Jika ada Alvin, Hasan juga tidak berani mengganggu Fitri, Alvin adalah sepupu dari Hasan. Pemilik saham urutan ke tiga di kampus itu.


Alin lah yang selalu mengadukan Hasan pada Alvin dan pada Ardi, kakak Fitri, jika Hasan telah mengganggu Fitri.


Hasan, sebagai pemilik saham urutan dua di kampus itu, selalu membuat ulah. Ia menganggap dirinya seperti raja di kampus itu.

__ADS_1


Sudah beberapa kali Hasan memecat beberapa siswa dan siswi dari kampus itu karena berani menantang nya dan juga berani mengusik nya, bahkan pekerjaan orang tuanya pun di usik.


Hasan memang menyukai Fitri Raihana, sebagai cewek idola kampus. Tetapi, sedikit pun Fitri tidak menaruh perhatian dan merespon pria itu. Di ganggu olehnya, bukanlah hal besar. Yang terpenting, masih dalam hal wajar dan normal yang di lakukan pria itu padanya.


”Kenapa diam? Pergilah lapor!” kembali Hasan berucap.


Alin masih terdiam, tangannya terkepal kuat, kedua rahangnya mengeras, menahan marah. Ia marah, namun, ia juga tidak bisa buat apa-apa.


Hasan tersenyum mengejek, melihat Alin, yang tidak berkutik itu.


Ia kembali menghampiri Fitri. Ia menarik kursi dan duduk di samping Fitri. Tangannya, di simpan kembali ke bahu Fitri. ”Sayang, jangan hiraukan mereka. Aku sudah lapar, suapi aku. Ok?” ucapnya.


Laki-laki ini... sungguh, kalau tidak di beri pelajaran, dia akan sering berlaku kurang ajar padaku. benak Fitri.


Ia tersenyum melihat Hasan. Tangannya meraih tangan Hasan yang ada di bahunya. Hasan pun tersenyum, membalas senyum Fitri.


Krak!


”Argh! Tangan ku!” jerit Hasan.


Alin dan Nita melongo melihat Fitri yang berani itu. Bukan hanya mereka berdua, bahkan, orang-orang yang ada di kantin tersebut kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.


Fitri tersenyum, tangannya masih memegang tangan Hasan. ”Oh..tangan mu masih baik-baik saja. Aku hanya membuatnya terkilir sedikit, tidak patah, kok!” tangannya Hasan di lepasnya.


Hasan melihat tangan kirinya itu, sakit... tangannya masih terasa sakit.


”Bawa saja tangan mu itu ke tukang pijat saraf kejepit. Lalu, bawa periksa ke dokter. Kalau sudah sembuh...jaga baik-baik tangan mu. Jika tidak, jangan salahkan aku, kalau aku berlaku sopan padamu.” ucap Fitri, ia kembali tersenyum.


”Kamu!! Argh!!” Hasan pergi kantin.


Fitri melihat kepergian Hasan dengan wajah datarnya. Ia memperhatikan orang-orang yang ada di dalam kantin. Semuanya terdiam melihat dirinya dengan berbagai macam ekspresi.


Ia berbalik melihat Alin dan Nita. Kedua wanita itu melongo melihat dirinya. ”Ada apa?” tanyanya.


”Ini...ini beneran kamu, Han?” tanya Alin. Ia dan Nita telah merubah ekspresi wajahnya ke mode biasa.


Fitri mengangguk. ”Kenapa? Kok, terkejut begitu?” ia memang tidak tahu jika Hana selama ini tidak pernah menghajar seseorang di kampus. Hana terlihat lemah.


”Em...tidak apa-apa. Hanya saja...ini pertama kalinya kamu membela dirimu sendiri. Biasanya juga...kamu diam saja kalau sudah di jaili sama pria brengsek itu.” ungkap Nita.


”Iya, aku juga kaget melihat kamu yang berani ini.” sambung Alin. Ia tersenyum senang, ”Baguslah! Sekarang, dia pasti sudah mulai berhati-hati dengan mu.”


Hah! Emang Hana seperti apa sih orangnya? Apa dia selalu jadi korban pembulian di kampus? benak Fitri.


”Emang...aku selalu diam saja saat di jaili sama pria itu?” ia memastikan.


Nita dan Alin mengangguk.


Fitri terkejut. Hah! Aku benar-benar lemah kah? benaknya, tidak percaya.


”Iya, kadang aku selalu berlari ke tempat kerja kakak mu, melaporkan kelakuan Hasan padanya. Lalu, kakak mu datang membantu. Kalau ada Alvin, Alvin juga yang membantu mu. Kalau ada pak dosen tampan, dia juga selalu membelamu.” ungkap Alin.


”Apa aku selemah itu?” ia masih tidak percaya.


”Bukan juga sayang! Tapi, kamu tidak mau cari gara-gara saja sama mereka. Kalau pria lain, atau wanita lain yang mengganggu mu, kamu balas mereka, kok! Yah...kalau untuk Hasan dan Zulfa, kamu tidak berani juga sih. Kecuali, mereka sudah keterlaluan, kamu akan melaporkan mereka kepada sekolah. Mereka bukan orang yang biasa di singgung. Mereka termasuk orang-orang berpengaruh di kampus, dan di kota ini.” ungkap Nita.

__ADS_1


”Mereka?” Fitri mengulang kata ”Mereka” dengan wajah bingung dan penuh tanda tanya.


”Iya, ”mereka” adalah kelompok dari gang yang di buat oleh Hasan. Mereka ada beberapa orang di kampus. Mereka juga preman jalanan. Dan Zulfa termasuk salah satu di antara mereka. Dia juga punya gang di kampus ini. Zulfa dan Hasan adalah adik dan kakak, pemilik saham urutan kedua di kampus ini.” ungkap Alin.


__ADS_2